ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 76.


__ADS_3

...It's me. Revi Bramasta Putra Jayantaka.



...


Cakep gak?


Dalilah sering bilang. "Potong rambutmu, mas! Lilah gemes pengen ngerapiin tapi gak bisa." katanya dengan nada frustasi yang dibuat-buat.


"Ya dirapiin aja kalau gitu, cuma ngerapiin rambut. Bukan ngerapiin bajuku kan?" jawabku sambil tersenyum jenaka.


Dalilah tersenyum lebar dan menggeleng. Aku tahu dalam benaknya, mungkin memegang kepala seseorang baginya tidak sopan dan ia betul-betul menjawab asumsiku dengan tepat.


"Malu dan tidak sopan." jawabnya sambil menggeleng.


Aku tergelak dan menarik jemari tangannya. Dalilah menatapku dengan wajah serius. "Lakukan saja untuk membius rasa penasaranmu." kataku maklum karena Dalilah memang mempunyai rasa penasaran yang tinggi dengan hal-hal sepele yang biasa di lakukan oleh remaja seusianya. Aku maklum karena ia memang berbeda.


Dalilah langsung menarik tangannya. "Nanti aku tuman, repot!" ujarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Mendengus kesal pada dirinya sendiri.


Aku semakin tergelak karena ucapannya. Bisa-bisanya ia bakal tuman hanya karena menyugar rambutku? Betapa menggemaskan sekali dia ini. Mana ada ngerapiin rambut bikin ketagihan, ada-ada saja batinku.


"Mau gak? Nanti kalau aku gundul kamu yang bingung." gurauku sambil menarik tangannya lagi. Dalilah mengedarkan pandangannya lalu mengangguk pelan.


"Boleh? Tapi jangan bilang siapa-siapa!" katanya dengan nada pelan.


Aku berdehem dan nyaris tertawa saat Dalilah dengan ragu menyentuh rambutku. Merapikannya pelan-pelan dengan wajah penuh khidmat.


"Serius banget, yang!" kataku sebelum terkesiap dengan tatapan mata Dalilah yang begitu mendamba. "Hei... ada yang salah?" tanyaku setelah ia membuang nafas panjang.


Dalilah menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu---rumahku sambil mendengus kesal. Lagi.


"Gara-gara mas Revi nih!"


Aku mengernyit bingung saat ia kembali mengacak-acak rambutku dengan gemas. Salah rambutku apa coba.


"Maaf ya mas. Rambutmu gemesin soalnya." katanya lalu tersenyum manis. Aku tersenyum lebar. Terlalu sederhana namun begitu membuatku terpesona.


"Makasih udah mampir! Besok sekolah kan?" tanyaku sambil membetulkan posisi dudukku. Aku memang sudah di rumah setelah tadi sore dibuat senewen dengan kelakuan Desy dan Devon.


Sementara princess memang mendatangi rumahku setelah berlatih koreografi.


"Sekolah dong! Lilah cuma sebentar disini karena tadi Ibunda bilang habis ketemu mas Revi di swalayan. Bener ya? Beli susu ibu hamil juga?" tanya Dalilah sambil mengambil jus buah yang mommy buatkan dan meminumnya.


"Iya, aku ketemu Ibunda. Beli susu ibu hamil untuk Desy, pacarnya pasienku!


Parahnya lagi aku juga ketemu adikmu, ndomas Suryawijaya. Makin serem banget kan kondisiku tadi, yang!"


Dalilah meringis. "Dia emang serem, tapi percayalah kalau sama Suryawijaya mas Revi cukup jujur saja." Dalilah beranjak dari sofa. "Lilah pulang ya mas, kasian Bimo cuma ngelamun sendiri di depan."

__ADS_1


Aku berusaha tersenyum. Aku tahu sudah kewajiban Bimo untuk menguntit princess kemana-mana. Paling tidak princess sudah menemuiku sebentar di rumah walau ada Bimo yang menunggu kami berdua. Bayangkan saja pacaran tapi di tungguin bodyguard! Rasanya gusar-gusar tapi senang.


Aku mengantar princess sampai di teras rumah. Sumpah, aku sudah meminta Bimo untuk masuk ke dalam. Tapi dia hanya ingin di teras sambil merokok. Cukup peka kalau aku cuma ingin berdua dengan Dalilah.


"Langsung pulang ke rumah!" ujarku saat princess sudah naik ke motor Bimo. Ku lemparkan pandangan mengancam pada Bimo.


Dalilah mengangguk seraya melambaikan tangan. "Besok pagi tunggu Lilah di basecamp!" ujarnya sedikit berteriak.


***


Tepat jam enam, aku berdiri di halaman sekolah. Aku menunggu kedatangan princess.


Hari ini ada dua skedul. Rapat koordinasi dengan walikota mengenai persiapan lomba Minggu depan dan janji Lilah di basecamp.


"Woy, Rev! Ngapain... jagain tiang bendera?" ucap Reno seraya terkekeh. Aku mendengus dan merangkulnya.


"Nungguin jodohku datang!" ucapku sambil menatap gerbang sekolah.


Reno terbahak, dan perhatian Reno juga tertuju ke arah gerbang sekolah. "Jadi tim cheers leader benar-benar diganti sama tim sekolah lain, Rev?"


"Iyalah, lagian tim sorak gunanya sama. Tim hore dan tetap banyak cewek-cewek cantik yang mengelilingi kita." sahutku sambil terkekeh.


"Jodohku udah datang, minggir sono!" lanjutku sambil mendorong Reno. Reno terbahak. "Jodoh Lilah belum ada yang pasti, Rev! Jangan percaya diri." timpalnya langsung.


Aku mengangguk paham. "Jodohnya memang tidak ada yang pasti, tapi apa salahnya jagain pacar idaman baik-baik..." sahutku sambil tersenyum lebar.


"Pagi princess." sapa ku manis sambil merentangkan kedua tanganku. "Mau peluk..." pintaku sambil maju ke depannya..


"Buat mas Revi dari Bunda."


Aku lantas memeluk tas bekal makanannya, mencium-ciumnya seolah menganggap jika itu pengganti dirinya. "Thankyou so much, my princess."


"Kelakuanmu makin absurd, Rev!" ejek Reno sebelum menonyor kepalaku dengan gemas. Aku mendengus. "Iri bilang bossss...." balasku sebelum membuntuti princess masuk ke koridor sekolah.


"Aku masih normal, Rev! Sedangkan kamu ini ngenes! Mau cium aja harus mikir seribu kali."


Aku merenungkan kebenaran yang Reno katakan. Dan tetap bertekad untuk tidak melakukan hal-hal yang membuatku harus kembali jatuh-bangun lagi meski sejujurnya ada keinginan untuk membuatku menjadi first kiss-nya.


Dalilah berhenti di depan kelasnya, melongok sebentar ke dalam kelas lalu menoleh kepadaku. "Nanti jadi rapat?" tanyanya.


"Jadi dong! Kamu mau bareng aku dan Reno naik mobil atau mau diantar Bimo?" tanyaku sambil melihat gelagatnya. Princess menimbang-nimbang pikirannya sendiri sebelum mengajukan pertanyaan yang membuatku berpikir.


"Apa nanti waktu kita ke Jakarta Bimo juga ikut?"


Aku dan Reno saling melempar pandang. Bukan karena aku tahu mereka terlibat dalam hubungan pekerjaan. Tapi ini masalahnya bukan soal ndoro putri dan bodyguard saja. Ini soal membawa nama daerah ke ibukota, kalaupun Bimo ikut itu urusannya dengan pihak sekolah dan keluarga Dalilah.


Aku menggeleng tidak tahu. "Coba nanti tanyakan pada Ayahanda, toh sekalipun Bimo tidak ikut kamu juga membawa tim rias sendiri. Itu sudah cukup untuk menjagamu."


"Ya sudah, ayo kita ke basecamp, Lilah temenin sarapan! Tadi juga Ibunda pesan kalau Ibunda mau ketemu sama Desy, mau bimbingan konseling." ucap Lilah seraya menaruh tasnya di atas meja.

__ADS_1


Aku membuang nafas. Emang kedua manusia kampret itu harus di beri bimbingan konseling biar otaknya gak melulu soal mesum-mesuman dan kenakalan remaja. Dan aku yakin urusannya semakin panjang karena aku dan Devon akan terlibat dalam kegiatan sosial.


Di basecamp Lilah memintaku untuk sarapan. Cukup pedas rasanya sekarang. Apa Ibunda Ratu kalau masak bisa sesuai dengan isi hatinya. Fix, Ibunda Ratu sekarang sedang marah karena kejadian kemarin.


Weleh... weleh... Belum selesai toh masalahnya.


"Kenapa mas?" tanya Lilah sambil memberiku tissue. Aku mengusap dahiku dengan cepat seraya mengambil air mineral.


"Pedes tau gak!" jawabku sambil megap-megap. Dalilah cekikikan. "Ayahanda suka mules kalau Ibunda lagi senewen!" kata Lilah sambil tersenyum kaku. "Ibunda kecolongan terus, padahal Ibunda sering melakukan kampanye tentang pendidikan seksual diusia dini." jelasnya diiringi hembusan nafas panjang setelahnya.


"Perkaranya bukan soal kampanye yang terus-menerus dilakukan, sayang. Tapi soal naluri dan nurani setiap manusia yang berbeda-beda. Tidak semua mempan jika hanya di berikan kampanye, tapi mereka akan paham seiring berjalannya waktu jika apa yang mereka lakukan itu salah." urai ku panjang sambil membereskan bekal makanan ini.


Semoga aku gak mules seperti Ayahanda. batinku sambil tersenyum lebar seraya mengangsurkan tas bekal kepada princess.


Princess tidak menjawab ia hanya terdiam sambil berjalan


menuju koridor sekolah sampai kita berpisah karena hari Senin ini tidak ada upacara.


***


Jam pelajaran terus bergulir sampai jam pulang sekolah berdentang keras. Aku langsung menuju kelas princess, ia menungguku ditemani Bimo yang berdiri di depannya.


"Gimana, mau ikut aku sama Reno atau mau diantar Bimo?" tanyaku pada princess.


"Sama kita ajalah, Dek! Kita jagain baik-baik." sahut Reno penuh pengertian.


Bimo memperhatikan kami dalam-dalam, seolah tatapannya menjangkau kebenaran atas ucapan Reno.


"Yakin deh. Kamu cukup percaya aja dengan kita dan kamu bisa melanjutkan kegiatanmu setelah pulang sekolah. Ibumu mungkin butuh istirahat, Bim!" kataku seraya tersenyum tulus.


Bimo menatap Dalilah, lalu tanpa suara ia berlalu begitu saja. Seolah ada chemistry antar keduanya, chemistry tahu-sama-tahu apa yang harus mereka lakukan saat tidak bersama.


Dalilah menyunggingkan senyum manis seraya berkata. "Apa kita cuma rapat saja mas?"


"Maksudnya, Dek?" tanya Reno sambil berjalan beriringan.


"Ayo kita jalan-jalan habis rapat! Habis ini Lilah bakal semedi soalnya sampai hari perlombaan tiba."


"Semedi?" tanyaku bingung.


Dalilah mengangguk, lalu tatapannya menginginkan pengertian.


"Terserah kamu, yang penting kamu masih jadi pacarku!" kataku sambil membuka pintu penumpang untuknya. Dalilah membungkuk hormat seraya tersenyum. "Thankyou mas!"


Aku pun juga masuk ke dalamnya seraya mengenakan sabuk pengaman.


Reno membanting pintu mobil dengan kencang sambil menggerutu kesal.


"Ongkos taksi mobil sport mahal, Rev! Bensinnya mahal, pajaknya juga mahal!" gumamnya sambil menekan pedal gas dan kopling seraya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari parkiran sekolah.

__ADS_1


Sementara aku dan Dalilah cekikikan dibelakang saat Reno terus menggerutu kesal karena kami berdua serasa numpang pacaran di mobilnya.


...Happy Reading...


__ADS_2