ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 48.


__ADS_3

Dalilah.


Aku duduk termangu menatap nanar koridor sekolah yang sepi. Hanya ada keheningan disini dan semilir angin dingin yang menyejukkan tubuhku. Tidak pikiranku.


Aku menunggu Revi dan Bimo selesai melakukan rapat anggota OSIS. Aku ingin langsung menagih janji Bimo untuk membicarakan soal Baskara.


Jika apa yang aku pikir benar, Baskara terlibat dalam kasus penyebaran video skandal itu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Baskara sahabatku, selama tiga tahun ia dia terus bersamaku. Kita slalu bersama, dan sekarang kita seperti putaran mata angin yang berbeda. Kami tak pernah bertemu, sekalinya bertemu hanya berpapasan lalu berputar lagi menentukan arah dan tujuan.


Ku lihat jam di pergelangan tanganku, lalu beranjak berdiri untuk berjalan menuju kantin. Jauh lebih baik jika aku disana. Lumayan bisa makan siang dan tidak sendirian.


"Princess..."


Aku menoleh ke arah sumber suara. Revi melambaikan tangannya, bibirnya tersenyum lebar.


Aku terkesiap. Ketua OSIS macam apa dia! Bukannya lagi rapat, kenapa malah keluyuran.


"Aku kangen! Kemarilah sebentar saja!" ujarnya maksa. Ku hampiri dia sambil mengangkat bahu dengan keningku yang berkerut.


"Sana rapat!" usir ku setelah berada di dekatnya.


Revi mendengus dingin, tangannya hendak mengelus rambutku. Tapi aku langsung berjingkat mundur.


Revi mengernyit bingung, "Kenapa?" tanyanya lebih mendekatiku, "Beri aku kesempatan untuk melepas rindu ini padamu!"


Aku menggeleng kuat-kuat, "Nanti aku dimarahi lagi kalau mesra-mesraan!" ujarku sembari menunduk.


Revi terkekeh kecil, tangannya tetap nekat mengelus rambutku pelan. Aku terpaku merasakan itu sambil tersenyum malu-malu.


"Ini bukan mesra-mesraan, kalau ada yang bilang begitu, bilang saja aku hanya sedang mengetes rambutmu apa masih halus atau tidak!" Ku rasakan hembusan nafas hangat di kepalaku. Revi pasti mengendus rambutku.


Aku mendesis saat Revi masih asyik bermain dengan rambutku, "Sudah jangan lama-lama!" cerca ku galak. Ku mundurkan langkahku sambil menatap Revi dengan garang.


"Masih halus. Creambath ya tadi?" Revi menyeringai jail. Aku benci wajahnya yang seperti itu. Seolah berdua seperti ini di tempat sepi adalah romantisme yang indah di sekolah. Tapi bagiku, ini akan menjadi masalah baru jika Bimo tahu dan mengadukan hal ini kepada Ayahanda.


Aku mencari jarak aman agar tidak perlu lagi dihukum karena aku mau tetap sekolah meski aku tidak nyaman disini. Aku mau tetap melihat mas Revi meski hanya melihatnya dari kejauhan.


"Pulang sama aku nanti? Mau?" tanyanya sambil melangkah keluar dari tempat sepi ini.


"Aku nunggu, Bimo." jelasku jujur.


"Oh... Ada masalah sama dia?" tanya Revi dengan curiga, "Aku lihat kamu tadi juga akrab dengannya."

__ADS_1


"Ya... Karena cuma Bimo yang menjadi temanku disini." kataku, Revi menghentikan langkahnya, "Sebentar lagi rapat selesai. Aku harus kembali, kalau tidak aku bakal dipecat juga dari anggota OSIS sepertimu!" Revi terkekeh geli saat aku merasa tersindir karena ucapannya, "Tunggu aku diparkiran sekolah!"


"Ya."


Kami berpisah setelahnya. Aku duduk di kantin sambil memesan semangkuk bakso.


Ku lihat bangku pojokan kantin saat Revi sering menggangguku ratusan hari yang lalu.


Peristiwa itu menjadi hal yang sama sekali tidak indah. Tapi sekarang, aku rindu masa-masa itu.


Aku tersenyum manis saat semangkuk bakso sudah berada di mejaku.


"Belum pulang, Neng?"


"Belum, Pak. Masih nunggu teman." jawabku sambil tersenyum. Ku lihat Bapak penjual bakso ini hanya tersenyum melihatku. Ah, pasti juga tahu kejadian itu.


"Ya sudah, saya pikir mau jaga sekolah ini sampai pagi!" gurau Bapak ini lalu meninggalkanku sambil terkekeh.


Aku tersenyum kecut. Menjaga hatiku saja repot, apalagi harus menjaga sekolah Belanda ini. Maaf-maaf saja, kalau Pandu pasti suka, sedangkan aku tidak!


***


Lima menit kemudian. Bimo menghampiriku dengan nafas yang terengah-engah. Aku mengernyit heran, dia seperti habis lari marathon keliling sekolah ini. Lantas, aku tersenyum menyadari bahwa ia memang mencarimu di seluruh sekolah ini.


"Sini, makan siang dulu!" kataku sambil melambaikan tangan, "Pak, bakso satu sama es jeruk!" ujarku berteriak kepada Bapak penjual bakso. Bapak itu mengangguk lantas membuatkan pesanan ku.


"Pulang. Ibunda sudah menanyakanmu!" kata Bimo, sambil duduk di seberang mejaku.


"Makan siang dulu! Kamu pasti lapar." kataku, beralasan karena aku ingin menuntaskan rasa penasaranku.


"Aku juga sudah pesan makan siang untukmu. Gantinya tadi! Makanlah!" bujuk ku, "Dibungkus saja!" balasnya langsung, "Yee... Aku mau tanya soal tadi. Jawab!"


Bimo menghela nafas, "Pacarmu tahu segalanya. Tanyakan saja padanya! Aku harus pulang!"


"Pak, bungkus aja makanan!" Teriakku lagi.


"Aku pulang sama mas Revi ya? Sambil tanya-tanya soal itu!" rayuku lagi. Bimo menyipitkan matanya, "Langsung pulang!" tegasnya.


"Galak amat seperti Ayahanda!" ujarku sambil berdiri, membayar semua makanan yang aku pesan. Dan menyerahkan sekantong plastik makan siang untuk Bimo.


"Harus dimakan! Jangan dibuang!" ujarku lebih galak darinya. Bimo mengangguk, tersenyum kecil.

__ADS_1


"Aku akan membuntuti kalian. Pergilah ke parkiran, mas Revi menunggumu disana."


Ah... ya! Aku langsung ingat jika tadi aku bilang mau menemui Bimo dulu sebelum ke parkiran. Alhamdulillah, mas Revi masih menantiku dengan sabar.


"Kalau nanti Lilah peluk mas Revi dari belakang, boleh ya?" ujarku menggoda Bimo. Habis lempeng banget hidupnya.


Ekspresi Bimo langsung berubah, "Saya harap ndoro ayu tidak membuat masalah!"


"Sedikit saja, ayolah kami kan pacaran!"


"Ndoro ayu!" sergahnya cepat.


Seandainya, jarak tidak berarti lagi buat aku dan Bimo seperti jarakku dan Baskara. Mungkin kita berdua bisa menjadi sahabat baik. Bukan hanya sekedar bodyguard and me.


"Mas Revi." panggilku saat berada diparkiran sekolah. Revi menoleh, ia tersenyum sambil melompat dari motornya.


"Sudah sayang?"


Mataku langsung membulat sempurna. Tutur katanya tidak biasa. Apa mas Revi sedang menegaskan bahwa aku sudah dimilikinya di depan Bimo. Laki-laki yang sudah menggeber motornya keluar dari gerbang sekolah.


"Sepertinya Ayahanda lupa untuk menjemput Lilah, mas!" ujarku berkilah, padahal Ayahanda sudah meminta Bimo untuk mengantarku pulang.


"Ayo jalan!" katanya sambil mengenakan helm di kepalaku, "Helm siapa?"


"Orang!"


"Gak mau! Nanti ada kutunya!" ujarku hendak melepas helm ini.


"Gak ada, udah aku teliti tadi!" elaknya sambil naik ke atas motor, "Ayo... naik! Jangan duduk miring nanti jatuh!"


Aku memegang pundak mas Revi untuk membantuku naik ke atas motor. Bibirku tersenyum tipis, motor ini rasanya masih sama seperti saat terakhir aku mendudukinya, "Langsung pulang ya!" kataku sambil mencondongkan tubuhku ke sampingnya saat motor ini sudah di geber keluar dari parkiran sekolah.


"Iya sayang..."


"Ishhh... Apa sih mas Revi!"


"Aku gak boleh panggil kamu sayang?"


"Gak! Aku malu."


"Yah..., padahal aku bakal terus panggil kamu sayang mulai detik ini! Jadi jangan malu! Soalnya aku tahu, Bimo menyukaimu!"

__ADS_1


...Happy Reading. 🄰...


__ADS_2