ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 97.


__ADS_3

Revi.


Kenyang membuatku tidak pergi ke kantin hari.


Aku benar-benar kenyang setelah menghabiskan satu rantang penuh makanan dari Dalilah tadi pagi.


Perutku begah, agak buncit, dan parahnya lagi aku kentut dari tadi.


Entah pacarku masaknya gimana, pakai bumbu apa, aku gak ngerti. Tapi masakannya tak seburuk efeknya ini.


Aku menelengkan kepala sambil menepuk-nepuk perutku sebelum tersentak kaget melihat Reno yang terpogoh-pogoh masuk kelas.


Wajahnya begitu panik, nafasnya terengah-engah, ia menarik tanganku cepat-cepat sampai aku nyaris menghantam meja dan pintu.


"Incess berantem, Rev!" ujarnya cepat seraya menuruni tangga. "Di toilet sama Angel!"


Aku mengumpat dan langsung berlari secepat mungkin ke toilet cewek. Ini bener-bener gila! Princess berantem itu sesuatu yang gak wajar dan pasti ada penyebabnya.


Mataku nyalang melihat sekitar. Kerumunan siswa memadati bibir toilet dan berseru keras mendukung aksi keroyokan ini.


Bangsat! Kenapa malah di dukung sih!


"Minggir!!!" Aku menyibakkan cewek-cewek yang berada disini. Mereka terkesiap. Aku benar-benar panik saat mendengar erangan kesakitan, makian dan umpatan dari dalam.


"Cewekmu kesurupan, Rev!" celetuk seseorang.


Aku mendesis dan tak percaya Dalilah benar-benar berantem dengan Angel.


Mereka benar-benar kacau dengan rambut berantakan, seragam acak-acakan dan beberapa tangan yang terkena cakaran kuku.


"CUKUP!" teriakku sambil menarik tangan Dalilah dan mendekapnya. Ia terkesiap dan memukul-mukul punggungku kesal, memberontak tidak mau diam.


"Aku gak suka sama dia, aku gak suka!" pekiknya sambil berontak terus.


"Bawa Angel, Ren!" teriakku saat mereka masih ingin bertengkar lagi.


"Lo cuma bikin masalah disini!" cecar Reno. "Gue gak bikin masalah, gue cuma bilang dia basi, dia gak pantes buat Revi! Tapi dia langsung jambak gue! Cewek itu gak beres!"


"Bangsat!" maki Reno sambil menariknya keluar dari toilet. Angel menggeram dan masih meneriakkan nama Dalilah seraya mengumpatnya.


Aku mengusap punggung Dalilah saat ia terisak-isak dengan tangan yang terus memukul-mukul punggungku pelan.


"Kenapa lagi?" tanyaku pelan sambil menahan kentut di ujung sana.


Dalilah melepas pelukannya. Ia mengusap wajahnya dan menatapku sendu.


"Dia bilang aku gak bisa bikin kamu bahagia dan kamu menderita karena AKU!!!"

__ADS_1


AKU....


Tangisnya semakin pecah saat menyebut kata bahagia sambil menuding dadaku dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.


Apa selama ini wajahku terlihat menderita? Sesaat kemudian aku sadar, dia memikirkan kebahagiaanku. Dia tahu aku sering tertekan karena bertemu dengan keluarganya dan banyak hal yang sudah terjadi. Dia pintar membaca ketakutanku.


Hatiku tenggelam dalam harapan yang pecah berantakan. Namun, sampai detik ini untuk berhenti bukan sebuah pilihan, karena aku percaya bisa melewati ini.


"Cuci wajahmu sebelum kita ke UKS!" Aku berusaha tersenyum, walau aku tahu setelah ini urusannya berat lagi.


Banyak kemungkinan besar yang akan terjadi, yang paling buruk aku dan Lilah tidak akan baik-baik saja.


Dalilah terisak sambil menggeleng keras kepala dan yakinlah, dia benar-benar kacau.


"Aku mau pulang!" tuntutnya.


"Basuh dulu wajahmu lalu aku antar pulang!" jawabku sambil menariknya menuju wastafel.


Dalilah membasuh wajahnya dengan air sebelum merentangkan kedua tangannya. Minta peluk.


Aku memeluknya, terasa begitu miris saat aku menginginkan keromantisan tapi yang terjadi justru ia mengeringkan wajahnya dengan seragamku.


***


Aku mengantar Dalilah sampai di kelasnya untuk memastikan dia tidak meledak-ledak lagi saat di pandang aneh oleh siswa-siswi lain yang kamu lewati.


Dalilah menyaut tasnya sebelum memandangi bangku kosong yang berada di belakangnya. Bangku yang ia klaim milik Bimo.


"Kamu mau ketemu Bimo?" tanyaku setengah hati sebelum kami berdua menuruni anak tangga. "Ke UKS dulu, lukamu harus di bersihkan biar gak infeksi."


"Lilah pasti di hukum Ayahanda!" katanya terdengar putus asa.


Aku mendorong pintu UKS yang terbuka setengah. Dua pasang mata langsung menatap ke arah pintu.


Aku mendengus kesal, lalu membatalkan rencana untuk membawa Lilah ke sini saat ku lihat Angel ada di dalam.


"Kenapa di tutup lagi?" tanya Dalilah heran.


"Apa kamu juga mau berantem lagi di UKS?" balasku sambil menyengir kuda. Dalilah menjep sebelum melengos terlebih dahulu.


Aku berlari kecil menuju ruang piket. Aku mengambil dua lembar surat izin dan memberinya cap sendiri sementara guru piket pasrah saat aku bilang titah Raden Ayu Dalilah. Pemilik otoriter paling istimewa disekolah.


Dalilah menungguku di depan mobil, bergeming dengan pandangan kosong.


Aku menyentuh bahunya dengan pelan, ia mengerjap sesaat sebelum melihatku tanpa emosi.


"Ayo... Aku antar pulang!" ujarku sambil membuka pintu penumpang.

__ADS_1


Dalilah menurut tanpa banyak kata, ia bahkan membuang wajahnya ke jalanan sepanjang aku mengantarnya pulang.


"Tunggu!" Aku keluar dari mobil untuk membeli P3K di apotik.


Wajahnya datar selama aku membersihkan lukanya, tak ada penolakan namun juga tak ada kehangatan dari sorot matanya. Kesimpulannya, dia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.


Aku menyentuh pipinya yang terasa lembab. "Nanti aku temenin kalau Ibunda atau Ayahanda tanya kenapa kamu bisa begini." ujarku diplomatis karena kejadian tadi ada sangkut-pautnya denganku.


"Tidak perlu! Lilah tidak mau mas Revi dimarahi Ayahanda."


Aku mengangkat sebelah alisku. Bagaimanapun keras kepala Dalilah ini bukan hanya menyangkut kepentingan bersama namun ada hal-hal yang bersifat pribadi yang ia pikir tidak harus ia bagi denganku.


Aku mengantarnya sampai ke depan pintu gerbang rumahnya, ia memandangiku dalam-dalam sebelum tersenyum manis.


"Terimakasih mas Revi."


Aku memandangnya dari kejauhan saat para abdi dalem mendatanginya dengan cepat sekaligus cemas. Dalilah menggelengkan kepala lantas masuk ke dalam rumah setelah membungkukkan badannya sopan.


Seharian dia tidak ada kabar, sampai seminggu ke depan dia tidak datang ke sekolah.


Hari-hari berikutnya, ada yang berbeda dengannya. Dia lebih dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya.


Sementara Angel tetap menjadi duri dalam daging bagi kami. Dia tetap sekolah disini, menunjukkan prestasinya, dan membuat dirinya seolah-olah lebih unggul dari Lilah dari segi apapun.


"Lihat princess gak?" tanyaku pada teman sekelasnya.


"Di perpus!"


Aku langsung ke perpustakaan, mengedarkan pandanganku dan menemukannya disana.


Aku menghampiri Dalilah di sudut perpustakaan. Sendirian, sementara Bimo hanya sekedar mengawasinya dari jauh.


"Sibuk?" Aku duduk disebelahnya, Dalilah menggeleng tanpa kata.


"Belajar apa?" tanyaku lembut. "Geografi!"


"Udah makan?"


"Sudah."


Aku menunggunya sampai bel istirahat berbunyi. Berharap bisa jalan berdua disepanjang koridor sekolah dengan semangat anak SMA yang membara.


"Lilah sudah memutuskan untuk home schooling biar Bimo gak perlu jagain Lilah dan mas Revi bisa menikmati masa-masa indah anak SMA tanpa terbebani dengan keberadaanku. Semoga mas Revi mengerti dengan keputusan Lilah ini, karena Lilah juga mau mas Revi bahagia."


Dalilah tersenyum, ia memberesi buku-buku pelajarannya sebelum beranjak.


"Jangan lupain Lilah, karena Lilah home schoolingnya di Australia, tidak disini!"

__ADS_1


Mataku menghangat. Aku benar-benar tidak percaya selama ia menghindariku hanya ia gunakan untuk semedi dan memutuskan untuk pergi dariku sejauh itu.


...Happy Reading....


__ADS_2