ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 54


__ADS_3

Revi.


Boleh tidak jika aku mengumpat sekarang saat Baskara tersenyum miring seraya mendribel bola ke arahku dalam pertandingan kali ini. Sialnya bocah itu memakai sepatu yang aku berikan dulu sebagai kado ulangtahunnya. Penjahat memang Baskara ini, pintar sekali merusak mood ku dihadapan paduka raja yang masih duduk tenang di arena khusus.


"I see your girlfriend and i see your rival!" ujarnya sebelum melempar bola ke arah temannya. Baskara melirikku sebelum membenturkan bahunya dengan sengaja.


Aku menggeram kesal sebelum menghela nafas saat poin untuk sekolah mereka bertambah lagi.


Aku mengusap wajahku dengan kasar seraya berlari ke pinggir lapangan. Prisia memberiku handuk kecil dan sebotol air mineral. Aku menguyur kepalaku dengan air dingin. Kepalaku begitu panas, pikiranku gak fokus saat Dalilah bersama rival ku, Bimo. Apalagi pak Bambang memelototiku sepanjang kami beristirahat.


"Kamu kenapa, Rev? Gak fokus banget sih!" cibirnya setelah mengusap wajahku dengan handuk yang ia saut lagi. "Gak banget deh kalau hanya karena Baskara kamu jadi pecundang gini!" sindirnya lagi dengan wajah galak.


Apa dia gak peka, apa aku yang terlalu peka, siapa yang tak peka disini sih? Kenapa semua orang terlalu berfokus padaku, pada kemenangan ini. Kenapa nggak ada yang peka terhadapku jika aku ini risau!


Aku menghela nafas panjang, ku lirik Ayahanda raja yang parahnya lagi melihat ke arahku. Sudah jelas pasti beliau tahu adegan usap-usapan keringat tadi. Sudah jelas bahwa nilai ku di mata beliau berkurang.


"Sisihkan dulu masalah hatimu, Rev! Sekarang kita buktikan jika kita bisa mengalahkan mereka. Jangan begini pecundang!" serunya sembari mendorong bahuku dengan telunjuknya.


"Stop bilang aku pecundang!" sungutku jengkel.


Prisia tersenyum mengejek sebelum aku berlari ke arah lapangan. Berkumpul dengan tim basket lain.


"Rev, fokus. Please!"


"Iya nih! Cewekmu bikin down!"


Aku menggeleng kuat-kuat. Menyanggahnya.


"Kalau gitu buktikan! Jangan begini! Saingan kita bukan hanya sekedar saingan antar sekolah, tali juga asing hatimu! Jadi benar kata Prisia! Jangan jadi pecundang, Rev!" ucap sahabatmu Reno.


Aku mengumpat dalam hati. Emang benar mereka-mereka ini. Aku payah hari ini hanya karena berkumpulnya Baskara, Bimo dan Dalilah dalam satu tempat.


"Masih ada dua kali sparing! Kita usahakan untuk menang. Sorry gays... Aku khilaf!" ucapku menyesal. Reno menepuk bahuku seolah menyemangatiku, sekaligus malas di marahin pak Bambang. Aku tahu itu, akupun juga malas dimarahin pak Bambang.


Pertandingan dimulai lagi saat peluit panjang berbunyi. Sparing dua kali artinya hanya ada dua puluh menit pertandingan.


Aku benar-benar mengusahakan untuk menambahkan poin meskipun waktu sangat mepet dan tim basket mereka benar-benar mumpuni.

__ADS_1


"Lay up, Rev! Lay up! Shoot... Bammm..." Teriak Prisia sembari bersorak girang saat di menit terakhir aku memasukkan bola ke dalam keranjang.


Aku dan tim basket berpelukan seraya terkekeh geli saat Prisia dan cheers leader lainnya bersorak. "Pak Bambang. Bonus cair Minggu depan!!!" Dengan pom-pom yang mereka gerak-gerakkan di udara, dan yel... yel... Sekolah kami menggema seisi ruangan gedung olahraga.


Pak Bambang tersenyum kecil dan bertepuk tangan. "Hebat... Hebat... Hebat. Kemenangan ini akan membawa kalian ke perlombaan tingkat nasional di Jakarta."


Pfttt... Aku mengambil botol air mineral dan meminumnya. Dari kejauhan ku lihat Baskara juga menatapku dengan pandangan sayu. Namun, sesaat ia mengacungkan jari tengahnya dan pergi meninggalkan tempat duduknya.


Aku mengusap wajahku saat Prisia melempar handuk kecilku tepat di wajahku.


"Gitu dong! Jangan jadi lembek!"


"Lembek! Bubur kali! Aku keluar dulu."


"Eits kemana? Foto-foto dulu lah, kek biasanya."


"Mau ketemu pacarku lah! Dia berjuang sendirian!"


Prisia tergelak singkat seraya mengatakan padaku bahwa Princess sedaritadi ada di dalam GOR, di lantai dua yang tidak bisa aku jangkau oleh mataku.


"Sejak kapan?" ucapku sambil jelalatan mencarinya.


Aku langsung berlari ke arah tangga. Mencari dimana pun Princess berada. Dia pasti akan curiga dengan adegan usap-usapan keringat tadi yang dilakukan Prisia. Namun saat aku menaiki anak tangga terakhir dengan ngos-ngosan, keringat yang bercucuran dan hati yang semakin resah tak karuan. Princess justru duduk berdampingan dengan Bimo meski disana banyak teman sekelasnya.


"Princess!" panggilku dengan langkah gontai. Dalilah menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.


"Menang ya mas?"


Aku menepuk bahu Bimo untuk mengusirnya, ia menurut meski hanya pindah di kursi sebelahnya.


"Kamu sudah selesai sejak kapan?" tanyaku dengan nafas yang masih terengah-engah.


Princess mengambil beberapa lembar tissue dan memberinya padaku. Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengambilnya, mengusap keringatku sendiri. Meski sebenarnya aku mau dia yang menghapusnya, seperti yang dilakukan Prisia tadi dan membuat Bimo cemburu.


"Sudah dari tadi." jawab princess sambil tersenyum.


Aku melongok sebentar ke arah bawah tempatku berkumpul tadi dari pembatas tembok.

__ADS_1


Blind spot! Aku langsung tersenyum lega dan kembali lagi ke samping Dalilah sembari memastikan Bimo tidak menyentuh princess.


"Kenapa mas? Jangan bunuh diri disini! Bahaya! Lilah gak siap lihatnya." guraunya sambil terkekeh.


Aku menyengir kuda saat melihatnya tanpa jaket yang menutupi bagian tubuhnya. "Kamu gimana, berhasil gak? Maaf aku gak keluar tadi."


Princess justru terkekeh kecil seraya menggeleng pelan. "Belum ada pengumuman untuk kategori seni. Jadi ya aku gak tahu berhasil apa gak! Tapi, Bim! Bagaimana aku narinya tadi?" seru Princess sembari membungkukkan badannya untuk melihat Bimo.


Aku berdecih dalam hati setelah Bimo berkata dengan tenang. "Sepertinya biasanya jika diistana!"


"Begitu mas." ujar Princess sembari tersenyum santai. Sesantai itu pula Bimo berkata seperti biasanya. Yang berarti, seperti biasanya pula Bimo melihat Dalilah menari diistana.


Oh Tuhan. Sebenarnya pacar Dalilah siapa sih! Kenapa aku kehilangan momen mesra bersamanya karena kesibukanku berlatih menembak dan relawan kesehatan. Begitupun peraturan Ayahanda yang membelitnya.


"Semua turun! Kita kumpul dengan siswa lain dibawah!" ucapku setelah beranjak berdiri untuk menatap semua adik kelasku.


Princess berdiri, ia menyaut tasnya dan mengambil jaket. Aku langsung menariknya dan memasukannya lagi. Princess mengerutkan kening. Ekspresinya yang bingung dengan bibir yang manyun terlihat gemas sekali. Apalagi lipstik di bibirnya belum luntur.


"Jangan dipakai, kita foto-foto dulu bersama untuk dokumentasi sekolah."


"Gitu ya?"


"Iya sayang! Lagian, aku harus foto lagi denganmu. Biar kamu tahu kenapa aku sampai berkeringat seperti ini."


"Kenapa memangnya? Olahraga kan bikin berkeringat, Lilah aja pakai ginian juga sumuk banget." ucap Princess sembari menuruni anak tangga dengan pelan-pelan.


"Apa aku boleh memakai baju kejawen seperti Bimo?"


Princess menghentikan langkahnya, ia menoleh dengan pupil mata yang membesar.


"Untuk apa mas?"


"Cuma ngerasain jadi kamu."


Princess terkekeh sebelum menuruni anak tangga lagi. Aku memperhatikannya dengan was-was, takut jika ia terpeleset atau tersandung.


"Datang aja mas! Nanti aku pinjemin baju kejawen milik Suryawijaya. Muat kayaknya untukmu."

__ADS_1


Baju ndomas Suryawijaya? Yang benar aja! Yang ada aku dipelototi sepanjang memakainya.


...Happy Reading đź’š...


__ADS_2