
Dalilah.
Kehamilanku semakin hari semakin besar, aku bahkan tidak mengira kalau aku akan sebesar ini. Besar, sampai Ayahanda yang melihatku tersenyum senang.
"Kenapa Ayahanda?" tanyaku seraya duduk di sampingnya untuk membahas pekerjaan yang harus aku tanyakan kepada beliau.
"Pipi kamu terlihat seperti tahu bulat, Lilah."
Aku menyipitkan mataku, heran. Beliau tau tahu bulat juga darimana? Jajan sembarangan aja tidak pernah. Bisa-bisanya bilang pipiku seperti tahu bulat, tahu sutra lebih persis.
Aku berdehem-dehem saat beliau mengeluarkan suara tawa kecil yang membuatku jengah. Sungguh tawa beliau ini merupakan tawa bahagia sekaligus mengejek.
"Ayahanda senang?" sindir ku, meski aku juga bahagia melihat ayahku sesenang ini melihatku seperti arem-arem kebanyakan isinya.
"Ayahanda bahagia, Lilah!" ucap Ayahanda lugas. "Sudah USG? Apa jenis kelamin cucu Ayahanda?"
"A prince, raden mas."
Ayahanda tersenyum lebar. "Benar-benar akan seperti Pandu sepertinya."
Aku menggeleng, sudah jelas akan seperti mas Jati, tengil tapi lucu seperti aku. Heuheu.
Aku menaruh beberapa berkas yang harus Ayahanda periksa. "Bagaimana ini Ayahanda?"
Ayahanda memasang kaca mata sebelum meneliti berkas-berkas administrasi istana.
Ayahanda menghela nafas panjang. "Nanti Ayahanda tanyakan ke bagian pengawas keuangan istana. Kau hanya perlu meneliti lagi mana yang tidak sinkron dan melaporkan kepada Ayahanda lagi."
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Habis tingkeban Lilah izin cuti hamil ya, Nda?"
"Suamimu bukannya sibuk? Jadi untuk apa cuti, Lilah! Sementara dikamar kamu hanya tidur-tiduran."
Aku menyengir kuda, mas Jati memang sibuk belajar dan ke rumah sakit. Kalau dapat shift malam, aku tidur sendiri, atau jika tidak aku berkunjung ke rumah mommy untuk tidur disana. Selain itu kesibukanku hanya tidur-tiduran jika semua perkejaan selesai.
"Masa anak sendiri gak dapet cuti hamil, Nda? Kok tega..."
Ayahanda menggeleng sambil tersenyum kecil. "Bukannya Ayahanda tega, tapi kamu pasti bingung harus melakukan kegiatan apa. Itu tidak bagus untuk kehamilanmu kalau terlalu banyak santai."
Aku berdehem, manut, tapi ya sudah. Apapun yang dikatakan Ayahanda itu benar, jika tidak mungkin belum resekio.
__ADS_1
"Delapan bulan, deal?"
Ayahanda mengangguk. "Ayahanda pergi dulu. Pastikan suamimu benar-benar lolos ujian UKMPPD dan intership tahun ini."
Aku mengatupkan kedua tangan sebelum beranjak. Ku usap perutku sebelum terkekeh geli merasakan dear baby yang sudah pintar menendang-nendang.
"Dua bulan lagi ketemu mama, dear. Sabar yuk, kita kerja lagi biar dapat uang pesangon pekerja keras dari Ayahanda."
Ayahanda terbatuk-batuk dengan kentara di sampingku. "Tidak cukup uang pemberian suamimu?"
"Cukup untuk membeli popok, Nda!" Aku menyunggingkan senyum lembut seraya berlalu.
***
Aku menjalani ritual tingkeban di bangsal kencana dengan bersuka cita. Seperti yang sudah-sudah, ritual tingkeban atau mitoni ini dilakukan sebagai pengharapan agar jabang bayi yang aku kandung ini. Jangkep, genep, slamet.
Aku mengatupkan kedua tangan sebelum melakukan sembah bakti kepada Ayahanda dan Ibunda. Mas Jati yang sejak tadi mendampingiku cukup kaget melihat acara tingkeban yang baru saja ia jalani.
"Prosesinya mirip seperti waktu mau nikah ya, Lil! Harus siraman dulu pakai tujuh mata air, terus yang tadi-tadi." ucap mas Jati, masih memancarkan binar senang sekaligus bingung.
Aku mengangguk dan tersenyum lembut. "Acara seperti ini sekaligus menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya, mas. Jadi kalau punya anak lagi, ya begini lagi!"
Mas Jati mengerling jail, aku mendengus dan terkekeh kecil. "Kita lihat bagaimana anak pertama kita, mas! Kalau oke, okelah. Punya anak tiga."
Beberapa orang yang mendengarnya ikut tersenyum lebar. Semua terlihat bahagia dan kebahagiaan ini harus sirna karena Pandu kembali mengganggu keromantisan ini seperti hari-hari kemarin.
"Gimana Mbak?"
Aku mengusap wajahku, mas Jati menepuk-nepuk punggung Pandu bersimpati. "Biar Mbakyumu istirahat dulu, Ndu! Nanti lagi curhatnya."
"Janji?"
Aku mengangguk perlahan. "Aku tunggu di tempat biasanya, kalau enggak. Aku tunggu di kamar kalian!"
Aku dan mas Jati saling melempar pandang. "Jatuh cinta kok repot dewe, Ndu! Tolong ya..." sindir ku, "Ibunda pasti ngakak kalau tau kamu begini.
Pandu melenggang pergi entah kemana tanpa memperdulikan perkataanku, dia hanya menjep sebelum berwibawa kembali. Sementara aku dan mas Jati melanjutkan perjalanan menuju kamar.
***
__ADS_1
Dan malam datang bersama Pandu yang menagih janjinya. Ia membawakan paper bag yang berisi popok bayi.
"Dari dia itu." cetusnya langsung.
"Dia...dia... dia, dia yang ku tunggu-tunggu." sindir mas Jati sambil memetik gitar pelan.
Aku menahan senyum, main-main itu kangmas sama cowok sentimental satu ini. Bisa-bisa tambah baper nih bocah.
"Dia kenapa lagi?" tanyaku pelan sambil ku lihat-lihat popok bayi ini. Lucu-lucu.
"Dia gak nyaman sama aku, Mbak! Walaupun slalu ngasih harapan..."
Otomatis leherku menoleh ke arah mas Jati. Masalahnya masih sama dari kemarin-kemarin.
"Sudah aku bilang, Lil! Mereka ini buru-buru mengambil persepsi sendiri sebelum memulainya. Toh, masih anak SMA, harusnya dibawa happy aja! Kayak udah mau nikah aja, bingung terus!" cibir mas Jati.
Aku mengangguk setuju. "Betul, Ndu! Dia masih anak SMA, kenapa kamu malah yang ngebet banget pengen status yang jelas! Kuliah dulu napa, rajin belajar biar pinter."
Mas Jati berdehem dengan kentara. "Nyindir!"
"Hehehe... Tapi ini kan kejujuran yang hakiki mas, gak ada yang aku tutup-tutupi."
Pandu kembali mendengus sendiri dan berbaring di pembaringan. Aku tersenyum iba, benar jika berhubungan dengan keluarga kami pasti tidak nyaman terlebih dahulu. Dan inilah prosesnya, kuat ya bertahan, gak kuat ya pamitan.
Aku menepuk pundaknya. "Santai to, Ndu! Paling-paling kalau gak dapat jodoh dari luar yang memenuhi kriteria Ayahanda, kamu bakal di jodohkan dengan putri dari kerajaan lain." ujarku benar, Suryawijaya contohnya.
"Monoton Mbak!"
Aku tersenyum kecil, gak bisa ngasih pengertian lagi karena ia harus curhat sama Ibunda, atau kalau Ayahanda lagi luang, Pandu bisa meminta nasihat kepada beliau.
"Gini lho, Ndu! Jadi cowok itu harus mensortir mana cewek yang benar-benar bisa di perjuangkan lahir dan batin! Jangan cuma dilihat dari satu sisi." timpal mas Jati.
Pandu langsung duduk, ia menatap mas Jati tak terima. "Aku sudah melihat sisi lain darinya dari sisi yang tidak kamu pahami mas!"
"Iyo... iyo... aku paham, wes ah! Aku mau belajar lagi, besok ujian lagi, ujian praktek langsung di rumah sakit jilid pertama!" gumam mas Jati, wajahnya langsung berubah serius sekarang.
Aku dan Pandu saling menatap satu sama lain sebelum keluar kamar untuk melanjutkan sesi curhat dengan Ibunda.
...Happy Reading...
__ADS_1