
Dalilah.
Siang hari yang panas di dalam gedung olahraga. Kami disini, beramai-ramai dan bersorak-sorai mendukung tim basket yang bertanding.
"Ganteng banget, woyyyy! Yang baju kuning kenalan dong!!!" teriak Fransiska histeris di pinggir lapangan.
"Kuning semua kelesss! Matamu udah rabun kali, Sis!" sahut Debby sambil terkekeh.
Aku terbahak saat keduanya berdebat memilih cowok mana yang paling ganteng dari tim basket Jakarta.
"Incess! Menurutmu mana yang lebih cakep? Cowok yang pakai sepatu Nike Air Jordan warna biru atau merah?" tanya Fransiska.
Aku tersenyum kikuk. Apa boleh aku memuji cowok lain yang lebih cakep daripada mas Revi?
"Jawab incess, pacarmu gak bakal denger!"
"Bohong! Kemarin aja aku cerita tentang mas Revi jadi nyebar kemana-mana!" sambarku langsung.
"Hepi-hepi ajalah, cuma buat bercanda!" ujar Fransiska.
"Cakep semua! Tapi belum tentu setia seperti mas Revi!"
Fransiska terbahak. "Revi terus! Revi terus! Cowok di luar sana masih buanyakkkk yang harus kamu kenal, incess! Jangan bucin ah!" sarannya.
Aku mendesah. Tatapanku menyapu seluruh lapangan basket.
Mas Revi disana, lagi pemanasan. Dan sebenarnya dia gerogi karena lagi-lagi keluargaku ada disini, melihat pertandingannya.
Fransiska terbahak, ia mencubit pipiku. "Gini kan yang suka pacarmu lakukan! Hahaha... Incess, incess... Nice to meet you! Kamu lucu banget, dan bikin aku sadar kalau aku harus bersyukur gak lahir dengan darah biru!" Senyum Fransiska melebar.
Pertandingan dimulai. Para penonton mulai bersorak-sorai liar. Tapi yang paling menyita perhatianku adalah ketika cewek-cewek ABG meneriakkan nama pacarku. Iya, Revi-ku.
Revi... Revi... Revi... Berkali-kali.
Aku cemberut. Aku menarik napas dalam-dalam. Pacarku emang lebih dari lumayan dan wajar kalau dia banyak penggemar.
Tapi pacarku bukan artis! Kalau bukan karena skandal itu dia juga tidak akan terkenal. Aku mendengus dan memakukan pandanganku di lapangan.
Mas Revi kayak gak fokus, dia hanya main-main sama bola. Di lempar kesana-kemari, namun gak ada satu pun bola yang masuk ke keranjang lawan.
Aku menelan ludah, dan menganggap jika sorakan dari cewek-cewek itu adalah cara untuk mengalihkan konsentrasi mas Revi.
Dengan perasaan gamang aku meninggalkan tempat dudukku. Menerobos kerumunan yang semakin padat dan membuat keluargaku panik sendiri. Ayahanda menyuruh pengawal untuk mencegahku cepat-cepat.
"Mas Revi butuh Lilah!" kataku.
"Gusti Kanjeng Sultan tidak mengizinkan. Ini terlalu beresiko ndoro putri!"
"Enggak!" kataku ngeyel. "Mas Revi itu butuh Lilah sekarang juga! Kalau enggak nanti kalah!" kataku sedikit merengek.
Pengawal ku tetap menggeleng. Aku tetap ngeyel.
__ADS_1
"Lilah nangis kalau gak diizinkan!"
Aku mengerucutkan bibir sambil membuang muka. Pengawal ku membuang nafas panjang dan mengiyakan.
Tapi apa iya aku harus nangis di tengah keramaian karena merengek minta ketemu pacar. Dasar, pengawal. Lilah cuma akting!
"Mari saya antar!"
Aku mendapat akses ke dalam ruang para pemain basket dengan pengawalan ketat dari pengawalku dan satu aparat kepolisian.
Aku berdecak. Inilah keistimewaan tersendiri bagi para bangsawan dan kaum Sultan. Ada enaknya, ada gak enaknya.
Aku duduk di kursi tunggu. Sudah ku ambil handuk kecil milik mas Revi dari tasnya sampai ia terpogoh-pogoh masuk ke dalam ruangan sambil terengah-engah.
"Main basket apa main kucing-kucingan, Rev!" ujar Reno dengan nada kesal, ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Kalian punya masalah? Cepet selesaikan!" ujarnya geram.
Aku dan Mas Revi saling menatap.
Dikarenakan durasi istirahat yang hanya sebentar, aku langsung mengusap keringat di wajahnya. Mas Revi terkesiap dengan mata lebar yang melihatku.
"Aku harap ini bukan soal tadi malam kenapa mas Revi jadi gak konsentrasi!" harapku.
"Semoga mas Revi bisa bikin Ayahanda dan Ibunda senang lihat pertandingan mas Revi disini! Aku harap begitu, karena orangtuaku tidak mungkin menyempatkan waktu untuk hal ini jika tidak ada sesuatu yang diharapkan disini. Tentunya dari kamu!" ujarku sambil mengangsurkan botol air mineral kepadanya dan tersenyum.
Bunyi peluit panjang berbunyi. Mas Revi menyentuh kedua bahuku dan sedikit menarikku untuk mendekatinya.
Satu kecupan nyaris mendarat di kening ku jika mas Reno dan pengawal tidak buru-buru memisahkan kami.
"Ndoro putri membuat saya dalam masalah!" kata pengawal.
Langkahku langsung masuk ke lapangan basket. Menyaksikan langsung pertandingan dari dekat dan meyakinkan mas Revi jika Lilah ada untuknya.
Pertandingan berlangsung sengit.
Meski hari ini tim basket sekolah masuk ke semi final, kami belum bisa bernafas lega.
Hari berikutnya.
Hari ini perlombaan akan berakhir, kami semua membawa sisa semangat yang masih ada untuk mendukung perwakilan tim basket kota kami tercinta. Hari ini juga termasuk pengumuman pemenang lomba seni budaya kemarin.
Suasana gedung olahraga kali ini cukup terbilang lebih lengang karena beberapa peserta yang tereliminasi sudah kembali ke kota masing-masing. Jadi sekarang hanya ada pendukung dari empat kota sebagai peserta semi final.
Cewek-cewek ABG kemarin yang meneriakkan nama pacarku juga datang lagi. Heran, mereka begitu antusias.
"Udah aku dibilang, mereka itu cuma mancing pacarmu supaya dia resah dan khawatir kalau kamu cemburu!" ujar Fransiska saat wajahku terlihat jengkel.
"Tapi kalau ada yang suka sama mas Revi gimana?"
Fransiska mencubit pipiku gemas. "Kita masih muda, Incess! Masih bau kencur! Jangan gitu ah, jangan berlagak dunia hanya ada kamu dan Revi!" katanya dengan santai.
__ADS_1
Sebuah kesadaran perlahan muncul di benakku. Dunia memang tak selebar daun kelor. Ada banyak yang akan kami temui. Dan bersenang-senang adalah kuncinya untuk membuat hubunganku dengan mas Revi tak sekaku tiang listrik.
Semangat baru berkobar dalam diriku seiring pencerahan ini. Aku berterimakasih kepada Fransiska sebelum berteriak.
"BAJU KUNING JANGAN SAMPAI LOLOS!"
"BAJU KUNING JANGAN SAMPAI LOLOS!"
"BAJU KUNING JANGAN SAMPAI LOLOS!"
Aku menunduk saat semua mata melihatku, aku menyengir kuda dengan siku yang terus menyenggol lengan Fransiska.
Fransiska terkekeh sambil merangkul ku. "Gitu dong! Putri yang semangat! Bukan putri yang loyo lihat pacarnya di godain cewek lain!" Ia terkekeh.
Kami kembali bersorak lebih kencang dari tadi, tapi itu hanya sebentar karena kami langsung di skakmat oleh panitia untuk diam saat perlombaan akan di mulai.
Kami semua tegang, pertandingan semi final kali ini adalah penentu masuk ke final atau tidak. Sementara skor pertandingan masih seri untuk sekolah kami dan perwakilan dari Surabaya.
Pertandingan berlangsung cukup sengit. Aku khawatir mas Revi bakal pingsan karena dari kemarin dia sudah mengurus energinya.
Skor terus silih berganti, naik-turun. Kami bersorak... melempem... bersorak
...melempem! Dan pada saat menit-menit terakhir mas Reno memasukkan bola basket ke dalam keranjang untuk menambah skor pertandingan.
Kami berlonjak riang dan berpelukan saat perwakilan dari kami lolos ke babak final.
Semua tim basket langsung terkapar di lantai sambil tersenyum lega.
***
Babak final akan berlangsung dua jam lagi setelah semua tim basket cukup beristirahat.
Aku menghampiri mereka di ruang ganti. Mas Revi terlihat berbaring di atas kursi.
"Capek banget?"
Mas Revi membuka lengan yang menutupi wajahnya dan mendongkak.
"Gak usah bangun!" sergahku cepat sebelum ia bangkit. Aku terduduk dilantai, menyamakan posisi kepala kami.
"Kamu menyalahi aturan, duduklah di kursi!" ujar mas Revi penuh peringatan.
Aku menggeleng. "Gak masalah! Aku sudah minta pengawal untuk menjaga pintu di depan." jawabku sambil menghela nafas dan memainkan hpku. Aku berpikir kalau kekuasaanku bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih menyenangkan.
Hembusan nafas hangat menyusup di surai rambutku dan menyentuh tengkuk leherku.
"Aku mau tidur sebentar!" katanya sebelum melingkarkan tangannya di leherku. Aku melebarkan mata.
Aku mau bilang dia bau keringat, bau banget, tapi gak mungkin! Dia dan teman-temannya kelihatan lelah sekali.
Dengkuran halus terdengar di belakangku.
__ADS_1
Aku menyentuh lengannya yang lengket dan mengabadikan momen bau keringat ini di hpku. Tidak romantis, tapi aku suka.
...Happy Reading. ...