
Revi.
Aku langsung mendekati princess sembari mengatupkan kedua tangan di depan kepalaku.
Aku tahu cara itu untuk menghormati princess yang sedaritadi tersenyum ramah dan mengangguk kepada abdi dalem yang berjalan melewatinya.
"Sayang..."
"Ndoro putri, Rev!" timpal Reno cepat sambil menahan tawa saat aku panik karena princess tahu siapa mantanku.
Aku mendengus lalu meralatnya. "Ndoro Putri Dalilah pacar mas Revi yang tersayang. Aku bisa menjelaskan tentang Prisia!" kataku lembut seraya ingin memegang tangannya dan mengelusnya.
Tapi-tapi nyaliku tidak sampai di situ. Aku begitu kecil disini, dimatanya, dan seluruh abdi dalem yang menghormatinya.
Aku mengatupkan kedua tanganku lagi. Princess tersenyum manis. "Lilah tahu dari Bimo, tidak tahu sendiri. Lilah juga tahu mas Revi dan Mbak Prisia kemarin usap-usapan keringat di lapangan. Di depan Ayahanda juga!"
Aku ternganga. Rasanya ingin pingsan. Namun tak jua jatuh tergeletak di atas lantai.
Reno menonyor pundakku. Mengompor-ngompori princess dengan mengatakan bahwa aku dan Prisia masih berhubungan baik. Termasuk adegan usap-usapan kemarin.
Tenggorokanku tercekat bola basket, rasanya nyangkut sekali untuk bicara bahwa itu bukan dusta yang disengaja.
Aku gelagapan, susah bernafas. Udara rasanya mendadak hilang dan membuatku engap.
Princess tersenyum lebar dan beranjak berdiri sebelum aku membuka mulutku.
"Ayo mas Revi, mas Reno. Lilah ajak jalan-jalan keliling museum."
Aku dan Reno berdiri dengan susah payah. Kakiku kesemutan dan rasanya cenut-cenut, mungkin seperti hati princess sekarang.
"Bentar, Dik. Bentar. Kakiku kesemutan." ucap Reno sembari mengurut kakinya. Princess menganggukkan kepalanya seraya merapikan kebayanya.
Aku menghampiri princess dengan tertatih. "Ren, tunggu disini bentar! Aku mau bicara berdua dengan princess tanpa gangguanmu!" sindir ku.
Reno melambaikan tangannya. Aku langsung menatap princess dengan lekat.
"Ajak aku ke museum yang sepi, yang jarang di masuki orang!"
Kedua alis princess langsung naik, ia berjalan mendahuluiku sembari mengambil ponselnya yang ia selipkan di stagennya. Aku mengernyit saat princess tersenyum lebar sambil mengetik pesan dengan lincah.
"Teman Lilah mau datang. Mas Revi keberatan jika ia menemui Lilah sekarang?" tanya princess sambil menyembunyikan ponselnya lagi.
"Teman? Siapa?" tanyaku.
"Derren."
Byurrr... Kepalaku langsung di guyur air panas. Meletup-letup bagai gunung yang hendak meledak.
__ADS_1
"Tapi bisakah kita bicara dulu soal Prisia? Please... aku gak mau kamu curiga tentang kami!" ucapku penuh harap.
Princess mengajakku ke taman, tempat biasa aku dan dia bercengkrama.
Aku duduk setelah membetulkan posisi kain jarik yang nyaris melorot. Sumpah, memakai pakaian ini agak membuatku kurang nyaman karena seperti memakai rok.
"Mas Revi pakai boxer?" tanya princess tiba-tiba.
Aku menyengir kuda, menyadari bahwa princess tahu dengan kata hatiku.
"Pakai, sayang. Aku slalu pakai boxer termasuk ke sekolah." jawabku seraya menatapnya.
Princess tersenyum lagi. Entah kenapa kalau di istana ia jadi murah senyum.
"Lilah juga pakai!" lanjutnya sambil cekikikan.
Wajahku langsung merona. Maksudnya apa ya, princess malah membicarakan boxernya yang aku tebak akan bermotif bunga-bunga, kupu-kupu, atau love-love.
Tanpa sadar aku tersenyum senang. Bayanganku tentang boxer princess menari-nari di otakku. Aku malu.
Princess melempar dedaunan ke arahku. Aku mengerjap seraya mengambil daun yang berada di atas blangkon.
"Jangan ngelamun, nanti kesambet!" ejeknya seraya cekikikan lagi.
"Kamu kenapa tiba-tiba membahas boxer? Itu bikin aku malu, princess!"
"Soalnya dulu jariknya Pandu juga pernah melorot, terus kelihatan pakaian dalamnya. Kan lucu kalau mas Revi juga begitu." ujar princess sambil terkekeh geli.
Tanpa sadar aku membetulkan jarikku dan mengatupkan kedua kakiku yang sedaritadi aku buka dengan gagah.
"Mas Revi kenapa sih? Malu ya karena Lilah bahas boxer?"
"Iya." jawabku gusar.
"Tapi gak malu usap-usapan keringat di depan Ayahanda? Lilah heran sama kamu mas, kenapa gak diusap sendiri sih. Kenapa gak menghormati Ayahanda yang menciptakan aku? Ini malah asyik-asyiknya dengan mantan saat Lilah dan Ayahanda juga ada di lokasi yang sama! Sekarang Ayahanda ragu dengan mas Revi karena itu."
"Ragu?" ucapku membeo dengan lidah kelu.
"Iya ragu, karena Ayahanda tidak yakin mas Revi bisa menjagaku." ujar princess dengan suara tenang tapi begitu menghantam hatiku.
"Aku akan memperbaiki keadaan, sayang. Aku janji. Tapi dengarkan aku dulu."
Aku menghirup nafas dalam-dalam. "Prisia memang mantanku, dulu kami putus baik-baik, dan sekarang kami masih berteman baik." Aku mengambil tangan Dalilah dan menggenggamnya, ia sama sekali tidak menolak malah sekarang mengeratkannya.
"Maafkan aku, aku terlalu terancam dengan kehadiran Baskara kemarin. Dan, apa yang Prisia lakukan hanya demi menyemangati aku. Tidak lebih!" jelasku dengan jujur.
Princess membuka mulutnya tapi tidak ada sepatah kata yang keluar.
__ADS_1
Prisia memang cewek bebas yang leluasa melancarkan perhatian kepada siapa saja, itulah yang membuatku melepasnya tanpa pikir panjang.
Princess malah bengong. Apa aku salah dalam menyikapi kondisi ini?
Princess melepas tanganku, ia berdiri seraya mengerjapkan matanya.
"Hei..."
Aku menoleh. Terkejut. Saingan berat datang sembari membawa Boba Ice ditangannya.
"Mas Derren." sapa princess dengan ramah.
"Baru ada tamu?" tanyanya seraya mendekati princess. Bukan! Dua-duanya saling mendekat secara bersamaan.
Aku menyaksikan keduanya berbincang-bincang dengan tenang seraya duduk bersama di sampingku.
Princess tersenyum lebar saat Boba Ice itu beralih ke tangannya. "Terimakasih ya." ucap princess dengan riang seraya menusukkan sedotan ke penutup Boba itu.
Derren mengangguk, lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum lebar.
"Pemenang lomba basket kemarin?" tanyanya santai.
Aku mengangguk, sungguh pancaran wajahnya membuatku berdecak kagum. Kira-kira apa saja yang ia pakai untuk merawat wajah putihnya itu sampai terlihat mulus bahkan pori-porinya tidak terlihat.
"Aku Derren." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Revi." balasku seraya menggenggam tangannya.
"Mas Derren mau jalan-jalan sama Lilah ke bangsal kencana untuk melihat penabuh gamelan dan mencari nada yang cocok untuk disandingkan dengan irama drum dan musik K-Pop. Mas Revi mau ikut?" sela princess setelah menyeruput Boba itu yang sudah hilang setengah.
Princess haus atau emang suka dengan Boba pemberian Derren. Benar-benar pintar nih laki untuk mencuri hati princess, batinku sambil memandang Derren.
"Rev..." panggil Derren sok akrab.
Aku mendengus dan tetap bergelut dengan pikiranku sendiri. Posisiku sebagai pacar princess benar-benar terancam saat ini. Saat Boba datang dan membawa senyum cerah diwajah Dalilah.
"Maaf ya mas Derren, mas Revi ini kayaknya kurang air putih jadi tidak berkonsentrasi." sebut princess sambil menginjak kakiku dengan pelan.
"Iya... Aku ikut! Tapi apa abdi dalem boleh minum dulu?" tanyaku sambil melihat Boba itu. Haus banget deh sedaritadi jam setengah delapan sampai jam sembilan aku belum minum apapun, belum juga haus akan kasih sayangnya. Ngenes banget gan pagiku hari ini.
Princess malah cekikikan sambil berdiri.
"Lilah lupa kalau mas Revi bisa haus. Hehehe... Ayo kita cari mas Reno dulu dan makan-makan bersama, soalnya jam segini belum mulai gamelannya. Gak papa kan mas Derren nunggu satu jam?"
Derren mengangguk tenang sambil berdiri. Aku pun juga harus tenang saat menghadapi situasi menyebalkan ini. Dimana aku hanya dianggap sebagai tamu oleh princess bukan kekasihnya yang setiap malam tak pernah absen mengirimkan tanda cinta.
Pokoknya aku harus siaga menjelang serangan musuh yang tiba-tiba mencuat, mengganggu princess dan hatinya.
__ADS_1
Jangan sampai dari Boba jadi cinta! Jangan sampai...
...Happy Reading...