
Dalilah
Bimo terus saja diam selama perjalanan menuju studio musik. Tapi aku yakin sekali banyak yang semrawut di dalam hatinya. Pun aku juga heran, kenapa dia tahu lokasi studio musik milik keluarga mas Revi bahkan tanpa bantuan gmaps.
Apa Bimo ini juga keturunan cenayang? Teman satu aliansi dengan Pandu?
Wah... wah... wah... parah juga Bimo.
Pantes aja gak suka ngobrol, ternyata ngobrolnya dalam batin bersama mereka-mereka yang tak kasat mata.
"Maacih, Bim... Bim..." kataku riang sambil turun dari motornya.
Bimo berdehem lalu mengamati sekeliling. Mungkin memastikan keadaan di sekitar lokasi bahwa aku aman ada disini. Aku penasaran, apa Bimo ini juga membawa alat persenjataan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin, seperti keris mini gitu yang ia simpan di dalam tas waist bag-nya atau dia sudah belajar ajian ilmu pengetahuan ke-gaib-an dengan Ayahanda atau Pandu untuk meminta restu pada leluhur untuk menjagaku dengan bantuan pagar gaib?
Sepertinya memang banyak yang tersembunyi dalam diri laki-laki satu ini. Sehingga aku tertarik untuk menguliknya perlahan-lahan.
Aku berjalan menuju pintu masuk saat parkiran masih sepi. Masih belum banyak teman-teman yang tiba disini. Jadi mereka itu kalau malam mingguan jam berapa keluar dari rumahnya? Jam tujuh malam? Kalau jadi aku, keluar jam tujuh malam itu sudah di wanti-wanti untuk cepat pulang.
Jadi masih ada yang mau menjadi putri mahkota? Segala macam diawasi dan di batasi. Aku rasa tidak! Hanya Cinderella yang mau menikah dengan pangeran dan hidup terkungkung dalam istana mewah dan segalanya harus sempurna.
"Makan malam dulu!" sebut Bimo sebelum aku membuka pintu masuk seraya menoleh ke arahnya.
"Iya... Aku lapar. Tapi sebentar, aku harus menemui mas Revi dulu kalau aku sudah datang!" kataku sambil membuka pintunya dan melenggang ke arah mas Revi.
Dari dalam, mas Revi langsung beranjak berdiri untuk menyambut ku. Namun, dahinya langsung berkerut saat Bimo membuntuti ku.
"Datang berdua?" tanya mas Revi dengan skeptis.
Aku tersenyum simpul seraya mengangguk pelan.
Sekilas tatapan mas Revi beralih ke arah Bimo. Aku sekita paham mas Revi pasti curiga, tapi ada hal lain selain kecanggungan yang mendadak menyerbu kami bertiga.
"Mas Revi udah makan? Lilah lapar." ujarku padanya, berharap mas Revi tidak paham dengan kalimatku. Kalimat pengalihan.
"Belum makan?" tanya mas Revi seraya mendekatkan dirinya---lebih dekat. Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Ingin malu-malu kucing saat pandangan mas Revi bertumbuk dengan pandanganku. Aku tersipu.
"Kebetulan ada cafe di depan. Ayo makan malam berdua!" ajak mas Revi, menekan kalimat akhir dengan nada sedikit keras.
Aku terkekeh seraya mengangguk. Mas Revi menggandeng tanganku seraya melewati Bimo yang tampak tenang sekali. Aku meliriknya dengan pandangan tahu-sama-tahu.
__ADS_1
Please, Bim... Kali ini saja, boleh ya tuan putri kencan berdua saja.
Bimo tidak beranjak dari tempat duduknya dan diam seribu bahasa.
Yes...
Aku mengayunkan tanganku seraya menoleh ke arah mas Revi setelah kami berdua keluar dari studio musik dan menyusuri jalan setapak menuju jalan raya di depan sana..
"Darimana?" tanya mas Revi sebelum kami menyebrang jalan raya.
Aku menoleh, menggerak-gerakkan rahangku. "Nyebrang dulu yuk! Nanti Lilah cerita sambil nunggu makan malamnya siap!"
Mas Revi gak jawab, ia melempar pandangnya berkali-kali ke kiri dan ke kanan sebelum menarik tanganku dengan langkah bergegas.
"Aku rasa kamu sudah terlalu dekat dengan Bimo, Lil!" katanya sambil melepas tanganku dibawah pohon kamboja dengan lampu cafe yang remang-remang manja. Bukan menambah kesan romantis, tapi bagiku ini malah menyebalkan. Gak sesuai ekspektasi ku saat di cafe bersama pacar!
Aku menarik tangan mas Revi, menatapnya. Perasaanku jadi gak enak saat mas Revi benar-benar mengubah ekspresi air mukanya, seolah aku habis melakukan kejahatan paling parah yang tidak bisa dimaafkan.
"Lilah jelasin..." kataku menggebu. "Bimo bodyguard Lilah! Bodyguard yang diminta Ayahanda untuk jaga Lilah kemanapun."
Mas Revi menaikkan salah satu sudut bibirnya, seperti tidak cukup penjelasan ku padanya.
"Lilah keluar dari tadi sore. Ke rumah sakit! Dan apa mas Revi juga mau tahu kenapa dia mau jadi bodyguard Lilah? Dia butuh uang untuk membiayai hidupnya sendiri dan keluarganya. Usaha Ayahnya bangkrut dan Ayahnya stroke! Gak ada yang mau seperti Bimo! Tapi lihat, apa dia mengeluh? Bahkan hanya untuk nemenin Lilah keluar malam Minggu saja dia sampai tidak bergantian menjaga ayahnya dengan ibunya." urai ku panjang seraya menghela nafas.
"Apa itu saja? Bukan karena Bimo menyukaimu?" tanya mas Revi.
Aku menggeleng, terlalu malu, sedih dan merasa kalah untuk mengatakan sesuatu.
Bisa jadi Bimo suka, bisa jadi tidak. Aku tidak mengerti karena dalam benakku hanya berisi tentang bagaimana caranya menjalani hubungan ini dengan santai.
Aku bisa bantu Bimo, aku bisa pacaran dengan mas Revi. Udah... Sesederhana itu keinginanku walaupun kenyataannya, tidak semudah itu menjalaninya.
Banyak sekali keputusan yang harus aku pilih. Termasuk sekarang, keputusan untuk melepas tangan mas Revi karena tanganku berkeringat dingin.
Aku belum pernah berdebat soal cinta, dan semoga saja jawabanku memuaskan.
"Ayo masuk, katanya lapar." ujar mas Revi sembari meniup poniku. Aku mendongak.
"Mas Revi masih marah?" tanyaku sambil memandangnya. Mas Revi menggeleng. "Aku gak marah, aku hanya butuh penjelasan tentang kalian!"
__ADS_1
Aku mengangguk. "Jadi mas Revi terima kalau Lilah kemana-mana harus di jaga Bimo. Termasuk saat kencan?"
"Kamu bilang apa?" tanya mas Revi dengan nada menggoda.
"Ken-can." jawabku sebelum terkekeh geli.
"Kenapa begitu? Ada yang lucu?"
Aku mengendikkan bahu. Sambil membalas senyum mas Revi.
"Sudah ayo masuk! Aku tidak akan menyia-nyiakan malam ini hanya demi pertengkaran konyol!" seru mas Revi sembari menarik tanganku.
***
Aroma menggiurkan menguar dari dapur. Aku tersenyum seraya mengetuk-ngetuk meja.
"Lilah gak pernah malam Mingguan seperti ini." kataku sambil tersenyum kikuk.
Mas Revi terkekeh kecil, mungkin baginya lucu. Tapi bagiku ini hal yang asing yang jarang aku rasakan.
"Kamu lucu banget, princess!" Senyum mas Revi melebar.
"Maacih. Lilah memang lucu!"
"Sejak kapan putri mahkota kepedean?"
"Sejak mas Revi memujiku, lucu."
Mas Revi ketawa lagi dan aku merasa jauh lebih baik saat posisi Bimo sudah jelas di mata mas Revi. Terlalu cepat memang, tapi itu jauh lebih baik.
"Apanya yang lucu sih?" tanyaku sebelum menatap hidangan makan malam yang khas dengan cafe-cafe. Sakuprit dengan harganya selangit.
"Kamu lucu! Buruan dimakan, anak-anak sepertinya udah pada datang." kata mas Revi setelah menoleh keluar jendela kaca yang tembus pandang sampai ke studio musiknya.
"Iya. Maacih udah percaya sama Lilah! Maacih juga udah ditraktir."
Mas Revi tidak langsung menjawab. Dia membelai rambutku perlahan, sampai aku menengadah untuk melihat wajahnya.
"Aku bakalan bantu, Bimo. Jika itu membuatmu senang dan aku tetap menjadi memilikimu."
__ADS_1
Aku mengangguk. Tapi entah kenapa, suaranya terdengar begitu serak.
...Happy Reading...