ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 14


__ADS_3

Dalilah.


Aku bergeming di atas pasir hitam, di pinggir pantai, membiarkan ombak menerjang kakiku dan semilir angin membelai rambutku.


Sesaat aku merasa damai dan tenang. Di depan pantai selatan untuk menemani Arkananta sowan ke selatan.


Arkananta menaruh bunga setaman di atas air laut, sebelum mengatupkan kedua tangannya hormat.


Bunga-bunga langsung tersapu ombak dan berhamburan di atas air laut, seolah sambutan hangat dari kami di terima.


Aku mengatupkan kedua tangan sebelum membungkuk hormat.


"Mau pulang atau main dulu, Ar?" tanyaku sambil berjalan menjauh dari bibir pantai.


Arkananta menyebut keinginannya.


"Disini dulu sebentar, aku masih rindu dengan pantai ini!"


Aku mengangguk dan kamipun duduk di atas pasir, menghadap ke pantai lagi.


Cuaca disini cukup lembab dan hangat.


Arkananta melambaikan tangan kepada penjual asongan yang melewati kami berdua.


"Mau minum apa?" tanyanya lembut.


Dih... Bule ini benar-benar masih perhatian, penolakanku juga tak mengubah sedikitpun pendiriannya.


"Air putih."


"Tidak berubah! Kalau tidak air putih ya teh manis hangat." serunya sambil menyunggingkan senyum.


Aku tersenyum. Arkananta bercakap-cakap dengan kikuk bersama pedagang asongan tersebut, beliau yang sudah sepuh tak mengira blesteran Jawa-Australia ini bisa menggunakan bahasa Jawa dengan sopan.


Aku tersenyum. Raden Mas Arkananta Willys Adiguna Pangarep, laki-laki multitalenta yang menjalani dua budaya sekaligus.


Dan percayalah, jika dia sedang menggunakan baju kejawen ataupun sedang menari. Gadis-gadis akan meronta-ronta untuk dipeluk, dibelai dan di manja-manja olehnya.


Pesonanya harus diakui, dia calon suami sempurna. Bibit unggul trah kejawen. Sayangnya dia adalah sepupuku sendiri, sangat berdosa jika kami menjalin cinta berdua.


"Melamun?"


Aku menggeleng kecil, menerima air mineral yang ia berikan padaku.


"Terimakasih!"


"Your welcome!"


Kami berdua kembali terdiam untuk beberapa saat sembari menikmati pantai selatan dengan segenap rahasianya yang ada, sampai cahaya matahari membakar kulitku.


"Bule... Balik yuk. Kulitku tak seputih milikmu!" kataku sambil beranjak. Arkananta berdiri terlebih dahulu sebelum membantuku berdiri, ia hendak membersihkan celanaku yang berpasir namun aku kembali memberinya peringatan.


"Walaupun aku kecil, aku adalah sepupumu paling tua, yang sopan!"


Arkananta mendesah pasrah. Aku membersihkan pasir di celanaku sebelum menuju ke mobilku.


Dulu saat di Melbourne, Arkananta-lah yang menemaniku berlatih mengemudi sampai aku mempunyai lisensi mengemudi resmi, ia juga mengajariku cara bersenang-senang ala pemuda Melbourne.


Sejujurnya dialah tempatku mendewasakan diri dari pelarian panjang ku. Dialah orang yang menemaniku bertransisi. Dia rela dan sabar, meskipun sesekali menggodaku dengan sadar.


Sungguh tidak adil, tapi beginilah adanya. Aku menyayanginya sebatas sepupu dan kekeluargaan.


"Mau kemana lagi, Ar?" tanyaku setelah ia memasang sabuk pengaman dan menghidupkan radio.


"Tidak ada tempat nyaman selain rumah!"


"Pulang?" tanyaku memastikan.


Arkananta berdehem.


"Marah?"

__ADS_1


Aku menghidupkan mesin sebelum meninggalkan pantai ini. Pantai yang akan membuatku kembali dan kembali lagi kesini. Pantai yang menjadi saksi tumbuh kembang ku.


Arkananta memilih untuk terdiam dengan mata yang tetap menatapku. Aku membasahi bibir. Gerogi.


"Kau bisa membuatku celaka, Ar!" pekikku.


"Kamu ingat dulu kita sering jalan berdua?"


Aku langsung menepikan mobilku di bahu jalan.


"Please, Arkananta! Aku akan menikah tahun depan, jadi berhentilah berharap!"


Arkananta menegakkan tubuhnya, ia menatapku tajam dengan sekujur tubuh yang terkejut. "Jangan membohongiku!"


Aku menggeleng kuat-kuat. "Aku akan menikah dengan laki-laki itu!" jawabku lugas.


Rahangnya mengeras, ia memukul dashboard mobil dengan keras.


"Aku kecewa! Tujuh tahun lamanya aku di sisimu dan melindungimu, sekarang ini balasnya."


"Kau yang keras kepala, Arka!" balasku berusaha untuk tidak berteriak, hanya buku-buku jariku yang memutih karena mencengkram stir cukup kuat.


Arkananta diam, mencari-cari kesalahan dan pembelaan.


"Kita adalah dua keras kepala jika bersama! Sudahi kegilaan ini, dan carilah wanita lain!" ucapku seraya menekan pedal gas dan kopling seraya memacu mobilku dengan cepat menuju rumah.


Sepanjang perjalanan, otakku terus berputar, melilit dan meledak.


Arkananta benar, aku memang berhutang budi padanya. Tapi kebaikan yang ia berikan padaku tidak seharusnya dibalas dengan cinta.


Biar Tuhan saja yang memberinya hadiah, jangan aku.


***


Mobil masuk ke dalam pelataran rumah, dan mataku menangkap mobil yang tak asing di mataku.


Revi.


"Dia datang untuk merayakan ulangtahunmu siang hari? Tidak romantis!" ucapnya sedikit sarkasme.


"Turun! Dan pergilah ke rumahmu sendiri!"


Arkananta melepas sabuk pengamannya. Ia menegakkan tubuhnya sebelum menegakkan dagunya, terlihat angkuh.


Kami seperti mempunyai dua kepribadian yang harus selaras. Dan itu terkadang melelahkan.


"Biar aku lihat bagaimana rupa kekasihmu!" ujarnya sinis sebelum turun dari mobil.


Aku membentur kepalaku di stir mobil.


Kekasih dari mana! Aku minta dinikahi sama Revi aja belum tentu terlaksanakan tahun depan. Ini Arka malah nambah-nambah perkara.


Gusti... Menjadi Cantik ternyata banyak risikonya.


Aku turun dari mobil, menuju ruang keluarga setelah mengganti celanaku yang kotor.


Mataku melebar, dua pria menyebalkan duduk menemani Revi yang terlihat canggung. Arkananta dan Bimo.


Aku tersenyum untuk menutupi rasa cemas ku. Aku takut keduanya sudah bicara banyak hal dengan Revi. Bicara apapun yang membuat Revi bakal ragu untuk menikahiku.


"Sudah lama?" tanyaku sembari duduk di seberangnya.


Revi tersenyum lembut. "Sudah satu cangkir kopi aku habiskan!" jawabnya sembari menunjuk cangkir kopinya yang sudah kosong diatas meja.


Aku mengamatinya yang masih menggunakan jas putih, terlihat agak kusut dan lelah.


"Maaf! Aku baru saja pergi ke pantai selatan untuk sowan kepada Ibu---"


"Bersamaku!" sela Arkananta.


Revi langsung mengamati baik-baik Arkananta, ia mengangguk pelan dan seulas senyum terbit diwajahnya.

__ADS_1


"Tidak masalah! Bimo sedaritadi menemaniku." urai Revi dengan tenang.


Aku tersenyum masam. Revi tahu Arkananta sepupuku. Tapi bagaimana dengan Bimo, apa dia sudah bilang jika ia menjadi kakak angkatku.


Sejak dulu, Revi memang agak cemburu dengan Bimo, tapi Revi mempunyai cara untuk membuat Bimo tunduk padanya. Cara-cara itu adalah dari kebaikannya. Tapi sekarang, Bimo punya kuasa lebih dari sebelumnya. Dia tidak punya lagi tanggungan keluarga, yang harus ia lakukan hanyalah menjadi abdi budaya dan menuruti perintah Ayahanda.


"Lagian tumben kesini, Rev! Lagi longgar?" tanyaku tidak nyaman. Dua laki-laki ini masih saja menjadi pendengar meski hanya diam seperti patung pajangan.


Revi mengulas senyum seraya mengangsurkan premium branch shop kepadaku. "Birthday gift for you!"


Aku mengintipnya sedikit dan tersenyum senang. "Terimakasih! Lilah suka."


Arkananta dan Bimo mendesis tidak suka. Aku berusaha tak acuh terhadap keduanya dengan mengajak Revi keluar dari ruang keluarga.


Revi mengikutiku ke taman, setelah aku meminta kepada pelayan untuk membawakan makan siang untukku.


"Baru pulang atau mau ke rumah sakit?" tanyaku penasaran.


"Baru pulang setelah shift malam!" jawabnya sembari menatapku. "Happy birthday my princess!"


Aku mendesah. "Terimakasih masih mengingatnya, Rev! Kamu butuh istirahat, pulanglah setelah makan siang bersamaku."


Aku mengangguk setelah pelayan menaruh menu makan siang bersama di atas meja.


"Terimakasih."


Pelayanku membungkuk hormat sebelum pergi.


Aku mengambil centong nasi dan menatapnya sebentar. "Banyak atau sedikit?"


"Secukupnya!" Aku mengangguk pelan seraya menyiapkan makan siangnya.


Aku tersenyum seraya mengeser piring ke arahnya. "Aku akan melayanimu, bukan sebagai seorang putri mahkota dan anak raja, aku akan melayanimu sebagai istrimu, jika kamu memang menikahi tahun depan! Akhir Januari."


Revi menatapku, sambil menarik nafas dalam-dalam. Aku tersenyum walaupun tak bisa selepas dulu.


"Tapi aku tetap akan menunggumu siap!"


Revi menyusupkan tangannya ke dalam kantong jas putihnya sebelum mengeluarkan kotak suede berwarna merah.


"Ikutlah denganku sebagai pengantinku!" Revi membukanya. Aku ternganga.


Cincin ini berpendar cantik dibawah cahaya matahari.


Aku mendongak menatapnya, senyum Revi mengembang dan aku tersipu.


"Jadilah pengantinku, Dalilah. Ayo... menikah."


Aku menunduk, mataku menghangat. Aku teringat dengan pesan Ayahanda jika aku dan suamiku harus tinggal di istana.


"Rev..." ujarku serak.


"Kamu terharu aku melamarmu sekarang? Atau kamu menolak ajakan ini?" tanyanya resah. Aku menggeleng dengan mata berkaca-kaca.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyaku.


Revi tak mengatakan apapun. Ia hanya menatapku, membaca wajahku sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


"Katakan!" pintanya.


"Aku masih menanti mimpi kita, aku ingin kita menepati janji. Aku pun akan menjadi pengantinmu! Namun..." Aku menghela nafas. "Ayahanda menunggumu minta restu padanya. Waktumu hanya enam bulan lagi, jika tidak aku akan dijodohkan dengan seseorang dari kantong ajaibnya!"


Revi menarik tanganku, ia mengeluarkan cincin dari kotak suede tersebut dan memakaikannya di jari manis ku.


"Kamu tetap akan menjadi pengantinku!"


Aku tersenyum dan mengangguk. Dan senyum itu belum menghilang dari wajahku ketika Revi menaruh telapak tanganku di pipinya.


"Aku sedang berusaha sayang... Bersabarlah sebentar lagi."


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2