ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 37


__ADS_3

Revi.


Aku memasang wajah jengah sembari menikmati makan siang bersama Pandu.


"Gini lho mas... Mbakyuku itu suka banget sama kamu! Dan aku sebagai adiknya yang paling santai, wajib dengan baik menjaga suaminya."


Aku berdehem, ku kunyah soto ayam ini dengan kuat-kuat sampai jadi bubur.


"Tapi, ternyata. Banyak juga yang lihat aku di saat tadi saat nungguin mas ujian."


Hidungku berkerut. Aku menyudahi makan siang ku sebelum habis, tapi kembali aku lanjutkan lagi saat Pandu menyuruhku untuk jangan buang-buang rezeki.


Selepas makan siang bersama. Aku dan Pandu masih nongkrong bareng sambil menyesap kopi dan rokok.


"Nanti kalau anak kalian mirip aku, aku kasih hadiah mas!" cetus Pandu tiba-tiba.


"Hadiah apa? Jangan aneh-aneh, aku sudah punya segalanya. Bukan sombong, tapi untuk keamanan finansial pribadi dan keluargaku aku sudah ada." balasku langsung.


Pandu menggeleng cepat. "Hadiah kan ora meski duit to mas! Bisa ilmu, bisa apa aja. Kok njut ngono!"


"Iyo... Jadi mau kasih hadiah apa kalau anakku nanti mirip sama kamu? Tapi kan ora mungkin, Ndu! Yang bikin aku kok, jadi harus mirip aku!" tuntutku keras kepala.


Aku ayah biologisnya, Dalilah ibu biologisnya. Tapi kalau sifatnya mirip Pandu aku juga tidak tahu.

__ADS_1


"Pokoknya hadiahnya, istimewa, langka, tapi sedikit menyusahkan kalian!"


Mbuhlah. Sepertinya aku harus mempunyai sikap bodoh amat jika menghadapi adik ipar ku yang ini.


Lagipula, lahir juga belum udah di pikir gimana gedenya nanti.


Aku menyaut tas ranselku, seraya membuang nafas panjang.


"Pulang! Aku udah kangen sama Mbakyumu."


Pandu mengangguk sambil berdiri, ia menyeruput kopinya sebelum menyejajarkan langkahnya denganku.


"Piye to mas rasanya jatuh cinta?" celetuknya tiba-tiba memecah keheningan saat aku sudah membelah kota.


"Terus kalau dikasih harapan tapi gak nyaman piye?" Pandu mengusap wajahnya sebelum bersandar lagi di jok mobil.


Mobil berhenti di perempatan jalan. Aku tersenyum lebar kepadanya.


"Urusan nyaman itu mudah, asal udah ada harapan. Itu yang penting dalam sebuah hubungan!"


Pandu malah membuang muka dan menghela nafas berat.


Aku termangu, sontak aku berpikir apa adikku ini lagi rumit dengan kisah asmaranya. Kok lucu ya, padahal statusnya masih jomblo.

__ADS_1


Memang siapa juga yang mau sama pangeran ini, yang ada setiap hari cuma kolokan terus karena tingkah usilnya.


Mobil berhenti di pelataran parkir rumah. Aku menarik beberapa bungkus plastik berisi makanan untuk Dalilah.


"Jangan bilang apa-apa sama Mbakyu, awas!" ancam Pandu dengan suara lirih.


Aku mengangguk patuh. Dan benak aku cuma bisa bilang, sakkarepmu Ndu.


***


Dalilah tersenyum lembut saat aku menghampirinya di taman. Air mengucur dari selang yang ada di genggaman tangannya.


"Ibu hamil, cantiknya." pujiku sambil menyandarkan dagunya di bahuku.


Dalilah mendesah manja. "Bapak hamil baru pulang ujian?"


Aku berdecak. Mentang-mentang dia sudah lulus pascasarjana, tiap kali aku belajar atau ke rumah sakit untuk tugas, Dalilah sering bilang. "Harap tenang ada ujian."


"Tadi mampir dulu makan di luar bareng Pandu, kamu udah makan? Minum susu? Minum vitamin?" tanyaku beruntun.


"Sudah mas." Dalilah tersenyum. "Mau aku mandiin sekalian bareng tanaman ini?" tawarnya tiba-tiba.


Aku refleks mundur, Dalilah lalu tertawa kecil dengan riang gembira.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2