
Dalilah.
"Kenapa cemberut? Berantem sama Revi?" tanya Derren sambil menaruh stik drumnya.
Aku mendengus. "Lilah habis mengalami body shaming!"
Derren mengusap keringatnya, mengamatiku sebentar lalu meminum air mineral. Ia tersenyum saat aku kembali mendesah lelah.
Gladi resik hari ini teramat melelahkan. Bukan karena aku lelah berlatih, tapi karena mas Revi. Aku kecil, iya kecil. Tidak seksi seperti setan-setan paling indah di sekolah.
"Kamu di bully? Sama?" tanya Derren dengan raut wajah penasaran.
"Sama mas Revi!" Wajah Derren berubah jenaka. "Kok bisa?" tanyanya.
Aku mendengus. Tidak mungkin aku bertanya pada playboy satu ini kalau aku ini kecil, tidak seksi. Bisa-bisa mereka berdua hanya menjadi satu komplotan yang menertawakan aku.
Gadis kecil yang imut-imut.
"Biasa, punya pacar mantan playboy memang penuh cobaan." jawabku akhirnya. Derren mengerutkan keningnya, mencoba berasumsi sendiri jika Revi mempunyai pacar baru selain aku.
"Berantem?" Mimik wajahnya berubah.
Aku menggeleng. "Apa menurutmu untuk sesama playboy, mas Revi tulus menyukaiku? Aku ingin tahu dari pandangan orang lain yang melihat kami berdua..."
Derren malah tertawa, ia nyaris memukulku dengan stik drumnya jika aku tak menepi. Aku memukul bahunya spontan, Derren mendesis.
"Sumpah, Lil! Pertanyaanmu itu konyol. Tapi, jika aku harus jujur..." Derren membuang waktu dengan mencermatiku baik-baik.
"Kamu dan Revi itu memang pacaran, tapi bagiku yang sering ketemu Revi di studio musik, dia terlihat seperti jomblo." Derren tersenyum simpul.
"Apa dia pernah bilang kalau iri karena teman-temannya bisa bebas dalam bergaul sedangkan pacaran denganku dia hanya bisa gandengan tangan itupun harus sembunyi-sembunyi?" selidikku. Aku ingin tahu dari Derren karena selama ini---sejak pertemuan pertama dulu, ia menjadi teman baik kami berdua, aku dan mas Revi.
Dadanya membusung saat Derren menghirup nafas dalam-dalam seraya membuangnya.
"Aku gak bisa jawab, Baby Revi... karena sesama playboy harus bisa menjaga rahasia." Derren menyeringai.
Aku berdecih. Sesama playboy aja bangga. Tapi aku sadar, pasti mas Revi pernah membahasnya.
"Apa dia berniat meninggalkanku jika bosan denganku dan aturan-aturan istana?" Mulutku melengkung masam, reaksi dari rasa tidak percaya diriku jika Derren menjawabnya iya.
__ADS_1
Aku bersandar sehingga aku bisa menatap Derren. Tapi menunggu Derren tak kunjung jawab, kecemasanku membumbung tinggi.
"Kita masih SMA, princess. Masih banyak persimpangan jalan yang akan kita lalui, jadi jangan terpaku sama cinta, tapi masa depan juga!" Derren tersenyum kecil,
"Lagian kecil-kecil udah pacaran aja! Wajahmu ini masih terlalu imut dan polos."
Aku mendesis dan menepis tangan Derren saat ia mencubit pipiku. Aku mengelus pipiku.
"Gemes! Anak raja kok mau-maunya diajak taruhan. Tapi untunglah sama Revi, dia cukup berani untuk mempunyai pacar sepertimu. Ayo pulang..." Derren membereskan barang bawaannya, sedangkan aku melepas selendang yang terikat di pinggangku.
Aku menatap sekeliling sambil berjalan keluar. Gedung serbaguna ini sudah sepi. Sudah banyak yang pulang sejak tiga puluh menit tadi, termasuk tim dance K-Pop. Aku tidak akrab dengan mereka karena aku ini aneh, katanya.
Hanya ada aku, darren dan Bimo---meski ia memilih diam sejak tadi karena aku harus melewati sesi curhat yang bikin aku mengerti bahwa mas Revi cukup tertekan berpacaran denganku. Aku membelenggu kebebasannya.
"Mau pulang bareng? Aku bawa mobil." ajak Derren. Aku menggeleng. "Aku pulang bareng Bimo, mas! Mandat dari Ayahanda."
Derren tergelak, ia langsung mengulurkan tangannya. Aku menggenggamnya.
"Senang bisa ketemu dan bekerjasama dengan cewek impossible sepertimu. Semoga kita berhasil, princess! Kita bawa pulang tropi juara satu atas kerja keras kita!" ucap Derren penuh tekad, aku mengangguk mantap.
"Semoga semesta merestui."
"Take care, kita ketemu lagi di bandara." Derren tersenyum manis seraya melambaikan tangannya. "Jangan kabur dari WA grup!" balasku mengancam.
Dari jauh aku lihat Derren menggeleng. Aku tersenyum kecil dan berbalik. Bimo membuang nafas, wajahnya terlihat lelah. Mungkin karena bosan untuk menungguku seharian.
"Mas Revi udah pulang, Bim?" tanyaku sambil menjajarinya. "Masih di lapangan basket."
"Aku mau ke sana!" Bimo mengikutiku walau aku juga lelah sama sepertinya. Apalagi besok aku sudah mulai puasa mutihan. Ritual khusus yang harus aku jalanin sebelum melakukan sesuatu yang penting agar berjalan lancar.
"Ndoro putri tidak makan dulu?" Entah perhatian atau suruhan, aku hanya menggeleng. "Nanti saja sebelum pulang kita mampir ke penyetan." jawabku sambil bergeming tak jauh dari lapangan basket.
Bimo menyandarkan bahu ke dinding dan bersedekap. Mas Revi terlihat memantul-mantulkan bola, menggiringnya ke arah keranjang. Bersorak girang saat bola berhasil masuk ke dalamnya.
Mataku perih. Aku kasian dengannya. Aku kasian dengan jiwa-jiwa nakalnya. Tapi bagaimanapun aku tidak mau melepas mas Revi. Bagiku dia adalah perasa buatan dalam hidupku.
"Bim...ayo pulang. Aku lapar." Bimo menaikkan kedua alisnya. "Tidak menunggu mas Revi selesai?" Aku menggeleng dan tersenyum. "Aku butuh istirahat, kamu juga."
Bimo mengangguk, dengan sikap datarnya ia berjalan mendahuluiku. Aku berbalik sebentar, mendengar nada-nada gembira yang tercipta dari lapangan basket.
__ADS_1
***
Aku dan Bimo berhenti di lesehan ayam penyet. Aku mau traktir dia makan, aku tahu dia juga lapar.
"Mau makan apa?" tanyaku sambil duduk.
"Ndoro putri mau makan apa?" tanyanya balik, masih berdiri.
"Ayam goreng kremes, teh hangat." Bimo mengangguk sambil lalu. Ia menemui pemilik kedai untuk memesan makanan kami. Aku tersenyum saat dia kembali.
"Kamu juga makan kan?" Bimo mengangguk.
"Kalau aku makan terus apa aku tambah besar, Bim?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Bimo mengurut hidungnya. Tidak menjawab.
"Apa pertanyaanku susah dijawab?"
Bimo mengangguk sambil mengambil tissue basah dari tasnya, ia mengulurkan padaku. "Bersihkan tanganmu dulu sebelum makan."
Aku membersihkan tanganku sambil melihatnya. Bimo sudah lama mengenalku. Dia tahu aku, dia suka mengamati aku walau diam aku tahu, dia pasti pernah memikirkan aku dalam batinnya.
"Apa waktu kita lulus sekolah nanti, kamu akan berhenti menjagaku dan memilih jalan hidupmu sendiri?"
Wajah Bimo mengeras. Ia melirikku sebentar lalu tersenyum kecil saat pelayan menaruh pesanan kami. Aku mengaduk teh hangat ku, ia menggeleng.
"Masih panas, tunggu."
Aku tidak mendengar peringatannya dan tetap meminumnya. Memang panas, lidahku terasa terbakar, dan aku gengsi dong jika terlihat konyol di depan Bimo. Si tuan benar.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Bim!" desakku lagi.
Jeda sejenak. "Saya belum yakin." jawabnya dengan lirih, begitu ambigu bagiku.
"Soalnya aku mau kuliah di Melbourne, tidak disini! Jadi kalau kamu masih menjagaku sampai ke Australia, aku tidak yakin orangtuamu akan mengizinkan." jelasku padanya, Bimo langsung menaruh nasinya yang hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Makan! Jangan bicara sebelum selesai menghabiskannya!" katanya tegas seperti Ayahanda. Aku merengut.
"Iya... Iya... Galak!"
Bimo melanjutkan makannya, diam, namun matanya aku tahu, melihat sebelah wajahku.
__ADS_1
...Happy Reading...