ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 72


__ADS_3

Dalilah.


Daun jatuh tepat di rambutku saat aku menunggu Bimo di taman tak jauh dari sekolah.


Mas Revi mengambilnya seraya membuangnya. "Tenang aja. Jangan membuatku merasa bersalah karena sudah mengajakmu bolos!"


"Masalahnya bukan itu! Masalahnya Bimo bisa tidak aku ajak kongkalikong dengan baik. Aku tadi berangkat sekolah, tapi tidak sampai sekolah. Lalu aku dimana!"


"Kamu denganku, di bukit. Berdua." balasnya cepat. "Sudah tenang saja. Aku yakin Bimo bisa mengatasinya."


"Mas Revi jangan menggampangkan masalah ini!" seru ku galak.


"Tapi kamu suka?"


"Sedikit!"


"Beneran?"


Aku mendengus. "Dan bolos bagiku bukan cuma soal alpa satu hari, tapi ada hal-hal baru yang aku mengerti kalau mas Revi ini ngeselin. Bikin Lilah berada di atas masalah." Aku mendesah dan kembali duduk di atas jok motor.


"Sumpah, kamu juga ngeselin, Lilah!" balasnya membuatku menoleh cepat. Aku mengamati seragamnya yang sudah berantakan lalu menatap wajahnya yang sedikit jengkel.


"Apa alasannya?" tanyaku sambil menyipit curiga.


"Tadi kamu pegang tanganku terus-menerus, bilang kalau suka, kalau kamu baru saja merasakan bagaimana rasanya bolos sekolah. Sekarang ngomel-ngomel. Apalagi malah menganggapku menambah masalah. Jahat tau!" serunya sambil menyesap rokok elektriknya.


"Habis mas Revi ini kayak setan! Gangguin Lilah!" kataku agak ketus.


Mas Revi langsung mencubit pipiku dengan gemas. "Terserah kamu!"


Aku mengusap pipiku lalu memandang jalanan di depanku, memandang jalan yang harusnya Bimo sudah terlihat karena ini sudah jam pulang sekolah.


"Latihan dimana nanti?"


"SMA-nya mas Derren."


"Ah... cewek-ceweknya cantik!"


"Aku cemburu!"


Mas Revi tersenyum miring. "Aku gak percaya! Lagian apa kamu tahu cemburu itu gimana rasanya?" tanyanya, "Tapi jujur cewek-ceweknya cantik, mantanku ada disana. Satu!"


"Lilah gak peduli!"


"Kalau nanti ketemu, salam ya buat Adele."


Aku mendengus kesal. Lagian cemburu bagaimana sih rasanya, rasa tidak suka yang berlebihan pada sesosok perempuan yang mas Revi bicarakan? Atau perasaan tersaingi, tertekan, tidak terima. Aku mengendikkan bahu.


"Nanti Lilah cari dulu Mbak Adele yang mana baru aku sampaikan salamnya." kataku datar.


Mas Revi tergelak kemudian. "Aku bercanda." katanya sambil mengusap punggung pelan.

__ADS_1


"Kalau enggak juga tidak apa-apa, kan hanya sebatas salam. Bukan rayuan!"


Kemudian Bimo datang. Ia bergegas turun dari motor dengan cepat.


"Kemana saja?" tanyanya dengan wajah gusar dan serius.


"A-ku... A-ku, tadi bolos sama mas Revi." jawabku jujur sambil mengatupkan kedua tanganku. "Jangan bilang sama Ayahanda ya, bilang saja aku tadi ada kegiatan di luar sekolah bareng mas Revi. Kegiatan dadakan!"


Aku mendengar suara tawa mas Revi dibarengi suara dalam dari Bimo.


"Bahayanya dirimu!" cetusnya seraya mengembalikan kunci motor mas Revi.


"Hanya sekali saja, setelah ini jika terjadi lagi. Saya tidak akan membantu!" katanya lagi, dalam dan tak ingin ada bantahan.


"Iya... iya..." kataku sambil mendekatinya. Aku bergeming dan menatapnya. Galaknya benar-benar seperti Suryawijaya.


"Helmnya!"


Tunggu... sepertinya disini ada salah pengertian. Bimo memakaikan aku helm di depan mas Revi.


"Bimo, sebenarnya aku hanya mau kamu mengambilkan helmnya, tidak harus memakaikan juga."


"Sudah terlanjur!" balasnya santai.


Aku berbalik sambil memasang senyum minta maaf.


Mas Revi mendengus, menyimpan rokok elektriknya lalu menepuk bahuku. "Kabari aku kalau sudah pulang." ujarnya sambil naik ke atas motor sportnya.


Bimo berdehem dan mas Revi pergi.


***


Tujuh belas menit hanya kami habiskan untuk berdiam, sampai aku tiba disekolah mas Derren.


"Harusnya ndoro putri tidak melakukan hal yang melanggar protokoler!"


Aku membuang nafas, Bimo ini mirip Suryawijaya. Galak-galak perhatian. Aku yakin itu. Cukup dijelaskan lalu ia paham.


"Cuma sekali kok! Itupun dijagain mas Revi. Benar-benar dijagain dan aku pastikan tidak ada yang mengenal kami saat membolos!"


"Itu hanya dalam benakmu, ndoro putri! Tidak dengan orang lain yang melihat kalian berdua memakai seragam dan berkeliaran bebas di luar jam sekolah."


Aku membuang nafas. Aku salah dan memang iya. Jadi aku minta maaf, dan tetap memintanya untuk membuat laporan yang baik-baik saja untuk Ayahanda nanti. Aku harap Bimo bisa diajak kompromi karena aku dan mas Revi juga sudah menyiapkan hadiah untuknya.


"Kalian berdua saja?" tanya mas Derren saat kami berdua sudah tiba di depan ruang kesenian. Sudah dapat izin dari pihak sekolah jauh-jauh hari kalau aku akan datang ke sini. Bebas bahkan slalu di beri jamuan.


Aku mengangguk.


Mas mas Derren mengangguk sambil tersenyum jenaka. "The princess and the bodyguard, right?"


"Yap!" kataku sambil membuang tas ke lantai. Membuka sepatuku lalu mengambil baju ganti.

__ADS_1


"Yang lain belum datang?"


Mas Derren menggeleng, sambil mengendikkan bahu. "Profesionalitas kurang. Aku pikir kamu akan kesusahan untuk bekerjasama dengan mereka."


Aku berdehem. "Tapi udah mixing lagunya sudah beres mas? Lilah gak tau menahu soal itu, tapi beberapa hari yang lalu memang ada yang datang ke bangsal kencana untuk recording gamelan."


Derren mengangguk. "Belum dapat tempo yang pas, masih di olah sama cowokmu dan karyawannya di studio."


Aku tersenyum bangga. Mas Revi memang punya cara tersendiri untuk mencuri perhatianku.


"Jadi hari ini kita ngapain?"


"Aku nge-drum, kamu nari! I think, kamu bisa keluar dari kebiasaanmu dari hanya menari tradisional, cobalah untuk menari kontemporer."


Aku menggeleng. "Ide yang tidak buruk. But, it's really difficult to me.!" kataku ragu.


"Not yet! Princess. Try it! Do more!" kata mas Derren, mematahkan asumsiku.


"Kita coba." ucapku akhirnya


Aku pergi ke ruang ganti. Mengganti seragamku dengan kaos dan celana olahraga.


Saat aku mengikat rambutku, aku melihat cermin. "Aku bisa. Tidak! Kontemporer adalah tarian gaya bebas yang tidak perlu menggunakan pakem-pakem dalam menari, sedangkan aku terbiasa dengan aturan-aturan itu."


Tapi lagi-lagi, jiwa-jiwa mudaku yang resah, penuh dan penasaran membuatku bertekad untuk mencobanya. Sekali, seperti bolos tadi.


Aku kembali dan masih ku dapati ruangan ini masih sepi dengan cewek-cewek penari KPop.


Aku menghampiri Bimo, ku beri dia satu permintaan untuk membelikan air mineral. Bimo setuju, tapi matanya memberikan isyarat untuk jangan macam-macam.


Bimo pergi. Dan saat itulah aku menghampiri mas Derren yang sudah berada di belakang drumnya.


"Gimana?"


"Lilah bisa dansa, tapi aku butuh beat yang lebih cepat dari biasanya. Mas Derren bisa bikin ketukan drum seperti irama dansa?" tanyaku penasaran sekaligus antusias.


Mas Derren tersenyum miring. "Aku akan menantangmu, princess!"


Aku tergelak dan mengambil posisiku. Mas Derren yang sedang menguji pedal drumnya mengangguk seraya mulai mengebrak drumnya dengan nada trap drum yang membuatku kewalahan menggerakkan tubuhku. Tapi aku serasa bebas, aku lincah dan melayang sampai lupa bahwa aku adalah putri yang harus menjaga 'citra diri.'


Bimo masuk dan aku langsung menghampirinya dengan gaya kupu-kupu.


"Sudah aku duga!" katanya.


"Haus." Aku terengah-engah. Bimo mendelik, namun juga membuka penutup botol dan memberinya padaku. Perlakuan yang sama dengan yang mas Revi lakukan padaku.


Mana yang lebih istimewa, saat mas Revi yang mencintai, atau saat Bimo yang semestinya melakukan itu.


Aku meminumnya. Tak lama, segerombolan gadis-gadis cantik dengan busana kekinian datang mengerubungi Bimo yang menurut mereka. Indah tak sempurna.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2