ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 40


__ADS_3

Dalilah.


Ketika hidup hanya akan menghadirkan dua pilihan. Mungkin aku akan memilih untuk terlahir sebagai manusia biasa tanpa gelar bangsawan yang mendominasi diriku. Sebuah gelar yang membuatku harus menjadi manusia sempurna, tanpa kecacatan atau apapun hal yang membuatku terlihat tak layak menjadi putri mahkota. Akupun juga harus menjadi seorang yang bermanfaat bagi siapa saja. Termasuk Bimo.


Ketika ia memilih untuk bercerita tentang keluarganya dan segala alasannya menjadi pengawalku, aku memilih untuk menjadi pendengar yang baik.


Setelahnya, aku tahu semua hal yang sebelumnya tidak penting bagiku. Usaha batik keluarganya nyaris bangkrut karena krisis ekonomi global yang terjadi baru-baru ini, karena bagi beberapa orang cenderung memilih untuk memenuhi kebutuhan perut daripada kebutuhan sandang. Apalagi untuk busana batik yang hanya digunakan untuk acara-acara formal dan hanya kalangan tertentu saja yang menyukainya.


Sekarang, aku benar-benar dihadapkan dengan pilihan kedua. Menjalani kehidupan ini seperti sedia kala.


"Mbak Lilah..."


Aku menoleh saat Ibunda memanggilku. Seulas senyum manis beliau terbitkan saat berjalan menghampiriku.


"Iya, Bun. Keluarga mas Revi sudah datang?" tanyaku sambil berbinar senang.


"Sudah tidak sabar ketemu mas Revi?" goda Ibunda. Ku lihat Ibunda cantik sekali menggunakan dress batik pas badan dengan rambut hitam panjang yang sengaja di gerai bebas. Ibunda tampak lebih muda dari biasanya dan terlihat seperti kakakku. Ayahanda pasti senang, apalagi Om Nanang. Semakin tidak bisa jauh dari Ibunda pastinya.


"Cuma mau tahu bagaimana wajah mas Revi setelah satu bulan tidak bertemu, Bun." jawabku sambil tersipu. Ibunda tersenyum dan merapikan rambutku.


"Dia tambah manis! Mbak bisa lihat mas Revi di ruang keluarga. Mereka sudah datang, dan wow... Ini kejutan untuk Ibunda. Kakaknya mas Revi tampan sekali..."


"Bunda!" ujarku sedikit keras, "Ibunda jangan genit! Ayahanda pasti marah kalau Ibunda memuji laki-laki muda!"


Ibunda tertawa kecil. Dihadapan cermin kami masih mematut diri bersama. Ibunda merapikan rambutku, memberikan sedikit polesan lipstik di bibirku.


"Mas Revi harus lihat Mbak Lilah bahagia, karena setau Ibunda mas Revi juga gelisah karena pertemuan kalian hari ini. Apalagi diluar mas Suryawijaya juga ada. Maaf, Ibunda yang tidak bisa berbuat banyak untuk hubungan kalian!" Ibunda mengelus rambutku pelan.


Aku menoleh, "Apa Suryawijaya dan mas Revi bertengkar?" tanyaku was-was.


"Tidak mungkin mas Suryawijaya bertengkar, hanya kata-katanya saja sedikit menusuk hati!" Ibunda menyengir kuda, "Maklumi ya Mbak. Mas Suryawijaya memang tidak bisa diajak bercanda."


"Bunda gak penasaran bagaimana nanti kalau Suryawijaya punya pacar?" tanyaku penasaran, sekelebat bayangan tentang Suryawijaya yang memiliki pacar menari-nari liar di kepalaku. Pasti lucu sekali. Si balok es itu apa akan mencair jika mempunyai pacar. Rasanya gak mungkin kalau tidak di komporin dulu sambil di kasih cabe-cabean biar panas.


Aku mengangguk-angguk sambil cekikikan sendiri membayangkan bagaimana reaksi Suryawijaya didekati seorang gadis. Patut dilihat.

__ADS_1


"Mbak kenapa?" tanya Ibunda penasaran sambil menyipitkan matanya.


"Ah... Bunda, Suryawijaya pasti lucu kalau punya pacar. Pacarnya toel-toel, dia marah-marah. Hahaha... Bun, aku bakalan menantikan waktu itu!" kataku serius.


Ibunda menggeleng, "Mau ketemu mas Revi atau tidak? Mas Revi sudah tidak sabar tau Mbak!"


"Iya... iya... Mbak juga gak sabar!" jawabku sambil berdiri.


"Mbak..." panggil Ibunda dengan nada mengingatkan. Ku tatap Ibunda dan tersenyum, "Aku tahu, Bun. Aku tahu. Mbak Lilah gak boleh ini, Mbak Lilah gak boleh itu, Mbak Lilah..."


Ibunda langsung memelukku, "Sabar ya. Kalau Mbak mau ciuman boleh asal Mbak Lilah nikah dulu."


Aku langsung mendongkak, menunjukkan wajah tidak percaya.


"Lilah boleh nikah muda, Bun?" tanyaku langsung.


"Boleh, kalau Ayahanda mengizinkan. Minimal dengan syarat. Suami Mbak Lilah harus punya pekerjaan, keahlian, mau belajar menjadi seperti kita, mau menjadi laki-laki setia. Satu lagi, ini yang paling sulit. Meluluhkan hati Ayahanda! Minimal mas Suryawijaya deh." Ibunda tersenyum jenaka, aku langsung melepas pelukan Ibunda dan melengos pergi.


"Minimal aja sulit pakai banget. Apalagi maksimalnya. Pasti lebih ruwet!" gumamku sambil menggeleng cepat.


"Sempurna... Rasanya seperti mau di tembak saja. Deg-degan..." gumamku sambil memegang dada. Ibunda menggeleng sambil tersenyum saat beliau melihatku kesengsem.


"Kenapa Mbak?" tanyanya.


Aku menatap Ibunda, "Apa mas Revi bawa cincin, Bun?"


Wajah Ibunda terkesiap, "Cincin? Untuk apa?" tanya Ibunda bingung.


"Untuk melamar Dalilah kesayangan Ayahanda dong. Masa' untuk melamar Ibunda!" gurauku langsung.


Ibunda terkekeh geli, "Lilah... Lilah... Sudah ayo." Ibunda menggandeng tanganku, dengan malu-malu aku memasuki ruang keluarga. Rasanya satu bulan gak ketemu itu seperti ada kecanggungan tersendiri. Apalagi setelah kejadian kemarin. Pasti ada sesuatu yang berubah.


"Princess..." panggil Revi antusias.


Aku mendongak sambil tersenyum, "Hei, mas Revi." Seulas senyum manis ia berikan padaku.

__ADS_1


"Prin...." serunya lagi hendak menghampiriku.


"Eeehhhmmm...." Ayahanda berdehem dan membuat nyali mas Revi menciut seketika. Mas Revi membungkuk hormat lalu kembali duduk di kursinya.


"Maafkan saya paduka raja." katanya sambil menahan senyum.


Aku duduk setelah memberi salam kepada orangtua mas Revi dan kakaknya.


Ku lirik Ayahanda dengan ekor mataku. Ayahanda tersenyum lalu kembali menatapku.


"Putriku akan kembali ke sekolah besok. Jadi, tidak perlu repot-repot untuk menyerahkan rindumu kepadanya begitu saja." kata Ayahanda dengan nada datar tanpa sedikitpun pemanis.


"Ayolah, paduka raja. Ini hanya permasalahan libido remaja. Justru kalau mereka tidak saling merindu itu yang tidak wajar." timpal mommy Jasmine.


"Mom..." balas mas Revi dengan nada memperingati.


"Iya mas. Pertemuan ini bukannya ide mas untuk membuat Lilah senang, untuk membuat Lilah tidak merasa diasingkan atau dikekang." ujar Ibunda lembut, seolah menenangkan Ayahanda.


Ayahanda menatapku dan Revi secara berganti. Lalu menatap Ibunda yang mengangguk pelan.


"Hanya boleh tatapan mata selama lima menit!" kata Ayahanda yang membuat semua orang langsung menatap Ayahanda sambil mengernyitkan dahi.


"Untuk regu penembak. Lima menit hanya bisa digunakan untuk memastikan target sasaran. Entah untuk rindu." balas mommy Jasmine.


"Tapi Lima menit bisa membuat orang jatuh cinta hanya dari saling bertatapan mata!" bela Ayahanda tidak mau kalah, "Seperti saya dulu dengan ibunya!"


Semua orang melempar pandang lalu mengangkat bahu. Hanya Ibunda yang menunduk sambil tersenyum malu.


"Lakukan jika kalian mau!" seru Ayahanda setelah hanya ada hening sebagai jeda sebelum aku mulai menindai seluruh wajah mas Revi yang duduk di seberang meja dalam ingatanku.


"Tatap aku mas Revi. Tatap aku selagi mas Revi bisa menatapku dengan jelas. Karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi setelah hari ini."


... Happy Reading 🄰...


...Maaf slow update....

__ADS_1


__ADS_2