ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 90


__ADS_3

Revi.


Seperti yang aku duga. Kalau kata-kataku tadi mengingatkan Ibunda akan rayuan Ayahanda Raja.


Aku bergidik membayangkan bagaimana reaksi Ayahanda jika aku mengulang kembali rayuan yang beliau ucapkan dulu. Bisa jadi aku malah di usir karena Ibunda memintaku untuk merayunya lagi agar mengingat kembali masa mudanya.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Aku berangsur mundur saat perias tadi mengucapkan rapalan doa yang tidak aku mengerti. Beliau seperti bergumam dengan bahasa Jawa kuno.


PR lagi nih, belajar bahasa Jawa.


"Ibunda pergi ke kamar dulu, Mbak! Kamu ke bawah dengan mas Revi dan perias." Ibunda pamit ditemani Pandu. Bocah itu memberiku pandangan mengancam sebelum keluar dari kamar.


Aku sedikit terkejut saat Dalilah menyentuh lenganku. "Ayo turun! Mas Revi ikut di bus keluarga Lilah!" katanya lengkap dengan senyum tak berdosa.


Ku menangis, membayangkan...


"Aku bawa bodyguard ku boleh?" tanyaku langsung. Aku butuh pendamping untuk mengurangi rasa gugup ku nanti.


Dalilah menaikkan alisnya. "Mas Revi bawa bodyguard?" Aku mengangguk, ku ambil beberapa tissue untuk mengelap keringat dingin di telapak tanganku.


Aku benar-benar harus check up kesehatan setelah pulang dari Jakarta. Aku takut jantungku kenapa-kenapa karena efek dari semua rasa ini.


"Boleh, nanti kenalan sama bodyguard Lilah!"


"Bimo nyusul?" tanyaku was-was.


Dalilah tergelak sendiri, tangannya menyaut cardigan dan memakainya.


"Daripada ngomongin Bimo yang lagi di istana, mending mas Revi jagain Lilah biar gak jatuh!" pintanya sambil tersenyum kaku. Aku langsung menyadari jika ia kesulitan untuk berjalan saat ini.


"Aku gak mungkin pegang kamu di depan keluargamu!" kataku lirih, "Takut di marahi!"


"Jagain Lilah gak perlu pegang-pegang! Cuma di jaga saja dari belakang."


"Kalau jatuhnya ke depan?" tanyaku menggodanya. Ia terkekeh kecil dan menggeleng. "Lilah belum pernah jatuh ke depan soalnya!"


Aku tergelak saat jawabannya sering kali jujur amat. "Jadi aku harus jagain kamu dimana? Di depan atau di belakang?" tanyaku memastikan.


"Disampingku saja napa mas! Ribet deh!" cibirnya sambil memencet tombol lift. Kami masuk dan aku tersenyum mesum saat kami hanya berdua di dalam sini.


"Mau gandengan?" tanyaku sambil menoel-noel jarinya. Dalilah menoleh dan menyipitkan matanya. "Gandengan aja apa ada maunya?" selidiknya.

__ADS_1


Aku membuang nafas panjang setelah pintu lift terbuka. "Cuma mau gandengan aja lho, Lil!" gumamku. "Lagian yang minta ciuman dulu kamu! Bukan aku!"


Dalilah mendesis sambil keluar dengan perlahan.


***


Ballroom hotel sudah ramai dipenuhi oleh para peserta lomba dan semua tim hore yang akan mendukung perwakilan dari Jogja. Tim hore kali ini benar-benar tidak kaleng-kaleng. Mereka, besar kemungkinan akan terlihat menyita perhatian publik.


Aku termangu sembari menyaksikan sendiri bagaimana keluarga mereka membaur dengan kekompakan yang saling terhubung.


"Kumpul-kumpul... Doa bersama!" teriak salah seorang guru dengan semangat membara. Kami bener-bener optimis akan mengguncang Jakarta dengan perpaduan tarian Jawa yang sakral dan dance KPop yang begitu disukai banyak orang.


Kami semua langsung berkumpul, dan merapat. Kami berdoa dengan khusyuk sebelum meneriakkan yel-yel yang membakar semangat.


Ini gila! Aku benar-benar terkagum-kagum ketika keluarga Dalilah ikut bersorak. Mereka seperti mempunyai dua sisi mata uang koin yang berbeda.


Terlepas dari protokoler istana, kami tetap manusia biasa.


Aku menghirup nafas dalam-dalam saat menaiki bus yang berisi semua keluarga Dalilah. Sementara Kendrick menghilang. Ia benar-benar tidak niat menjagaku disini saat aku benar-benar butuh dijagain.


***


Sepanjang jalan yang akan menjadi kenangan ini, aku hanya duduk diam berdua dengan ndomas Pandu Mahendra sampai kami tiba di gedung olahraga.


Euforia menyambut kedatangan kami saat puluhan siswa yang tidak ikut ke Jakarta justru ada di gedung olahraga ini membawa sepanduk besar bernamakan sekolah-sekolah yang mewakili kota kami.


Aku tersenyum saat mengirimnya pesan dan berpisah dengan keluarganya karena aku harus bergabung dengan teman-temanku yang lain. Aku juga tidak merasa istimewa disini.


Gak mau nemenin Lilah di back stage?


Aku menggeleng tanpa sadar di dalam keramaian.


Aku ingin melihatmu dari kejauhan.


Dia tidak membalas pesanku meski sudah centang dua. Mungkin dia sibuk dengan wartawan yang meliput kegiatan di sini.


"Ceweknya cakep-cakep, Rev!" seloroh Reno sambil berdecak kagum mengamati cewek-cewek yang seliweran di hadapan kami. Aku mendengus dan tidak berselera melihat paha mulus terbuka karena


Dalilah sering bilang.


Ajining diri gumatung soko ing lathi, ajining raga gumatung saka busana.


[ Harga diri seseorang tergantung pada ucapannya, berharganya raga seseorang bergantung pada busananya ]

__ADS_1


Aku berlalu meninggalkan Reno yang berkenalan dengan seseorang.


Sekalinya playboy tetap playboy. gumamku sebelum celingukan mencari dimana tim hore berada. Mereka mudah ditemukan karena identik dengan pakaian batik dan kebaya yang kami gunakan sebagai dress code.


***


Suasana di dalam gedung olahraga sangat ramai. Gemuruh suara saling bersilahturahmi.


Kami bersorak, teriak, menyanyikan yel-yel. Belum pernah ada kolaborasi selucu ini. Saat keluarga bangsawan ikut menepuk-nepukkan tongkat clapper dengan bersemangat.


Ah, Dalilah. Kamu membawa warna baru di sini. Kamu seolah ingin menggabungkan dua sisi mata uang itu agar selaras.


Satu jam pertama diisi dengan sambutan hangat dari menteri olahraga dan penampilan artis muda ibukota.


Aku menikmatinya namun dengan pikiran yang terusik apalagi sejak tadi Dalilah tidak membalas pesanku.


Apa dia ngambek karena aku tidak mau menemaninya di back stage. Apa aku berfungsi sebagai penyemangatnya?


Aku menepuk pundak Reno dan berkata aku mau ke tempat Dalilah.


"Dasar bucin!" celetuknya.


Aku berdesak-desakan dengan orang lain saat perlombaan sudah dimulai.


Aku menggeram saat aku menabrak seseorang dan membuatnya jatuh. "Sorry... sorry aku gak sengaja!" Aku membantunya berdiri saat dia mengaduh sakit. "Sakit?"


"Gue gak papa!" jawabnya sambil menatapku heran. "Lo yang viral itu kan, cowoknya Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih yang minta cium?" Dia terkekeh kecil, menatapku.


Jakunku naik-turun, masih juga ada yang ingat kejadian itu. Padahal sudah lama.


Aku menjawab jujur jika itu aku.


Dia malah menjerit heboh. "Gak nyangka gue bakal ketemu lo disini!" Ia mengeluarkan hpnya dan memintaku untuk berfoto bersama. Aku mengernyit bingung.


"Lo cakep juga, Rev! Gue Angel!" katanya sambil mengulurkan tangan.


Sumpah... aku ini sedang dalam tahap penilaian sebagai pacar yang baik atau tidak. Ini malah ada cewek aneh yang ngajak kenalan di tengah keramaian yang pasti ada pengawal Dalilah yang berkeliaran bebas disini.


"Revi!" jawabku sambil menjabat tangannya sebentar.


"Nanti gue tag di sosmed, Lo! Gue pergi dulu." Ia melambai dan pergi.


Aku menggeram kesal. "Jangan sampai bikin masalah nih cewek aneh! Udah datang tak diundang, pulang tak diantar! Mirip kuntilanak yang ganggu sebentar, tapi damagenya lama!"

__ADS_1


Aku melengos pergi ke back stage, disana Dalilah hanya termenung sendiri dengan kaki yang mengetuk-ngetuk lantai. Gelisah.


...Happy Reading...


__ADS_2