ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 36.


__ADS_3

Revi.


Aku melintasi jalanan yang macet di malam Minggu ini. Sumpah, ini menyebalkan sekali. Tiga Minggu ini yang aku apelin justru laki-laki bujang yang menjadi kurir antar istana dan diriku.


Dia tidak mempunyai toleransi yang tinggi. Meskipun sebenarnya dia baik hati karena bisa bersekongkol dengan ku dan Lilah dalam penyelundupan coklat dan camilan kesukaan princess.


Aku kagum sama ketampanannya, tapi miris dengan nasibnya. Apa tidak ada satupun wanita yang menghibur hatinya diusia tua. Sepertinya ia harus di bawa ke dokter spesialis organ dalam, biar di beri sentuhan lembut dan sedikit demi sedikit ada harapan bagi 'gajah kecil' miliknya menikmati surga dunia. Oh... Malang sekali nasibnya pangeran yang satu ini. Tapi siapa sangka, yang aku tahu dari kabar burung yang beredar. Ibunda adalah mantan kekasihnya.


Sungguh menyiksa kalau aku menjadi pangeran yang sudah berdiri di depan clothing store miliknya.


Setelah selesai memarkirkan motor, aku menenteng dua kantong plastik berisi camilan. Satu kantong plastik untuk semua karyawan di clothing store miliknya, satu kantong plastik untuk princess.


"Selamat malam pangeran Nanang." sapaku sambil tersenyum lebar.


"Selamat malam pemuda! Masuklah." balasnya sambil membuka pintu kaca dibelakangnya.


Aku mengernyitkan dahi, "Tumben! Biasanya tidak begini!" ujarku sambil menatapnya penuh tanya. Waktu pertama kali aku mengunjunginya saat masalah menghadang kemarin, ia mengacuhkanku. Menuduhku yang tidak-tidak. Bahkan aku harus memborong dagangannya hanya untuk mendapatkan bantuannya. Sekarang baju-baju itu hanya menumpuk di dalam almari dan rencananya sebagai akan dibawa mommy untuk anak-anak panti.


Sungguh, dia mempunyai taktik yang bagus dalam urusan perdagangan.


"Mau tidak? Kalau tidak ya sudah, lagipula saya sedang tidak menunggu kamu!" Bujang lapuk ini langsung menutup pintunya dengan gaya jual mahal.


Aku mendengus lalu membuka pintu ini sendiri.


"Aihhh.... Adik datang lagi! Bawa apa sekarang?" tanya seorang wanita dengan gaya sok ramah, sumpah ini wanita sukanya menghabiskan jatah makan yang aku bawa. Tapi badannya tetap kerempeng tidak berisi.


Aku menyerahkannya, wanita ini langsung mengambilnya dan membukanya. Matanya berbinar senang karena aku membelinya sama dengan camilan untuk princess.


"Ada apa dengan Om Nanang kak?" tanyaku sambil menghempaskan tubuhku diatas sofa.


Beberapa karyawan asyik menemani pengunjung yang datang, bercengkrama atau menggoda gadis-gadis cantik yang datang sendiri. Aku tersenyum kecut, andai saja pangeran yang masih asyik berdiri sambil melipat kedua tangannya itu mempunyai keberanian seperti karyawannya. Pasti nasibnya tidak seburuk ini. Lagian apa yang ia harapkan dari ibunya princess? Ayahanda saja sangat mencintainya.


"Ada tamu istimewa katanya! Tunggu aja. Kalau kamu mau, kamu juga bisa bersiap-siap. Siapa tahu kamu bisa kenalan dengan mereka."


Aku menggeleng cepat, "Tidak! Aku cuma mau titip rindu buat princess."

__ADS_1


"Jangan bucin! Ntar susah move on kayak juragan ku!" ledeknya sambil tersenyum jenaka.


Aku terkekeh kecil, "Ngapain move on! Kan masih jalan. Princess juga membalas surat ku, walaupun banyak yang di ralat sama kurir itu!" kataku sambil menunjuk kepada laki-laki yang mulai bergerak. Ia merentangkan kedua tangannya seolah ada yang hendak ia peluk.


"Siapa tamu istimewanya kak?" tanyaku ragu sambil tetap mengamati baik-baik keadaan diluar sana.


"Untung-untungan sih buat kamu! Kalau jadi calon mantu ya Alhamdulillah, kalau gak ya mohon maaf, menangislah!" jawabnya sambil membungkuk hormat dan tersenyum manis.


"Ibunda..." panggilku sambil berdiri.


"Mas Revi!" jawab beliau dengan nada pura-pura kaget. Aku tersenyum simpul menyadari si bujang lapuk ini setia dibelakang Ibunda sambil tersenyum lebar.


"Sorry anak muda! Kayaknya ketahuan nih sama emaknya princess tentang rahasia surat menyurat kalian! Maaf ya..." kata Om Nanang lantas meminta mantan kekasihnya duduk di sofa.


Aku menggeser posisiku saat Ibunda memintaku untuk duduk bersama. Hah... kemarin Ayahanda yang membuat merinding disko. Sekarang Ibunda.


Rencana apa yang sebenarnya disiapkan oleh keluarga princess terhadapku, sedangkan aku ini hanya anak kemarin sore yang sedang menahan rindu.


"Mas Revi bawa apa buat princess?" tanya Ibunda tiba-tiba sambil mengulum senyum.


Ibunda mengerutkan keningnya, "Yang tidak kamu makan sendiri, Nang?"


Iyalah... mereka makan sendiri sambil menggodaku dengan surat yang aku tulis sambil memperagakannya seperti melakukan drama. Tanpa sadar aku merengut. Mengingat kelakuan ABG tua yang mendominasi Ibunda.


"Ya, maklumlah namanya kurir antar khayangan dan dunia. Biayanya mahal! Apalagi menghadapi sang Maharaja. Panjang urusannya." Om Nanang mengerjap jenaka. Ibunda mengambil gulungan kertas dan menimpuknya.


"Kamu ini seperti gak pernah muda!"


Ibunda menggerutu lalu tersenyum manis ke arahku, "Mas Revi kangen sama princess?"


Aku tersenyum simpul. Menghadapi Ibunda lebih santai daripada menghadapi Ayahanda. Tapi pertanyaannya gak pakai tedeng aling-aling. Langsung tepat sasaran.


"Ehm... apa Revi harus menjawabnya Ibunda? Ibunda seperti tidak tahu perasaan anak muda!" gurauku sambil tersenyum jenaka.


Ibunda terkekeh, "Lucu juga, Nang! Pantas aja. Suratnya yang warna merah muda sering dibaca. Dibawa kemana-mana, seperti ada kalimat pamungkas yang membuat princess bahagia!"

__ADS_1


"Cocok jadi badut dia! Menghibur suasana." ledek om Nanang.


Lagi-lagi Ibunda menimpuk om Nanang dengan majalah.


"Jangan gitu! Gini-gini mas Revi pacarnya keponakanmu sendiri! Sana pergi! Malam Minggu cuma jamuran di toko! Ishhh... Gak gaul!" ledek Ibunda yang membuatku terkekeh saat om Nanang hanya mendengus kesal.


"Jamur ku udah karatan, Mbak. Dan kamu tahu kenapa."


Huekkkk.... Ibunda pura-pura muntah. Sebelum Ibunda melempar buku lagi. Om Nanang sudah menghindar, "Toko lagi rame, sebentar! Jangan pulang dulu sebelum ketemu sama aku."


Ibunda mengangguk, setelahnya kembali menatapku penuh kasih.


"Mas Revi paham pembicaraan ini?"


Aku terdiam sejenak. Mau aku jawab iya tapi ragu, mau jawab tidak. Tapi jamur yang itu aku tahu. Orang punyaku bentuknya seperti jamur kancing. Hah! Memalukan.


"Pipinya merah!" ledek Ibunda sambil terkekeh, "Jawab aja. Ibunda santai kok, fleksibel. Mau bercanda bisa, mau serius bisa. Tidak seperti Ayahanda yang kaku." Ibunda tersenyum lalu menepuk bahuku.


"Mbak Lilah ada di kamarnya. Katanya kangen sama mas Revi tapi suratnya belum ditulis lagi. Jadi Ibunda yang kesini untuk menyampaikannya kepadamu. Kamu suka?" tanya Ibunda.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Daddy seorang dokter, jadi saya memahami banyak hal tentang pendidikan seksual sekalipun tadi hanya kalimat kiasan." jawabku akhirnya. Sedikit lega.


"Terimakasih sudah menjadi pacar yang pintar untuk Mbak Lilah. Dia sedang dalam memasuki masa pubertas yang tinggi. Ibunda agak pusing bagaimana menjelaskan rasa bibir, kemarin Ibunda jawab manis. Kalau dia nanti tanya sama mas Revi. Mas Revi mau bilang apa?"


Astaga... kenapa aku jadi ikutan pusing sendiri. Kalau praktek mah aku bisa, tapi untuk menyebutkan rasanya. Aku tidak bisa mendiskusikannya dengan Ibunda. Ibunda jelas tahu jawabanku adalah penentu. Dan ini adalah taktik.


Aku menyeringai bodoh, ku jawab saja. "Manis seperti jawaban Ibunda."


"Kalau pahit?"


"Mungkin ada kopinya."


...HAPPY Reading 😁...

__ADS_1


__ADS_2