ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 98.


__ADS_3

Dalilah.


Skandal cinta pertamaku membuat Ayahanda berang. Ayahanda memintaku untuk membuat pilihan yang mungkin akan aku sesali nanti saat aku memilih meninggalkan rumah.


Aku lebih memilih untuk pergi jauh dari mas Revi agar aku tidak perlu lihat kegiatannya, pergaulannya, dan siapa saja yang mendekatinya.


Itu lebih membuatku tenang. Begitu juga dengan mas Revi. Ia tak perlu sport jantung jika harus bertemu keluargaku, ia juga tak perlu bersusah-payah belajar bahasa Jawa, Beksan dan printilan kehidupan tentang seorang Ningrat sepertiku.


Aku mau dia bebas menentukan pilihan hidupnya tanpa harus condong kepadaku yang tidak bisa memberikan janji apapun kepadanya.


Janji kebahagiaan dan restu dari Ayahanda!


"Lil sister!"


Aku berdehem dan tetap mengepak barang bawaanku yang akan aku bawa ke Australia.


Beberapa koper baju musim dingin sudah jauh-jauh hari di kirim ke sana. Selama beberapa hari ini pun aku hanya mengulur waktu untuk menikmati suasana sekolah dan rumah.


"Ditunggu mas Revi di depan!" ujar Suryawijaya.


Aku melebarkan mata. Terlalu berat untuk menemuinya disaat aku sedang menggebu-gebu untuk pergi darinya.


"Dia sendiri atau sama temennya?" tanyaku sambil menoleh sebentar.


"Tidak! Dengan orangtuanya."


Mataku langsung menyipit. "Ibunda dan Ayahanda ada?"


"Ada! Di luar juga ada orangtuanya mas Revi."


Aku menghela nafas, dadaku teramat sesak dan bertali pilu.


Kenapa berat sekali menemuinya disaat aku bertekad memutuskan memberinya kesempatan untuk bergaul dengan orang lain, membuka wawasan dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berkenalan dan berteman dengannya.


"Mbak males! Kamu aja yang ketemu sama mas Revi!" dustaku, padahal aku hanya tak siap menangis lagi. Toh merelakan tak semudah kata-kata dan aku belum bisa membohongi diri kalau aku ikhlas dengan keputusanku sendiri.


"Siapa pacarnya!" timpalnya sambil mendengus dingin.


Aku terduduk di tepi ranjang, lalu ku lihat setumpuk kardus sepatu, boneka, bonsai kamboja, jepit rambut, dan semua pemberian mas Revi yang berada di atas meja belajarku.


"Kalau di hitung, kira-kira sudah berapa juta yang udah mas Revi berikan buat Mbak, Sur?" tanyaku sambil telentang menatap langit-langit kamar.


Aku menerawang, menerka, tapi berapapun jutaan yang sudah mas Revi berikan padaku, aku tetap bertekad untuk pergi.


"Dia tidak pernah menghitung uang yang sudah ia berikan padamu, Lil sister! Keluarlah, temui dia!" Suryawijaya menarik kedua tanganku. Tubuhku tegak namun aku lemas.


"Harus ya? Dulu aja mau pacaran gak boleh! Giliran sekarang Mbak mau pergi lama malah ditahan-tahan!" Aku mendesis lalu mengikat rambutku tinggi-tinggi.

__ADS_1


"Coz you are a little rebellion princess!"


Aku mengerang. "Harus bangga punya Mbak serba bisa! Bisa nari, bisa berantem, bisa apa saja! Sedangkan kamu, berantem aja cuma sama Pandu. Gak level!" ejekku sambil terkekeh.


"Cuci muka, ganti baju! Tidak begini caranya berpamitan dengan seseorang."


Suara Suryawijaya lembut, wajahnya serius, tanpa tanda menggoda atau mencemoohku.


"Baiklah!" Aku mengusirnya dari kamar sebelum aku kembali tenggelam dalam kecamuk emosi yang melanda hatiku.


***


Tidak ada yang meminta seperti ini. Namun semakin dewasa pilihan-pilihan itu seperti jalan yang mengantarkanku pada sebuah realita dan harapan. Dan aku percaya slalu ada harapan di setiap persimpangan.


Aku tersenyum dan membungkuk hormat kepada tamu istimewaku.


"Siang Om, Tante..." Aku menyunggingkan senyum saat mas Revi melihatku lekat-lekat. "Siang mas Revi!"


"Siang princess... Satu jam menunggu tapi tidak sia-sia! Kamu cantik sekali." puji mommy Jasmine.


Aku mengatupkan kedua tangan dan tersenyum manis. "Maacih Tante." jawabku lantas duduk di sebelah Ayahanda.


Samar-samar aku lihat sudut mas Revi melengkung senyum dengan tangan yang mengusap lututnya.


Senyumanmu itu canduku.


Candaannya tak akan ada lagi nanti, jangan kangen!


"Berhubung gadisnya sudah datang, boleh kami membawanya pergi mas paduka raja?" izin mommy Jasmine kepada Ayahanda.


Aku menelengkan kepala untuk menatap Ayahanda. Ayahanda menghela nafas berat, tangannya mencengkeram bahuku.


"Tidak lebih dari jam yang sudah saya tentukan!" Ayahanda melirikku sekilas lantas mengangkat dagunya. Terlihat angkuh akhir-akhir ini.


Orangtua mas Revi mengangguk sambil beranjak. "Sendiko dhawuh!"


Mereka mengatupkan kedua tangan sebelum menepuk bahu mas Revi yang diam, melamun.


"Rev! Rev!"


Aku menoleh ke arah Ayahanda saat tamuku sibuk membangunkan mas Revi dari ekspetasinya.


"Lilah mau di ajak kemana, Ayahanda?" tanyaku.


"Pergilah bersama mereka! Jangan buat masalah!" titah Ayahanda, dalam, dengan mata yang melihatku tajam.


Aku menggeleng tidak mau. Aku terlalu naif jika harus bersenang-senang dengan keluarga pacarku. Sementara aku sudah menyakiti mas Revi dengan kepergian ku.

__ADS_1


"Pergilah!"


Aku menghembuskan nafas dan beranjak dari tempat duduk untuk mengikuti langkah-langkah dan perjalanan yang membawaku pada restoran di tengah kota. Di dalam sebuah mall.


Aku terdiam, restoran ini sepi. Hanya ada satu meja makan di tengah restoran dengan hiasan bunga mawar putih penuh di tengah meja.


Aku menatap heran kedua orangtua mas Revi yang saling mengangguk.


"Kami pergi dulu untuk membeli kebutuhan rumah tangga, Princess, Rev! Jangan nungguin kita, karena mommy dan daddy mau nonton juga!"


Nonton bioskop?


Aku terdiam saat kedua orangtua mas Revi pergi. Entah kenapa, aku justru membisu di akhir-akhir pertemuanku dengan mas Revi.


"Dalilah."


Perhatian ku beralih pada mas Revi. Ia bergeming sepertiku, tanpa banyak kata.


Mas Revi mengulurkan tangan, mengurai kedua tanganku yang sedaritadi bertaut karena rasa gugup yang merayap naik dalam benakku.


Aku termangu menatap tangan kami yang saling menggenggam. Rasa hangat yang ia salurkan, membuatku tersenyum tipis.


"Duduklah..." katanya lembut tanpa emosi.


Perlahan mas Revi melepaskan tanganku, meninggalkan kekosongan di tempat dia menyentuhku tadi.


Aku bergeming menatapnya, menarik kursi untuk aku duduki.


"Aku sering kehilanganmu disekolah, jadi apakah kamu mau makan siang bersama?" serunya dengan senyum yang ia paksa melengkung di wajahnya.


Aku mengangguk sambil membalas senyumnya. Aku bahkan tak mau membahas kejadian di sekolah.


"Aku punya waktu lima jam bersamamu hari ini, jadi apa yang kamu inginkan? Jalan-jalan, belanja, atau kemana saja yang kamu inginkan, aku bersedia menemanimu!" kata mas Revi semringah.


Ayahanda memberiku waktu lima jam untuk bersama mas Revi. Ckckck, yang benar saja hanya lima jam! Rasanya tidak cukup untuk membunuh rindu bulan-bulan berikutnya.


"Lilah mau nonton bioskop!"


Mas Revi tersenyum dan mengangguk.


Aku menggandeng tangannya, menekuri jalan, menikmati pemandangan, menikmati es krim, dan menghabiskan lima jam bersama.


Meski tak banyak kata hari ini yang bisa aku katakan. Aku hanya berharap waktu bisa berhenti, berharap saat-saat berdua seperti ini, tidak pernah berakhir.


Tapi kenyataannya, esok pagi aku harus pergi dari sini. Meninggalkan khayalan gila jika dia ada di sampingku.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2