ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 18


__ADS_3

Revi.


Kesibukan terjadi di rumah orangtuaku saat fashion designer dan anak buahnya datang membawa pakaian-pakaian yang akan aku gunakan untuk acara-acara pernikahan nanti.


"Ini untuk pengajian, ini untuk siraman, ini untuk malam midodareni dan lamaran, sementara untuk akad nikah dan resepsi akan dilakukan oleh keluarga kerajaan langsung!" ujar si fashion designer dengan lemah gemulai.


Aku berdehem, sudah dari kemarin aku puasa mutihan mengikuti tradisi yang dijalankan oleh keluarga Dalilah untuk kelancaran hajad yang akan kami berdua jalani.


Ini baru hari kedua, dan aku lemes bukan main. Perutku melilit, otakku menjerit. Aku tak berdaya, bibirku kering, dan ini sedikit bertentangan dengan ilmu kesehatan yang aku pelajari namun dari buku referensi yang aku baca tentang Islam kejawen, puasa mutihan juga bisa menetralisir racun dalam tubuh.


It's ok, aku harus terbiasa meskipun masih alon-alon melakukannya


"Fitting baju dulu, say! Mau nikah kok cemberut sih. Ayo berdiri!"


Aku beranjak dari sofa, meninggalkan catatan ruwet calon dokter muda.


Aku mencoba satu persatu pakaian yang akan aku gunakan untuk pengajian besok lusa, tepat Kamis malam.


"Pas, gak ada yang kebesaran atau kekecilan!" kataku menjelaskan. Anak buah fashion designer ini langsung membereskan semua barang-barang yang aku coba barusan untuk di dry clean.


"Untuk princess mana?" tanyaku penasaran. Dia pasti menggemaskan sekali menggunakan gaun berwarna putih sesuai dress code yang mommy pilih. Putih melati seperti namanya.


"Itu sudah beres, say... Pengantinnya kamu, jadi yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh itu kamu! Ayo potong rambut, biar cucok meonggg."


Aku menggerutu kesal, aku lagi puasa hmm... Baru pertama kali melakukannya, ternyata lebih berat daripada puasa Ramadhan yang satu bulan penuh, tapi masih bisa makan yang manis-manis. Sementara ini hanya tiga hari, aku udah banyak mengeluh.


Maafkan hamba yang serba salah.


Aku kembali merebahkan diri diatas sofa.


"Bisa gak habis magrib? Aku lemes say... masih ada tugas koas yang belum kelar." kataku tak bersemangat.


"Habis magrib waktunya dekorasi rumah say... Sini manikur dan pedikur dulu. Biar kuku-kukunya cucok meong dan alus!"


Ya Allah Gusti.


Aku menyerahkan kedua kakiku dan tanganku. Membiarkan manikur dan pedikur berjalan lancar sembari memikirkan bagaimana pernikahan besok akan terjadi.


Undangan sudah disebar kemana-mana, pers udah tahu akan terjadi pernikahan megah putri mahkota kerajaan dengan keluarga Jayantaka. Rumah orangtuaku juga sudah di jaga ketat oleh pasukan khusus dari anggota mata-mata milik keluarga mommy.


Yang menjadi pertanyaan, apakah akan ada pihak musuh yang pernah bersengketa dengan institusi milik keluarga ibuku mensabotase pernikahan ini. Aku harap tidak!

__ADS_1


"Sudah say... Sekarang duduk, biar dipotong rambutnya!"


Aku pindah ke kursi plastik, membiarkan rambutku dirapikan dan di pijat-pijat.


"Yang bawah jangan lupa di rapikan ya say... Biar gak rimbun!" seloroh fashion designer ini dengan lugas.


Aku berdehem, urusan rambut bawah itu nanti. Sekarang aku hanya mau tidur siang, aku ngantuk say... habis di pijat-pijat.


***


Malam hari dalam kediaman, semua persiapan untuk dekorasi pengajian sudah datang. Orang-orang hilir-mudik menata rumah ini dengan dekorasi adat Jogja yang begitu kental.


Aku mengamati baik-baik. Aku benar-benar akan menikah dengan Dalilah besok Sabtu.


Yang paling membuatku resah dan gelisah adalah menghafalkan nama Dalilah dan Ayahanda untuk ijab qobul nanti dengan bahasa jawa.


Aku takut salah. Apalagi nanti disaksikan oleh seluruh kalangan masyarakat dan semua penghuni alam semesta ini. Bahwa Revi Bramasta Putra Jayantaka menikahi seorang putri kerajaan.


Itu sensasinya benar-benar meledak-ledak.


Semua rasa ada dalam hatiku sekarang.


Aku susah tidur, tidak enak makan, tidak enak ngapa-ngapain.


Entah harus bagaimana aku membayangkannya ini.


Mau bercinta, eh masih ada tugas koas. Mau belajar, eh punya istri cantik.


Betapa hatiku cenut-cenut memikirkannya.


"Daripada cuma duduk-duduk melamun, lebih baik tidur, Rev! Banyak-banyak berdoa dan istirahat biar nanti auranya bagus!" ujar mommy seraya duduk di sebelahku di anak tangga.


"Mommy baik-baik saja aku tinggal?" tanyaku pelan.


Situasi ini begitu sentimental bagi kami sekeluarga di hari-hari menjelang pernikahan. Ada ketakutan, ada kebahagiaan, adapula rasa lega yang bercampuraduk di rumah ini.


Mommy merangkulku dan mengecup puncak kepalaku.


"Kawula mung saderma, mobah-masik kersaning Hyang Sukmo."


Refleks aku menatap ibuku dengan heran, sejak kapan mommy bisa bahasa Jawa.

__ADS_1


"Artinya?"


"Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan."


Mommy menepuk-nepuk pundakku. "Banyak-banyak berdoa karena setelah kamu menikah, mommy-daddy, tidak lagi ikut campur dalam urusanmu. Tapi, mommy akan menjadi pendengar yang baik jika kamu ada masalah!"


Mommy memelukku. "Hormatilah Dalilah seperti orang-orang menghormatinya karena ayahnya sangat posesif terhadap istrimu nanti!"


"Apa aku juga harus menghormatinya saat melakukan itu, Mom?" tanyaku polos.


Masa iya aku yang pasrah, sementara waktu pacaran nggak pernah ngapa-ngapain selain pelukan tipis-tipis. Setelah nikah, masa diam-diam aja dikamar.


Mau pelukan malu-malu, mau ciuman apalagi. Terus pas buka baju, sesak nafas duluan lalu pingsan...


Tawa mommy pecah. "Mommy juga gak tau, Rev! Mommy aja penasaran! Besok cerita ya."


Ku tatap ibuku dengan heran sebelum beranjak. "Lebih baik mommy istirahat karena mommy sudah sepuh! Acara besok juga baru di mulai, pasti capek!"


Mommy menggeleng. "Mommy mau lihat-lihat dulu persiapannya! Kamu tidur gih!"


"Jangan lupa minum vitamin!" teriakku.


***


Aku mengusap wajahku dan mengamini doa-doa dari pak ustadz Yusuf.


Satu step berlangsung lancar, keluarga besar ku dengan khidmat menikmati jalannya pengajian hari ini.


Aku mencium punggung tangan mommy dan daddy seraya memeluknya bergantian. "Istirahat, mom, dad! Besok masih ada acara siraman dan malam midodareni! Revi gak mau kalian jatuh sakit."


Orangtuaku setuju. Aku mengantar mereka sampai ke dalam kamar.


"Langsung tidur! Minum vitamin dulu!" kataku lagi mengingatkan.


"Jangan lupa kamu juga, Boy! Tidurlah..."


Aku mengangguk seraya menutup pintu kamar mereka. Sebelum masuk ke dalam kamarku sendiri aku menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kamar princess, kamar milik prince dulu yang kini sudah diubah menjadi lebih girly.


Ku pandangi wajah mungil itu yang terlelap disamping Bi Tutik.


Aku khawatir bocil ini tidak kerasan jika tinggal bersamaku dan Dalilah di istana dan segala peraturannya.

__ADS_1


Aku menghirup nafas dalam-dalam seraya menutup pintu. Sudah sebaiknya aku berdoa lagi biar nanti lancar jaya.


...Happy Reading...


__ADS_2