ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 13


__ADS_3

Dalilah.


...Terlelaplah jika kau lelah....


...Jika memang harus terjadi, terjadilah....


...Sebab skenario Tuhan sudah ditetapkan....


...***...


Aku memandangi langit merah di atas roof top sebuah hotel selepas mengisi seminar hari ini.


Sudah setengah tahun hubungan ini berjalan tanpa kepastian yang jelas, meski aku sesekali berkunjung ke rumahnya.


Jujur. Aku malu. Aku seperti memaksa seorang pria untuk menikahiku.


Mataku perih karena air mata. Hubungan ini hanyalah ranjau kata-kata yang tak terucapkan dan rahasia-rahasia yang tak diungkapkan dengan gamblang.


"Menyendiri lagi?"


Aku menoleh. Pandu tersenyum lebar.


"Memikirkannya?"


Aku menyelipkan tangan ke dalam saku jas sembari mengangkat daguku, menatap langit yang kian merah padam.


"Bagaimana menurut penerawanganmu?"


"Aku bukan peramal yang bijak!" Pandu terkekeh geli.


"Gak perlu dipikirkan! Laki-laki memegang teguh pendiriannya, dan jika dia setia dia akan menepati janjinya!" lanjut Pandu.


Dewasa ini, Pandu lebih bijak dalam memahami situasi di sekelilingnya. Termasuk kisah cintaku yang masih abu-abu.


"Bagaimana dengan kuliahmu? Lancar?" tanyaku.


Pandu terbahak sendiri, entah apa yang ditertawakan olehnya, ia pasti punya penerawangan tersendiri. Penerawangan aneh yang kadang membuatku terkesima.


"Aku bingung, Mbak! Antara mau serius kuliah atau mau lihat cewek-cewek di kampus!" jawabnya penuh gurauan, namun sorot matanya tajam dan serius.


Aku menoleh, mengikuti arah pandangnya, mencoba melihat apapun yang dilihatnya.


Hanya atap-atap rumah dan kabel ruwet. Seperti kenyataan ini. Benang ku terurai, melilit, kusut dan terjuntai, nyaris putus di tabrak kesalahpahaman.


Pandu tersenyum kecil. "Mas dan Mbak sudah membuat Ibunda dan Ayahanda resah! Jika aku ikut-ikutan, apa Ayahanda bisa tenang menjalani masa tuanya?"


"Ayahanda akan tenang jika melihat anak-anaknya bahagia!" jawabku defensif.


"Mbak lebih mudah, namun mas Surya! Ada hal-hal yang baru aku pahami tentang cinta! Benar, itu membuat siapa saja gila!"


Aku tergelak, terdengar begitu lucu dan miris.


"Kau sudah tahu? Begitulah cara cinta bekerja. Membutakan yang terlihat, dan menerangkan yang gelap!"


Pandu mengangguk setuju.


"Tapi semua orang berhak jatuh cinta, karena lebih banyak kebaikan dari cinta yang kita miliki untuk seseorang! Dan kebaikan itu universal!" lanjutku sambil menepuk pundaknya.


Pandu berdecak. "Pulang! Keluarga om Sadewa bakal pulang untuk menikmati liburan musim dingin disini!"

__ADS_1


Aku mendengus kesal. Bulan ini memang awal musim dingin di Melbourne, dan winter break slalu menjadi jadwal Tahunan mereka untuk pulang bertemu dengan sanak saudara.


"Aku tahu Arkananta menyukaimu, Mbak!" Pandu berkata. "Bakal jadi perang bersaudara jika ini terjadi!" tebaknya


Aku membuang nafas kasar. "Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


***


Aku terbangun seiring ketukan pintu yang terus menerus mengganggu mimpiku yang langsung menghilang tanpa kesan.


"Come on..., ini masih subuh!" gumamku dengan malas dan menutup jam weker.


Ketukan pintu kembali terdengar saat aku membetulkan selimut dengan kasar.


"Iya... Iya..." Aku mengalah untuk membuka pintu untuk tamu tak diundang ini.


"Morning... princess!" Arkananta tersenyum lebar, ia membawa kue ulangtahun dengan pendar cahaya lilin yang bergoyang-goyang tertiup angin subuh diatasnya.


Aku bersandar di kusen pintu sambil mendesah "Harus sepagi ini?"


Rasa kantuk ini masih menahanku untuk bermalas-malasan. Sementara sepupuku sendiri terlalu bersemangat untuk merayakan pesta ulang tahunku ke dua puluh lima tahun.


"Kita slalu merayakannya bersama-sama tujuh tahun yang lalu, Mbak!"


Fiuhhh...


"Tapi tidak sepagi ini juga, Arka! Ini masih terlalu pagi, dan hari Sabtu adalah hari bebas untukku! Kau mengganggu, sungguh!"


Aku memejamkan mata. Jika dia tidak suka padaku, aku pasti akan bersuka cita merayakan hari ulang tahun ini bersamanya. Dan kenyataan sungguh-sungguh meresahkan pikiranku.


Setengah tahun ia terus mengirim pesan---rindu, dan membuatku risi.


"Oke... Aku minta maaf! Tapi make a wish dulu dan makanlah kue pemberianku!" sebut Arka, mengetahui air wajahku yang tidak suka.


Aku mengusap wajahku. Tak ingin membuat suasana menjadi canggung aku menatapnya dari balik mata kantukku. "Fine! Tapi biarkan aku mandi dulu dan sembahyang! Tunggu aku di ruang keluarga."


Arkananta mengangguk, ia tetap membawa kue yang ia bawa ke ruang keluarga dan menungguku selama tiga puluh menit.


"Maaf lama..." sapa ku seraya mengikat rambutku. Arkananta berdehem sambil melihatku lekat-lekat.


Aku mengerti arti pandangan matanya. "Dimana saudaramu?" tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


Arkananta berdecak kesal, ia menggeser kue ulangtahun ku ke hadapanku.


"Aku harus menunggu winter break hanya untuk berjumpa denganmu, bisakah membuat seminggu kedepan terjadi biasa-biasa saja! Jangan menjauh!"


Aku mengatupkan kedua tanganku dan terpejam.


Ya Allah Gusti, jika Revi memang jodohku. Pertemukan kami secepatnya didepan penghulu. Agar aku tidak perlu repot-repot membuat alasan untuk menolak Arka.


Aku mengamini doaku sebelum meniup lilin-lilin kecil yang berjumlah dua puluh lima. Asap berputar-putar dan menghilang.


"Terimakasih!" ucapku, lengkap dengan seulas senyum tulus untuknya.


Arka berdehem sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya seraya menatapku tajam. Menilai.


"Kenapa?"


"Pakde benar-benar menjadikannya anak angkat?"

__ADS_1


"Bimo?"


Arka mengangguk sambil membuang nafas.


"Yup! Otomatis Bimo juga menjadi kakakmu, dia kakak tertua kita! Jangan membuat masalah dengannya!" kataku memperingatinya.


"Aku harap bukan dia yang menjadi kekasihmu!" cetusnya langsung.


Aku menaruh jari telunjukku di depan mulutku. "Hormatilah apapun yang Ayahanda putuskan! Kau juga... Pulang-pulang jangan membuat masalah!" aku memperingatinya lagi.


Arka mendesah. "Bawa aku jalan-jalan! Aku merindukan matahari tropis kota ini!" pintanya dengan maksa.


"Harusnya kamu mengunjungi om Nakula, dan pergilah dengan saudara kembarmu yang lain!" kataku sedikit ngegas.


Arkananta mengeram. "Mudah bagimu, belum tentu mudah bagiku, Mbak!"


"Fine, setelah sarapan!" kataku mengalah.


Aku punya pesta nanti malam, sekaligus malam mingguan. Bisa kacau urusannya kalau bule blesteran Jawa-Australia ini masih menggangguku.


***


Aku mengetuk ruang kerja Ayahanda sebelum membukanya.


"Ada apa, Lilah?" tanya Ayahanda, mengalihkan pandangannya dari buku-buku tebal di depannya.


Aku merentangkan kedua tanganku. "Peluk!"


Ayahanda menatapku sekilas sebelum beranjak dari kursi kebesarannya.


Beliau memelukku, pelukan hangat yang menenangkan.


"Selamat ulangtahun anakku yang manis!" Ayahanda mengecup puncak kepalaku. "Semoga keinginanmu direstui oleh pemilik semesta alam!"


"Bagaimana dengan Ayahanda? Apa ayah setuju dengan pilihanku?" tanyaku sambil mendongak. "Ayahanda tahu yang terbaik bagiku, dan aku pun juga menunggu restu dari Ayahanda!"


Ayahanda tersenyum hangat, mengelus rambutku penuh kasih.


"Ayahanda hanya menunggu laki-laki pilihanmu datang, memintamu, dan berjanji akan menggantikan peran Ayahanda dengan baik! Setelah itu, menikahlah."


Aku mengerucutkan bibir. "Ayahanda terlalu sempurna untuk laki-laki yang ingin meminang adinda!" kataku putus asa.


Ayahanda tersenyum lebar. "Setengah tahun lagi! Ayahanda berjanji tidak akan mengeluarkan laki-laki pilihan Ayahanda! Namun jika ia tidak datang, siap-siaplah menerima perjodohan yang Ayahanda siapkan untukmu!"


Aku mengangguk. Benar-benar berharap mas Revi memegang teguh pendiriannya. Menikahiku setengah tahun lagi.


Aku mencium punggung tangan Ayahanda. "Lilah jalan dulu, Ayahanda. Arkananta benar-benar memusingkan!" ucapku sambil menggeleng.


"Hati-hati! Kau sudah mengorbankan sepedamu, kali ini jangan sampai mobilmu hanya masuk ke kenteng magic!"


Aku tergelak sembari melambaikan tangan. "Love you, daddy!"


Ayahanda mengulum senyum. "Tutup pintunya!"


Aku menutup pintu pelan-pelan, sebelum melongok ke dalam lagi. "Terimakasih kadonya, Ayahanda!"


Setengah tahun lagi... Aku mengepalkan tanganku penuh tekad sebelum membawa Arkananta jalan-jalan keliling kota.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2