
Revi.
Aku petentang-petenteng di depan kelas princess. Aku menunggunya datang di Senin pagi yang syahdu sembilu ini.
Minggu kemarin aku kepikiran dengan gunanya aku untuk princess apa. Aku tanya kemarin lewat WA, tapi jawabannya malah membuatku bingung dan merasa was-was.
Princess bilang. "Mas Revi banyak manfaatnya!"
Apa aku ini benar-benar seperti pohon kelapa yang banyak manfaatnya? Apalagi rayuan yang aku gunakan juga seperti rayuan pulau kelapa.
Jangan sampai kakakku menjuluki aku 'Revi si pohon kelapa.'
Pamor ku benar-benar akan dipertanyakan karena itu.
Aku berkacak pinggang sembari melihat princess berjalan ke arahku seraya membawa tas bekal, ia tersenyum jenaka. Dibelakangnya, Bimo sudah menjadi bodyguard pacarku.
Sial... Sial... urusan Bimo bisa nanti saja. Sekarang urusanku masih dengan gadis kecil ini. Di depanku dengan senyum semringah.
"Jadi satpam mas?"
"Bukan!"
"Terus? Tapi gayanya mas Revi ini mirip satpam, sangat menjiwai! Bahkan Bimo saja tidak begitu."
Aku berdecih dalam hati. "Aku dan Bimo jelas-jelas beda, Lilah Jangan disamakan dong." seruku tidak terima.
Ku lirik Bimo yang stay cool dibelakang princess.
"Minta Bimo masuk ke kelas, aku mau bicara denganmu di basecamp!"
Princess mengangguk pelan.
"Bim, aku sama satpam baru dulu ya!" katanya setelah mendapat persetujuan dari pengawalnya. Princess seraya mengikutiku ke basecamp, di belakang perpustakaan sekolah.
"Jadi aku hanya seperti satpam bagimu?" tanyaku pada princess seraya bersandar di dinding perpustakaan.
Princess menyerahkan tas bekalnya ke tanganku.
"Lilah yakin mas Revi belum sarapan." katanya spontan.
Aku mengerutkan kening. "Kok tahu?" tanyaku heran.
"Soalnya mas Revi berangkat lebih pagi dariku. Makan gih... Lilah temenin."
Terlalu sederhana.
Tentang aku dan princess. Namun kenapa hanya begini saja, aku merasa sangat senang.
Ku buka kotak bekalnya yang berwarna pink setelah kami duduk di kursi panjang.
"Buatan Bunda. Masih banyak karena sebagian orang sedang puasa."
Aku berdehem dan mengunyah nasi goreng spesial dengan lauk telur ayam dan sosis bakar buatan Kanjeng Ratu.
Rasanya keasinan. Apa Kanjeng Ratu ingin.... Aku menyeringai bodoh.
"Dih kesambet setan!" timpal Dalilah langsung.
Aku terbahak sebentar sebelum princess menyerahkan botol minumannya.
"Asin!" kataku sebelum meminumnya.
__ADS_1
Princess tergelak dan mengangguk. "Makanya aku bawa buat mas Revi sarapan, biar mas Revi tahu. Kami tidak sesempurna yang mas Revi pikirkan atau orang lain bayangkan. Aku juga manusia biasa kok, darah masih merah. Jadi apa gunanya mas Revi buatku?"
Princess menoleh dan tersenyum lebar. "Buat uji coba."
"Uji coba? Apa maksudnya kamu hanya main-main denganku?" tanyaku langsung.
Aku yakin princess tidak sejahat itu membuatku sebagai bahan praktikum uji coba cintanya. Cinta monyet!
Princess menggeleng lalu memandang pagar pembatas sekolah.
"Uji coba saja apa mas Revi lolos dari pengujian garis takdir ini. Begitu."
Ku pandangi nasi goreng asin ini. Seleksi calon suami Dalilah Sekar Kinasih ternyata sudah di mulai sejak dini, bahkan saat ia masih bau kencur.
"Aku tahu. Tapi aku gak mau kamu hanya main-main dengan hubungan kita! Aku juga sedang berusaha untuk menyelaraskan kondisi kita."
"Iya, Lilah tahu!"
Aku menyantap lagi nasi goreng buatan Kanjeng Ratu sampai habis.
Ku bereskan wadah bekalnya dan air minumnya sebelum berdiri. "Makasih sarapannya, sayang." kataku seraya menyerahkan tas bekal miliknya.
Princess mendesis sebelum tangannya menyentuh bibirku dengan lembut. Aku melebarkan mataku, ia tersenyum.
"Bocah!" ejeknya. "Ayo upacara!"
ajaknya sebelum melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
Aku melebarkan senyum dan apa aku boleh norak sedikit saja sekarang. Aku ingin mencubit lenganku sendiri untuk membuatku sadar jika ini bukan mimpi.
"Buruan mas! Lilah mau lihat mas Revi jadi pemimpin upacara!" serunya dengan suara keras.
Aku berlari kecil seraya menyenggol lengannya. "Besok lagi ya?" pintaku. Kalau perlu besok nasinya aku buat belepotan di semua wajahku. Biar princess menyentuh wajahku lagi. Hahaha... konyol sekali, tapi aku suka.
"Enak sajalah, yang penting aku suka, kamu gimana?" tanyaku.
"Biasa-biasa saja!"
Aku merangkul bahunya lalu menurunkannya dengan cepat saat Bimo sudah standby di koridor sekolah.
Princess tergelak singkat. "Aku duluan mau ngobrol sama pak Bambang!" kataku sebelum melambaikan tangan. Princess membalasnya sebelum berbaur dengan siswa lain di lapangan.
Aku mengunjungi pak Bambang di ruang kepala sekolah.
"Pagi, Pak." sapa ku seraya duduk di kursi tamu.
"Ayo ke lapangan, kenapa malah disini!" cerca pak Bambang.
"Begini lho, Pak..." kataku dan Bla... Bla... Bla...
Ku jelaskan pokok perkara yang sedang dialami muridnya. Bimo.
"Ya sudah. Biasanya saja! Nanti kamu berikan sebagai perwakilan dari sekolah."
Aku mengangguk dan keluar dari ruangan Pak Bambang.
Di lapangan. Aku sudah siap menjadi pemimpin upacara, seperti keinginan pacarku.
Disana, princess sedang mengamati ku dengan lekat-lekat. Untung sarapan. Kalau tidak, aku bakal pingsan dilihat terus menerus oleh putri dari khayangan.
Upacara berlangsung dengan lancar. Sebelum para siswa bubar jalan menuju kelas masing-masing. Aku membuat pengumuman.
__ADS_1
"Seperti yang kami ketahui tentang kondisi yang menimpa orangtua dari salah satu teman kita, Bimo dari kelas satu. Saya harap teman-teman disini bisa memberikan bantuan seikhlasnya dan dikumpulkan di ketua kelas masing-masing kelas saat istirahat pertama. Terimakasih banyak!" kataku setelah itu kerumunan siswa mencari-cari siapa Bimo.
Bimo, si pendiam itu hanya bergeming dengan tatapan mata lekat-lekat padaku.
"Urusan kita dimulai, Bim!" batinku sebelum menemui Reno.
"Good boy!" serunya seraya menepuk bahuku.
"Istirahat kedua nanti kita muter kelas!" ujar ku seraya menaiki anak tangga.
"Ngapain? Istirahat ya ke kantin lah, makan." jawab Reno.
"Aku udah kenyang! Urusan ku nanti cuma sama Bimo."
Reno mencibirku lagi. Sumpah, seperti dia ini toxic friend.
"Kamu sahabatku bukan, Ren?" tanyaku akhirnya.
"Kalau kamu sahabatku pasti paham, aku juga gak bisa lapar. Asam lambungku bakal kumat, siapa juga yang repot?"
"Aku!" jawabku langsung. "Ya udah, ke kantin dulu baru muter kelas! Gitu aja repot! Gak bakal ilang juga anaknya." cercanya lagi sebelum terkekeh.
Aku mendengus. Dua jam kemudian. Aku menemani Reno ke kantin sambil menyaksikan princess yang sedang memesan makanan. Tak jauh di belakangnya ada Bimo yang seolah risi dengan pandangan bertanya dari siswa-siswi lainnya.
"Woy... Biasa aja!" kataku dengan suara sopran.
Semua orang menatapku. Aku mendelik sambil mengacungkan jari tengah.
Aku paling malas melihat orang yang merendahkan orang lain hanya karena beda setara.
"Mas Revi gila ya?" sungut Dalilah seraya sambil cemberut.
"Biar pada lihatin aku, bukan pengawal mu! Gak usah salah paham!" kataku sambil mendorong Reno untuk menyingkir. "Ngusir!" kata Reno.
Aku berdehem dan menepuk bangku di sampingku. "Duduk, yang!"
"Yang? Yang kakung? Yang Uti?" timpal Reno sambil terkekeh. Aku melemparnya cabe lalap. "Nyinyir terus!" kataku jengkel.
Reno semakin terkekeh. "Pacarmu, Dek. Terancam!" katanya pada Dalilah. Dalilah mengangguk kecil.
"Tapi Lilah tidak suka caranya begitu, tidak sopan!" serunya sebelum makan.
"Ya maaf!"
"Jangan di ulangi lagi!"
Aku merengut. Niatnya bantuin, eh kena apesnya.
"Nanti pulang sekolah ke rumah sakit untuk jenguk bapaknya Bimo sekalian simbolis dari sekolah. Kamu ikut, boncengan sama aku!"
"Lilah bawa hadiah waktu perlombaan kemarin, di gabungkan dengan sumbangan dari sekolah saja biar banyak."
Aku mendelikkan mata. "Kamu yakin?"
"Yakin, yang penting berguna untuk membantunya."
Aku tersenyum lebar. "Selain cantik, hatimu juga baik. Ish... Jadi makin sayang banget sama kamu!" kataku hampir menciumnya. Lilah langsung memukul bibirku dengan sendoknya.
"Dihukum nanti!" serunya galak seraya memukul bibirku lagi.
Jontor... Jontor dah ini bibir. Princess emang tega.
__ADS_1
...Happy Reading...