ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 30


__ADS_3

Revi.


Jam dinding kayu menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika aku bangun. Aku mengusap wajahku sebelum turun dari ranjang ketika menyadari Dalilah sudah tidak ada di sisiku.


Aku bergeming dan berpikir dimana ia sepagi ini, tanpa membangunkan aku terlebih dahulu.


Tirai putih tipis melambai-lambai di terpa angin dan udara dingin menyentuh kulitku.


Aku berjalan ke samping kamar yang tebus ke area kolam renang. Istriku pasti disana, sepagi ini sedingin ini dengan kicau burung yang menemani kesendiriannya. Sungguh, suasana alam yang membuat tenang.


Seulas senyum menemani langkahku saat menghampirinya dengan pelan, tenang, berharap tidak mengganggunya saat yoga di pinggir kolam.


Aku mengamatinya di kursi malas, si cantik hanya menggunakan sport bra dan celana legging ketat.


Aku mengambil sarapan pagi yang sudah ia santap sebagian. Aku menyantapnya sambil menikmati suasana pagi yang begitu memanjakan jiwa.


Istriku yang meresahkan, sarapan yang enak, dan ketenangan.


"Sudah bangun?"


Aku tersenyum lebar dan mengangguk. "Morning, dear! Menikmati waktu sendiri?" kataku santai.


Dalilah beranjak dari tepi kolam, aku merentangkan kedua tanganku saat ia meminta duduk di pangkuanku.


"Morning kiss."


Aku tersenyum miring dan menaruh piring sarapan pagiku yang berupa buah-buahan ke atas nampan. Tanganku melingkar di perutnya yang terbuka, halus dan wangi. Membuatku kecanduan dengan aromanya dan kehangatan yang menakjubkan.


"Rasa apel, mangga, stoberi, jadi satu! Mau?" tanyaku dengan senyum yang tak lepas dari sudut bibirku.


Bersamanya adalah sesuatu yang baru, dan terlalu banyak hal-hal yang ingin aku lakukan dengannya untuk menghapus jejak petualang yang ia lakukan bersama Arkananta.


"Pasti manis!" sahut Dalilah, ia menangkup rahangku dan menatap mataku.


"Hanya kamu yang memahamiku." desahnya sambil menunduk untuk menempelkan pipinya di pipiku.


"Hanya kamu!"


Tangannya menyeruk rambutku. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengusap punggungnya yang terbuka.


Sikapnya yang seperti ini seolah menunjukkan keresahan-keresahan yang membuatnya menjadi posesif dan agresif.


Aku membasahi bibir sebelum menangkup wajahnya, membelai lembut bibir bawah yang masih halus dan membukanya pelan.


"Hanya aku yang memahamimu, dan segalanya tentang Arkananta hanyalah bagian dari perjalanan hidupmu. Rumahmu hanya aku!" Suaraku rendah dan mendekatkan wajahku di bibirnya.

__ADS_1


Dalilah memejamkan matanya. Aku mengecup bibirnya, membelai lembut bibirnya yang hangat, dan si cantik yang meresahkan ini membuka mulutnya, membuatku semakin memperdalam ciuman ini dengan penuh mendamba.


Mulut kami yang terbuka saling membelai, mendesak dan mengerang merasakan kebutuhan yang masih terasa lapar untuk kami berdua.


Dalilah tersengal-sengal, ia melepas ciumannya dan menaruh dagunya di bahuku. Dadanya kembang kempis dan menempel di dadaku, gelombang panas meresap dalam tubuhku dan membuatku menginginkannya.


Tanganku masuk ke dalam sportbra-nya, aku menangkup dan membelai puncaknya yang keras dan tegang.


Dalilah mengerang nikmat, ia menggigit cuping telingaku. Tubuhku semakin panas. Tubuhku benar-benar sesak, aku butuh pelepasan hormon.


"Angkat lenganmu, dear!"


Suaraku serak dan rendah, ditelan kabut gairah yang menyala-nyala. Dalilah mengangkat lengannya, ku lepas sportbra-nya yang menutupi bagian kesukaanku. Meski kecil, ia indah, sangat indah dan ranum.


Aku menciumnya, menuruni ceruk lehernya dan menangkup kedua bukit gairahnya sebelum mengulumnya.


Dalilah bergetar, slalu bergetar saat aku memanjakannya.


"Selesaikan mas!" bisiknya ditelingaku. Aku mengangkat tubuhnya ke dalam kamar. Aku tersenyum lebar saat aku menghempaskan tubuhnya di ranjang.


"Milikku."


Ku tarik celana legging yang ia pakai. Saat si cantik sudah polos, Dalilah menutup wajahnya.


Aku tersenyum miring. "Aku akan membuat honeymoon kita benar-benar honeymoon, sayang!"


***


Dalilah mencium puncaknya sebelum merangkak naik ke tubuhku.


"Cone yang gak bisa habis!" bisiknya di telingaku, bibirnya merah, senyumnya merekah. Aku menindihnya. "Kau begitu menikmati aku, dear! Biar aku yang main sekarang!"


Dalilah merenggangkan kedua kakinya. Aku yang melihatnya sangat basah tersenyum lebar.


***


"Sudah puas?" tanyaku saat kami berpelukan dengan tubuh yang berkeringat.


"Kamu enggak puas mas?" tanyanya balik, mendongkak dan mencium rahangku. Entah kenapa ia suka sekali mencium rahangku, jika aku tanya kenapa, ia hanya menjawab suka saja, suka semua dengan bagian tubuhku.


Aku mencubit pipinya. "Kalau belum puas, aku belum keluar sayang! Ish..."


Dalilah terkekeh geli. "Sebaiknya kita mandi, aku sangat buruk sekarang!"


Aku tergelak, bagaimana tidak buruk. Dalilah berwajah merah, rambut hitamnya berantakan, badannya berkeringat, dan ia benar-benar terlihat habis bermain sekss di pagi hari. Begitupula denganku.

__ADS_1


Aku beranjak turun, mengambilkannya handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


***


Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Hari ini aku ada kunjungan ke rumah sakit untuk absen dan cuap-cuap sebentar dengan konsulenku sebelum maju ke babak ujian UKMPPD bulan Maret.


"Nanti pulang ke istana kan mas?" Dalilah duduk dengan anggun di sebelahku. Menyembunyikan tingkahnya yang nakal di depan orang lain.


Aku bersyukur, nakalnya bisa disesuaikan sesuai tempatnya dan hanya bersamaku ia menjadi diri sendiri. Aku pun belajar banyak darinya untuk membicarakan persoalan-persoalan yang meresahkan hati agar tenang.


Aku mengangguk. "Kamu gakpapa aku tinggal sebentar? Nanti sore aku udah pulang, paling lama habis magrib!"


Dalilah mengangguk sambil menepuk-nepuk ringan punggung tanganku, ia tersenyum lebar.


"Semangat ya!"


Aku tergelak singkat. "Slalu, dear!"


Mobil berhenti di depan lobi rumah sakit. Pak Darmaji yang baru saja turun dari mobil memberi waktu bagiku untuk mencium pipi Dalilah dengan lembut.


Dalilah tersenyum hangat, dan pintu mobil terbuka.


Aku melambaikan tangan saat mobil kembali berjalan dengan pelan keluar dari lobi rumah sakit.


Mulai hari ini aku kembali disibukkan dengan rutinitas sehari-hari sebagai dokter muda, mengenyampingkan keinginanku untuk terus di dekatnya yang menjadi hasrat ku dan kekuatanku.


Aku melangkah masuk ke dalam rumah sakit, dan tersentak kaget dengan sambutan hangat dari teman-teman seperjuanganku.


"Congrats, Bro! Semoga masih fokus ujian UKMPPD bulan depan!" Teman-temanku terkekeh-kekeh. Aku tersenyum lebar.


"Ayo ke pantry, aku traktir makan siang!" ajakku sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan ini secara pribadi.


Dan pertanyaan-pertanyaan seputar malam pertama terus mereka tanyakan dan bayangankan sebagai guyonan dan pengetahuan baru.


Aku hanya bisa tersenyum lebar dan mengingat Dalilah sekarang.


Desahannya membuatku ingin cepat-cepat pulang.


***


Dalilah mencium punggung tanganku saat aku kembali ke rumah, ia tersenyum lebar dan melepas jas putihku seraya menyampirkan di gantungan baju.


"Mandi gih, terus makan malam!" Dalilah mengalungkan handuk di leherku.


"Ayahanda nanti mau bicara dengan mas Jati!"

__ADS_1


Jakunku naik-turun. Semoga nanti bukan perihal malam pertama atau apapun itu yang susah-susah. Aku masih kikuk jika berhadapan dengan beliau.


...Happy Reading...


__ADS_2