
Revi.
Hari Senin slalu menjadi hari yang menyebalkan bagi pelajar, tapi tidak lagi bagiku. Sekolah, menjadi waktu dimana aku bisa mengawasi princess dengan baik. Paling tidak aku sudah bertemu dengan pacarku meski hanya diwaktu istirahat dan pulang sekolah.
Berbekal pendidikan rayuan pulau kelapa yang diajarkan oleh kakak laki-lakiku sepanjang hari Minggu di studio musik. Aku yakin 100% taktik yang diajarkan oleh Prince Husein Bagawanta akan berhasil dalam menaklukkan hati princess.
"Kamu tahu kenapa namanya rayuan pulau kelapa?" tanya Prince Husein kala itu sambil memetik gitar akustiknya.
"Kenapa? Aku lagi gak minat bercanda!" jawabku ketus, walaupun aku penasaran.
"Coba kamu nyanyiin reffnya!" pinta Prince.
Aku mengerutkan keningku. Sebenarnya ini mau ngajarin ngerayu cewek atau mau belajar nyanyi lagu rayuan pulau kelapa sih, kak! Tapi aku gak peduli, aku mengambil mic dan menyanyikan reffnya.
^^^Melambai lambai^^^
^^^Nyiur di pantai^^^
^^^Berbisik-bisik^^^
^^^Raja Kelana^^^
^^^Memuja pulau^^^
^^^Nan indah permai^^^
^^^Tanah Airku^^^
^^^Indonesia^^^
"Jadi cowok jangan malu buat melambai-lambai, maksudnya, kalau dia jual mahal 'jelas', kamu yang harus memulainya. Ajak ke kemana aja yang dia mau tapi jangan maksa!" jelas Prince.
Aku memandanginya penuh minat, Prince lagi-lagi menyambungkan penjelasannya.
"Berbisik-bisik itu perlu, pakai kata-kata mutiara. Usahakan kamu seperti angin, maksudnya, kamu tau angin kan Rev. Udara! Satu elemen penting kehidupan yang membuat kita hidup!"
Aku mengangguk, Prince lagi-lagi memetik gitar akustiknya lalu berucap seperti membaca sebuah puisi. Sialnya aku malah terpana mendengar ejaannya kata-kata yang diucapkan Prince, tapi yang aku ingat, aku cukup menjadi seperti Raja Kelana. Angin.
Jadilah pagi ini, aku sudah standby di depan kelasnya. Menunggu princess datang dan mengajaknya untuk makan bersama di kantin saat jam istirahat nanti. Princess setuju, ia sedikit bicara ceriwis yang membuatku senang tapi ia juga berkata ingin bicara dengan nada serius. Aku jadi gelisah.
__ADS_1
Selama pelajaran berjam-jam yang terlewatkan, tak ada satupun materi kimia tentang laju reaksi yang masuk ke dalam otakku. Pikiranku terjun bebas ke dalam pembicaraan nanti dengan princess. Hatiku gelisah terus menerus, ingin segera tahu pertanyaan-pertanyaan yang akan bermunculan nanti.
"Jangan ngelamun terus, Rev! Sekolah kita banyak penunggunya. Londo ada, pribumi juga ada! Kamu mau kesurupan hantu yang mana!" ujar sahabatku, Reno.
"Jangan ngomong sembarangan! Lo mau penunggu sekolah ini ngamuk terus bikin kesurupan massal?" timpal teman sebangkunya.
"Tar nge-band ajalah, Rev. Biar aliran darahmu lancar!"
"Njir... Ntar gampanglah. Mommy juga lagi pergi ke rumah kakak. Sekarang, aku mau menjemput tuan putri dulu!" ujarku riang sambil beranjak. Teman-temanku bersorak-sorai, mereka merangkul bahuku sampai ke depan kelas.
"Jalan kita tak lagi sama, Rev!" gurau Reno.
"Berlebihan deh mas!" ujar ku yang langsung diberi balas tawa mereka. Aku melambaikan tangan sebelum menyusuri koridor sekolah untuk menghampiri princess dikelasnya.
Princess masih ada di tempat duduknya dan aku pastikan ia menunggu kedatanganku. Betapa sukanya aku dengan kelakuannya itu.
Aku memesankan bakso dan teh hangat sebelum duduk bergabung dengan teman-temanku karena itu yang menjadi makanan favoritnya selama di sekolah. Princess duduk di sebelahku---meskipun menjaga jarak aman.
Asyik mengobrol rencana latihan band nanti sore, aku tidak menyadari bahwa ia sudah menghabiskan makanannya.
Satu pertanyaan dua pertanyaan, aku jawab sekenanya. Princess berdiri, cemberut. Aku menghela nafas, gadis seusianya memang suka ngambekan, gak peduli meskipun gelarnya tuan putri.
Di ruang OSIS yang sepi dan tak berpenghuni, dua anak manusia yang ingin merajut asa bersama sedang dalam tahap seleksi selanjutnya.
Pembicaraan kali ini terdengar alot, sangat alot. Princess berkata blak-blakan tanpa memfilter ucapannya tentang isi hatinya. Aku tertegun, tapi bukan berarti aku menyerah begitu saja. Masih ada banyak cara untuk membuatnya menjadi milikku.
Berbekal ilmu rayuan pulau kelapa yang melambai-lambai dan berbisik-bisik itu, aku melancarkan aksiku. Entah berhasil atau tidak, princess akan tahu jika berminggu-minggu setelah tragedi ruang OSIS yang menyesakkan dada dan membuatku pusing kepala. Masih ada secercah harapan yang indah bagiku.
Berminggu-minggu aku menempeli kegiatannya di sekolah, setelahnya aku mengajaknya jalan-jalan ke mana saja yang ia mau. Begitupun sebaliknya hanya untuk proses pdkt yang kami sepakati. Kami benar-benar mencoba untuk saling mendekatkan diri. Mengenal satu sama lain dan melupakan taruhan kemarin.
Pokoknya berminggu-minggu itu, aku jalanin sesuai perjanjian yang aku dan princess sepakati. Dimana ada princess, disitu ada aku. Segera saja jabatanku bertambah, tidak hanya ketua OSIS. Tapi juga pengawal pribadi princess. Aku membuat dunianya hanya ada aku! Egois, biarkan saja. Menyebalkan? Jelas sekali.
Setelah sekian hari yang begitu bermacam-macam rasa. Aku bertemu dengan malam Minggu lagi, dan memutuskan untuk menembakkannya. Menembakkannya secara langsung di gerbang rumahnya.
"Kok cuma disini, ayo masuk!" ajak princess dimalam yang penuh bintang tanpa jantung yang deg-degan seperti jantungku.
"Ini sudah terlalu malam untuk bertamu, aku juga cuma sebentar." jawabku sembari tersenyum tipis. Bisa gagal nembaknya kalau harus masuk ke dalam rumahnya. Belum menghadapi adik-adiknya yang kalau aku ngapel ke rumah princess slalu ada dan seolah menjadi mata-mata kedua orangtuanya.
"Kenapa cuma sebentar? Ini masih jam tujuh, Ayahanda mengizinkan aku menerima tamu sampai jam delapan." jelasnya dengan wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Karena aku cuma mau nembak kamu, aku serius. Ini bunga dari aku, cuma satu, karena kamu memang satu-satunya dalam hatiku."
Ku ulurkan bunga mawar putih yang aku selipkan di celana jeans ku. Dibagian belakang.
"Kalau bunganya banyak?" tanyanya,
"Hatimu bukan ada aku saja?" matanya menyipit curiga.
"Iya, hatiku ada mommy, daddy, dan semua yang aku miliki. Keluarga, sahabat, orang-orang baik yang membantuku, dan Tuhan."
"Aku suka jawabannya. Aku terima."
"Kamu menerimaku menjadi pacarku? Beneran?" tanyaku serius dengan mata yang menatapnya lekat-lekat.
"Aku terima bunganya!" balasnya sambil tersenyum.
"Jadi maksudmu gimana? Jawab aja yang jujur! Biar aku tahu jalan mana yang harus aku pilih setelah pulang dari sini." ujarku lugas.
"Memang ada jalan lain selain rumahku?"
"Ada."
"Jalan menuju rumah siapa?" tanyanya dengan nada curiga.
"Jalan menuju Rahmatullah!"
"Aku serius!"
"Aku juga!"
Princess cemberut. Lalu kami sama-sama terdiam di malam yang terus berjalan penuh dengan kegelisahan. Andaikata segala usaha sudah aku jalankan dan segala hasil yang bakal aku terima tidak sesuai dengan pengharapan. Aku tidak apa-apa, akan ada pengharapan lagi setelah putus asa. Dan, melupakan adalah jalan yang aku tempuh setelah ini.
"Aku masih memberi waktu buat kamu meralat ucapanmu. Karena setelah aku menerima tembakan yang kamu berikan, seluruh dunia akan tahu, kamu cinta pertamaku."
"Aku cinta pertamamu!"
Dan setelah malam kian gelap. Ketentraman aku dapatkan dari pesan singkat yang ia kirimkan ke nomer HPku.
"❤️"
__ADS_1
...Happy Reading 🥰...