
Dalilah.
Aku menatap bingung bus pariwisata yang terparkir tak jauh dari gerbang istana.
"Ayahanda... Abdi dalem mau pada piknik?" tanyaku sambil menatap sekeliling. Sepi, tak ada yang aneh. Abdi dalem masih setia dengan tugas masing-masing, tidak ada kesibukan atau euforia yang mempertontonkan jika mereka hendak mau piknik.
"Bukan, Lilah. Ini bus yang akan mengantar kita ke bandara." jawab Ayahanda, cukup sibuk dengan gawainya sejak tadi pagi kami sarapan.
Aku masih menatap bus ini. Bingung.
"Memangnya siapa saja yang mau ikut ke Bandara? Ini bus untuk piknik lho, Ayahanda! Muat untuk puluhan orang!" kataku lagi dengan terheran-heran.
Ayahanda memasukkan gawainya ke dalam kantong kemeja batiknya yang berlengan panjang. Dengan manis beliau menyentuh puncak kepalaku.
"Kami akan ikut mengantarmu dan memastikan jika kamu baik-baik saja di Jakarta."
Kami.
Aku bergumam dalam hati. Kami itu siapa saja? Jangan-jangan benar yang dikatakan Pandu tadi malam kalau Eyang Kakung, Oma-Opa, om Nanang, Suryawijaya, Pandu, Ayahanda, Ibunda, dan sepupuku yang lain akan ikut ke Jakarta.
"Jadi kalian mau piknik ke Jakarta sekaligus menjadi tim hore Lilah saat berlomba nanti?"
"Tim hore?" Kening Ayahanda berkerut, begitu dalam. Aku mendesis gemas.
"Tim hore itu tim sorak, Ayahanda. Supporter!" jelas ku sambil tersenyum lebar saat Ayahanda mengangguk paham.
"Bisa dibilang begitu! Ini kejutan buat kamu karena sudah membawa nama kerajaan ke ibukota. Terimakasih, putriku." Ayahanda mengusap kepalaku, penuh kasih.
Aku tersenyum kikuk. Namaku benar-benar dipertaruhkan di ajang perlombaan nanti. Aku pun juga takut mengecewakan keluargaku jika gagal.
Mendadak aku pesimis, aku takut mereka justru malu karena putri mahkota yang sudah di ajarkan pakem-pakem dalam menari harus gagal karena terintimidasi oleh modernisasi.
"Harus yakin!" kata Ayahanda sembari menepuk bahuku. Beliau tersenyum hangat, mengerti sekali dengan kegugupanku pagi ini.
"Apa Ayahanda tidak keberatan jika Lilah menggabungkan tarian serimpi dengan tarian kontemporer? Apa Ayahanda yakin eyang tidak marah?" kataku gagu sambil menatap manik mata Ayahanda.
Ayahanda menyunggingkan senyum manis. Senyum yang lama tidak aku lihat.
"Tidak ada yang mengekang kebebasan diri dalam menari. Dan ini diluar benteng istana, semua sudah berbeda tujuannya! Tenanglah... ada Ayahanda yang menjagamu dari eyang."
Aku memeluk Ayahanda dan terkekeh kecil saat Ayahanda menepuk-nepuk punggungku.
"Jadi apa kita bisa berangkat sekarang? Semua keluarga sudah berada di dalam bus!" ujar Ayahanda. Aku mendongak, Ayahanda memang sudah banyak ubannya, sudah banyak yang beliau pikirkan. Tapi Ayahanda juga bisa memikirkan hal yang satu ini.
Mengumpulkan supporter yang istimewa seperti Yogyakarta.
***
__ADS_1
Keberangkatan kami menuju Bandara dikawal oleh iring-iringan polisi lalu lintas. Kontribusi penting yang kami dapatkan secara mutlak dari pihak pemerintah.
Aku bergeming sembari memegang ponselku sejak tadi. Disampingku ada Om Nanang yang begitu menikmati perjalanan ini sambil bersiul riang.
Ada apa dengan bujangan tua ini? Apa beliau sudah memiliki kekasih?
"Om lagi bahagia?" tanyaku sambil menyimpan ponselku ke dalam tas selempangku. Aku yakin mas Revi sudah di Bandara karena kami harus disiplin.
"Kira-kira bagaimana wajah om saat ini? Apa om terlihat bahagia?"
Aku mendengus. "Om terlihat senang, kenapa? Punya cewek baru?"
Om Nanang langsung tertawa. Bujangan tua ini merangkul ku dan berandai-andai. "Om mau cari cewek SMA di Jakarta, biar jadi sugar baby!"
Mataku langsung berkedut sebelah. "Sugar baby? Gula-gula?" Om Nanang tergelak, ia mencubit pipiku gemas.
"Sugar baby itu perempuan muda yang butuh uang dan kehangatan pria dewasa seperti om!"
Mataku langsung berkedut semuanya. Om Nanang ini sepertinya mulai kesepian. Mulai ngawur hidupnya.
"Bukannya om Nanang mau dijodohkan oleh eyang kakung dengan keluarga bangsawan dari barat? Jadi gak usah cari gula-gula di Jakarta, karena disana adanya cabe-cabean, pedes bikin mencret!"
Om Nanang langsung tergelak dan tawanya memicu timbulnya rasa penasaran dari semua keluargaku yang ikut di bus ini.
"Princess! Kenapa om bujang?" tanya Bulik Kylie. Aku mengendikkan bahu. "Gak tau, om bujang lagi gak beres!" ujarku.
Bulik Kylie langsung menggeser posisi dudukku dengan paksa, ia menatap om Nanang dengan heran. "Om bujang kenapa gak beres?" tanyanya sambil menyamankan posisi duduknya lagi. Aku menghela nafas saat kami bertiga duduk berhimpitan sepanjang jalan.
Aku dan Kylie saling menoleh. "Beneran gak beres!" bisiknya, aku mengangguk. "Om Nanang mau cari cabe-cabean di Jakarta!" balasku. Kylie mengerutkan kening, bule blesteran satu ini pasti mumet mikirin apa cabe-cabean. Ia menyenggolku, meminta penjelasan. "Cabe-cabean itu istilah untuk cewek-cewek muda seksi yang suka keluyuran di jalan!"
Ohhhh... Kylie menganggukkan kepalanya, lalu menatap om Nanang dengan wajah aneh.
"Dimarahin eyang lho kalau cari cabe-cabean!"
Om Nanang langsung menjentikkan jarinya di kening Kylie. "Diam!" tukasnya galak.
Aku dan Kylie terkekeh-kekeh saat om Nanang memutar kepalanya mencari keberadaan eyang dengan wajah panik.
"Awas kalau bilang-bilang sama eyang! Kalian semua gak dapat jatah uang saku dari om!"
Aku dan Kylie masih mengganggu
bujangan ini sampai tiba di bandara.
Aku tersenyum lega. Akhirnya aku bisa ketemu sama mas Revi dan terbang bersama diatas awan.
"Kumpul di aula Bandara dulu untuk berdoa! Setelah itu baru naik ke pesawat." titah Ayahanda. Kami semua lantas berbondong-bondong ke aula bandara dengan penjagaan ketat dari polisi.
__ADS_1
Di aula, eyang Kakung memimpin dengan khidmat jalannya doa. Aku terus mengamini, walau pikiranku jalan-jalan sendiri.
Sampai setengah jam kemudian, lamunanku buyar ketika aku ditarik oleh seseorang. Aku mengerjap pelan.
"Kamu itu doa apa ngelamun, Lil?" tanya om Nanang heran, aku terkekeh kecil.
"Doa yang berujung lamunan, Om!" jawabku. Om Nanang menggeleng. "Kita naik ke pesawat sekarang sambil nunggu semua barang bawaan di angkut ke dalam bagasi pesawat."
Kami kembali berbondong-bondong lagi menuju pesawat, bak artis kami dipandangi terus menerus oleh pengunjung bandara. Aku mendengus, skandal itu masih aku ingat dan kadang membuatku insecure.
"Harus semangat dan ingatlah ini sebagai pemicu rasa percaya dirimu nanti." Om Nanang menepuk kedua bahuku saat kami antri menaiki tangga pesawat.
"Ayahmu sudah menyewa pesawat ini demi mendukungmu dan privasi. Jadi om harap, lakukan yang terbaik untuk keluargamu."
Aku terpaku. "Om yakin Ayahanda sewa ini pesawat? Berapa harganya?" tanyaku penasaran.
Om Nanang terkekeh. "Murah kok untuk kantong ajaib seorang sultan! Apalagi untuk putri satu-satunya, semua dipermudah oleh semesta."
Aku membuang nafas seraya menaiki tangga pesawat. Berat sekali menjadi putri satu-satunya, apa-apa harus konstruktif dan terencana.
Tiba di kabin pesawat setelah Ayahanda melakukan sambutan singkat, aku mengedarkan pandanganku. Aku mencari mas Revi, dimanakah dia? Kenapa batang hidungnya tidak terlihat.
Aku mendekati mas Reno, ia terkekeh geli melihatku yang tidak tenang sementara keluarga sudah duduk manis dan mendengar instruksi dari pramugari.
"Dimana mas Revi?" tanyaku. Mas Reno tersenyum lega, ia menunjuk ke arah toilet. "Dari tadi nungguin kamu, dek! Sekarang paling pingsan setelah tau keluargamu ikut semua." Mas Reno terkekeh pelan dengan wajah konyolnya.
Aku menghembuskan nafas.
Kasian mas Revi, dia pasti panik karena keluargaku.
Aku berjalan menuju toilet sebelum Ayahanda memintaku untuk duduk dengan wajah serius. Protokoler lagi.
Aku menggeleng. "Sebentar Ayahanda." ucapku sambil membungkuk hormat.
Di depan toilet aku terus memencet bel toilet terus menerus. Mas Revi lama sekali sampai pramugari mendatangiku.
"Ada yang bisa saya bantu tuan putri? Atau jika buru-buru bisa ke toilet pilot terlebih dahulu karena pesawat sebentar lagi take off."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Pacar Lilah ada di dalam, pacar Lilah mungkin pingsan. Bisa bantu di bukakan pintunya?" bisikku pelan-pelan takut Ayahanda dengar dan membuat kehebohan.
Pramugari ini terkekeh geli dengan tangan yang menutupi mulut, ia lalu tersenyum sopan kepadaku dan memencet tombol apapun itu yang aku tidak tahu.
"Silahkan bicara di speaker ini." ujar sang pramugari.
Aku langsung mendekat seolah berbisik di telinga seseorang. "Keluar mas, jangan ngumpet!"
Pintu toilet langsung terpentang lebar. Mas Revi melongok keluar mencari tahu keadaan sekitar. Ia mendongak, menatapku dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
"Aku mau pingsan, Lil!" ujarnya sambil berjalan dengan kikuk diantara keluargaku yang menatapnya heran.
...Happy Reading...