
Bagus segera turun dari mobil mendekati orang tersebut, saat orang itu menoleh dia kaget melihat Bagus ada di sampingnya.
"Pak Arman" teriaknya langsung memukuli Arman.
"Apa yang kamu lakukan, aku akan melaporkan kamu ke polisi karena sudah memukuli aku" teriak Arman.
"Aku tidak salah dengar, kamu yang akan aku bawa sekarang ke kantor polisi karena mau membunuh istriku" kesalnya sambil terus memukul Arman.
Arman pun sudah sangat lemah dan Harisza pun sampai ke tempat kejadian dan menahan Bagus yang sedang emosi di pinggir jalan itu.
"Pak, tangkap penjahat" ucap Harisza kepada polisi bersamanya.
Arman pun segera di tangkap dan di bawa ke kantor polisi, Bagus pun mulai meredakan emosinya.
"Ayo sekarang kamu pulang, istri dan anak mu menunggu di rumah. Urusan Arman biar papa yang tangani" ucap Harisza.
"Baik pa, kalau gitu aku pulang duluan" pamit Bagus segera masuk ke dalam mobilnya.
Mira, Cahaya, Lilian, Blue, Jeni, Kevin dan Johan pun sampai di rumah. Mereka membantu memapah Mira untuk keluar dari mobil namun mobil Bagus pun masuk dengan sangat cepat di depan mereka.
Bagus segera keluar dari mobil mendekati Mira dan langsung menggendong istrinya itu, semua yang melihat tingkahnya tersenyum senang.
"Kamu ngak boleh banyak gerak, biar aku yang akan mengantarkan kamu masuk ke dalam" ucap Bagus.
"Tapi kayak gini kelewatan banget mas, malu di lihat mereka" bisik Mira.
"Biarin" Bagus pun tidak peduli dengan ucapan Mira.
Di belakang mereka yang sedang berjalan pun ada Cahaya, Kevin dan Johan yang mengikuti mereka. Lilian dan Jeni duduk di ruang tamu sedangkan Blue menyiapkan hidangan untuk Jeni.
"Ngak usah repot-repot Blue" ucap Jeni.
"Ngak apa-apa kok kak, semua pembantu disini lagi sibuk ngurusin Kak Mira yang baru sampai. Mereka pasti sibuk membersihkan dan menyiapkan keperluan Kak Mira" jawab Blue.
Kevin yang berjalan di belakang Bagus pun memulai kejahilannya.
"Om, angkat yang tinggi lagi donk tantenya" langsung mendorong tangganya ke atas tubuh Mira hingga Mira semakin tinggi dan hidungnya bersentuhan dengan hidung Bagus.
__ADS_1
Cahaya pun langsung menjewer telinga Kevin "pelan-pelan nanti kalau bunda ku jatuh gimana" marahnya.
"Enggak sengaja, tapi om suka kan" sambil mengedipkan matanya ke Bagus.
"Suka banget, anak pintar" berjalan masuk ke kamar.
"Dengar Cahaya, ayah kamu aja bilang aku pintar sedangkan kamu malah jewerin telinga aku" celoteh Kevin.
"Udah ngak usah marah-marah, sekarang kita harus siapin apa untuk Tante Mira yang baru pulang biar suasana hatinya semakin senang. Oh iya Cahaya, gimana dengan Mia apa dia tau" tanya Johan.
"Aku ngak tau dan aku juga ngak mau tau, yang penting bunda ku sudah pulang. Gimana kalau kita buatin gambar aja untuk bunda" ucap Cahaya.
"Apa kamu sudah siap gambar yang cantik lagi" tanya Johan.
"Ngak tau."
"Udah lah ngak usah kayak orang frustrasi gitu, kita coba aja ke ruangan opa sekarang" ucap Kevin sambil memegang kedua tangan temannya itu untuk pergi ke suatu tempat.
Di dalam kamar itu sudah banyak pelayan yang ingin membantu Mira,bBagus pun secara pelan-pelan menurunkan Mira ke tempat tidur, "sekarang kamu tidak boleh kemanapun, kamu mau minta apa pun tinggal panggil pelayan atau aku. Karena aku hari ini tidak akan kemana-mana" ucapnya.
"Boleh, tapi kalau kamu sembuh aku mau kamu kasih aku servis yang memuaskan" ledeknya.
Pelayan yang ada di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Bagus "Hei kalian keluar dari sini, apa mau aku pecat semuanya" teriak Bagus.
Mereka bergegas pergi terburu-buru keluar semua, "kamu galak banget" ucap Mira.
"Yah ngak apa lah sekali-sekali, mereka juga mendengar percakapan kita di sini kan tidak sopan. Aku mau berdua dengan kamu, terus aku juga mau mendengarkan cerita kamu selama beberapa bulan ini entah kemana" menggenggam kedua tangan Mira.
Mereka berdua pun tersenyum saling bertatapan, Bagus pun mendekati wajahnya ke Mira. Dia mencium kening, hidung dan saat bibirnya ingin turun ke bawah.
"Bunda" teriak Cahaya dari depan pintu berlari masuk ke kamar di susul oleh Kevin dan Johan.
Bagus pun menjauhi wajahnya dari Mira, "Ayah kenapa, kok nempel-nempel gitu tadi" tanya Cahaya.
"Ngak apa-apa kok, ayah bantu bersihin mata bunda tadi ada kotorannya" jawab Bagus kikuk.
"Kalau di lihat om bukan bersihin mata Tante, tapi" ucap Kevin langsung di potong oleh Bagus .
__ADS_1
"Ayah keluar dulu, kalian kangenan aja dulu sama bunda. Ayah mau ke ruang kerja sebentar" langsung berdiri keluar.
"Tapi apa Kevin, kamu belum lanjutin ucapannya" tanya Johan. Bagus yang menguping dari luar pembicaraan mereka penasaran.
"Tapi om Bagus tadi aku lihat bersihin pipi tante " ucapnya.
Bagus di luar pun bernapas lega, sedangkan Mira tersenyum tertawa melihat tingkah mereka semua.
"Kamu kenapa" ucap Lilian saat Bagus bernafas lega di depan pintu, Bagus tidak sadar kalau Lilian, Blue dan Jeni ada di dekatnya.
"Mama kapan ada disini" tanya Bagus.
"Barusan, mama lihat kamu kayak orang ngintip. Emang apa yang kamu intipin sih dari ke tiga anak kecil itu" ucap Lilian.
"Engak ma, Bagus cuma waspada aja kalau mereka tidak sengaja menyentuh luka Mira. Mereka kan masih anak-anak jadi Bagus perhatiin dari balik pintu, tapi karena mama dan yang lainnya mau masuk ya udah Bagus lega jadi Bagus bisa langsung ke ruang kerja" jelasnya.
"Oh, ya udah kalau gitu pergi sana. Jangan sampai pekerjaan kamu tidak selesai" ucap Lilian sambil masuk berjalan ke dalam kamar.
Bagus pun bergegas pergi ke ruangannya "untung saja aku bisa ngeles dari mama, kalau lihat Mira aku memang tidak mengontrol perasaan ku" celotehnya.
Sore harinya Prita pun di periksa oleh Dokter Ariansyah, "gimana dok dengan kaki saya" tanyanya.
"Kaki kamu sudah sembuh total, kamu sudah bisa berjalan" jelasnya.
"Alhamdulillah, jadi saya tidak perlu terapi lagi."
"Iya tidak perlu kecuali kalau kamu merasa ada rasa nyeri, aku akan memberikan resep obat untuk menambah kekuatan otot dan tulang kaki kamu. Besok kamu juga sudah bisa pulang."
"Terimakasih dokter."
"Kalau gitu saya permisi keluar" saat Rian berdiri Prita memegang tangan Rian sehingga di memberhentikan untuk melangkah.
"Maaf dok, tapi saya lihat hari ini dokter dalam ke adaan sedih. Apa dokter ada masalah atau bahkan dokter sedih tentang mbg Astri, eh salah maksudnya Mira" ucap Prita.
Rian pun menunduk "kamu tidak perlu seperti orang peduli atau cemas kepada saya, lebih baik kamu pikirkan saja diri kamu sendiri. Bagus sudah bersama Mira dan kamu juga tidak ada kesempatan lagi" ucapnya mengalihkan pandangannya kepada Prita.
"Dokter salah, aku tidak pernah menginginkan kesempatan itu karena aku bukan wanita egois yang menginginkan hak orang lain. Aku ikhlas setiap hari yang terjadi kepada ku, karena itu aku tidak memendam kesedihan yang berlarut. Percaya lah dokter akan ada matahari yang lebih terang yang akan hadir di depan kita suatu saat nanti" Prita melepaskan tangannya.
__ADS_1