ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 70


__ADS_3

Revi.


"Kamu kenapa sih, yang? Sewot banget!" seruku sambil memasang helm di kepala Dalilah, ia tersenyum namun langsung menjep lagi.


"Aku tadi antusias karena kamu begitu seperti bunga. Wangi, indah, manis. Lebah mana yang tidak mau menghinggapi mu!" kataku lagi sambil memasang pengait helm.


"Mas Revi bukan lebah, tapi tawon ndas!" cercanya sebelum menunjuk motor Bimo.


"Ayo kita pakai saja motornya, biar Bimo pakai motor mas Revi!" putusnya secara sepihak bahkan aku belum mengiyakan.


"Kuncinya, Bim! Aku sama mas Revi pinjem motor kamu. Kamu pakai motornya dan tunggu aku di depan rumah sakit." katanya pada Bimo sambil menengadah.


"Naik mobil mas Reno aja, Dek! Biar gak kepanasan." timpal Reno setelah bergabung, princess tersenyum lebar dan menggeleng. Untunglah dia sadar masih menganggapku pacar. Kalau tidak.


Betapa hancurnya hatiku gara-gara Lilah memilih naik mobil daripada motor bebek pinjaman ini.


"Gak usah cari masalah, Ren! Mobil punya bokap aja sombong." ujar ku sambil menggeser posisi princess.


"Bim... Bisa gak kedua laki-laki ini kamu binasakan saja?" kata princess galak. Bimo menatapku dan Reno secara bergantian.


"Apa? Mau dua lawan satu?" tantang ku.


"Dua lawan dua! Mas Revi juga harus lawan Lilah!" kata princess lagi. Galak.


Fix, cewek dengan mood swing seperti Dalilah ini pasti sedang otw menstruasi.


Aku merogoh kunci motorku dan segenap STNK dan BPKBnya, karena surat-surat itu ada di dalam bagasi motor.


"Bisa pakai motor kopling kan?" tanyaku pada Bimo. "Kalau gak bisa, ya maaf aja sayangku Dalilah. Kita naik saja motorku, dan ini keburu sore. Aku ada latihan vokal nanti." jelasku pada princess.


"Aku bisa! Tolong pastikan ndoro putri tidak kenapa-kenapa selama bersama dengan mas Revi." jawab Bimo seraya mengambil kunci motorku.


"Hati-hati, motorku berat." kataku iseng saat ia sudah menaiki motorku.


"Lebih berat membawa ndoro putri!" balasnya sebelum menggeber motorku keluar dari parkiran sekolah.


Reno cekakakan, begitu juga Dalilah yang cekikikan. Hanya aku yang melotot karena penuturan Bimo.


"Aku duluan, sekalian dibeliin buah gak nanti?" tanya Reno.


"Gak usah mas. Lilah kemarin sudah bawa. Mungkin sekarang masih utuh. Bimo cuma bertiga dengan orangtuanya."


Reno mengangguk sambil melambaikan tangan.


"Ayo kita otw sekarang. Mau makan siang dulu gak, yang?" tanyaku sambil berjalan mendekati motor bebek ini.

__ADS_1


"Boleh. Nanti kita bungkus juga buat Bimo dan ibunya. Bisa?" tanya princess sambil melingkarkan tangan kanannya di perutku.


Aku sempat terkesiap tapi boleh juga idenya meminta Bimo untuk memakai motorku, karena motor sport tidak bisa dibawa pelan. Dan princess menginginkan waktu yang lebih banyak denganku, dengan motor bebek ini.


"Aku suka caramu! Kita mampir aja ke rumah makan nasi padang." jawabku sebelum menggeber motor ini. Cukup canggung karena tidak biasa memakainya.


Setibanya di rumah makan, kami berdua memesan makanan dan tanpa basa-basi langsung menyantapnya dengan tenang.


Setelah kenyang, aku membayar tagihan makan sekalian mengambil pesanan untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah itu, baru saja naik ke atas motor princess memintaku untuk buru-buru ke rumah sakit.


"Sabar, yang! Kamu gak inget kata-kata Bimo tadi! Bawa ndoro putri itu lebih berat daripada mengetahui kenyataan bahwa bensinnya nyaris habis!" kataku sambil mendesis.


"Ya sudah, ayo kita isi bensinnya sampai full. Biar sekalian berbuat baik tidak perlu tanggung-tanggung!" kata princess dengan enteng.


"Sendiko dhawuh ndoro putri." kataku sambil menggeber motor ini pelan-pelan untuk mencari penjual bensin eceran.


"Dua liter mas!" kataku sambil mengeluarkan uang dua puluh lima ribu.


Princess mengamati penjual bensin itu penuh minat, seperti penasaran dan benar-benar iya. Ia meminta penjualan bensin untuk menyingkir dan ia sendiri yang menuangkan bensin itu ke dalam tangki bensin.


"This is my first time, mas Revi!" katanya tersenyum puas.


"Kelas dua besok kamu bakal kemah dan long march, jadi kamu bisa membebaskan jiwa muda mu saat persami." jelasku. Princess mengangguk dan membonceng lagi.


"Lama banget! Ngapain sih, Rev?" cerca Reno saat kami sudah berada di depan rumah sakit.


"Tuan putri butuh makan siang, Ren! Kalau gak bisa sakit. Kena lagi aku nanti."


"Jadi kamu bawa apa, Dek?" tanya Reno penasaran kepada Dalilah. Sumpah Reno ini sok akrab banget dengan pacarku, dan pacarku nyaman-nyaman saja di panggil 'Dek' olehnya.


"Nasi padang buat Bimo dan ibunya. Mas Reno sudah makan siang?" tanyanya dengan polos dan manis.


"Belum! Mas Reno nungguin kalian berdua, sedangkan Bimo sudah di ruang inap bapaknya." kata Reno.


Demi Tuhan. Mas Reno ini sepertinya memang harus di tonjok ulu hatinya biar tahu sakit hati itu seperti apa. Bisa-bisanya ia juga curi-curi kesempatan untuk mendekati pacarku.


Sungguh tanganku geli sekali untuk menonyor kepalanya. Tapi princess pasti ngomel-ngomel lagi.


Aku menghela nafas sebelum mengikuti princess yang masih hafal dimana keluarga Bimo berada.


Di dalam lift, tiga remaja SMA saling berdiri sambil memandang pantulan kami di cermin. Reno tersenyum, Dalilah juga. Aku yang berada ditengah-tengah diantara mereka jengah.


"Apanya yang lucu?" tanyaku.


"Gak ada. Perasaanmu aja, Rev." jawab Reno.

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan kami disambut Bimo yang bergeming menatap kami bertiga yang keluar satu persatu dari lift.


"Ini, Bim. Dimakan! Dari mas Revi." ujar princess sambil menyerahkan sekantong plastik nasi padang ke tangan Bimo. "Enak, Lilah tadi sudah coba. Ayo bilang makasih sama mas Revi." katanya dengan lembut.


Aku yang sedaritadi melihat mereka berdua tersenyum kikuk saat Bimo menyorot ku dengan wajah yang melunak.


"Terimakasih mas Revi." ujarnya sambil membungkukkan badan.


"Ayolah... Aku pacarnya tuan putri! Kamu sudah membantuku menjaga tuan putri. Jadi, anggap saja. Aku ini bukan musuh utama yang harus kamu awasi, tapi aku ini kawanmu atau kamu bisa menganggapku kakak. Jadi adik harus menurut dengan kakak!"


Reno terbahak lagi. Nyinyirannya kembali kumat, tidak tahu tempat. "Uluh-uluh, adik ketemu gede kelihatan mesra banget." katanya saat Bimo mengangguk setuju.


"Mari." ujar Bimo seraya berjalan mendahului kami.


Aku menggandeng tangan princess sebelum masuk ke ruang inap Bapak Cipto Sastrowijoyo.


Aku menyalami ibunya Bimo seraya berbasa-basi sebentar sebelum mengeluarkan amplop coklat yang berisi sejumlah uang dengan nominal hampir lima juta.


Jumlah yang tidak banyak untuk melunasi biaya rumah sakit dengan kondisi yang dialami pak Cipto.


Benar kata Lilah. Tidak ada yang mengalahkan sikap tenang yang Bimo tunjukkan meski keadaan sedang awut-awutan.


"Terimakasih banyak atas kunjungannya ndoro putri, mas Revi, mas Reno. Saya sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan dari sekolah. Sampaikan salam saya kepada kelapa sekolah dan yang lainnya. Maaf hanya saya anggurin." ujar ibunya Bimo seraya tersenyum tipis saat kami berpamitan di depan kamar inap.


"Semoga bisa membantu, Bu. Kami permisi pulang." kata Reno sebelum ia mengulurkan tangan dengan sopan.


"Semoga lekas membaik, Bu." kataku juga ikut mengulurkan tangan.


Princess yang sedaritadi bercakap-cakap lirih dengan Bimo tersenyum kecil saat aku menghampiri mereka.


"Motornya mas Revi Bimo pinjam dulu katanya buat cari cewek cantik." gurau princess sambil mengedipkan sebelah matanya.


Terserah. batinku, yang penting princess pulang bareng aku sekarang.


"Nanti bilang ke Ayahanda kalau Lilah pulang telat karena ke rumah sakit dulu ikut kamu, terus baru kamu antar pulang! Oke, Bim?"


Bimo berdehem dan lagi-lagi aku mendapat tatapan mengancam darinya.


"Tuan putri aman bareng kakak, kamu tenang aja Bim!"


"Terimakasih!" katanya singkat.


Aku, Reno dan princess kembali masuk ke dalam lift. Kami diam dan aku yakin, melihat keluarga Bimo yang memang butuh banyak bantuan. Kami tidak akan tinggal diam.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2