
Dalilah.
Aku cekikikan sendiri saat video di hutan pinus tadi dikirim ke hpku. Kami berdua sungguh konyol, saat kami berlari-larian seperti main kucing-kucingan. Aku telentang, masih menatap layar hp dengan bibir yang tersenyum-senyum sendiri.
Aku senang tadi bisa menghabiskan waktu bersama mas Revi sampai ku dengar pintu kamar berderit dan terbuka lebar.
"Bunda..." panggilku, Ibunda memincingkan matanya. "Duduk to Mbak kalau mainan hp! Matanya nanti rusak!"
"Ya ampun, Bun! Belum juga ada setengah jam!" balasku sambil beranjak duduk di tepi ranjang. Ibunda tetap menggeleng menolak jawabanku seraya duduk di sampingku.
"Sudah jam sepuluh kenapa belum tidur?" Ibunda menatapku. Aku menyengir kuda, ku tunjukkan video tadi kepada Ibunda. Ibunda membelalakkan matanya. "Kalian kesini sore-sore? " Aku mengangguk dengan cengiran bodoh.
"Kamu tahu Mbak apa yang terjadi di rumah tadi?" tanya Ibunda menaruh hpku diatas meja belajar, sebelum merangkak naik ke atas ranjang. Ibunda menguap.
Aku menggeleng, tapi aku penasaran jadi aku tanya kenapa. Apa bapak-bapak dan ibu-ibu tadi juga heboh mencari anak-anaknya. Tumben! Bukannya mas Revi dan mas Reno kan suka kelayapan jadi kenapa harus dicari.
Aku berdecih seraya mengambil bonekaku. Aku mendengar Ibunda bercerita sambil menahan ngantuk.
"Reno dan Revi tadi dicariin Ayahanda sampai ke rumahnya, karena kata Bimo kamu pulang bareng mereka untuk rapat dengan walikota."
Aku berdehem, setuju. "Lalu?" tanyaku penasaran. Ibunda menghela nafas.
"Lalu kalian tidak ditemukan di semua rumah yang Ayahanda datangin. Ayahanda pulang dan meminta orangtua mereka untuk datang."
Aku ber-oh ria sambil memasang selimut. "Ayahanda kan sakti mandraguna, Bun! Harusnya Ayahanda tidak perlu repot-repot untuk mencariku tadi. Aku baik-baik saja, dan sudah paham dengan protokoler istana. Aku dan mas Revi juga berpacaran dengan sewajarnya."
Ibunda menarik selimutku dan menyamankan diri sendiri. "Karena Ayahanda juga ingin menjadi ayah yang sewajarnya, tidak menggunakan kesaktiannya." jawab Ibunda pelan.
"Tapi Ayahanda tahu kan?" tanyaku dengan maksa.
Ibunda menguap. "Lain kali pamit kalau mau kemana-mana!" Nasihat Ibunda.
Aku mengerucutkan bibir.
Kalau pamit apa diizinkan? Semua kan sudah diatur. Kalau izin pasti hanya bla... bla... bla...
Aku menguap. "Bunda bobok sama Lilah?"
"Iya."
"Bunda lagi marahan sama Ayahanda?"
Ibunda lalu membuka matanya yang sejak lima menit yang lalu sudah terpejam.
"Itu masalah klasik! Tidurlah, Bunda hanya mau memastikan jika kamu tidak kabur malam ini." Ibunda langsung memelukku, aku menyeringai.
Titisan Rinjani dilawan.
***
__ADS_1
Aku menarik kursi makan dan mendudukinya. "Pagi, Ayahanda..." sapa ku seraya tersenyum manis. "Kopi hitam dan sandwich lezat buatan Ibunda?" tanyaku pura-pura saja.
Ayahanda menghirup asap kopi dan menyeruputnya pelan, Ayahanda lalu menaruh cangkirnya. Melihatku yang sudah berseragam sekolah, lengkap dengan tas ransel yang aku gendong kemana-mana.
"Masuk sekolah?" tanya Ayahanda.
"Hari terakhir sebelum perlombaan, besok Lilah sudah semedi."
"Pulang dengan Bimo!"
Aku menganggukkan kepala. "Lilah sarapan dulu ya, Ayahanda." Mataku mengerling sebelah, mencoba menghibur Ayahanda biar tidak sepaneng. "Ayahanda baik deh! Lilah suka."
Ruang makan memang sepi karena aku dan Ayahanda sudah disini jam setengah enam pagi. Sementara Pandu dan Suryawijaya masih di dalam kamar.
Aku membersihkan bibirku dengan tissue sebelum beranjak dari tempat duduk.
"Hari ini Lilah gladi resik, jadi Lilah pulang sore, Ayahanda. Tidak perlu dicari, soalnya Lilah cuma di sekolah." Aku tersenyum seraya mencium punggung tangan Ayahanda. Ayahanda mengelus kepalaku. "Bolos sekolah sudah, pergi kelayapan sepulang sekolah sudah, lalu apalagi kenakalan remaja yang akan kamu lakukan, Dalilah?"
Aku terkekeh kecil lalu menggaruk leherku. Aku bingung, belum ku tulis juga jadwal terselubung tentang kenakalan remaja yang akan aku lakukan semasa SMA.
"Kalau Ayahanda sendiri, kenakalan apa yang pernah Ayahanda lakukan dulu saat muda?" tanyaku penasaran. Tidak mungkin kan, Ayahanda hidupnya lurus-lurus saja. Ayahanda pasti pernah nakal secara diam-diam.
Ayahanda berdiri, menatapku dan menggeleng. "Itu rahasia!" Aku mengerucutkan bibir. "Ayahanda curang!" balasku. Ayahanda mengulum senyum, seraya menggandeng tanganku sampai ke beranda rumah.
Aku mengambilkan sepatu pantofel milik Ayahanda, begitu juga sepatuku sendiri.
Kami berdua memakai sepatu secara bersamaan. Aku menoleh saat Ayahanda menghela nafas panjang secara tiba-tiba.
"Berangkatlah, Bimo sudah menunggumu."
Aku menepuk jidatku, saat ingat akan sesuatu. "Besok waktu Lilah ke Jakarta apa Bimo juga ikut?" Ayahanda menggeleng. Senyum puas menawan di wajahku.
***
"Bim... Bim..., Bensin oke?" tanyaku sambil mengenakan helm. Bimo berdehem sambil menghidupkan motor.
Kami berangkat ke sekolah dalam hening, hanya sesekali aku bertanya dan Bimo menjawabnya dengan anggukan kepala sampai kami tiba di sekolah.
"Pak Cipto baik-baik saja kan?" tanyaku sambil melihatnya. "Atau kamu dimarahin Ayahanda?"
Bimo menggeleng cepat. "Semua baik-baik saja ndoro putri..."
Aku menarik nafas lega. "Mulai besok aku cuma dirumah, jadi kamu bisa istirahat." Aku melambaikan tangan, berpisah dengan Bimo karena aku sudah berjanji untuk menemui mas Revi di kantin.
Di kantin, mas Revi sudah nongkrong sambil menyantap sarapannya. Aku yakin, dia pasti jaga-jaga biar tidak makan bekal buatan Ibunda yang rasanya berubah-ubah.
Aku menepuk pundaknya dengan cepat. Mas Revi tersedak, ia hampir mengumpat kesal jika saja ia tidak menoleh dan tahu siapa penyebabnya.
"Maaf....Hehe..." kataku seraya memunguti nasi yang berada di dagunya. Mas Revi menghela nafas, ia menarik botol air mineral dan membukanya. Mas Revi minum, meskipun tatapan matanya tidak beralih padaku. Aku salah tingkah.
__ADS_1
"Untung aku gak jantungan, Lil! Kalau iya, kamu jadi jomblo!" Aku menggeleng tidak mau.
"Kaget?"
"Syok!" Mas Revi menarik tasnya, ia mendengus setelah menatap nasi goreng yang sudah berceceran di atas meja.
"Lagian kenapa sih, usil banget!"
"Cuma iseng, habis aku datang mas Revi sibuk!" kataku dengan cemberut.
"Aku lapar, Lilah!!! Mommy gak masak tadi. Capek katanya tadi malam ngomel-ngomel terus." Aku menahan senyum. "Mas Revi dimarahi mommy?"
Mas Revi berhenti, ia membuang nafas. Aku bersandar di dinding sambil melihat siswa lain berlalu lalang di depan kami, seolah sudah biasa melihat kami berdua.
"Biasalah, anaknya siapa yang dikhawatirkan siapa." Mas Revi tersenyum maklum. "Kamu dimarahin Ayahanda?"
Aku menggeleng cepat. "Ayahanda baik sekarang."
Mas Revi menatapku, mendadak aku merasa bersemangat sekaligus gugup. Tatapan itu seperti mengisyaratkan sesuatu yang jahat dan usil.
"Jadi kita mau bikin bapak-bapak dan ibu-ibu kita panik dengan ulah apalagi, Lil?" ajak mas Revi dengan seringai jail. Aku menyeringai lebar. Benar kan dugaanku.
"Nanti aku pikirkan dulu ketika setan menggoda imanku, mas!" gurauku. Mas Revi terkekeh seraya menjentikkan jarinya. Aku mengaduh. Mas Revi bersiul riang seraya bernyanyi lagu plesetan.
"Setan yang paling indah, setan-setan disekolah..."
Aku melongo. "Apa setan-setan disekolah menggoda mas Revi?" tanyaku dengan polos. Mas Revi mengangguk. "Setannya cantik-cantik, pakai rok mini dan baju ketat." jawabnya tak berdosa.
Aku langsung memukul pundaknya dan berkata dengan bersungut-sungut. "Itu bukan setan! Tapi dasarnya mas Revi aja yang matanya jelalatan."
Mas Revi menjulurkan lidahnya. "Orang kelihatan! Masa aku harus pakai kacamata kuda, Lil!"
Aku mendengus dan menendang pot tanaman sebelum meninggalkan mas Revi yang terkekeh-kekeh.
"Dasar mantan playboy!" gerutuku sebelum masuk ke dalam kelas. Ku banting tas ranselku dengan keras.
Bimo mendongak. "Kenapa?"
Aku menggeleng sambil membuka tas ku. Aku kesal. Aku memang tidak seksi, tidak pakai seragam ketat dan rok diatas lutut. Tapi gak perlu di banding-bandingkan juga.
"Kenapa?" tanya Bimo lagi. Aku mendongak.
"Apa aku kecil?" tanyaku pada Bimo. Bimo berpikir keras dengan raut wajah bingung.
Aku mengedarkan pandanganku di dalam kelas. "Apa badanku kelihatan kecil?"
Bimo mengamatiku saat aku berdiri dan berkacak pinggang.
"Kecil." jawabnya dengan kejujuran maksimal seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
...Happy Reading ...