
...Season 2 ini udah novel dewasa, yang belum nikah jangan baca!...
Revi.
"Enggak, dear! Enggak! Nanti kamu gigit! Kamu kan sembrono!" Aku mendorong bahunya pelan.
Dalilah tersenyum lebar dan nakal.
"Pelan kok." katanya.
Aku bergidik ngeri saat membayangkan Dalilah mengulum benda paling berharga dalam hidupku.
Cacing besar tapi pendek.
Dalilah menyebutkannya begitu. Padahal rata-rata ukuran Mr. P laki-laki pribumi memang segini. Sungguh aku ruwet menjelaskannya, yang aku takutkan ia malah membayangkan ukuran Mr. P laki-laki lain nanti dan membandingkan dengan milikku.
"Lilah gak boleh mencobanya dulu mas?"
Aku menggeleng. Aku belum siap istriku melakukan hal ini, aku belum siap digigit sementara percintaan kemarin diatas kursi gaming membuatku tersentak kaget, jantungku deg-degan parah karena ulahnya yang noob. Istilah untuk pemain game baru.
"Ya sudah kalau gak boleh! Paling-paling mas Jati takut ketagihan! Jadi gak mau." Dalilah menyunggingkan senyum menawan yang miring, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Tangannya sibuk memainkan hp dan sesekali tersenyum sendiri, bahkan mengeluarkan tawa renyah.
Aku penasaran dengan siapa ia berbalas pesan, karena aku tidak pernah menyentuh barang pribadinya. Kecuali tubuhnya. Milikku.
"Siapa?" tanyaku seraya menjadikan pahanya pengganti bantal.
Dalilah mengusap-usap kepalaku, mengecup keningku, tanpa menjawab pertanyaanku.
"Gak mau jawab pertanyaanku?" sahutku setengah kalem.
Dalilah menaruh ponselnya, ia merangkul leherku sebelum menatapku dengan mata beningnya. "WA grup sepupu... Kenapa, curiga?"
Aku mengangguk jujur. "Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang membuatku bahagia selain aku? Honeymoon kita?" tanyaku beruntun.
Dalilah menunduk dalam untuk mencium ujung hidungku. "Banyak bertanya menandakanmu sedang gelisah mas!" ucapnya.
Aku menghembuskan nafas. "Aku tahu sepupumu banyak, namun aku bisa mengingat sepupumu yang bernama Arkananta. Dia memiliki tatapan mata yang berbeda saat menatapmu! Seperti saat aku menatapmu dulu! Penuh sayang dan perhatian." kataku hati-hati.
Dalilah membasahi bibirnya, ia bahkan menengadah menatap langit-langit kamar. Dadanya mengembang ketika menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
Aku memiringkan kepala, menghadap perutnya yang ramping dan terbalut baju tidur satin yang halus.
"Kenapa?" tanyaku. "Ada masalah dengannya?"
Dalilah menggeleng pelan, ia memilih menunduk untuk mengecup puncak kepalaku.
"Tidak ada masalah dengannya, hanya saja dia memang sepupuku paling dekat!" jawabnya berusaha tenang, walaupun aku sadar detak jantungnya berubah cepat saat membicarakannya, wajahnya juga muram.
Dalilah menyembunyikan sesuatu dariku tentang Arkananta. Itu sudah pasti.
Aku tersenyum kecil. "Mau tidur?" Aku bangkit, mengambil air putih. "Sudah jam sepuluh lebih! Besok aku harus kembali ke rumah sakit!" kataku sebelum menenggak air putih sampai habis.
Dalilah mengangguk, berusaha menyunggingkan senyum untukku.
"Aku hanya tidak mau merusak honeymoon kita, itu saja. Maaf mas!" gumam Dalilah. Ia menatapku dengan muram selama beberapa saat; lalu bahunya melesak turun, berbaring dengan posisi meringkuk menghadapku.
"Kamu tidak akan merusak honeymoon kita hanya dengan kejujuranmu tentang Arkananta!" ucapku, masih duduk bersila menatapnya. Berusaha setengah mungkin dengan kejujuran-kejujuran yang akan terasa pahit.
Dalilah menggerakkan rahangnya, hal yang ia biasa lakukan jika ragu dan memikirkan sesuatu.
"Dia adalah laki-laki yang menemaniku bertransisi selama aku jauh darimu." Dalilah mendesah, matanya mengerjap, meski tak melihatku aku tahu dia sedang mengumpulkan ingatannya tentang Arkananta.
"Aku tinggal bersamanya selama aku di Melbourne, bersama orangtuanya sebagai waliku disana."
Aku terusik. Astaga. Harus bagaimana aku menyikapi hal ini, sementara aku mungkin saat ini cemburu.
Hampir delapan tahun mereka tinggal satu atap. Apa saja yang mereka lakukan bersama? Itu lebih banyak pastinya daripada hari-hariku bersama Dalilah sewaktu SMA, bahkan saat ini.
"Sebaiknya kita tidur!" uucapku sebelum menarik selimut untuk menutupi badannya.
"Love you, dear!" bisikku rendah ditelinganya sebelum berbaring.
Dalilah memelukku dengan tiba-tiba. Aku terkejut, meski bisa tersenyum manis seraya mengusap bahunya.
"Aku takut jika dulu kamu tidak kembali dan bertahan denganku, mas! Itu lebih menakutkan daripada harus menjalani kenyataan bahwa sepupuku sendiri menyukaiku, ia mencintaiku, karena kesalahanku!" urai Dalilah serak.
Aku mendengarnya. Tergugu kenyataan bahwa masalahnya lebih buruk dari yang aku duga. Kesalahan apa yang ia buat, sampai sepupunya sendiri mencintainya. Aku perlu tahu, dan aku bisa mendengarnya bercerita. Seperti halnya ia yang mendengar ku bercerita tentang princess Aleta dengan baik dan dewasa.
"Aku seperti menerima karma yang orangtuanya lakukan. Ehm... maksudnya, Ayahanda, Om Nanang dan Ibunda adalah tiga orang yang memiliki cinta yang begitu besar satu dengan lainnya. Om Nanang adalah cinta pertama ibuku, dan Om Nanang adalah pamannya Arkananta!" Dalilah membuang nafas, lalu menghirup dalam-dalam.
"Selama ibundaku berjuang untuk berada di posisinya sekarang, om Nanang dan adiknya menjadi orang baik untuk ibuku! Dan aku, aku harus terjebak dalam putaran karma mereka. Arkananta menyukaiku sementara orangtuaku tidak bisa berbuat banyak karena mereka berhutang budi kepada om ku dan ikatan darah diantara kami." Dalilah mengusap wajahnya yang terlihat begitu muram.
__ADS_1
"Ini menyedihkan, mas! Aku menyayangi keluargaku lebih dari apapun, tapi aku juga menyayangimu! Maafkan aku, sudah membawamu dalam masalah ini."
Aku menarik Dalilah lebih dekat, menyembunyikan wajahnya yang terlihat sedih dan kalut. Ia pasti tidak punya kuasa untuk melawan takdirnya sendiri, sementara aku yakin Ayahanda juga tidak akan setuju melihat putrinya membuat skandal percintaan dengan sepupu sendiri. Aku tenang untuk satu hal itu.
"Terimakasih! Kamu sudah jujur tentang Arkananta. Sekarang tidurlah!" Aku mengusap punggungnya agar tenang.
Dalilah mengangkat kepalanya untuk mencium rahangku, tangannya mengusap pipiku. "Terimakasih sudah menikahiku, menjadikan aku sebagai wanitamu. Kamu yang pertama dan terakhir! Sementara Arkananta adalah kesalahan, karena ia menjadi pacar bohonganku selama di Melbourne."
"Dan itu hanya trik untuk membuatmu tidak di lirik cowok bule yang menyukaimu?" tebakku.
Dalilah mengangguk. "Banyak bule yang menyukaiku karena aku imut-imut, seolah aku ini gadis lemah yang bisa untuk dimainkan! Dan Arkananta melindungi ku dari mereka sampai aku pulang ke sini, bertemu denganmu lagi!"
Astaga. Kenapa honeymoon ini justru berubah menjadi melodrama?
Tidak ada gairah yang menyala-nyala seperti honeymoon kemarin di rumah.
Mood kami sudah hancur oleh kenyataan ini. "Maaf aku merusak honeymoon kita!" ujarku menyesal, harusnya Arkananta dibahas nanti saja, tidak perlu sekarang!
"Aku bisa memperbaikinya, karena selama di luar negeri aku sering melihat hal-hal seperti ini dengan gamblang! Aku sering membayangkan bagaimana rasanya, dan kamu tempatku belajar yang sah dan berpahala besar!"
Belajar tentang seksualitas? Huahahaha. Tubuhku menjadi bahan praktek istriku sendiri. Kalau gagal diulangi lagi sampai pintar? Ini konyol sekaligus menyenangkan. Astaga... Doa apa Dalilah sampai aku benar-benar jatuh kepadanya.
Aku menggeleng pelan. "Kalau lapar makan! Jangan makan cacingku! Ini langka, aku jamin tidak ada yang lainnya kalau kamu gigit dan sakit!"
Dalilah berdecak, kakinya menindih kakiku dan tangannya mencubit pipiku. "Padahal aku rela sakit untukmu!"
Ya ampun... Stop, stop...
Aku menjentikkan jariku di keningnya.
"Kamu kecil-kecil n*fsunya gede juga, dear! Bahaya." selorohku.
"Bukan besar! Cuma penasaran!" dustanya sambil tersenyum lebar.
"Terserah! Aku mau tidur! Besok harus ke rumah sakit! Bisa berabe urusannya kalau yang aku ingat cuma kamu dan seluruh tubuhmu!" celetukku seraya menyembunyikan cacing kesayanganku dibalik guling.
"Iya... Aku ngalah, tapi kapan-kapan boleh kan?"
Aku mengangguk pasrah, selama itu tidak membuatnya kapok, aku mau-mau saja!Pengalaman baru. Wajib di coba.
...Happy Reading...
__ADS_1
...š¤š¤£...