ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 3


__ADS_3

Dalilah.


Apa Revi tahu bahwa aku sedang memikirkan semua ini?


Setengah jam kemudian, mobil yang ia kemudikan berhenti di rumah minimalis modern dengan taman yang begitu asri dan sejuk.


Rumah keluarga kecilnya.


Revi melepas sabuk pengamannya, sementara putrinya masih tidur dengan nyenyak di pangkuanku.


"Mau kamu bawa ke dalam?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.


Revi mengangguk. "Terimakasih sudah menemani princess! Ehm... Aku akan mengantarmu pulang setelah ini...,"


"Panggil aku Lilah! Tidak perlu ndoro putri!" timpal ku langsung seraya menyunggingkan senyum.


Revi menghembuskan nafas, ia menatapku sebentar. Wajahnya menyiratkan begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, namun sejurus kemudian ia memejamkan mata dengan hembusan nafas panjang.


"Ku kira kamu sudah ditelan bumi!" ujarnya dengan tertahan.


Aku tersenyum miris. Dia mengira aku sudah mati?


Ah, apa dia mencariku, apa dia tidak jadi kuliah di luar negeri karena ia harus menikah di usia muda dan mengurus putrinya.


Aku terlalu buta dengan keadaannya setelah aku pergi dari cafe dulu. Bukan karena aku benar-benar ikhlas melepasnya, tapi juga janjiku pada Ayahanda.


"Aku baru pulang satu Minggu yang lalu dari Melbourne!" jelasku, namun harusnya aku tidak perlu menjelaskannya karena Revi tidak perlu tahu. Tidak penting juga mau aku ditelan bumi atau dimakan buaya sekalipun, dia mungkin tak akan peduli seperti dulu lagi.


Dia sudah punya keluarga kecil, putrinya pun terlihat menggemaskan. Revi pasti cukup bahagia dengan apa yang ia miliki sekarang.


Aku tersenyum lagi. "Lebih baik kamu membawa putrimu ke dalam, kasian dia!" ujarku seraya melepas sabuk pengaman ku.


"Baiklah!"


Revi keluar, ia membuka bagasi mobil, mengambil barang belanjaan, dan menaruhnya di teras rumah, sejurus kemudian seorang wanita dewasa---jauh lebih dewasa dari Revi---menyambutnya.


Terjadi perbincangan singkat sambil menunjuk ke arah mobil. Aku menunduk. Aku tidak mau wanita itu salah sangka, tapi gestur wanita itu biasa-biasa saja saat melihat seorang gadis di dalam mobil Revi.


Tapi kalau Princess sudah punya mama, kenapa tadi ia memintaku untuk menjadi ibunya. Heuheu, kenapa membingungkan sekali.


Pintu mobil terbuka, Revi tersenyum samar. "Tunggu sebentar!" katanya sambil mengambil alih putrinya dengan hati-hati.


Aku bernafas lega saat putrinya masih tidur pulas. Jika tidak? Aku sulit membayangkan apa yang terjadi nanti.


Aku melirik ke kaca spion. Meneliti wajahku, berharap make-upku masih utuh dan tetap cantik.


Karena aku mau Revi juga tahu, aku baik-baik saja saat berpisah dengannya dulu. Tidak putus asa atau meratapi nasib.


Tapi kenyataannya Revi tetap mengusikku.


Apa yang terjadi padamu selama tujuh tahun ini? Sungguh kamu masih terlalu kecil untuk menjadi seorang ayah, Rev. Tapi ketidakmungkinan ini terasa tak terbatas.

__ADS_1


Aku menunggu sekitar lima belas menit sebelum Revi keluar dari rumahnya menggunakan jas putih lengkap dengan tas kerjanya.


Dia benar-benar menjadi dokter?


Syukurlah, dia masih mewujudkan cita-citanya diantara kesibukannya sebagai seorang ayah.


Aku tersenyum kecil saat ia masuk ke dalam mobil dan kami benar-benar hanya berdua sekarang.


Ada kegugupan yang terjalin diantara kami saat mobil kembali berjalan, melintasi hiruk pikuk kota dan sebagian jalan yang sering kami lewati dulu dengan sepeda motornya.


"Antar aku ke mal tadi saja, sopirku masih disana!" kataku sebelum Revi memutuskan untuk mengantarku ke istana.


"Masih ada urusan di mal tadi?" tanyanya dengan kening berkerut.


Aku berdehem sekaligus berharap dia tidak menganggap jika aku melakukannya untuk mengenang masa lalu bersamanya.


Apalagi kejadian itu nyaris sepuluh tahun yang lalu.


Sungguh memalukan kalau sampai dia tahu aku masih saja jomblo setelah putus dengannya.


Sementara aku sedang mati-matian untuk move on, dia sudah bercinta, membuat anaknya tadi. Aku tersenyum kecut. Miris banget.


Tapi inilah takdir yang harus aku jalanin, aku hanya perlu bahagia seperti tujuh tahun yang lalu tanpa dirinya.


Mobil berhenti di depan mal. Aku melepas sabuk pengaman sebelum menatapnya dengan lekat-lekat.


Rambutnya... Bibirnya... Aku menggeleng tanpa sadar.


"Baiklah, ini memang pertemuan yang sedikit aneh, tapi aku cukup senang melihatmu lagi!" kataku jujur.


Kencan pertama, bolos sekolah, kecupan pertama, rebutan cowok, dan yang paling penting adalah patah hati.


Semua benar-benar aku alami bersamanya. Dialah titik awal dimana pendewasaan diriku dimulai.


Revi berdecak. "Lain waktu aku akan mengunjungimu, sekarang turunlah!"


Aku mengangguk dan keluar dari mobilnya. Dia langsung melesat cepat ke tempat kerjanya, meninggalkan aku yang bergeming menatap mobilnya yang menghilang di persimpangan.


"Lilah!"


Aku menoleh. Sopirku yang tak lain adalah Bimo menghampiriku dengan tergesa-gesa. Seragam hitam yang membungkus tubuhnya membuatnya terlihat keren dan sempurna untuk seorang pengawal.


"Kenapa menghilang lagi?" tanyanya dengan mata yang meneliti tubuhku.


Aku memamerkan gigi kelinciku. Dia berdecak kesal.


"Ayahanda sudah tua, beliau akan terus memikirkanmu jika kamu menghilang terus!" katanya dengan khawatir.


Aku tergelak. Siapa sangka, tujuh tahun ini dia mengalami masa-masa yang sulit. Pak Cipto meninggalkan, disusul ibunya, dan kini... Bimo menjadi anak angkat Ayahanda.


Dia tinggal di istana, mengabdi seumur hidupnya untuk istana dan Ayahanda.

__ADS_1


"Tadi ada insiden kecil. Maaf!" kataku mengerti kekhawatirannya.


"Insiden apa? Dengan siapa?" selidiknya. Fix, tugasnya menjadi pengawal kembali ia emban setelah aku kembali. Apalagi setelah ia sekolah di Korps pengawal, dia semakin kekar, teliti dan tidak mau menerima alasan yang tidak logis.


Aku menarik nafas dalam-dalam, aku tidak boleh kebingungan.


"Yang penting aku sudah kembali dan selamat. Itu sudah cukup!" jawabku.


"Itu tidak cukup!" timpalnya langsung. Masih bergeming, bersedekap, meminta penjelasan yang lebih detail.


"Mas Bimo kok gitu sih, Lilah ngambek lho!" rayuku dengan sengaja dengan mimik wajah gemas.


Bimo mendesis jengkel. "Kau sudah tak selucu saat SMP! Darimana?" sahutnya tegas.


"Jadi aku dulu lucu? Hmm..." tanyaku dengan mata menyipit, menyelidikinya.


Saat ini, untuk pertama kalinya, Bimo tidak bisa menjawab pertanyaanku.


Aku kembali tergelak. "Sebagai kakak yang baik, ayo temani jalan-jalan! Aku tadi belum sempat membeli sepatu baru karena ada anak kecil yang memintaku untuk menjadi ibunya!" jelasku akhirnya sambil berjalan.


Bimo membuang nafas dengan kentara.


"Selama tiga jam lebih hanya kamu habiskan bersamanya? Bersama ayah dari anak kecil itu juga?" tebak Bimo.


Aku mengangguk. Mengingat Revi.


"Ayahanda tidak mengizinkanmu menikah dengan duda!" sergahnya cepat. Memberitahuku seperti seorang kakak.


"Ayahanda juga tidak mengizinkan ku menikah dengan pengawal. Sudah ada peraturannya dan kamu tahu itu!"


Bimo berhenti bergerak, aku memandangnya dan menggeleng.


"Jangan menyakiti ikatan kita meskipun bukan ikatan darah!"


Bimo tersenyum kecil. "Justru karena bukan ikatan darah yang mengikat kita, aku bisa menjadi siapapun untukmu!"


Aku berdecak kesal. "Aku akan mengadu ke Ayahanda kalau kamu kurang ajar, Bim!" ancam ku tak main-main.


Bimo tergelak singkat, namun langsung merubah air wajahnya saat Revi berlarian kecil menuju kami berdua sembari memanggilku.


"Handphonemu ketinggalan di mobilku!" ujarnya seraya mengulurkan hpku. Aku langsung memeriksa tas kecilku dan mendesah.


"Terimakasih, ini masih baru! Bisa nangis semalaman kalau benar-benar hilang!" Aku tergelak sendiri sembari menyelipkan hpku ke tas kecilku yang terbuka. Lupa menutupnya rapat-rapat tadi saat memangku princess.


Revi diam, begitu juga Bimo.


Mereka hanya saling menatap.


Tatapan yang tajam, menerka, berasumsi dan aku tahu apa yang bergelut di pikiran mereka berdua.


"Ayo, Mas! Ayahanda sudah menunggu kita!"

__ADS_1


Keduanya membuang nafas kasar. Bimo langsung menarik tanganku meninggalkan Revi yang bergeming menatap tanganku dan Bimo yang bertaut.


...Happy Reading...


__ADS_2