ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 87.


__ADS_3

Dalilah.


Bodyguard... Bodyguard... Bodyguard...


Mereka ada dimana-mana, tersenyum ramah dan pura-pura cuek saat kami bertiga melintasi mereka.


"Sudah aku bilang to, Mbak! Kita ini terbelenggu kebebasan." ujar Pandu.


Aku berdehem dan tetap melanjutkan niatku menemui mas Revi. Mereka berdua menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa to orang pacaran harus ketemu?" tanya Pandu. Aku memencet tombol lift dan bersedekap.


"Pertanyaan aneh!" tukas Suryawijaya.


"Emang mas punya pacar?"


Kami melangkah keluar dari lift bergantian.


"Kalau pacaran itu cukup hatinya saja yang ketemu... Raganya cukup sekali-kali saja." timpal Suryawijaya.


Aku dan Pandu langsung menatap ke arahnya. Pandu menyeringai jail aku pun begitu, kami berdua mengangguk seolah tatapan mata kami sudah mengatakan semuanya.


Dimana kamu, apakah kau rindu.... Sungguh susah buat lupa...


Hati tak bisa berdusta...


Walau ku tahu, kau bukan untukku...


Tapi tetap kau terindah...


Cinta yang salah...


Aku yang salah...


...***...


Kami berdua cekikikan manakala Suryawijaya menghembuskan nafas kasar. Lagu itu adalah lagu galau kesukaannya.


Berkali-kali kami memergoki dia mendengar itu dalam kesendirian. Mungkin ia patah karena Tania bukan pilihan yang tepat untuknya dari segi apapun. Mereka hanya boleh berteman baik atas permintaan Ayahanda.


Aku menggandeng tangan Suryawijaya dan tersenyum simpul.


"Cinta tak salah, hanya kita yang terlalu sulit untuk digapai."


Pandu berhenti di depan kami. Ia memandangi wajah kakaknya satu persatu.


"Kalau cinta salah, apa mungkin kita akan kesulitan mendapatkan jodoh?" Pandu menatapku dengan khawatir.


Aku menggeleng kuat-kuat, tak ada yang kesulitan mendapatkan jodoh. Itu harga mutlak yang diberikan Tuhan kalau manusia akan hidup berpasangan. Entah kapan datangnya tidak pasti, yang tahu adalah hati kita sendiri, apa kita siap hidup berpasangan atau tidak.


Om Nanang adalah contohnya. Beliau memilih untuk sendiri bukan karena tidak mendapatkan jodoh, ia memilih hidup tanpa berpasangan karena hidupnya sudah cukup dengan kasih sayang keluarganya. Kami, dan sepupuku sangat menyayanginya.


"Kita masih kecil-kecil... Kalau Ayahanda dengar pasti kita cuma dapat pidato. Kalian mau semalam suntuk kita dapat wanti-wanti? Gak kan!"


Mereka menggeleng. Kami satu hati jika urusan ini, karena Ayahanda pasti mengeluarkan ultimatumnya yang sering kami dengar.

__ADS_1


Kami berhenti di kamar mas Revi. Aku langsung memencet bel kamar dan menunggu.


Hening.


Hatiku mencelos saat kamar tak kunjung terbuka.


"Pada kemana ya?" gumamku pada diri sendiri. Aku mengambil hpku dan menghubunginya.


Satu deringan, panggilan terangkat.


Mas Revi dimana? Lilah ada di depan kamar!


Dibawah, ngopi bareng teman-teman. Kesini aja.


Aku mematikan hpku. Ngopi?


Aku dan adik-adikku tidak mungkin kesana. Adikku juga berjuang keras agar Tuhan memberkati puasa kami.


Aku mengetik pesan singkat untuk mas Revi.


Having fun, mas 😊


Aku menyelipkan hpku di kantong celana sebelum tersenyum untuk menutupi rasa kecewaku yang sedikit ini.


"Ayo kita ke roof top aja! Di atas pasti bagus banget..." ajakku pada kedua adikku. Mereka mengendikkan bahu tapi menurut saja.


Di atas roof top hotel kami berdiri di pagar pembatas, membiarkan udara malam menerpa tubuh kami bertiga.


Kerlap kerlip bintang, lampu kota dan bisingnya kota ini tak mampu membuatku ikut bersuka cita. Aku memilih diam.


...Cinta menyatukan kita yang tak sama. Aku yang kejawen, dia yang modern....


Pandu merangkul bahuku. "Sedih amat, napa sih?" Ia mencermatiku dengan penuh minat.


"Kepo amat!" jawabku sambil tersenyum miring.


"Gak jadi ketemu mas Revi? Dia dimana?" Pandu menatapku heran. Aku berdecak sambil maju selangkah lagi ke arah bibir gedung.


Suryawijaya menarikku cepat, aku terhuyung ke belakang dengan wajah terperangah. Aku kaget.


"Mau apa?" tanyanya galak dengan mata melotot tajam. Aku mencubit lengannya.


"Aku cuma mau lihat di bawah seperti apa! Gitu aja dikira mau bunuh diri!" Aku mendengus lalu membuang nafas.


"Turun sekarang!"


"Pertanyaan ku belum dijawab, aku gak mau turun!" rengek Pandu.


"Dibawah ngopi sama temen-temennya." jawabku.


"Aku mau kesana lah, aku mau lihat mas Revi!" serunya riang. Alisku berkedut.


Bocah ini pasti mau rusuh.


Aku menggeleng pelan. "Istirahat di kamar, atau kita ngevlog hantu-hantu saja di sini. Gimana?" Aku menaik-turunkan alisku jail.

__ADS_1


Suryawijaya mendesis tajam. "Mbak pikir lihat hantu gak butuh energi!"


Aku terkekeh kecil. Cowok SMP satu ini emang gak kaleng-kaleng galaknya.


"Ya sudah ayo ke kamar! Kalian jadi tim hore kan? Jadi please... Besok kamu teriak-teriak ya, Sur! Yang keras biar Mbak semangat karena suaramu yang langka itu." Aku menyunggingkan senyum jail. Dia mendengus kesal dan berlalu.


Aku dan Pandu mengikutinya dari belakang. Setelah keluar dari lift kami bertiga melihat punggung yang membelakangi kami bertiga di koridor hotel.


"Mas Revi." gumamku. Kami berjalan mendekatinya karena ia berdiri tepat di depan kamarku.


"Hei..." Aku tersenyum.


"Hai juga mas Revi, kopinya enak?" tanya Pandu dengan jenaka.


Mas Revi mengangguk. "Kalian tidak ke bawah?" tanyanya dengan sopan.


"Yo tidaklah... Kami sudah tidak puasa tapi makannya masih nasi putih dan air putih doang sampai nanti jam dua belas malam. Jadi kalau mau ngopi bareng-bareng itu besok aja, piye?" tawar Pandu, ia lebih fleksibel menghadapi mas Revi ketimbang Suryawijaya.


Mas Revi mengangguk. "Oke, aku traktir!" sahutnya sambil terkekeh kecil saat Pandu bersorak girang dengan kilau jail dimatanya, ia pasti memiliki rencana untuk mengerjai mas Revi nanti.


Aku menghela nafas. "Kenapa mas Revi kesini?" tanyaku ikut bersandar di dinding.


Mas Revi menggaruk lehernya dan tersenyum kikuk. Terlihat canggung berada diantara adik-adikku. "Aku hanya penasaran kenapa kamu tidak menyusul ku ke bawah. Jadi aku kesini."


Bucin! gumam Suryawijaya. Aku menyenggol perutnya dan mendelik.


"Aku ke roof top tadi sama adik-adikku, karena mungkin teman-teman mas Revi juga bakal canggung ketemu kami." Aku tersenyum simpul.


Mas Revi mendesah lega. "Aku pikir kamu marah... Syukurlah."


Tawa Pandu melesak keluar dari mulutnya. Aku dan Mas Revi menoleh dan melihatnya menggeleng sambil membuang nafas.


"Kalau pacaran harus begini ya mas, Mbak?" tanyanya gamang. Aku dan Mas Revi saling bertatapan.


"Sana masuk ke kamar. Bocah SD tidak perlu tau!" elakku, padahal aku gak tahu harus begini yang gimana. Orang aku dan mas Revi saja terlihat biasa-biasa saja. Tidak terlihat seperti orang yang berpacaran malah.


Pandu menggeleng tidak mau, ia tetap bersedekap tidak mau pergi. Aku mendengus. Bocah ini kalau udah ada maunya keras kepala, padahal gak penting juga pertanyaan untuk bocah seusianya.


Aku terkekeh dengan nada sumbang menyadari kalau situasi ini mendadak hambar.


Mas Revi merogoh kantong jaketnya, ia menarik tanganku dengan senyum manis dikedua sudut bibirnya sembari menaruh lima coklat coin di telapak tanganku.


"Buat recharge energimu nanti." ujarnya dengan lembut. Aku menggenggamnya dan tersenyum malu. Namun Pandu merusak keintiman suasana ini dengan meminta coklat yang diberikan mas Revi.


"Gak!" kataku pelit sambil menyembunyikannya di belakang badanku.


"Woh... Jahat kamu, Mbak! Udah aku temenin lho padahal tadi, sekarang malah itung-itungan sama aku!" Pandu melengos pergi dengan wajah yang merengut.


"Iya-iya, aku bagi-bagi. Ojo nesu..." kataku mengejarnya dan meninggalkan mas Revi yang melihat kekonyolan ini.


"Nih, satu-satu!" Aku memberinya pada Pandu dan Suryawijaya saat kami sudah di kamar.


"Itu masih tiga!"


Ya, Tuhan. Kalau gini kan tidak jadi recharge energi, tapi malah bikin sakit gigi!

__ADS_1


Aku berdecak kesal sembari menaruhnya satu-satu lagi ke tangan mereka. Aku sedih, sekarang coklatnya tinggal satu. Seperti hatiku.


...Happy Reading...


__ADS_2