ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 71


__ADS_3

Dalilah.


Matahari menyingsing di ufuk timur saat aku membuka kamar tidurku. Aku tersenyum lalu ku pandang adikmu yang juga keluar dari kamar.


"Pagi, ndomas Surya." sapa ku dengan ceria.


Suryawijaya berdehem seraya mencermatiku baik-baik. "Kenapa seperti itu?" tanyanya dingin.


"Mbak lagi seneng." jawabku jujur.


Suryawijaya memutar matanya jengah sebelum merangkul bahuku, mencengkramnya ringan.


Aku mendengus. Sungguh, dulu ku pikir menjadi kakak akan bisa mengintimidasi adikku terus menerus. Tapi seiring bertambahnya usia, Suryawijaya tumbuh tinggi dan sekarang aku justru terlihat seperti adiknya, bukan kakaknya.


"Aku tahu, setiap hari yang menjemput Mbak adalah mas Revi. Bukan mas Bimo!"


Aku mengangguk. "You know-lah, Sur! Tidak ada yang Mbak tutupi sekalipun Ayahanda juga tahu itu." kataku dengan santai.


Hanya saat ini saja, saat-saat dimana Bimo harus lebih fokus pada dirinya sendiri dan aku bisa sedikit bebas berkeliaran dengan mas Revi, walaupun protokoler istana masih benar-benar terpampang jelas di ingatanku.


"Jangan memandang mas Revi sebelah mata sebelum kamu mengenalnya langsung, Sur. Jangan judes-judes dengannya, kamu menakutkan tau." gurauku sambil terkekeh kecil.


Suryawijaya mendengus, ia melepaskan rangkulannya saat Ayahanda berdiri tak jauh dari kami.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Ayahanda, mencermati kamu berdua dengan penasaran.


Aku mengernyit, pura-pura bingung. "Ada apa memangnya Ayahanda?" tanyaku, "Apa seragam kami tertukar?" candaku sambil tersenyum lebar ke arahnya.


"Tidak! Kalian terlihat akrab tidak seperti biasanya." jelas Ayahanda masih bingung. Aku mengendikkan bahu.


"Suryawijaya kok yang rangkul-rangkul aku. Mungkin dia sadar, untuk menyudahi memusuhiku, Ayahanda." kataku sambil merangkul lengan Ayahanda.


"Ayahanda sehat? Lilah jarang ketemu Ayahanda akhir-akhir ini." tanyaku sambil berjalan beriringan menuju ruang makan.


"Ayahanda harus menghadiri acara resmi di beberapa kota di sekitar sini. Jadi, biasakah princess menjadi anak manis?" tanya Ayahanda penuh harap.


"Bisa. Ayahanda bisa memegang janjiku!"


Ayahanda tersenyum seraya menarik kursi untuk aku duduki. "Duduklah princess. Ayahanda ingin mendengar kegiatanmu di sekolah!"


Aku berdehem. "Terimakasih Ayahanda." kataku sambil melirik Suryawijaya sekilas sebelum duduk.

__ADS_1


"Lilah mungkin akan sama sibuknya dengan Ayahanda. Lilah sudah mulai ikut ekskul lagi dan latihan untuk perlombaan besok di Jakarta." kataku sambil tersenyum saat Ibunda datang sambil menggiring Pandu Mahendra yang tampak enggan berangkat sekolah.


"Kenapa, Bun?" tanyaku.


Ibunda meringis sambil mendudukkan Pandu ke kursinya. "Biasa."


Aku mengangguk, tatapanku beralih Ayahanda.


"Ayahanda kenapa? Ada masalah?" tanyaku heran.


Ayahanda menggeleng dan memaksakan senyum di wajahnya. "Ayahanda tidak apa-apa, Lilah. Ayo sarapan. Kalian akan terlambat jika kita habiskan untuk mengobrol."


Aku cemberut karena mengobrol bukan hobi Ayahanda. Hanya pada Ibunda Ayahanda suka ngobrolnya.


Ruang makan berubah hening, hanya ada denting sendok dan garpu saat kami sarapan berlima dengan pengawal yang berdiri di depan ruangan ini.


Aku menghabiskan susu hangat di gelasku sampai habis.


"Lilah berangkat dulu, Ayahanda, Ibunda." pamit ku seraya mencium punggung tangan mereka. Aku bergeming saat Ayahanda menahan tanganku.


"Princess... Ayahanda ingin bertemu dengan Bimo."


Aku mengangguk. "Jam berapa Ayahanda tidak sibuk?" tanyaku.


"Siap! Tapi sorenya jam berapa tidak pasti, soalnya habis sekolah Lilah langsung ke sekolahnya mas Derren. Latihan. Ayahanda transfer ya?" pintaku sambil tersenyum manis.


"Jangan Ayahanda! Itu hanya untuk bersenang-senang dengan teman barunya. Ke mall, nonton, belanja barang-barang yang tidak penting!" sergah Suryawijaya cepat.


Aku melotot. "Diem aja kenapa! Sekalinya cerewet ngeselin!" kataku sambil melambaikan tangan ke arah orangtuaku. Ayahanda tahu yang terbaik untukku, jadi aku hanya perlu menunggu mendapat notifikasi m-banking.


Di gerbang rumah. Aku mendapati mas Revi sudah menungguku. Ia tersenyum lebar ketika aku memanggilnya.


"Morning, flower." katanya manis.


"Sekar! Bukan flower." sergahku sambil terkekeh geli saat mas Revi menggerutu.


"Sekar itu bunga, bunga bahasa Inggrisnya flower. Jadi sama aja!" katanya membela diri.


Aku mendesis lalu ku peluk perutnya saat motor ini sudah berjalan menuju sekolah.


"Nanti aku pulang sama Bimo, mas! Ayahanda menginginkan laporan darinya."

__ADS_1


"Jadi kesenangan kita akan berakhir hari ini, princess?" tanyanya dengan tak suka, tapi aku tahu. Seminggu ini sudah cukup menyenangkan bagi kami untuk bersama tanpa pengawasan ketat dari Bimo.


"Begitulah... Tuan putri sudah harus kembali dijaga, biar tidak lepas dari pemantauan dan menjadi nakal." Aku terkekeh kecil. Mas Revi malah menghentikan motornya di pinggir jalan.


Aku melongo lalu turun sambil memandangnya heran.


"Ayo kita pergi, Lilah!" ajaknya sambil menaik-turunkan alisnya.


Aku mengerutkan kening. "Bolos sekolah?"


Mas Revi mengangguk pelan. "Kamu belum pernah kan? Ayo kita mencobanya."


Aku bingung, aku memang belum pernah bolos sekolah. Aku Dalilah si anak tertib dan patuh, namun aku penasaran.


Aku mengangguk. Dan sampailah kami di sebuah bukit yang jauh dari kota setelah menghabiskan perjalanan selama satu jam lebih. Aku deg-degan, namun juga menikmatinya dengan senang.


Mas Revi mengusap keringatku saat kami sudah mendaki separuh bukit ini. Aku terangah, tapi juga tersenyum lebar.


"Jadi pelajar gak lengkap kalau belum bolos sekolah. Tapi cukup sekali saja, dan nakalnya hanya denganku!" cetusnya sebelum membuka penutup botol dan memberinya padaku. Aku meminumnya dengan baik sebelum menatapnya yang tersenyum hangat.


"Apa Lilah akan dihukum besok?" tanyaku was-was.


"Tidak juga! Hanya alpa sekali, itu juga kalau Bimo tidak mengadukan hal ini kepada Ayahanda. Semua aman."


Aku mengangguk, meraih sikunya, membiarkan dia menuntutku menaiki jalan setapak, melewati beberapa baris pepohonan rimbun.


Kami berjalan dalam keheningan sebelum kami berdua sampai ke puncak bukit. Ada rasa cemas yang menjalari hatiku namun kapan lagi aku bisa merasakan hal ini. Kapan lagi aku merasa sedikit bebas.


Aku tersenyum dan bertepuk tangan. "Tidak buruk sekali, tapi Lilah masih deg-degan. Lilah takut ada satpol PP yang akan menangkap dua remaja bolos di atas bukit." candaku sambil mengedarkan pandang.


Mas Revi tergelak, kemudian membawaku ke bangku kayu panjang di pinggir bukit. Kami membiarkan udara yang sejuk sekaligus terik matahari menyinari seluruh wajah kami berdua.


"Mas Revi..."


Aku menemukan tatapan mas Revi saat ia menoleh dan kami saling menatap.


Ada gelombang di dalam sepasang mata coklatnya. Gejolak yang tidak aku mengerti dan bahasa tubuh yang tidak bisa aku baca.


"Terimakasih sudah membawaku kesini."


Mas Revi mengerjap, seolah terlalu ngeri membayangkan apa yang ia pikirkan. Sejenak, aku hanya bisa tersenyum kecil sambil mendorong bahunya.

__ADS_1


Mungkin aku beda, mungkin aku tak sama dengan gadis-gadis yang sudah ia cumbu. Dan yang aku bisa hanya memegang tangannya selama diatas bukit ini. Tangan yang hangat, sehangat asmara yang kian hari kian melekat.


...Happy Reading...


__ADS_2