ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 26


__ADS_3

Bocil jangan baca!!!


***


Dalilah.


Aku menatap diriku yang sudah sah menjadi seorang wanita.


Aku bukan lagi gadis kesayangan Ayahanda. Sekarang, aku menjadi wanita kesayangan mas Jati. Suamiku yang menggagahi diriku tadi malam dengan ragu, pelan, dan penuh penghayatan.


Lepaskan Lilah. Teriakkan namaku.


Erangannya dengan nikmat. Dalam dan dalam. Memandangku dengan matanya yang gelap, sementara getaran-getaran menyerang diriku.


Aku diserang, otakku tidak bisa berpikir sementara gairah begitu menderu di tubuhku, jarinya menyelinap ke tepi celana pakaian dalamku untuk menyentuhku, membelaiku sampai tubuhku berguncang hebat dalam getaran-getaran yang memabukkan.


"Ssh..." Tangan mas Jati mendesak keluar-masuk. Membuatku terkejut dengan agresinya. Aku basah dan semakin basah saat sekujur tubuhnya menempel di tubuhku. Panas.


Aku tersenyum malu jika mengingatnya, saat ia mendekapku erat-erat, sampai aku kesulitan bernapas.


***


"Mas Jati." panggilku.


Suamiku yang sedang tekun belajar menoleh sekilas. "Apa, dear? Mau makan?" tanyanya tanpa memandangku.


"Kenapa masih sakit?" tanyaku heran, padahal sejak tadi malam aku sudah minum pereda nyeri. Kalau masih sakit aku mau tanya Ibunda apa obat yang manjur. Rasa ini begitu mengganjal di dalam dan membuatku tidak nyaman, bergerak atau buang air kecil.


"Peradangan, sayang! Nanti sembuh sendiri." jawab mas Jati sambil mengetik sesuatu di keyboardnya.


"Kenapa gak pak dokter periksa? Peradangannya pasti parah!" kataku penuh dramatis.


Mas Jati langsung memutar lehernya, ia menyeringai bodoh. "Nanti tambah parah kalau aku periksa, kamu nangis terus. Aku sedih tapi enak."

__ADS_1


Aku menyengir kuda, ku hampiri ia yang duduk di kursi gaming.


Mas Jati menepuk pahanya. "Duduk sini, nanti aku periksa sebentar pakai tangan!"


Aku mendesis saat senyumnya berubah menjadi senyum mesum menyebalkan.


Aku duduk dengan anggun di pangkuannya. Terasa canggung sekaligus nyaman. Ada rasa hangat yang saling berbenturan dengan pelan dan lembut.


Mas Jati memelukku. "Gak usah masak, nanti pesan aja!" putusnya memberi perintah.


Aku mengangguk, menyandarkan tubuhku di dadanya yang berdetak kencang dan sangat berkeringat tadi malam.


"Susah ya jadi dokter?" tanyaku basa-basi.


Mas Jati mengangguk, sesekali mengecup puncak kepalaku sembari mengetik dengan cepat di atas keyboardnya. Sekarang aku menyukai jari-jarinya, yang membelaiku pelan dan sedikit nakal.


"Sebenernya hanya tinggal ujian UKMPPD saja tahun ini, Lil! Tapi ini penentu kelulusanku sebelum intership untuk mendapatkan izin praktek dokter."


Aku mengangguk, aku mengerti, yang aku inginkan hanya janjinya untuk menikahiku tahun ini.


Aku menginginkannya lebih seperti ia menginginkanku malam tadi. Ini kejujuran, dan aku tidak malu lagi mengungkapkannya.


"Aku akan memastikan jika tahun ini mas hanya fokus dengan ujian UKMPPD! Untuk dalam istana mas bisa menjadi abdi dalem bagian pelayanan kesehatan dulu, untuk belajar menari dan lain-lain, di pending sampai mas benar- bener menjadi dokter!"


Aku menggigit rahangnya. Mas Jati menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi gaming yang membuat tubuh kami setengah rebahan.


"Jangan lupa giat belajar!"


"Itu mudah, dear. Tapi kamu menggangguku sekarang!"


Mas Jati mengamatiku dengan mata coklatnya yang luar biasa. "Apa yang akan kita lakukan?"


Aku mengangkat bahu, mataku berkilat-kilat geli. "Aku percaya kursi ini cukup kuat untuk menahan tubuh kita berdua!"

__ADS_1


Sebelah alis mas Jati terangkat. Ada ekspresi tiduri aku diwajahnya saat ini.


"Astaga. Kau benar-benar cantik jika menggodaku, Lilah!"


Aku tergelak. "Kenakalan remaja slalu membuatku penasaran, sungguh, dan sekarang aku bisa benar-benar merasakan sedikit lebih tenang."


Mas Jati menunduk dan menempelkan mulutnya ke mulutku. Ciuman ini dimulai dengan lembut dan manis sampai aku membuka mulutku, membiarkan ia membelai bibir bawahku dan menjilat bagian dalam mulutku sementara aku bersandar penuh padanya.


Mas Jati tersenyum tanpa melepas ciumannya. Tangannya merapikan anak rambutku, sementara satu tangannya membelai punggungku seraya mengusap bokongku.


Aku mengulurkan tangan ke atas dan menyusurkan jemariku di rambutnya yang slalu mempesona, menarik, dan wangi.


Ia tak kalah wangi dariku, ia sangat menjaga aroma tubuhnya agar slalu wangi di dekatku.


Aku mendamba. Gemetar dan gelisah diatasnya. Suhu tubuhku meningkat dan saat aku mengelus pipinya dengan lembut sekujur tubuhnya tegang.


Mas Jati melepas ku, ia menarikku untuk duduk menghadapnya. Mempermudah ia untuk menangkup, membelai dan mengisapku.


Aku menggeliat diatasnya, terlalu enak jika hanya diam tanpa mendesah nikmat.


"Mau main diatas?" tanyanya serak seraya menarik turun celananya dengan susah payah.


Aku terkejut ketika ku rasakan sesuatu yang keras sudah menyentuh pahaku. "Apa bisa?" tanyaku, sejenak menaikkan tubuhku untuk melepas pakaian dalamku---karena aku menggunakan rok.


Mas Jati mengangguk pelan, ia menarikku ke atas supaya lebih tinggi darinya sementara aku harus menekuk lututku diatasnya.


Aku memeluk kepalanya. Mas Jati yang kembali mengisapku, membuatku berdenyut-denyut di dalam sana.


Aku mendudukkan diriku terlalu cepat saat mas Jati sudah memposisikan bagian tubuhnya di bawah sana.


Aku merintih, nafasku tercekat, mataku membeliak. Mas Jati mengerang keras, tubuhnya tersentak kaget. Penyatuan ini terlalu cepat, terasa sakit, terlalu sesak dan penuh di dalam sana.


Mas Jati mengusap-usap punggungku pelan lantas menggerakkan pinggulku maju-mundur. "Pelan-pelan sayang..." Ia tersenyum samar, mengambil alih permainan disaat perasaan malu membuatku hanya bisa pasrah menikmati getaran-getaran yang memabukkan dan membiarkan kenikmatan tak terbendung menjalari tubuh kami berdua.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2