ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 105.


__ADS_3

Revi.


Aku memacu mobilku keluar dari garasi rumah untuk pergi ke sekolah.


Hari ini adalah hari terakhir aku mendatangi sekolah untuk cap tiga jari. Aku datang lebih pagi karena aku hanya mau lebih lama disana sebelum aku merelakan semua kenangan tertinggal di sekolah.


Mobilku berdecit. Mataku membeliak saat melihat sepeda di tengah pintu gerbang.


Sialan! Iseng banget ni orang yang punya sepeda.


Aku melirik ke pos satpam, sepi. Aku membuang nafas sebelum keluar dari mobil. Dengan setengah hati aku memindahkan sepeda ini ke parkiran.


Sepeda berwarna pink. Hmm.


Pink slalu mengingatkan aku pada buku diary miliknya yang sudah lama pergi. Meninggalkan banyak bercak kenangan di semua sudut sekolah ini.


Aku kembali masuk ke dalam mobil dan memarkir mobilku disamping sepeda itu.


Aku menunggu sampai Reno dan Angel datang. Dua manusia itu akhirnya menjadi satu pasang kekasih setelah aku berkali-kali mengajak mereka berdua menemaniku ke cafe, atau kemana saja untuk menceritakan kegundahan hatiku saat ditinggal pergi dirinya yang kini entah ada dimana.


Setahuku di memang di Australia, tapi tepatnya dimana aku tidak tahu. Berkali-kali aku mendatangi rumahnya untuk bertanya dimana Dalilah, aku slalu diusir oleh penjaga. Bimo pun diam seribu bahasa.


Tapi winter break tahun ini dia berjanji untuk pulang.


Apakah dia benar-benar pulang?


"Mantan bucin! Cemberut kenapa Lo?"


"Dia belum jadi mantan, Angel! Dia masih abu-abu! Mau move on tapi Revi belum setuju untuk putus dengan princess!"


Angel manggut-manggut. Aku tersenyum kecil, bersyukur Reno bisa menjinakkan malaikat jadi-jadian ini.


Entah bagaimana caranya ia meluluhkan Angel di belakangku, aku tidak tahu pasti. Tapi Angel suka dengan tipikal bad boy seperti Reno, sementara Reno punya segalanya untuk memanjakan Angel.


Lengkap sudah keduanya. Dan aku bahagia, karena aku tidak perlu membalas obsesi Angel kepada diriku yang masih mengharu biru ini.


"Ayo masuk! Gue bakal balik ke Jakarta lusa, gue kangen nyak babe gue terus balik lagi ke sini buat kuliah disini." ujar Angel mendahuluiku dan Reno.


Aku tersenyum kecil dan merangkul Reno.


"Thankyou, Bro!" kataku tulus.


"Beres, dia enak kok!" Reno tersenyum mesum. "Tapi kamu jadi kuliah di luar negeri?"


"Jadilah, aku mau nyusul doi ke Australia walaupun hasilnya Fifty-Fifty!" ucapku penuh tekad meskipun kini kami berlari semakin jauh.


Kami bertiga menyusuri koridor sekolah sembari ngobrol kesana kembali.


Lulus juga gue.

__ADS_1


Cap tiga jari nanti jam delapan.


Hmm... Terus konvoi kelulusan.


Malamnya promnight, gue bakal dandan cantik ala princess Disney.


Gak usah sok cantik!


Kami bertiga langsung berbalik arah ketika mendengar suara derap kaki yang begitu mencuri perhatian.


"Woy, tunggu! Penyusup!" teriak Reno.


Orang itu berhenti, membuang sendalnya yang lepas. Aku nyaris tertawa karenanya, namun saat ia menoleh.


Mataku langsung membulat sempurna.


Dalilah.


Dia benar-benar menepati janjinya untuk pulang.


Dalilah.


Tubuhku justru kesulitan bergerak di saat aku ingin mengejarnya, seolah terpaku sempurna di tempatku berada sekarang.


Aku masih tidak percaya dia ada disini, dia kembali ke sekolah ini untuk mengenangku.


Dalilah masih mengingatku. Ya Tuhan.


"Jangan goblok lagi, Rev! Kejar sebelum pergi lagi!"


Aku mendelik tajam ke arah Angel. "Dia pergi gara-gara, Lo!" sungutku kesal.


"Sorry... dulu gue menganggap Lo ini good boy yang baik buat gue, tapi ternyata bad boy lebih asyik untuk menyeimbangi jiwa-jiwa ibu kota gue yang liar dan berani!" Angel menyeringai bodoh.


Seketika aku teringat dengan sepeda pink di depan tadi. Dia pasti yang punya.


Orang iseng yang memarkirkan sepedanya di tengah pintu gerbang. Cuma dia yang punya otoriter istimewa di sekolah ini.


Dengan terseok-seok aku berlari dan mencarinya di parkiran.


Dia masih disana, celingukan.


Aku menarik pistol yang aku bawa dibalik jaket yang aku pakai. Aku memang belum resmi membawa senjata api ini. Tapi kenapa aku jadi bodoh begini saat menghadapinya yang sedikit berbeda.


Dalilah... terus meracau sendiri sambil melangkah mundur. Ia terlihat ketakutan.


Aku masih tidak bisa berpikir jernih sampai Angel menyadarkan aku dari kelakuanku yang menakutkan baginya.


"Lo tuh emang goblok ya kalau urusannya sama dia, Rev!" cibir Angel.

__ADS_1


"Aku cuma kehilangan akal sehat! Bukan goblok!" belaku sambil menyelipkan pistol ke balik jaketku.


"Rev... Rev... Dalilah kabur!" sela Reno yang membuatku berteriak keras memintanya untuk berhenti. Dalilah tetap pergi. Keras kepalanya tidak berkurang juga.


"Lo juga, Beib, ikutan goblok! Kenapa gak di cegah sih, ah!" Angel mendesah. Reno tersenyum kecut. "Lupa Beib, aku ketularan Revi!"


Dua bucin dadakan ini kembali berdebat tentangku.


Aku langsung masuk ke dalam mobil, aku mau mengejarnya namun butuh waktu karena jalanan di sekitar sekolah ini cukup pelik untuk dilewati.


Harus memutari lapangan bola dulu sebelum melewati jalanan yang pasti ia lewati.


Dengan pelan-pelan aku mengedarkan pandanganku, mencari Dalilah.


Hingga di tepi jalan, aku melihat gadis itu duduk termenung dengan sepeda yang tergeletak begitu saja.


Aku mengamati baik-baik wajahnya, dia benar-benar Dalilah. Pipinya tambah tembem, kulitnya sedikit eksotis dan lututnya. Luka... Arghhh...


Disaat aku telah lelah menerka mengapa ia pergi dariku, dia justru kembali lagi menggugah hatiku untuk mendekatinya.


Aku berharap kenyataan akan memihak kepadaku lagi setelah aku menemuinya lagi. Meminta penjelasan.


Aku keluar dari mobil, mendatanginya yang bergerak mundur dengan bibir yang ternganga begitu dramatis saat ia melihatku dengan tak percaya.


Masih terekam dalam ingatanku, bibirnya yang aku kecup malam itu dan pinggangnya yang ramping.


"Pergi!" serunya galak dengan mata yang nyaris basah. Seolah ia benar-benar takut bertemu denganku, tapi nyatanya ia kembali untuk mengingatku diam-diam dalam, Rasa indah disekolah.


Ha-ha-ha...


Aku mungkin bukan aku yang dulu, bukan lagi yang slalu berdua dengannya. Tetapi perasaanku tetap saja kepadanya, meski


waktu memang telah membawanya pergi.


Aku menekuk lututku dan tersenyum. "Apa kabar?"


Dalilah termangu memandangiku, kehilangan kata-kata, ia menggeleng dan membuang muka.


"Pergilah! Kamu lanjutkan hidupmu,


aku lanjutkan milikku!" katanya lirih.


Aku berdecak sambil membopongnya dengan paksa, dia meronta namun aku masa bodoh.


Sepuluh bulan aku dibiarkan begitu saja, nyaris menjadi gila jika tidak ada yang menemaniku. Reno dan Angel.


"Sepedaku!!!" Dalilah memukul-mukul kaca mobil saat aku sudah melajukan mobil melewati sepedanya yang nelangsa.


"Sepedamu sudah jelek, tidak ada yang mau!" gurauku sambil tersenyum lebar dan membawanya pergi.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2