
Dalilah.
Pagi itu aku terpaksa ikut mas Revi ke dalam bus. Aku sebenarnya senang, tapi juga gusar. Gimana tidak, bodyguard ku tidak ada di sini, tidak ada yang jagain aku. Apalagi di dalam bus ini isinya hanya kakak kelas. Aku jadi minder sendiri, maka dari itu aku sengaja mengirimkan pesan untuk Bimo agar tidak perlu mengkhawatirkan aku dan aku butuh semangatnya.
Kakak kelasku cantik-cantik, gaul gitu, pakai rok mini, rambut di kucir dua, sepatu kets dengan kaos kaki panjang menutupi seluruh betis. Cuma aku yang terlihat jadul. Pakai jarik, pakai mahkota bulu angsa warna pink. Mana sepatunya selop pula.
Dilihat darimana aja aku ini tidak gaul. Gak pantas bersanding di samping mas Revi yang kelihatan keren banget kalau pakai seragam basket. Sumpah, pacarku bisa keren gini ya. Gak nyesel Lilah jatuh cinta sama mas Revi. Tapi juga malu sendiri.
Mas Revi memberikan hpnya saat aku bilang jika hp ku adalah privasi. Dia kelihatan curiga, namun ya sudah dia tetap membiarkan aku menyembunyikan hp ku lagi ke dalam tas ransel.
Aku tidak berminat untuk menyelidiki siapa saja yang sering berhubungan dengan mas Revi melalui sosial medianya. Karena, ini adalah privasinya seperti ucapanku tadi. Aku hanya perlu percaya jika mas Revi gak macam-macam dengan lawan jenisnya selain aku.
Berbeda denganku yang memiliki rahasia dibalik chattingan ku dengan Bimo. He... Aku curang ya? Tapi isinya hanya soal pekerjaannya kok, tidak lebih.
Aku memilih untuk mengajaknya berfoto-foto ria untuk mengusir rasa tidak nyamanku disini, begitupun ejekan dari kakak kelasku yang mengagumi ku namun dengan nada mengejek. Kenapa sih? Seperti tidak pernah melihatku menari saja atau berkunjung ke istana. Bukannya sekarang kegiatan di istana bisa di lihat di semua situs jejaring sosial ya? Kenapa sih gak membuka sedikit mata kalian untuk budaya kita yang masih ada. Ish... Jadi kesal sendiri kan.
Setibanya di gedung olahraga. Aku turun dari bus dan di sambut keluargaku. Begitupun Bimo yang sudah berbincang-bincang kalem dengan Suryawijaya.
Bisa begitu ya mereka berdua. Akur dan seperti teman lama. Beda banget kelakuan Suryawijaya kalau ketemu sama mas Revi.
Galaknya gak kira-kira, apalagi setelah kejadian itu. Makin-makin deh gak karuan. Makanya mas Revi sekarang jarang ke rumah.
Aku mengajak mas Revi untuk ikut menemui keluargaku. Namun, mas Revi menolaknya. Ia memilih mengorganisasikan tim basket dan cheers leader sekolah.
Aku mencium punggung tangan Ayahanda dan Ibunda seraya tersenyum lebar.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Ibunda heran.
"Lilah mau pentas. Bunda mau lihat?" tanyaku antusias sembari memegang kedua tangan Ibunda. Ibunda pasti tahu aku gerogi, makanya Ibunda terus senyum seraya menggoyangkan tanganku.
"Ibunda akan melihatmu menari. Jadi menarilah yang bagus, menarilah sendiri, seolah tidak ada saingannya. Jadi, bebas. Begitupun ekspresinya. Harus seperti nyamuk manja."
__ADS_1
Aku terkekeh saat Ayahanda juga terkekeh sembari menatap Ibunda penuh sayang dan kilau geli dari mata tuanya.
"Nyamuk manja? Seperti apa, Bunda. Bikin gatal tidak?"
"Terbang... Terbang berputar-putar lalu hap! Bikin semua yang lihat jadi gatal untuk ikut-ikutan menari seperti Mbak Lilah."
Ayahanda terkekeh geli seraya menggeleng. "Ada-ada saja ibumu ini."
"Bundaku..." ucapku bangga sambil menyandarkan kepala di lengan Ibunda. Ibunda langsung bersin-bersin sembari mendorongku untuk menjauh.
"Bulunya, Mbak! Nusuk hidung Bunda!" sungut Ibunda sembari mengambil sapu tangan di tas tentengnya untuk mengusap ingus cair dari lubang hidungnya.
Aku dan Ayahanda terkekeh. Suryawijaya mesem, menyembunyikan senyum manis yang konon kata eyang uti mirip sekali dengan Ayahanda saat muda.
"Mesem terus... Coba lihat giginya!" pintaku padanya dengan maksa. Suryawijaya mendengus dingin sembari menolehkan kepalanya.
"Gini amat punya adik! Tapi aku bangga denganmu, Sur. Kamu dikerubungi banyak cewek-cewek, pemujamu banyak juga." gurauku padanya.
Aku menoleh ke arah Ayahanda dengan wajah manja seperti kucing kecil yang sedang kehujanan. "Ayahanda... Lilah mau ditusuk sama adik!" ucapku dengan manja. Ayahanda terkekeh seraya membetulkan posisi mahkotaku.
"Pergilah. Semoga berhasil."
Aku memeluk Ayahanda sebelum pergi menuju kerumunan teman-temanku.
Mas Revi tersenyum saat aku berada di dekatnya. "Semangat princess! Do the best! Kamu bisa."
Aku mengangguk dan meninggalkannya sebelum bergabung bersama teman-temanku yang 'sibuk' mengabadikan aku.
Berasa jadi artis deh karena aku benar-benar memikat perhatian siswa-siswi yang berada di sini. Khususnya siswa-siswi yang ikut dalam perlombaan hari ini. Perlombaan tingkat SMA kota.
Aku berjalan mengikuti guru seni seraya tersenyum manis kepada siapa saja yang melihatku dengan heran dan terpesona. Biar saja pada klepek-klepek melihatku, biar mas Revi tahu. Pacarnya juga cantik, gak kalah menarik daripada tim cheers leader itu. Cewek-cewek cantik yang mengerubunginya sepanjang hari ini.
__ADS_1
Aku menunggu giliran di tempat duduk sembari melihat-lihat keadaan sekeliling. Cukup banyak yang ikut dalam perlombaan kategori seni budaya hari ini. Ada yang main band, nyanyi, dance K-Pop dan bakat lain yang tak kalah memukau. Hingga tatapanku bertumbuk dengan Bimo saat aku memutar-mutar kepalaku untuk melihat-lihat.
"Kenapa?" tanyaku.
"Tidak." jawabnya sambil mengerjap.
"Kok cuma tidak? Laporan ya?" selidik ku sambil terkekeh.
Bimo mengangguk, ia mengeluarkan buku kecilnya untuk mencatat 'kegiatanku' lengkap dengan jamnya. Mirip buku diary tapi versi laki-laki. Tidak panjang tapi detail sekali.
"Aku tadi duduk sama mas Revi. Foto-foto pakai hpnya. Gak aneh-aneh kok!" dustaku karena tidak menjelaskan masalah sentuhan tak sengaja di paha tadi.
Bimo berdehem sambil menulisnya. Ia mendongak sembari mengamati wajahku seolah mencari sesuatu. Slalu begitu sampai ia puas, lalu membuang nafas dan menunduk lagi.
"Nanti fotoin aku ya! Ambil angle yang bagus. Kamu bawa kamera kan?" tanyaku .
Bimo menepuk tas ranselnya. "Saya nanti juga harus foto-foto ndomas Suryawijaya. Diminta Ibunda Ratu."
Aku ber-oh sambil menganggukkan kepala. "Akrab banget sama Susur. Ngobrol apa aja kalian kalau berdua?" selidikku cukup heran. Bukannya gak seru ngobrol dengan sesama introver. Tapi herannya mereka betah-betah aja berjam-jam ngobrol berdua. Apa coba yang dibicarakan keduanya sampai aku heran sama mereka.
"Bim, jawab!"
"Semua tentangmu." jawabnya dengan nada datar.
Mataku langsung membulat sempurna sebelum beranjak untuk maju ke depan panggung.
Semua tentangmu?
Apa Suryawijaya membocorkan rahasiaku? Atau Bimo malah mencari-cari tahu tentang kesukaanku dan lain-lainnya yang berhubungan denganku. Tanpa sadar aku terserimpet jarik dan nyaris nyusruk ke atas konblok jika tidak ditarik oleh laki-laki itu.
"Kamu melamun?"
__ADS_1
...Happy Reading....