
Dalilah.
Aku memeluk mas Jati dengan erat. "Niat ingsun dulu ya sebelum ujian nanti!" ucapku mengingatkan. "Jangan ingat aku terus, aku emang meresahkan untukmu!" lanjutku menggodanya.
Mas Jati terkekeh-kekeh, ia menarik punggungku untuk menempel lebih dekat ditubuhnya.
"Jamu itu benar-benar jahat, Lilah!" selorohnya. Aku mengernyit gemas dan menggigit bibir bawahku.
"Kenapa jahat? Bukannya mas Jati jadi lebih mantap?" ucapku sambil tersenyum jenaka.
Mas Jati mengecup keningku sebelum melepas pelukannya.
"Jamu itu benar-benar mengecoh konsentrasiku! Aku hanya mau, mau, dan mau! Dan parahnya lagi, kamu pasrah terus! Aku jadi tuman setiap ada kesempatan!" Mas Jati berdecak kesal dan menghembuskan nafasnya. Ia memasukkan makalah ke dalam tasnya dan mengecek lagi isi tasnya.
Aku tersenyum lebar, ia tak benar-benar kesal dengan jamu itu, ia hanya kesal setiap hari lututnya lemas, bergetar, dan pegal-pegal. Belum lagi tatapan menyelidik dari Ibunda dan Ayahanda, membuatnya malu sendiri.
Aku meneliti penampilan suamiku sebelum menyugar rambutnya.
"Slalu istimewa!" pujiku. Mas Jati berdiri sembari tersenyum kaku.
Hari ini tepat di bulan Maret, mas Jati siap untuk ujian UKMPPD tahap awal.
Aku ikut deg-degan, aku khawatir, karena selama bulan Februari kemarin mas Jati dan aku hanya menghabiskan waktu bersama untuk berbagi kebutuhan batiniah.
"Beri aku kecupan penyemangat, dear!"
Mas Jati menangkup wajahku dan mendongkakkan ke atas. Ia mengecup bibirku berkali-kali sebelum membelainya perlahan. Aku memegang kedua pinggangnya dan merasakan usahanya yang begitu besar.
Satu kecupan lembut lagi sebelum ia tersenyum lebar kepadaku.
"Love you, more... my frangipani flower!"
Aku mengusap bibirnya yang basah dan ia malah menggigit-gigit kecil ibu jariku.
"Udah ah, nanti kebablasan, terus terlambat. Aku lagi yang disalahkan!" gumamku sambil menarik tanganku dengan enggan.
"Padahal juga mau, sok-sokan nolak!" cibirnya sambil terkekeh geli.
"Hidup adalah tentang memilih, dan pilihlah sesuatu berserta konsekuensinya! Tapi sekarang, aku memilih untuk tidak mau karena konsekuensinya akan membuatku terlihat egois."
Mas Jati merapikan jas hitamnya, ia tersenyum lembut setelah tahu aku masih menatapnya penuh minat.
"Aku menghormati pilihanmu, dan itu adalah sesuatu yang tepat untuk saat ini! Tapi, beri aku hadiah jika lulus ujian hari ini, dear!"
Mas Jati menarikku lagi ke dalam pelukannya. Bukannya nanti jasnya lecek lagi. Suamiku, ish...
__ADS_1
"Pergilah ke rumah sakit, aku mau kamu cek kandungan di poli obygn." pintanya seraya mengelus perutku yang masih rata.
Aku memang sudah lama tidak haid, tapi gejala-gejala kehamilan juga belum terlihat jelas.
Aku mengangguk patuh, yang penting ia tenang waktu ujian nanti.
"Kalau hasilnya zonk gimana?" Aku khawatir.
Dahi mas Jati berkerut. "Masa satupun semburan cacingku tidak mempan! Ini lucu, Lilah! Semburan pertama harusnya masih fresh dan bagus." selorohnya.
Aku tergelak dan sungguh-sungguh lucu. "Jadi dulu mas Jati tidak mimpi basah, atau ehm... tidak main sendiri?" tanyaku seraya mengulum senyum.
"Itu beda sayang... Yang ini kan penuh semangat, jadi semburannya lebih banyak dan jauh!"
Mas Jati menyeringai bodoh, aku menggeleng dan tersenyum lebar. Sungguh aku tak habis pikir kenapa ini tuh saru tapi lucu. Aku bahkan bertanya-tanya, apakah pengantin baru juga begitu? Gak punya malu sepertiku?
Mas Jati mengandeng tanganku untuk keluar kamar.
Ujian UKMPPD ini pun juga meresahkan seluruh isi rumah.
Ayahanda meminta mas Jati untuk melakukan tradisi ruwatan sebelum melakukan puasa mutihan, dan kami sekeluarga harus puasa mutihan dan doa bersama setiap malam sebagai laku prihatin.
Mas Jati mengatupkan kedua tangan sebelum mencium punggung tangan Ayahanda dan Ibunda.
Ayahanda menyentuh puncak kepala mas Jati dan mengangguk. "Yang teliti!"
Mas Jati mengangguk, ia menatapku dan menyentuh punggungku pelan. "Aku pergi dulu, dear! Kiss me from the inside!" ucapnya pelan.
Aku mengangguk penuh minat. "Hati-hati. Beri aku kabar membahagiakan hari ini mas!" ucapku riang.
Mas Jati menepuk pundakku lembut seraya berlalu. Aku tersenyum hangat saat melihatnya pergi.
Ibunda terkekeh kecil, Ayahanda berdehem-dehem. Aku menoleh ke arah mereka. "Ada yang lucu, Nda?"
"Kiss me from the inside! Apa Mbak?" tanya Ibunda pura-pura tidak tahu artinya.
Aku mengangkat bahu dan menghempaskan tubuhku di kursi. Kedua orangtuaku ini benar-benar ingin tahu kehidupan ranjang ku dengan mas Jati.
Aku sampai heran, untuk apa coba. Apa untuk membandingkan dengan kehidupan ranjang mereka? Jelas orangtuaku lebih ahli, kalau aku dengan mas Jati masih noob walaupun kami sedang panas-panasnya.
"Hari ini Lilah mau ke rumah sakit, Bun! Boleh izin sebentar?"
Ibunda mengerutkan keningnya, matanya naik turun untuk meneliti tubuhku. Aku berpikir mungkin Ibundaku memikirkan yang tidak-tidak.
"Lilah hanya ingin periksa ke dokter kandungan, Ibundaku! Mas Jati memintanya." ucapku memberi penjelasan.
__ADS_1
"Tapi kamu belum hoek...hoek lho, Mbak! Yakin tidak takut kecewa?" Ibunda duduk di sebelahku dengan raut wajah khawatir seraya mengelus lenganku.
Aku tersenyum kecil, aku khawatir itu pasti. Tapi kalau dibiarkan saja akan membuat kewarasan mas Jati tidak stabil dan lebih aman jika periksa sekarang.
Tiga puluh menit kemudian, aku tiba di lobi gedung rumah sakit milik ayah mertuaku.
Beberapa suster menyambut kedatanganku dan Ibunda dengan ramah dan senyum cerah, bahkan Daddy juga ada disini.
"Welcome, princess!" Daddy memelukku. "Kedatanganmu membuat Daddy panik!" seloroh Daddy, suaranya mirip mas Jati meski lebih nge-bas.
Aku terkekeh geli "Sampai harus disambut begini, Dad? Ini berlebihan, sungguh! Lain kali aku tidak akan memberi kabar jika akan kesini." ucapku serius.
Daddy tergelak seraya mengurai pelukannya. "Revi sudah memberi kabar tadi, dia meminta dokter spesialis kandungan terbaik untukmu!" Daddy tersenyum hangat.
"Beliau-beliau yang akan menemanimu sekarang."
Aku mengangguk sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan dokter-dokter ini. Semua perempuan, karena pasti mas Revi takut aku diperiksa oleh dokter laki-laki.
Aku mengatupkan kedua tanganku sebelum mengikuti semua dokter berjalan ke arah lift.
Semakin naik ke atas, semakin membuatku cemas, aku takut dengan hasilnya nanti. Aku takut mengecewakan semua orang yang menyayangi kami.
Pintu lift terbuka, ini terlalu cepat. Aku masih deg-degan dan belum bisa menurunkan detak jantungku saat keluar dari lift.
Ibunda mengelus punggungku dan tersenyum hangat. "Semua orang akan membantumu, Mbak. Jangan khawatir!" ujar Ibunda lembut.
Daddy menepuk pundakku seraya mengangguk perlahan. "Jangan khawatir, Daddy yang akan mengawasimu langsung."
Aku mengangguk dan masuk ke dalam ruang obygn.
***
Ibunda menangis tersedu-sedu di atas sofa sembari memandangi foto USG, mengusap-usapnya dengan penuh minat.
Aku dan Daddy menatapnya dengan heran. Harusnya aku yang menangis haru karena aku positif hamil tanpa gejala. Ini diluar dugaan ku, karena aku pengen ngidam yang aneh-aneh dan meresahkan mas Jati dengan keinginanku.
Tapi mas Jati pasti bahagia dengan hadiah terindah dari Tuhan ini. Titipan dari Tuhan yang akan membuatku memasuki fase baru lagi dalam hidupku.
"Kenapa to, Bun?" tanyaku sambil mengusap air mata di wajahnya. Ibunda terisak-isak dan memelukku erat.
"Ibunda tidak bisa membayangkan bagaimana anak kalian nanti! Pasti tengil, usil, cerewet, keras kepala, tapi pinter! Huhuhu... Kamu harus siap lahir batin untuk menjadi seorang ibu, Lilah! Awas, kalau cucu Ibunda cuma kamu cubit karena nakal!" tuntut Ibunda.
Aku dan Daddy saling melebarkan mata. Aku bahkan belum membayangkan bagaimana anakku nanti, yang jelas pasti cantik dan tampan seperti bapak-ibunya.
...Happy Reading....
__ADS_1