ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 78


__ADS_3

Dalilah.


Aku menghela nafas panjang saat mobil mas Reno berhenti di depan gerbang rumah seraya masuk ke dalam pelataran parkir dengan pelan-pelan.


Kami bertiga saling melempar pandang. Aku tersenyum kaku, aku pun sama takutnya dengan mereka berdua. Takut dimarahin oleh Ayahanda karena kami pulang setelah senja menghilang di ufuk barat.


"Apa mas Revi bakal kapok nemenin Lilah main?" tanyaku pada mas Revi. Mas Revi tersenyum dan menggeleng pelan. "Are you happy, my girlfriend?"


"I'm so happy today..."


"Aku hanya takut kamu akan dihukum lagi, dan membuatku semakin sadar bahwa kita memang berbeda, Lil! Ada tembok tak kasat mata yang memisahkan kita." Mas Revi melepas sabuk pengamannya lalu merapikan seragamnya dengan asal-asalan.


Ada tembok tak kasat mata yang memisahkan kita. Aku membeo dalam hati.


Apa benar yang di katakan mas Revi? Aku menggeleng tak mau percaya. Tak ada tembok yang memisahkan kita, sekalipun tembok istana ataupun tembok tak kasat mata. Ayahanda dan Ibunda adalah bukti dari penuturan ku ini.


Aku membuka pintu mobil seraya menyaut tas ranselku. "Jawab yang jujur saja apapun yang ditanyakan oleh keluargaku!" kataku sambil menunggu mas Revi dan mas Reno menghirup nafas dalam-dalam, menghembuskannya, mengulanginya lagi, lalu mengumpulkan keberanian untuk menghadapi keluargaku.


Aku bergeming sampai seorang abdi dalem menghampiriku dengan langkah pelan namun terlihat buru-buru.


"Ndoro putri baru pulang? Gusti Kanjeng Sultan menunggu sejak tadi!" ujar beliau dengan khawatir.


Aku membungkuk hormat seraya tersenyum simpul. "Terimakasih, Mbok. Dimana Ayahanda sekarang?"


"Gusti Kanjeng Sultan sedang di ruang keluarga bersama keluarga mas Revi."


"Mampus, Ren!" gumam mas Revi seraya keluar dari mobil dengan gerakan cepat. "Mommy, Daddy ada di sini, Mbok?" tanya mas Revi langsung.


Mbok Iyah tersenyum dan mengangguk.


"Apa kita kabur aja, Ren! Aku males banget ada mommy disini apalagi Daddy. Yakin deh, aku berasa jadi penculik anak dibawah umur! Dan bakal dijatuhi hukuman yang berat." Mas Revi mengacak-acak rambutnya setelah berbicara dengan mas Reno yang stay cool meski hatinya dugem sendiri.


"Pacarmu emang dibawah umur, baru sadar!" sungut mas Reno. Aku terkekeh kecil. "Kita hadapi bersama-sama, oke?"


ajakku optimis.


Bagai hendak menghadapi perang dunia ketiga. Aku dan mas Revi begitu hati-hati melangkah, mengawasi keadaan sekeliling, menyiapkan alasan-alasan yang sedaritadi berseliweran di benakku.


Mas Revi menarik tas ranselku saat aku hendak berlari kecil menuju arah lain. Bukan arah ruang keluarga.


"Mau kemana?" tanya mas Revi sambil membulatkan matanya. Aku tersenyum aneh. "Mau pipis. Lilah kebelet." dustaku, padahal aku mau kabur ke kamar om Nanang. Bersembunyi sekaligus minta pertolongan.

__ADS_1


"Bohong!" cetusnya langsung. Aku mengerucutkan bibirku. "Mas Revi yakin gak kapok kalau lagi-lagi Lilah membawa mas Revi dalam masalah?" tanyaku memastikan.


"Aku bukan pengecut!" jawabnya lugas. "Ayo kita temui keluarga. Siapa tahu habis ini kita malah langsung dinikahkan!" Mas Revi tersenyum miring.


"Dalam mimpimu, Rev! Pacarmu belum punya KTP!" timpal mas Reno seraya menonyor kepala mas Revi. "Oh iya...ya... Ini masih jam setengah tujuh, belum waktunya tidur dan mimpi indah!" balas mas Revi dengan jenaka.


"Sudah ayo kita masuk ke ruang keluarga. Pokoknya Lilah yang jawab, mas Revi dan mas Reno cukup manggut-manggut saja! Oke?" saran ku seraya mendahului mereka berjalan ke dalam rumah.


Kami melepas sepatu seraya mencuci kaki dan tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang keluarga.


Mas Revi dan mas Reno mengekoriku dengan bibir yang bergumam sendiri. Aku melongok sebentar ke ruang keluarga, lalu memegang dadaku saat melihat seluruh wajah orangtua itu begitu serius.


Mas Revi dan mas Reno penasaran, mereka melongok lalu bersembunyi lagi.


"Bapakmu, Ren!" kata mas Revi. "Bapakku ngopo ning kene, kurang gawean!" ujar mas Reno heran sambil berdecak kesal.


Aku menoleh, mereka mengendikkan bahu. "Jadi gimana?" tanyaku lirih. Mereka menggeleng. Aku melongok ke dalam ruang keluarga lalu terhuyung ke depan. Membuat para orangtua kami menatapku kaget.


Aku menoleh, mas Revi menyeringai bodoh. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku untuk maju ke depan. Aku mendelikkan mata. Kesal.


"Selamat malam." Aku tersenyum kikuk seraya membungkuk hormat. Mas Revi dan mas Reno cekikikan.


"Saya, Ibunda." ujar mas Revi, mengangkat jari telunjuknya. Mas Revi menyenggol lengan mas Reno. "Absen!"


"Saya, Ibunda!" ujar mas Reno menunduk.


Kami bertiga benar-benar seperti tersangka yang sedang di pajang di depan awak pewarta. Diamati baik-baik, dicari-cari kesalahannya, lalu satu persatu pernyataan berkumandang.


"Seru sekali sepertinya jalan-jalannya sampai anak-anak ini pulang sekolah mengalahkan pegawai kantoran, bapak-bapak, ibu-ibu!" ujar Ibunda.


Kami bertiga saling melirik, mas Revi tersenyum kecil. Aku mendesis. Bisa-bisanya dia tersenyum disaat suasana genting seperti ini.


Hening...


Aku mendongak. Semua orang menatap kami. Aku terkekeh sendiri.


"Princess jelaskan ya bapak-bapak, ibu-ibu yang ada disini." kataku seraya maju ke depan. Ayahanda menyunggingkan senyum, membuatku mengerutkan dahi. "Ayahanda kenapa?" tanyaku sambil mendekati beliau. Aku mencium punggung tangannya seraya duduk bersimpuh di depan Ayahanda.


"Begini lho Ayahanda, bapak-bapak, ibu-ibu semua..." kataku sambil mengedarkan pandang ke arah orangtuanya mas Revi dan mas Reno.


"Kami tadi rapat koordinasi di kantor walikota, lalu jalan-jalan ke hutan pinus untuk refreshing atau intinya kami bertiga tadi piknik! Lilah penat Ayahanda, hampir tiga bulan latihan terus, Lilah butuh stress release... Ayahanda paham kan arti kesehatan mental?"

__ADS_1


Ayahanda mengelus puncak kepalaku. Aku tersenyum lega saat Ayahanda tidak marah. Aku langsung mengatupkan kedua tangan kepada kedua orangtua mas Revi dan mas Reno. "Maaf ya, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anaknya saya ajak main."


Suara tawa menyembur keluar dari mulut mas Reno begitu juga mas Revi.


"Kalian berdua kenapa tertawa?" tanya Ibunda. "Duduk, di samping orangtua kalian masing-masing!" tutur Ibunda.


Aku lihat mas Revi dengan kikuk mendekati orangtuanya, ia menutup kedua telinganya seraya duduk di tengah-tengah ibu dan ayahnya. Mas Revi menahan jeritan dengan raut wajah menahan sakit saat ibunya mencubit pahanya. Tidak sesuai prediksinya


kalau emaknya justru menyerang pahanya ketimbang telinganya.


"Bikin geger semua orang!"


Mas Revi mengelus pahanya. "Apes banget aku hari ini, dad! Sudah dianggap teman main rasa pacar, sekarang dapat cubitan dari emak-emak posesif! Dad... can you help me today?" kata mas Revi sambil menatap sang ayah, sedih.


Aku mengulum senyum saat Daddy dokter ini mengusap rambut anaknya, seperti Ayahanda.


"Mommy lebih tua dari daddy, daddy takut kurang ajar."


Aku hampir menggigit paha Ayahanda karena gemas dengan keluarga mas Revi. Terlihat eyel-eyelan sebelum kembali bersikap normal.


Sementara itu yang paling lucu adalah mas Reno, ia mengadu begini kepada orangtuanya. "Jangan marah-marah yo, Pak, Buk! Sum...pahhhh!!! Aku cuma dijadikan obat nyamuk oleh mereka berdua, aku dijadikan sopir, dijadikan kameraman, disuruh bawa ini, bawa itu, belum lagi aku cuma disuruh lihat pohon sementara mereka pacaran. Bapak kasian to sama aku?"


"Salahmu dewe gelem dadi obat nyamuk! Kapokmu kapan!" ujar bapaknya mas Reno yang membuat kami tertawa kecil, membuat suasana menjadi hangat.


Setengah jam kemudian setelah kami makan malam bersama. Keluarga mas Revi dan mas Reno berpamitan. Aku tersenyum lega, lanta menengadah menatap Ayahanda.


Ayahanda tersenyum lega. "Jaga kesehatan! Sebentar lagi kalian akan mengharumkan nama sekolah, nama kota ini. Ayahanda tidak marah, tapi Ayahanda hanya ingin kerja keras kalian membuahkan hasil, bukan hanya mendapat keringat saja karena kalian benar-benar diharapkan oleh walikota agar membawa pulang sebagai juara."


Aku mengangguk sambil menyandarkan kepala di lengan Ayahanda. "Lilah mohon doa restu, Ayahanda."


"Berdoalah kepada Gusti Allah agar direstui jalanmu menjadi pemenang."


"Apa termasuk meminta restu dalam mencari jodoh, Ayahanda?"


"Mandi dan istirahat! Jodohmu masih Ayahanda filter!"


Aku terkekeh. "Lilah akan berdoa supaya jodoh Lilah yang berhasil Ayahanda filter, betah menghadapi Ayahanda..." Aku tersenyum lebar seraya meninggalkan Ayahanda yang masih menatapku saat aku menoleh ke arahnya.


Terimakasih, Nda, sudah mau mengerti Lilah.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2