
Kevin pun memukul tangan Cahaya, "No, ini punyaku kamu tidak perlu tau" ucap Kevin.
Dengan wajah cemberut Cahaya pun berceloteh "pelit."
Sampai di tengah perjalanan pun mereka di hadang oleh preman, mobil yang di kendarai pun mengerem mendadak "aduh" mereka semua hampir terjatuh.
"Turun" teriak preman itu.
"Ada apa ini mas, kenapa banyak preman" Mira pun panik.
Bodyguard itu pun keluar duluan dan berkelahi dengan sekelompok preman itu, Bagus yang menenangkan istri dan anaknya di dalam mobil "tenang ya sayang, jangan panik."
"Om, turun donk hajar sana. Lagian preman itu badannya lemah" celoteh Kevin.
"Om ngak mau ngotorin tangan om, nanti darahnya buat kotor" ucap Bagus santai.
"Bunda jangan khawatir yah, santai aja ayah akan jaga kita kok" ucap Cahaya.
"Iya sayang."
"Aduh lihat tu bodyguard kamu kalah tu, lihat dia jatuh" ucap Johan.
Preman itu pun mengetuk pintu mobil mereka "turun, cepat kalau tidak kita pecahkan pintunya" teriaknya.
"Ah kamu gimana sih masa bodyguard kamu lemah gitu, terpaksa deh om turun tangan" kesal Bagus membuka pintu mobil dan keluar.
Bagus pun berkelahi dengan preman itu dengan mudah semuanya kalah dan segera pergi meninggalkan Bagus "ayo bangun" ucap Bagus pada bodyguard yang tumbang itu.
Semuanya keluar dari mobil, "mas kamu ngak apa-apa" tanya Mira.
"Ngak apa-apa, mereka mah mudah" jawab Bagus.
"Om bodyguard bangun, om buat malu aja sih masa bisa kalah. Lihat tu om Bagus jadinya sombong" kesal Kevin.
Dengan cepat bodyguard itu berdiri memegang tubuhnya yang sakit "Maaf bos saya kalah" jawabnya.
"Kevin, harusnya kamu latih lagi bodyguard nya agar lebih kuat" ledek Johan.
"Omnya kebanyak makan tu jadi tenaganya berkurang" celoteh Cahaya membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Udah jangan di ledekin terus omnya, ayo kita pulang. Ayah yang akan bawa mobil dan kamu duduk belakang sekali yah biar anak-anak duduk di tengah" perintah Mira.
"Iya Bu" mereka pun semuanya masuk ke dalam mobil.
Dari kejauhan Gaga kesal melihat kekalahan yang dia saksikan tadi, dengan nada kesal Gaga menghajar mereka semua satu persatu "Kalian semua bodoh, masa menghadapi satu orang kalah" teriaknya.
"Maaf bos, ternyata Pak Bagus sesuai dengan kenyataannya yang orang-orang bilang kalau dia kuat dan cerdas" ucap salah satu dari mereka.
"Diam kamu, tidak usah puji Bagus. Membuat aku semakin kesal dan mual" kesal Gaga.
Sambil menggenggam tangannya Gaga pun berceloteh "awas kamu Bagus, aku akan bisa menghabisi kamu."
Harisza dan Lilian yang baru pulang ke rumah pun melihat Arya dan Putri duduk di teras rumah mereka.
Arya yang melihat mereka mendekati Arya segera berdiri "selamat sore pak, buk" sapa Arya.
"Iya sore" jawab Harisza melihat makanan dan minuman yang ada di atas meja berantakan.
"Kalian sudah lama di sini" tanya Lilian.
"Iya Bu dari pagi tadi, kami ke sini menunggu Pak Bagus karena dari kemarin saya kesulitan menelpon Pak Bagus" jawab Arya.
"Ngak usah Pak, Buk karena kita lebih nyaman menunggu di luar saja" Arya sambil melihat Putri yang hanya diam.
"Okey, kalau gitu saya akan panggil bibik untuk menyiapkan lebih banyak lagi makan dan minuman di luar" ucap Lilian.
"Makasih Pak, Buk."
Harisza dan Lilian pun masuk ke dalam rumah, dengan resah Lilian pun menghentikan jalannya ke kamar.
"Ada apa yah pa, mama jadi khawatir ne" ucap Lilian.
"Papa juga, tapi kita tunggu Bagus saja dulu. Tadi kan Bagus bilang mereka pulang hari ini, ayo kita masuk istirahat karena tubuh papa sudah lemas" ucap Harisza.
"Ayo, nanti papa pingsan lagi" sambil memapah Harisza.
Bagus pun sampai ke rumah, "akhirnya kita sampai" ucap Cahaya membuka pintu mobil dan berlari keluar.
Cahaya melihat Arya dan Putri yang tertidur di teras rumahnya "Om Arya dan Tante Putri ngapain tidur di sini" celoteh Cahaya.
__ADS_1
Bagus dan Mira pun berjalan mendekati Cahaya dan melihat mereka, "pemandangan yang membosankan, bangunin aja pakai air" kesal Bagus.
"Udah lah mas jangan jahil gitu donk, mereka tertidur di sini pasti mereka sudah menunggu lama tapi siapa yang mereka tunggu" ucap Mira.
"Ayah, bunda, Cahaya masuk duluan aja yah."
"Iya sayang kamu istirahat aja duluan ke kamar" ucap Mira.
Bagus pun menjatuhkan vas bunga yang ada di meja membuat Arya dan Putri kaget terbangun sambil berhadapan, "Kamu tidur di bahu aku" tanya Arya.
"Aku ngak tau, kan namanya tidur jadi ngak sadar di bahu kamu atau di dinding kepala aku" jawab Putri.
"Hem, Hem" batuk Bagus.
Arya pun tersadar dan berdiri duluan, "Maaf pak" ucapnya.
"Kalian terlalu asik pacaran di sini" ucap Bagus yang membuat wajah Putri memerah.
"Kamis itu kalau bicara jangan sembarang, aku dan Arya kebetulan tidur karena menunggu kalian yang tidak sampai" kesal Putri.
"Lihat ini yang bicara anak kandung Arman yang di paksa keluar dari KK, dari dulu mulut kasarnya tidak berubah" ketus Bagus.
"Udah jangan berantem, sekarang kita harus masuk. Mereka menunggu lama seperti ini pasti ada yang penting" ucap Mira mendamaikan mereka.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, di susul oleh Harisza dan Lilian yang mendekati saat keluar dari kamar.
"Info apa" tanya Bagus.
"Ini pak lihat semu foto ini" Arya memberikan foto itu semua kepada Bagus dan Mira.
Mereka yang melihat kaget.
"Ini apa, kenapa ada foto Tiara" ucap Mira penasaran.
"Itu bukan Tiara tapi Tika, dia adalah kembaran Tiara yang di adopsi oleh keluarga Wijaya. Lebih jelas dia adalah kakak angkat dari Gaga Ardina Wijaya, jadi kalau kalian bertemu dengan Tika jangan kaget. Terus yang ke dua rumah Gaga itu sangat ketat penjagaannya karena semuanya penuh dengan bodyguard pada hal kalau tidak ada apa-apa rumah itu tidak perlu bodyguard yang sangat banyak setiap pintu" jelas Arya.
"Wah kalau seperti ini mereka melakukan sesuatu yang berbahaya sampai harus di ketat penjagaannya, lagian kalau dia hanya investor perusahaan tidak mungkin pengetatan penjagaan" sambung Harisza.
"Kalian kerja sangat memuaskan, tapi satu yang ingin aku cari tau maksudnya bekerjasama dengan perusahaan kita karena aku tidak mau perusahaan kita bisa hancur hanya karena pekerjaan gelap apa yang dia kerjakan" ucap Bagus.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak boleh berfikir negatif seperti itu. Kalau seperti itu bagaimana kalau kita berkunjung ke rumahnya langsung" ajak Mira.