ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 42


__ADS_3

Revi.


Pandu mencium kening keponakan dengan pelan saat kesadarannya mulai pulih dalam benaknya.


"Ini lho yang buat aku sayang banget sama Ibunda! Wanita itu benar-benar kuat!" Akunya sambil tersenyum lebar.


Dalilah yang sudah di pindahkan ke ruang inap VIP tersenyum maklum. "Betapa dahsyatnya proses awal kehidupan manusia, gak semudah saat membuatnya!" jelasnya terang-terangan di hadapan depan Pandu.


Masuknya bisa keluarnya susah.


Pandu mendengus. "Jangan bicara yang aneh-aneh to, aku males, aku tidak mau kepolosan ku luntur gara-gara pembicaraan kalian!"


Mommy yang mendapatkan cucu kedua terkekeh kecil, ia menepuk pundak Pandu dan ikut memandangi cucunya.


"Menurut ndomas, bayi ini mirip siapa?" tanya mommy.


"Mirip aku!" Akunya lagi percaya diri.


Mommy menoleh untuk menatap Pandu. "Hanya bibirnya yang mirip kamu sama Dalilah, sama alisnya, juga hidungnya." jelas mommy meneliti wajah cucunya.


Pandu tetap mengangguk tanpa protes. "Yang penting mirip, Nek." sahutnya santai.


Mommy terkekeh geli, ia suka dengan Pandu karena mommy pernah bilang dia pangeran yang santai, berbeda dengan kakaknya yang pendiam bahkan Suryawijaya belum juga kesini untuk melihat keponakannya. Mungkin jadwal kuliahnya baru sibuk, atau...


Putraku menangis lagi, Dalilah yang sedang belajar menyusui pasti tersenyum malu saat ia hendak menyusui putranya.


"Tutup matanya!" ujarnya sambil mengibaskan tangan. Aku dan Pandu berbalik. Pandu berjalan menuju jendela kaca yang menunjukkan pemandangan langit sore.


Aku menemaninya. "Dimana Suryawijaya, Ndu?"


"Belum pulang dari kampus, mas Surya kan juga kerja freelance demi... Demi dayang Ibunda!" Pandu tersenyum getir.


Aku merangkulnya. Suryawijaya mungkin akan mengulangi tragedi yang pernah terjadi diistana ini, namun ia bisa bersikap gentle.


"Jadi, kamu mau cari yang satu tembok?"


Pandu menghela nafas. "Mungkin, karena aku sayang sama Ibunda jadi aku mau menuruti keinginan beliau."


Aku menepuk-nepuk pundaknya. "Sekali-kali boleh melihat yang di luar istana, itu kebebasan dalam jatuh cinta."

__ADS_1


"Ah, mbuhlah! Aku mau jajan di kantin. Mau titip apa mas?" tawarnya.


Aku tersenyum lebar. "Duduk manis, biar aku pesan langsung dari sini. Mau apa?"


"Apa saja yang enak-enak!" jawab Pandu sambil duduk di samping mommy, kedua orang asyik itu ngobrol sebentar sebelum cekikikan.


"Papa aku juga..." sela Dalilah disaat ia masih menyusui anaknya. Ish..., sudah jadi ibu-ibu tetap saja menggemaskan.


*


Kepulangan Dalilah dari rumah sakit disambut dengan hangat oleh keluarga besar. Sajen jenang abang-putih pun dibuat sebagai lambang kehidupan manusia yang tercipta dari air kehidupan kami orangtuanya.


Aku sangat-sangat bersyukur menjadi bagian dari mercusuar tertinggi penggiat budaya ini. Mungkin sebentar lagi aku juga bakal menjadi salah satunya dengan profesiku sebagai dokter.


Bagaimanapun keluarga besar ini sangat mendukungku, mereka memahami kondisiku yang masih berusaha menjadi dokter. Meski dalam satu bulan sekali, ada jadwal khusus yang mengharuskan aku memeriksa kondisi semua abdi dalem yang mengabdi di istana ini.


Aku sangat-sangat bersyukur atas segalanya yang diberikan sang pencipta untuk takdirku ini. Semua indah dan terasa ini saat aku benar-benar menjadi seorang ayah dari kedua anak yang kini duduk di depanku.


"Papa, siapa nama adik?" tanya Aleta, gadis kecilku yang sudah mau masuk sekolah dasar ini menusuk lesung pipi adiknya.


"Coba tanya mama!" ucapku sambil tersenyum lebar. Aleta mendekati Dalilah yang sibuk menyiapkan baju ganti untuk Raden Mas Pradipta Jayantaka Adiguna Pangarep. Nama yang diberikan oleh Ayahanda untuk cucunya.


"Mama, siapa nama adik?"


"Mas Dipta." jawab Dalilah seraya menyunggingkan senyum. "Kok mas? Pliincess kan kakak!"


Dalilah menyelipkan anak rambut Aleta ke belakang telinganya. "Namanya memang Mas Dipta, sayang. Coba panggil adikmu..." pinta Dalilah.


Mas Dipta yang berstatus adik, Haha. Aleta jelas bingung terlihat dari ekspresinya. Ia kembali menoel-noel pipi adiknya. "Mas Dipta... Mas Dipta." panggilnya berulang kali dengan gemas.


Fase ini aku masih lega karena Raden Mas Pradipta masih suka bobok nyenyak, aku bisa menjalani ujian UKMPPD tahap akhir dengan tenang, setelah itu internship.


Butuh perjuangan panjang sebelum aku benar-benar menjadi seorang dokter.


Dan wanitaku akan setia menemani perjalanan ini dengan baik dan manja.


Dalilah menyunggingkan senyum lembut saat aku menatapnya.


"Kenapa?" tanyaku seraya menghampirinya. Aleta duduk di pangkuanku. "Gimana rasanya menjadi seorang ibu?"

__ADS_1


"Tidak ada kata-kata yang pas untuk menjabarkannya. Tapi aku bahagia." jawab Dalilah seraya menyandarkan kepalanya di lenganku.


Aku memeluk kedua perempuan yang menguatkanku dalam langkah-langkah panjang menuju pendewasaan diri. Aku mencintai mereka, dan kini akan ada Raden Mas Pradipta yang akan menjaga Dalilah jika aku sibuk kerja.


Ah, aku beruntung anakku laki-laki, jika perempuan lagi aku pasti memilih untuk dirumah saja, mengabdi seumur hidupku disini hanya demi menjaga perempuan-perempuan ini.


*


Aku kembali menyaksikan betapa megahnya kekayaan budaya yang berharga dalam kehidupan masyarakat Jawa saat tradisi aqiqah yang masih kental dengan budaya Jawa terlaksana dengan lancar dan sakral di dalam istana.


Ayahanda mencium kening cucunya dengan pelan. Binar matanya yang sudah tua terlihat bahagia sekali. Mommy dan Daddy pun tak kalah bahagianya, mereka menghadiahi cucu keduanya dengan kekayaan yang akan di limpahkan kepadanya karena kakak tiriku Asmira sudah hidup di luar negeri bersama suaminya yang membuatnya bahagia dalam kesederhanaan.


Aku menggandeng Dalilah untuk pergi ke taman, kami berdua duduk di taman, dibawah pohon Kamboja yang masih hidup hingga kini.


Sejuknya udara pagi membuat suasana menjadi syahdu. Dalilah tersenyum sempurna saat menatapnya.


Dalam balutan busana kebaya, ia cantik sempurna. Aku slalu terpesona melihatnya sejak dulu.


Tanganku mengenggamnya, Dalilah menoleh. Aku tersenyum hangat.


"Kamu bukan lagi pohon Kamboja kuburan yang menakutkan. Kamu adalah Kamboja-ku. Aku akan merawatmu sampai akar-akarmu menjeratku lebih dalam!"


Dalilah tersenyum lembut, ia mendekati wajahku. Bibirnya mengecup bibirku dengan lembut.


Aku tersenyum di sela-sela bibirnya yang masih membelai bibirku. Ia begitu menikmati dan mengingatkan aku waktu ia muda, gadis cantik yang penuh rasa penasaran.


Aku memeluk Dalilah, ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya sebelum menyandarkan kepalanya di dadaku.


Dulu saat kami jauh, aku merasa kesiapan. Dan kini semua kembali. Aku hanya berharap keromantisan ini akan terus berlanjut sampai tua, namun belum sempat aku amini doaku. Batu kerikil menghantam punggungku dan teriakan Pandu menyusul kemudian.


..."MBAK, DIPTA MAU MIMIK!"...


Aku mendengus, Dalilah tersenyum lebar. Akupun menggandeng tangannya untuk menemui Raden Mas Pradipta yang akan menuruni ketampananku sekaligus menuruni jiwa-jiwa petualang cinta seperti Dalilah. Aku harus siap-siap untuk menjadi ayah yang bijak, dan guruku adalah Ayahanda.


...TAMAT...


... ***...


...Terimakasih sudah menemani kisah Asmaradana Putri Mahkota. ...

__ADS_1


...Monggo yang masih enggan berpisah dengan keluarga ini bisa merapat ke Cerita Om oyen : Cinta Di Ujung Senja. ...


__ADS_2