
Ternyata Cahaya menabrak Bu Vivi yang wajahnya sudah merah karena kesal melihat sepatu dan roknya kotor semua.
"Maaf Bu ngak sengaja" ucap Cahaya sambil menundukkan kepalanya.
Kevin dan Johan yang melihat itu secepatnya berjalan mendekati Cahaya.
"Bu, maafin Cahaya yah ini semua salah saya, tadi saya yang ngeluarin makanannya seharusnya makanan itu tetap di plastiknya" jawab Kevin.
"Bukan Bu, ini salah saya bukan salah mereka. Itu kan makanan saya yang bawa" jawab Johan juga.
"Kalian bertiga ini benar-benar ya, kalian semua ibu hukum" kesalnya.
Pak kepala sekolah pun datang, Bu Vivi mengecilkan nada marahnya.
"Kenapa" tanyanya.
"Maaf pak mereka sudah tidak hati-hati jadi mereka semua saya hukum" jawab Bu Vivi.
"Cahaya, Kevin dan Johan benar itu" tanya kepala sekolah.
"Benar pak, ini salah Cahaya tadi ngak hati-hati" jawab Cahaya.
"Bukan pak, ini salah Kevin kok yang kasih makanannya ke Cahaya" ucap Kevin.
"Bukan pak, tapi semua ini kesalahan Johan karena membawa makanan itu" jawabnya lesu.
"Lihatkan pak, mereka" langsung di bantah kepala sekolah saat Bu Vivi ingin melanjutkan ucapannya.
"Sudah Bu mereka tidak sengaja, kalau memang mau di hukum silahkan tapi jangan terlalu lama karena mereka masih kecil" tegas kepala sekolah.
"Baik pak, anak-anak kalian bertiga ibu hukum untuk membersihkan sampah yang ada di taman sekolah" ucapnya langsung pergi bersama kepala sekolah.
"Yuk" ajak Cahaya dan mereka bertiga pun ke taman membersihkan semua sampah yang ada di sana.
Sesampai di Jakarta Rian, Mia dan Astri masuk ke rumah mereka. Mereka membereskan semua barangnya dan saat mereka sedang membereskan setengah tiba-tiba suara bel dari rumah mereka.
Rian pun membuka pintu ternyata dia melihat Prita dan Arman yang datang ke rumah mereka.
"Silahkan masuk" langsung menyuruh mereka masuk.
__ADS_1
"Maaf dok mengganggu, saat saya tau dokter pindah ke Jakarta saya mengajak papa untuk ke tempat dokter agar papa bisa berbicara secara langsung kepada dokter" jelas Prita.
"Iya dok, saya sebenarnya memaksa Prita yang baru sampai ke rumah tadi untuk menemui dokter yang pindahan hari ini" jawab Arman.
"Ngak apa-apa pak, saya senang kok di kunjungi begini" jawab Rian.
Mia pun keluar dari kamarnya dan melihat ada tamu langsung memanggil Astri untuk keluar. Saat Astri keluar dia bertabrakan dengan Prita yang ada di dekatnya.
"Maaf, saya tidak melihat ke depan" ucapnya. Ternyata Prita izin ke toilet tadi saat di tengah-tengah percakapan, Saat dia mau ke toilet kursi rodanya menyangkut dekat pintu. Tapi dia tidak melihat bahwa di belakangnya Astri berjalan secepatnya untuk menemui tamu yang di ucapkan Mia tadi.
Sehingga Prita tidak sengaja menabrak Astri sampai terjatuh,
Astri pun berdiri dan Mia pun langsung mendekatinya.
"Saya tidak apa-apa, tapi kamu siapa" tanya Astri.
"Perkenalkan nama saya Prita, tadi saya izin ke dokter untuk meminjam toiletnya. Tapi kursi roda saya menyangkut di pintu" jawab Astri langsung mengulurkan tangannya.
"Oh berarti kamu tamu yang Mia katakan tadi, perkenalkan nama saya Astri dan saya ibunya Mia sekaligus istri mas Rian" balasnya langsung membalas uluran tangan Prita.
"Berarti mbg Astri istrinya dokter Ariansyah, kalau gitu saya senang sekali bisa bertemu langsung dengan mbg Astri dan Mia" ucap Prita.
"Makasih mbg."
Saat di tengah perjalanan Prita menoleh ke arah pintu sampingnya di lihatnya taman itu penuh dengan bunga mawar, Astri pun memberhentikan perjalanannya.
"Mau lihat kesana" tawar Astri.
"Ngak usah mbg, saya akan merepotkan mbg" ucapnya, Astri pun memutar kursi roda itu dan keluar dari pintu samping untuk melihat ke taman yang penuh dengan mawar itu.
Pemandangan itu sangat indah "Wah ma ternyata kita punya taman yang indah" ucap Mia.
"Mbg belum tahu" tanya Prita.
"Iya, kami baru saja sampai dan beres-beres barang jadi belum sempat melihat keliling rumah ini. Ternyata indah sekali" jawab Astri.
"Berarti mbg dan Mia melihat yang pertama kali ini barengan dengan saya" ucap Prita.
"Ma, Mia suka banget dengan mawar. Mama juga suka kan karena kata papa kesukaan mama itu sama seperti Mia" ucapnya. Astri pun tersenyum.
__ADS_1
"Kalau pindah di sini berarti Mia juga pindah sekolah" ucap Prita.
"Eh iya, tapi saya tidak tau harus memasukkan Mia kemana selama ini kata Mas Rian Mia hanya home schooling. Tapi saya ingin Mia lebih berkembang lagi bersama anak seusianya" jawab Astri.
"Mia di masukan saja ke tempat saya mbg, kebetulan saya seorang guru SD karena kaki saya begini saya belum bisa mengajar" ucap Prita.
"Benarkah, kalau gitu kebetulan" jawab Astri senang.
"Saya akan hubungi teman saya, besok mbg bisa daftar dan memasukkan Mia sekolah" ucap Prita.
"Wah saya benar-benar berterima kasih kalau gitu, Mia suka kan" tanya Astri dan Mia pun mengangguk.
Rian pun menghampiri mereka yang lagi asik bercerita, "Wah ternyata lagi asik di sini" ucap Rian.
"Aduh maaf dokter saya jadi tidak enak, bukannya saya bertamu tapi malah asik bercerita dengan mbg Astri dan Mia di sini" ucapnya.
"Ngak apa-apa, saya dan papa kamu sudah selesai berbicara. Papa kamu menunggu" jawab Rian.
"Yaudah mbg saya pulang dulu ya, makasih banget sudah mengobrol dengan saya. Mia tante yakin kalau Mia akan suka di sekolah yang baru" mengelus rambut Mia.
"Iya tante, lain kali main lagi kesini ya" jawab Mia.
Prita pun keluar di dorong oleh Rian untuk bertemu Arman di depan, sedang Mia dan Astri masuk ke kamar lagi membereskan barang-barang mereka.
Di dalam mobil Prita pun menyadari sesuatu "Kenapa perasaan ku seperti pernah melihat mbg Astri ya, tapi dimana" pikirnya sambil mengingat.
"Kamu kenapa" tanya Arman.
"Ngak apa-apa pa, aku hanya memikirkan hal yang tidak penting" jawabnya.
"Papa mau kamu dekat dengan Bagus" ucap Arman.
"Kenapa papa tiba-tiba bicara begini" tanya Prita.
"Papa mau dia bertanggung jawab untuk kamu, papa mau dia menikahkan kamu sebagai tanggung jawabnya" jawab Arman.
"Ngak pa, aku tidak mau memaksa Pak Bagus. Dia orang baik" ucap Prita dengan nada kesal.
"Kalau kamu menuruti kata papa kamu akan bahagia, jangan seperti kakak mu yang tidak berguna itu selalu membantah papa. Akhirnya apa sekarang hidupnya menyedihkan" ucapnya dengan nada marah.
__ADS_1
"Papa mau bagaimana pun kak Putri anak kandung papa, papa tidak boleh melakukan hal kasar pada kakak. Kasihan pa kakak" jawab Prita. Mendengar ucapan Prita Arman memberhentikan mobilnya mendadak ke pinggir jalan.