
Mia pun mendekati Rian, sedangkan Cahaya mendekati Mira.
"Papa kenap ada di sini" tanya Mia.
"Sayang, papa kesini mau jemput Mia pulang" jawab Rian.
"Enggak, Mia ngak mau" menjauhi Rian.
"Mia, om dan Tante sudah jelasin semua ke papa. Kalau Mia masih di sini tidak enak mengganggu keluarga orang."
Mia pun berjalan mendekati Cahaya sambil memegang tangan Cahaya, "Cahaya, aku minta maaf karena sudah merusak gambar kamu. Aku janji kok ngak akan ngelakuin hal seperti itu lagi, tolong aku jelasin sama papa kalau aku masih boleh di sini" Cahaya pun melepaskan tangan itu dan tidak berbicara sedikit pun.
Mia pun mendekati Mira saat di tolak oleh Cahaya, "Tante, Mia mohon jangan usir Mia. Mia senang tinggal di sini bersama dengan Tante, Mia janji akan jadi anak yang baik" ucapnya.
"Sayang, ini sudah keputusan yang terbaik untuk Mia. Mia harus nurut yah sama papa" ucap Mira sambil membelai rambut Mia.
Bagus yang sudah menahan emosinya segera bicara "Bik, tolong koper Mia yang sudah di siapkan masukkan ke dalam mobil papanya. Untuk dokter saya harap dokter menikah saja agar Mia mendapatkan ibu pengganti" Bagus pun berdiri mengajak Cahaya meninggalkan tempat itu.
Harisza dan Lilian yang baru pulang ke rumah melihat situasi tegang langsung bertanya "ada apa ini, kenapa koper itu di bawa keluar" tunjuk Harisza.
"Maaf om dan Tante sudah mengganggu, hari ini saya menjemput Mia untuk pulang ke rumah" jelas Rian.
"Kenapa pulang, bukannya kemarin baik-baik saja. Apa Mia udah kangen banget yah sama papa" tanya Lilian.
"Oma, tolong Mia. Mia ngak mau pulang" mendekati Lilian.
"Papa dan mama, tolong jangan di halangi yah karena ini sudah keputusan bersama" sambung Mira.
Harisza dan Lilian pun mengangguk, "ayo Mia kita pulang" Rian pun sambil memegang tangan Mia untuk keluar.
Mia saat itu hendak masuk ke mobil meneteskan air mata sambil memandang ke arah Mira yang melihatnya di depan pintu rumah.
"Ayo, Mia masuk" ucap Rian, Mia pun masuk ke dalam mobil dan pergi.
Mira yang saat itu masuk kedalam rumah menghampiri Bagus dan Cahaya di susulin oleh Harisza dan Lilian, "Mir, kenapa itu Mia pulang mendadak gini" tanya Lilian penasaran.
__ADS_1
"Gini ma, Cahaya dan Mia bertengkar jadi kita putuskan untuk mengembalikan Mia agar psikis kedua anak ini baik-baik" ucap Mira.
"Bukan bertengkar ma, tapi sih Mia itu gangguin Cahaya. Dia merusak gambaran Cahaya dengan sengaja karena dia tidak mau perhatian Mira di Cahaya" celoteh Bagus.
"Apa, Mia bisa tega seperti itu" tanya Harisza.
"Pasti tega donk pa, dia kan mewarisi sifat sih Rian.Licik" kesal Bagus.
"Mas, kamu ngak boleh bicara seperti itu di depan Cahaya. Intinya ma, pa, kita ngelakuin hal yang terbaik untuk Mia dan Cahaya" ucap Mira.
"Ayah, besok jadi kita pergi" sambung Cahaya.
"Iya jadi donk, hari ini kita siap-siap dan besok pagi kita otw" jawab Bagus.
"Horeeee" teriak Cahaya.
"Okey, apa pun itu mama dan papa tidak akan bertanya lagi karena keputusan kalian pasti yang terbaik. Kalau gitu ayo Cahaya kita ke kamar Cahaya packing soalnya opa dan Oma juga ikut" ucap Lilian.
"Apa?" kaget Bagus.
"Iya kita ikut, kalau kalian bulan madu siapa yang jaga Cahaya. Lagian kita juga mau refreshing dan Kim juga sudah pesan kamar untuk kita" ucap Harisza.
"Sengaja, biar papa sendiri yang bilang sama kamu" Harisza, Lilian dan Cahaya segera pergi ke kamar Cahaya.
Mia dan Rian yang baru sampai di depan rumah memarkirkan mobilnya, Bida yang melihat Mia dan Rian turun segera mendekati mereka.
"Aduh, sih cantik udah lama ngak lihat dari mana aja" tanya Bida.
Mia pun tidak menjawab dan berlari secepatnya masuk ke dalam rumah, Bik darmi yang melihat pintu terbuka segera keluar dengan di kagetkan Mia yang berlari ke kamarnya.
"Mia" teriak Rian.
"Pak dokter, itu sih cantik kenapa. Kayak orang lagi kesal aja" tanya Bida lagi.
"Maaf sis Bida, saya masuk dulu" segera pergi meninggalkan Bida.
__ADS_1
"Aduh mereka ini keluarga aneh, di tanya ngak ada yang jawab. Banyak banget rahasianya" celoteh Bida, saat dia melihat bik Darmi di depan pintu Bida segera mendekatinya.
"Itu majikan kamu kenapa pada aneh semua, tapi untung saja ganteng" ucap Bida.
"Hey sis, yang aneh itu kamu. Kepo terus sama hidup orang, mendingan pulang aja sana" usir Bik Darmi.
"Waduh, kamu yang lebih aneh lagi ternyata di sini. Saya cuma bertanya aja kok, Asal kamu tau yah kita itu perlu tau agar tidak terjadi fitnah di mana-mana" ucap Bida.
"Idih, itu bukannya perlu tau tapi kepo. Lagian fitnah itu datang dari orang tukang gosip kayak kamu" pergi ke dalam menutup pintu rumahnya.
"Hey kamu bibik saya belum selesai bicara sudah pergi masuk aja, mana tutup pintunya kuat banget lagi kayak mau ngusir orang. Jangan-jangan dia mau ngusir aku lagi, pergi aja deh bergosip di rumah tetangga depan aja" pergi meninggalkan tempat itu.
Rian pun mengetuk pintu kamar Mia berkali-kali "Mira buka pintu dulu nak, kita perlu bicara. Mia papa mohon sama Mia jangan seperti ini, kita bicara baik-baik nak."
"Ngak mau, papa pergi saja. Mia benci sama papa" teriak Mia.
"Okey, kamu boleh benci sama papa. Papa kasih kamu waktu 1 hari di kamar untuk kita bicara" ucap Rian pergi dari depan pintu kamar Mia.
Ke esoknya pun mereka bersiap-siap untuk pergi namun saat Cahaya, Mira dan Bagus keluar rumah datang lah Kevin, Johan dan satu orang laki-laki bertubuh besar.
"Cahaya" teriak mereka bersamaan.
"Kalian kenapa disini" tanya Cahaya.
"Kami mau ke puncak" jawab Johan.
"Apaan sih, kalian kan ngak di ajak. Jangan ganggu ah mending kalian pulang aja" usir Cahaya.
"Idih siapa yang tukang ganggu, kami di sini malah bantu kamu dan lagian kita di ajak kok" ketus Kevin.
"Siapa yang ngajak" tanya Cahaya.
"Opa" ucap Harisza dari dalam keluar rumah.
"Pa, apa maksud papa ajak bocil-bocil ini dan apa lagi siapa laki-laki seperti robot ini" ucap Bagus.
__ADS_1
"Papa dan mama tidak jadi ikut sebab semalam kita di telpon oleh dokter di Singapur kalau hari ini jadwal checkup, akhirnya kita pesan tiket untuk pergi ke Singapur hari ini. Papa minta bantuan Kevin dan Johan untuk menemani Cahaya" jelas Harisza.
"Om dan Tante tenang aja, kita sudah ajak satu bodyguard keluarga untuk dapat di andalkan mengawasi kami bertiga" ucap Kevin sambil menaruh kedua tangannya ke pinggang.