ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 12


__ADS_3

Hari Minggu tiba. Semilir angin membelai pucuk-pucuk pohon kamboja, lalu menggugurkan bunganya yang layu dari kelopaknya. 


Aku membungkuk untuk mengambilnya, mengambil bunga kamboja yang tak lagi indah, "Pasti." gumamku sembari duduk di bawah pohon kamboja. 


Hari ini aku sudah berjanji untuk menemani Bimo mengunjungi sanggar tari. Sanggar tari yang masih terletak di sekitar keraton. Sanggar tari yang mengajarkan tarian klasik keraton. Entah Bimo jadi datang atau tidak, aku tidak tahu. Yang pasti, dia tahu dimana harus mencari ku. 


Aku mengendus aroma bunga kamboja lalu meletakkannya saat Pandu memanggilku.


"Marak sowan, Mbak." ujarnya dengan wajah tak bahagia. Tapi juga tidak berani membantah kagungan dalem Ayahanda. 


"Iya, Marak, Ndu. Kenapa? Mau kabur? Ayo Mbak temani." Aku mengedipkan sebelah mataku, lalu memintanya untuk duduk di sebelahku. Pandu, adikku yang masih kelas enam SD ini terlihat kusut, cemberut, dan tak bersemangat.  


"Aku bosen Mbak. Setiap Minggu harus marak. Padahal setiap hari kita bertemu Ayahanda." ujar Pandu, ia melepas blangkon yang ia kenakan lalu menyugar rambutnya dengan jari-jarinya. 


Sungguh, tidak mudah menjadi kami. Kami yang masih muda sudah di gembleng oleh keluarga inti untuk membuat Keraton ini tetap beregenerasi. Aku, Pandu, Suryawijaya dan cucu Eyang yang lainnya adalah tokoh muda dalam penggiat budaya Jawa ini. Budaya jawa yang sedang berada di ujung jalan persimpangan. 


Setiap Minggu kami harus marak sowan di bangsal keraton. Bertemu Raja untuk sembah sujud dan temu kangen sesama cucu Eyang Sultan Agung Adiguna Pangarep.


Di hari Minggu pula akan menjadi pertunjukan antara aku dengan sepupu-sepupuku di bangsal kencana. Dimana aku dan sepupuku akan menarikan tarian klasik yang Ayahanda harap akan menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang berkunjung ke keraton. Berbekal kecanggihan teknologi sekarang, keraton juga menyiarkan sendratari nanti secara streaming. 


"Ada kalanya Mbak juga merasa sepertimu, Ndu. Mbak bosen, Mbak pengen jadi orang biasa. Tapi, kita sudah menjadi kita yang sekarang sejak dalam kandungan. Sekarang, Mbak tanya. Kamu menyesal menjadi Ningrat?" tanyaku dengan mata menyelidiki. 


Pandu yang sudah sunat ini hanya menggeleng, tidak tahu harus menjawab apa. Begitu pun aku, kalau ada yang bertanya apakah aku bangga menjadi keturunan darah biru? Jawabnya hanya geleng-geleng kepala. Aku belum menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan itu. 


Aku mengacak-acak rambut Pandu Mahendra, "Contohlah mas Surya, dia panutan bagimu." 


Pandu yang slalu cemburu dengan Suryawijaya semakin senewen dengan dirinya sendiri.


"Mas Suryawijaya jelas panutan Mbak. Tapi kami beda! Mas Suryawijaya harus meneruskan takhta Ayahanda, sedangkan aku? Gelar Raden Mas saja sudah cukup membuatku pusing." 


Aku tertawa kecil lalu merangkul bahunya.


"Memang kamu sanggup menjadi mas Surya? Kamu aja kalau tidak diuyel-uyel Ibunda juga ngeyel!" ledekku pada Pandu. 


Pandu ngomel-ngomel sendiri, di pakainya blangkon lalu berdiri merapikan ageman kejawennya. 


"Pakai boxer kan? Awas nanti melorot lagi kayak dulu." Aku cekikikan saat teringat kembali kejadian dimana Pandu Mahendra kesayangan Ibunda nomer dua ini terbirit-birit untuk mengikuti marak sowan. Ia lupa mengencangkan stagen yang berfungsi untuk menahan kain jarik agar tidak melorot. Tapi, Pandu tak melakukannya dengan benar. 


Alahasil, tontonan menarik itu membuatku tertawa sampai sekarang. Lucu sekaligus ngenes untuk Pandu. 

__ADS_1


Pandu menggerutu, ditunjukkannya pintu masuk sembari bergumam kepadaku. Aku mendongak. 


"Bimo." gumamku pelan. 


"Pacar Mbak?" tanya Pandu penasaran. 


"Bukan." jawabku singkat. Aku berdiri sembari merapikan kebayaku.


Pandu tersenyum jail, "Mbak Lilah punya pacar, Mbak Lilah punya pacar!" Diulanginya kalimat itu berkali-kali hingga Bimo benar-benar berdiri dihadapanku. Wajahku tersipu malu. Malu dan takut jika Bimo salah sangka dengan ucapan Pandu Mahendra!


"Maaf, aku tadi diminta untuk menemuimu disini." ujar Bimo sembari membungkuk sopan kepadaku dan Pandu. 


"Biasa aja." kataku sembari menatap Bimo. 


"Iya kalau sama pacar biasa aja, gak usah hormat juga gak apa-apa!" timpal Pandu. 


Bimo tersenyum, "Tidak bisa. Aku hanya melakukan apa yang orang lain lakukan kepadamu dan keluargamu." 


Aku menatap Pandu dengan sorot mata mengancam, berharap bocah ini minggat jika tidak semakin ngelantur ngomongnya. 


Pandu bersorak lagi, "Mbak Lilah punya pacar! Mbak Lilah punya pacar! Mbak Lilah punya pacar!" ujarnya sambil berlalu. 


"Maaf, adikku itu memang agak sama denganku." ujarku sambil menunduk. Berharap kalau Bimo tidak menyadari jika aku salah tingkah. 


Bimo mengangguk, "Aku kesini sesuai dengan janjiku kemarin." 


Aku menganggukkan kepala, "Iya. Tapi maaf, aku ada marak sowan sebentar lagi. Ehm... Ehm... kamu bisa ikut kalau mau kalau tidak, kamu bisa nungguin di luar." 


Bimo langsung menjawabnya dengan lugas kalau ia ingin tahu bagaimana keluargaku jika sedang marak sowan dengan Raja. 


Aku tersenyum simpul sambil membatin, "Ada apa denganmu Bim? Jangan menyelami duniaku, Bim. Nanti kamu tersesat. Tersesat di jantung hatiku."


Aku menunduk, tersenyum malu. 


Bimo mengikuti langkah ku menuju bangsal keraton. Bangsal yang tidak dibuka untuk umum. 


Gempar! 


Semua sepupuku melihat ku dan Bimo sambil tersenyum jenaka. Mereka berbisik usil satu sama lain hingga aku hanya bisa menunduk malu. Sudah pasti ini adalah kelakuan Pandu Mahendra yang kini berdiri dibalik Ibunda. 

__ADS_1


"Mbak Lilah, sini." Ibunda melambaikan tangannya. Aku berbalik lalu menatap Bimo sebentar. 


"Aku harus menghadap Ibunda dulu, Bim. Ehm... Kamu bisa berkenalan dengan sepupuku yang lain kalau mau." 


Bimo tersenyum dan mengangguk, "Maaf, pasti kamu tidak nyaman." 


Aku menggeleng cepat, "Jangan salah paham ya, Bim. Adikku pasti sudah menyebarkan fakta yang tidak benar. Jadi, maaf." 


"Dipanggil Ibunda Mbak!" Suryawijaya yang sedari tadi diam tiba-tiba ikut nimbrung. 


"Iya sebentar! Gara-gara adikmu ini, semua jadi salah paham!" ujarku sewot. 


Suryawijaya mendengus dingin, "Pergilah. Biar aku yang menemani mas Bimo."


Bimo dan Suryawijaya? Bak musuh bebuyutan yang sama-sama memiliki sifat cuek. Sudah aku pastikan keduanya pasti hanya akan berbicara dengan kalimat tanya dan jawab. Begitu terus sampai salah satunya ada yang pergi. 


"Iya, ada apa Ibunda?" tanyaku setelah duduk bersimpuh di hadapan Ibunda. 


"Benar yang dikatakan oleh Pandu?" tanya Ibunda to the point.


Aku menatap Ibunda dan menggeleng, "Bimo datang kesini karena Lilah sudah janji untuk mengajaknya menemui guru tari. Ehm... Bimo mau belajar menari." 


Mata Ibunda membulat sempurna, Seolah ucapanku tadi adalah hal yang menarik untuk dibicarakan, "Beneran?" tanya Ibunda senang. 


Aku mengangguk, "Maaf Lilah lancang mengajak Bimo kesini Ibunda." 


Ibunda mengelus bahuku, "Tidak apa-apa, Ibunda senang sekali ada teman sebayamu yang ikut menjadi penggiat budaya seperti kita. Nanti, ajak sepupumu untuk menari di bangsal kencana. Biar Bimo semakin tertarik untuk mencoba." 


Duh, Gusti. Kenapa? Kenapa semua orang sepertinya senang sekali melihatku membawa seorang laki-laki yang tertarik dengan duniaku. 


Ibunda, bagaimana jika pacarku tahu kalau Ibunda lebih menyukai Bimo dibandingkan dirinya, Revi. 


Revi, bagaimana kabarmu? Kenapa setelah tadi malam kita berkencan untuk pertama kalinya, sekarang kamu seolah lenyap tanpa kabar. 


Ibunda menyadarkan ku dari lamunan saat Ayahanda sudah duduk dengan gagah di kursi kebesarannya. 


"Sudah waktunya marak sowan, yang sabar, yang ikhlas, dan jujur." ujar Ibunda. 


"Baik ibunda." 

__ADS_1


__ADS_2