ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 2


__ADS_3

...Yup! Ini season 2 saat mereka sudah dewasa....


...Selamat Membaca....


...***...


Dalilah.


Aku berdiri di depan butik kenamaan anak muda sembari menerawang jauh ke masa lalu.


Dua remaja SMA sedang memilih flatshoes sembari malu-malu kucing. Dua remaja yang jatuh cinta dan dua remaja yang memilih berhenti karena keadaan.


Aku tersenyum getir dan menoleh saat tubuh mungil terpental menabrak tubuhku.


Dengan cepat aku berjongkok meraih gadis mungil ini. "Hei... kamu gak papa?" tanyaku sambil merapikan rok tutunya yang tersingkap. Namun mataku melirik premium branch shop miliknya.


Aku tersenyum, dia meringis. "Tante... Papa mana?" tanyanya padaku sambil celingukan.


Aku pun ikut meringis dan mengedarkan pandanganku melihat sekeliling. Tidak ada manusia-manusia yang kebingungan mencari bocah ini.


"Kamu sendiri?" tanyaku heran sambil berdiri.


Gadis ini menggeleng dengan menggemaskan. "Papa ada di bawah, aku lari duluan soalnya aku mau menang!" ujarnya riang.


Aku membuang nafas lega. "Oke deh, kalau gitu Tante temenin kamu nungguin papamu disini!"


"Tante mau jadi mamaku?" tanyanya sambil menatapku dengan tertarik.


Aku meringis, sungguh permintaan polos dari gadis kecil yang minta mama ini terdengar membingungkan.


Aku menggandeng tangannya, mengajaknya masuk ke dalam store yang menjual banyak sepatu cewek untuk mengajaknya duduk.


"Siapa namamu?"


"Princess!"


"Papa..." Gadis kecil itu berlari kecil menuju seseorang yang memanggilnya.


Aku menoleh cepat ke arah suara. Suara itu. Mataku langsung membeliak, otot-otot di tubuhku langsung menegang disaat aku melihatnya disini, di depan mataku setelah tujuh tahun berlalu tanpa kabar.


"Papa aku sudah menemukan mama!" seru gadis itu dengan gembira sambil menunjukku.


Revi langsung mengikuti arah jari telunjuk putrinya. Aku menoleh langsung, membuang muka.


Tanganku dengan refleks memegang dadaku yang berdetak kencang.


Dia sudah menikah dan punya anak, mungkin berusia sekitar lima tahun lebih. Secepat itu dia menikah setelah kejadian itu sementara tujuh tahun ini aku hanya bergelut dengan bangku kuliah dan menolak pria-pria yang lebih tampan dan tinggi darinya hanya karena aku berharap janji itu masih berlaku.


Tapi nyatanya aku seperti tertampar oleh kenyataan bahwa ia tidak benar-benar menepati janjinya. Dia tidak berharap pada Tuhan bahwa kita akan dipertemukan kembali saat dewasa dan kembali jatuh cinta.


Dadaku sesat, aku belum terlatih untuk pertemuan ini. Bertemu dengan cinta pertamaku yang masih menjadi hantu-hantu masa laluku yang terkadang gentayangan mengganggu ketenangan ku.


"Tante, ini papaku!" seru gadis itu sambil menarik tanganku.


Aku mendongak. Revi menatapku dengan terpana, kehilangan kata-kata. Wajahnya seolah kehilangan aliran darah. Terlihat pucat.

__ADS_1


"Papa, kok diam sih! Tante juga. Ish..." Gadis itu berdecak kesal sambil menggoyangkan tangan Revi, aku beranjak.


"Tante harus pulang! Jadi, lain kali jangan pergi jauh-jauh dari orangtuamu ya. Bahaya!" tuntutku sambil mengusap kepalanya.


Gadis kecil ini justru merengek, minta Revi untuk mencegahku pergi.


Aku sungguh tidak nyaman dengan kondisi ini. Aku terlalu larut di dalam sembilu masa lalu yang mencekik rasa percaya diriku.


Revi mendekat, menghapus jarak di antara kami. Tangannya yang gemetaran menarik tangan kananku, suaranya terdengar serak saat ia menyebutkan namanya.


Revi.


"Revi." Aku membeo.


Revi mengenggam tanganku lebih erat, aku memandang langsung ke manik mata coklatnya, mencari apapun yang bisa menjawab rasa penasaranku. Tidak ada. Hanya ada manik mata coklat yang memantulkan diriku.


Gadis kecil ini bersorak gembira. "Papa, tante mau gak jadi mamaku?" tanya bocah itu polos, namun terdengar aneh bagiku. Apa mungkin istrinya Revi sudah tiada dan dia menjadi duda.


Oh my gosh... Kasian Revi dan gadis kecil ini.


Revi melepas tanganku, ia menggeleng pelan. "Tante harus pulang, jadi Tante tidak bisa menjadi mama princess! Oke? Sekarang kita makan siang dulu terus beli mainan!" bujuk Revi sambil menggendong putrinya.


Gadis ini semakin merengek kesal. "Tapi tante ini mirip dengan Mama! Pokoknya aku mau mama! Aku mau mama!" jerit putrinya.


Aku bergeming menatap Revi yang kelabakan mengurus putrinya. Aku tersenyum iba. Aku tahu rasanya kehilangan seorang ibu untuk beberapa saat dalam hidupku saat berjauhan dengan Ibunda. Dan Tante Irene lah yang menggantikan perannya.


Tapi apa iya aku juga harus menjadi tante untuk anak dari mantan kekasihku sendiri? Takdir begitu lucu.


Gadis kecil ini menangis, membuat semua orang melihat ke arah kami bertiga.


Revi menatapku sendu sambil membiarkan putrinya mendekatiku.


Gadis ini mengusap wajahnya yang basah dan tersenyum lebar di sela-sela isakan tangisnya.


"Tante mau jadi mamaku?" pintanya lagi.


Aku tergelak sendiri sekaligus pusing harus jawab apa sementara aku belum punya kejelasan tentang ini semua.


"Tante mau jadi Tante kamu sehari!" jawabku ringan.


"Kok cuma sehari? Pliiincess gak suka!" rengeknya lagi dengan manja.


Aku kembali tergelak. Bocah ini keras kepala sekali, mungkin keturunan bapaknya.


Aku melirik ke arah Revi, ia menghela nafas dan mengangkat bahunya. Terlihat pasrah sekali dengan putrinya yang rewel.


"Kalau gitu cuci wajahmu dulu, ayo ke wastafel!" Gadis kecil ini mengangguk dan menggandeng tanganku.


Dengan sedih aku meninggalkan butik ini. Seolah belum saatnya aku membeli flatshoes baru padahal aku butuh banget untuk pergi bersama keluargaku besok.


Di depan wastafel, gadis kecil ini masih merengek minta di basuh wajahnya, lalu dikeringkan dengan tissue dan di sisir rambutnya biar cantik lagi.


Ia terlihat benar-benar merindukan sosok seorang ibu.


Well... Aku harus berdamai dengan diriku sendiri untuk siang ini. Berdamai dengan masa laluku yang sudah mempunyai anak yang sekarang justru memintaku untuk menjelma menjadi ibu dadakan baginya.

__ADS_1


Aku tersenyum lebar. "Sudah cantik! Ayo kembali ke papa Revi!"


Dia manggut-manggut dan kembali mengandeng tanganku.


Di luar kamar mandi, Revi yang menggunakan celana chinos berwarna hitam dan sweater membuang nafas panjang.


"Papa, pliiincess lapar." rengek putrinya. "Tapi pliiincess mau di suapin Tante."


Rahangku bergerak-gerak menunggu jawaban dari Revi.


Tujuh tahun tanpa kabar dan pertemuan membuat kami berdua sama-sama canggung.


Tapi sungguh. Seharusnya dia bisa menguasai dirimu sendiri jika memang ia sudah tidak lagi memiliki perasaan kepadaku. Harusnya ia hanya tertuju pada kebahagiaan putrinya tanpa harus menimbang-nimbang pikirannya sendiri.


Revi menatapku, aku mengangguk pelan.


"Princess mau makan apa?" tanyaku sambil berjalan.


"Spageti!"


Bak keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Kami bertiga makan siang bersama di restoran cepat saji.


Revi lebih banyak diam, sementara aku sibuk menyuapi putrinya yang lapar banget.


Aku melirik jam tanganku, satu jam sudah berlalu dengan lambat. Gadis ini juga sudah puas dengan makan siangnya.


"Papa, jadi beli mainan?" tanyanya.


Revi mengangguk pasrah. Aku? Jangan ditanya, tanganku sudah di gandeng dengan erat-erat. Diajak beli mainan, disuruh milih boneka mana yang lucu dan aku boleh membawa satu boneka yang ia pilih.


Ini hadiah setelah menjadi baby sitter? Bukan ini malapetaka besar bagiku. Harus aku apakah boneka domba ini? Aku sembelih? Tidak bisa!


Aku pajang di kamar? Usiaku sudah dua puluh empat tahun lebih. Masih pantaskah?


Namun yang paling mengerikan dari itu semua. Boneka ini hanya akan mengingatkan aku kepada ayahnya.


"Terimakasih! Sekarang princess pulang dengan papa karena Tante juga harus pulang, oke!" bujuk ku sambil tersenyum manis.


"Rumah Tante dimana? Pliincess boleh main sama papa?"


Ha Ha Ha... Ayahanda bisa jumpalitan kalau tahu aku ketemu lagi dengan Revi meski sudah tujuh tahun putaran bumi menjauhkan kami dan justru disinilah kami dipertemukan kembali dengan keadaan yang super duper mengejutkan.


"Rumah Tante jauh, harus naik gunung dulu baru sampai!" dustaku menahan senyum.


Revi tersenyum samar. "Tante harus pulang, kamu juga princess! Papa juga harus kerja lagi!" bujuk Revi dengan lembut.


Kerja? Apa Revi sudah jadi dokter?


Lagi-lagi gadis kecil ini menggeleng keras kepala. "Nanti Tante ilang, papa! Pliincess gak mau!" Kaki kecilnya menggertak lantai dan senjata paling ampuh anak seusianya untuk meluluhkan hati seorang ayah adalah menangis.


Sebelum itu terjadi lagi, aku berbesar hati untuk menemaninya pulang, meninggalkan sopirku di parkiran.


Selama perjalanan, gadis kecil ini duduk nyaman di pangkuanku, bersandar sambil menggenggam tanganku seolah takut aku akan menghilang.


Lama kelamaan, ocehannya yang sedaritadi mendominasi perjalanan ini mulai menghilang, dia tertidur pulas. Membiarkan aku dan Revi semakin larut dalam kenangan masa lalu.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2