
Setengah jam kemudian, saat aku baru menyantap setengah makananku, seorang abdi dalem mendatangiku dengan terburu-buru.
"Maaf, ndoro putri. Ada tamu yang menunggu di depan pintu gerbang." ujarnya sambil membungkuk hormat.
Aku mengangguk, lalu melanjutkan lagi menyantap sayur lodeh dan tempe hingga habis tak tersisa. Aku lapar sekali hari ini, sudah dua kali aku nambah makan siangku yang aku rapel dengan sarapan pagi.
***
Aku berjalan menuju pintu gerbang sembari menghela nafas panjang. Dia, laki-laki yang tadi siang menganggukku ternyata benar-benar datang ke rumah! Lewat pintu gerbang belakang, pintu yang dikhususkan untuk anggota keluarga kerajaan yang tertutup untuk umum.
Entah tujuannya apa, tapi dia benar-benar sudah merusak suasana hatiku.
"Kamu lagi!" ujarku dengan nada datar, wajahku sama sekali tidak menunjukkan rona bahagia menyambut kedatangan tamu dari antah berantah ini.
"Kalau mau piknik lewat pintu depan! Bukan disini!" ucapku menunjukkan ketidaksukaan.
"Aku tamu loh, di sambut yang ramah kenapa? Minimal dibukakan pintu gerbangnya biar aku bisa masuk sembari melihat-lihat rumah adik kelasku!" sahutnya setelah membuang asap rokok vape beraroma coklat.
Aku mengibas-ibaskan tanganku untuk mengusir asap rokok yang menerpa wajahku.
"Enak saja lihat-lihat, bukan museum ini! Museumnya ada di depan sana!" Tunjukku ke arah utara dengan nada ketus, walaupun aku juga menyadari rumah ini memang lawas dan sudah turun-temurun diberikan untuk raja-raja yang memimpin istana. TAPI aku juga gak rela rumah ini dibilang seperti museum!
"Siapa yang bilang rumah kamu museum!?" Ia mengerutkan keningnya, lalu tersenyum jenaka, "aku kan cuma mau melihat-lihat mahkluk antik sepertimu."
Aku menginjak-injak konblok lalu menggeram kesal.
Duh, Gusti. Aku capek, sedangkan dia tersenyum manis seolah hanya menelan kata-kataku dengan sabar atau sama sekali tidak menghiraukannya. Dadaku bergemuruh oleh kesal yang bertubi-tubi.
"Ada apa, Lilah?" Aku berbalik, terlalu fokus dengan laki-laki keras kepala itu, aku sampai tidak menyadari jika Ayahanda sudah berada di belakangku. Ayahanda merangkul bahuku dan membisikkan sesuatu.
"Bukan Ayahanda! Aku tidak kenal dengan laki-laki itu! Temanku cuma Baskara, Ayahanda tahu itu!" jelasku menolak mentah-mentah saat Ayahanda menerka sendiri kalau laki-laki bernama Revi itu adalah teman baruku.
"Benar begitu anak muda?" tanya Ayahanda kepada Revi.
__ADS_1
Revi terlihat gelagapan, wajahnya pias, ia memasukan rokok vape ke dalam kantong celana jeans-nya lalu mengangguk mantap.
Ia membungkuk lantas menyelipkan tangannya ke sela-sela gerbang untuk bersalaman dengan Ayahanda.
Ayahanda tersenyum ramah, lalu membuka gembok pintu gerbang dengan kunci cadangan yang slalu Ayahanda bawa sendiri.
"Silahkan masuk dulu anak muda." ujar Ayahanda menyambut Revi. Revi mengangguk sambil tersenyum. Ia menghidupkan motornya lalu membawanya masuk ke area parkir.
"Lilah, ajak temannya ke pendopo." ujar Ayahanda kepadaku, Ayahanda tersenyum, dan senyumnya sungguh menyebalkan. Ayahanda pasti akan menjadikan kejadian ini sebagai cerita yang tidak ada habisnya.
Ingin sekali aku menolak perintah Ayahanda. Tapi, Revi dengan percaya diri sudah mendekati Ayahanda. Membungkuk hormat sembari mencium punggung tangan Ayahanda.
"Perkenalkan nama saya Revi Bramasta, Kanjeng Sultan. Saya ketua OSIS di sekolah, kelas dua jurusan IPA." jelas Revi.
Ayahanda menepuk bahu Revi sebelah kiri, lalu mengangguk paham.
"Terimakasih sudah mengunjungi putri saya. Silahkan masuk, ada ibundanya di dalam rumah. Saya harus pergi." ujar Ayahanda lugas. Pun, Revi dengan sangat gembira mengiyakan sambutan Ayahanda.
Aku menarik ujung kemeja batik yang Ayahanda kenakan, dengan raut wajah masam, bibir yang cemberut, aku menggeleng pelan.
"Tapi ini rumah kita Ayahanda, kawasan pribadi!" sergahku cepat.
"Sama saja." balas Ayahanda.
Tak ingin berkelit lagi, aku mencium punggung tangan Ayahanda dan mencium pipi kirinya. Aku berjalan meninggalkan Revi yang tercenung melihat tingkahku.
"Ayo..." ujarku saat Revi masih memandang kosong bayanganku. Ku ambil kerikil lalu melemparkannya ke arah kakinya, "denger gak?"
Ayahanda menghidupkan klakson mobil yang lantas membuat Revi tersentak kaget. Terlihat dari kaca mobil yang terbuka setengah, Ayahanda tersenyum jail.
"Cukup romantis." ujar Revi menjajari langkahku.
"Apanya?" tanyaku sembari berjalan dengan pelan.
__ADS_1
Rumah, berbeda dengan di sekolah. Disini aku harus taat, karena aku juga di lihat oleh abdi dalem yang juga ikut mempertahankan benteng istana. Tidak mungkin, aku bertingkah laku seperti bukan anak raja.
"Kamu dan Ayahanda. Kalian berdua pasti akrab ya?" tanyanya dengan kening yang berkerut.
Ayahanda? Gusti Kanjeng Sultan kali! Panggilan Ayahanda hanya dikhususkan untuk kami anak-anak beliau.
Lama-lama ini orang ngelunjak ya! Udah di kasih hati minta ampela, serakah deh!
"Duduk dulu, lepas sepatu dan jaketnya. Aku ambilkan minum!"
Sekali lagi, Revi hanya mengangguk-angguk sambil menatap liar seluruh bangunan disekelilingnya.
"Yang sopan! Disini ada penunggunya! Kalau kamu kurang ajar, rasakan sendiri akibatnya!" ujarku memperingati.
Sungguh, ketua OSIS ini cukup punya nyali untuk mendatangi rumah ini. Bahkan Bimo saja yang tiga tahun bersaing denganku, tidak pernah atau bahkan punya niatan menemuiku dirumah sebagai tamu atau temanku. Hanya saja, dia memang beberapa kali terlihat berkunjung ke kawasan keraton yang dibuka untuk umum. Dan, aku slalu menghindarinya.
Tiba di dapur aku mengambil satu cangkir teh dan menyeduh teh, jika bukan karena perintah Ayahanda. Malas sekali aku menjamunya. Mana Ibunda yang baru datang dari luar bertanya-tanya siapa laki-laki yang duduk di pendopo.
"Revi, ketua OSIS, Ibunda sayang." jawabku.
"Baru sehari sekolah sudah di apelin ketua OSIS! Mbak hebat ya, dari SMP sering banget berurusan dengan ketua OSIS. Siapa tadi Mbak namanya?" tanya Ibunda lagi, sungguh wajah Ibunda sedang tidak serius, Ibunda pasti mengajakku bercanda!
"Revi, Bun. Revi." jawabku malas.
"Namanya seperti nama cewek ya, Mbak. Tapi dia pemberani lho! Berani datang kesini, tanpa bawa buah tangan lagi." Ibunda menggeleng sambil menahan tawa.
Aku mengangkat nampan berisi secangkir teh manis dan beberapa kue yang sering Oma kirimkan ke rumah. Oma Laura dan Opa Herman masih tinggal di rumah utama, berbarengan dengan Eyang Uti dan Eyang Kakung.
"Lebih baik Ibunda urus saja si Bengal, Dalilah sudah cukup dewasa menghadapi ini!" jelasku yang disambut tawa meriah oleh Ibunda.
"Yakin, Mbak? Ati-ati lho... kalau hanya berdua-duaan nanti bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Seperti canggung, malu-malu kucing, salah tingkah, terus-terus nanti jadi kepikiran, terngiang-ngiang. Itu yang bikin gak nyaman." jelas Ibunda, semringah bak mengingat masa mudanya bersama Ayahanda.
"Ibunda sepertinya mengalami pubertas yang kedua!" ledekku sambil lalu dari dapur. Ibunda tertawa kecil, lalu tetap dengan niatan utamanya. Ibunda menemaniku menemui Revi.
__ADS_1