
"Siapa ya" celoteh Cahaya melihatnya.
"Pa, dia sepertinya mendekati Cahaya" Lilian yang saat itu gelisah melihat tingkah Tika.
"Cahaya, sini" panggil Tika lagi dan Cahaya mendekatinya.
"Tante siapa" tanya Cahaya.
Namun Lilian pun terburu-buru berjalan mendekati mereka, "aduh mama tidak bisa sabar sedikit" ucap Harisza menyusul istrinya itu.
"Cahaya" panggil Lilian yang membuat Cahaya dan Tika menoleh.
"Oma, opa" teriak Cahaya.
"Sial, kenapa ada mereka di sini sih" ucap Tika di dalam hatinya, Tika pun pura-pura tersenyum saat Lilian dan Harisza mendekati mereka.
"Kamu" ucapan Lilian langsung di potong oleh Harisza.
"Maaf, Kalau boleh tau anda siapa yah. Wajah anda mirip sekali dengan Tiara dan tadi anda memanggil cucu kami" ucap Harisza dan Lilian pun hanya terdiam karena mereka berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
"Siang om dan tante, maaf ganggu dan buat kaget karena wajah saya. Kenalkan nama saya Tika, saya ke sini mau ketemu Cahaya tapi lebih baik kita mengobrol di kafe depan sana aja Om dan Tante soalnya ngak sopan kalau aku ajak orang tua ngobrol berdiri begini" ucap Tika.
"Okey, ayo kita kesana" berjalan masuk ke mobil untuk menuju ke kafe.
Di kafe pun mereka duduk sambil minum,
"Om dan Tante, saya sudah satu bulan ini pulang ke Indonesia. Saya mencari tahu tentang saudara kembar saya Tiara ternyata dia sudah meninggal, jadi karena Tiara adalah sahabatnya Mira makanya saya mencari info tentang Mira dimana. Namun sangat susah bertemu langsung dengan Mira jadi saya memutuskan untuk menemui Cahaya meminta bantuannya untuk ketemu sama Mira" jelas Tika kepada Harisza dan Lilian.
"Oh jadi Tante teman bunda" tanya Cahaya yang mendengar penjelasan Tika yang sangat panjang itu.
"Iya Cahaya dan maaf tante ya nyapa Cahaya mendadak" ucap Tika sambil melihat ke arah Cahaya.
"Ngak apa-apa kok Tante, Cahaya hanya kaget aja tadi ada orang nyapa Cahaya."
"Kalau gitu kamu bisa ke rumah saja kalau ingin bertemu Mira, kami orang tua ini wajar waspada sama orang asing apalagi wajah kamu sangat mirip dengan Tiara" ucap Harisza.
__ADS_1
"Iya Tika, Tante aja tadi ngira kamu Tiara wanita jahat yang sudah merebut rumah tangga temannya, terus mau bunuh temannya. Pokoknya bisa di bilang komplit deh" celoteh Lilian yang membuat Harisza terpaksa harus batuk.
"Uhukkk uhukkk, Tika kalau gitu kami pamit pulang duluan yah. Kalau kamu ingin bertemu dengan Mira langsung ke rumah saja, maaf ya ngak bisa lama cerita soalnya om masih ada kerjaan" sambil berdiri sehingga membuat Lilian ikut berdiri.
"Iya ngak apa-apa om" jawab Tika.
"Tante, Cahaya pulang yah dan Cahaya tunggu loh ke datangan Tante di rumah" ucap Cahaya dan mereka pun pergi keluar dari kafe tersebut masuk ke dalam mobil.
"Papa apaan sih, kita kan jadwal hari ini kosong" kesal Lilian.
"Papa terpaksa bohong karena mulut mama tadi ngak bisa di jaga, gimana kalau dia marah dan tersinggung atas ucapan mama yang ceplas-ceplos gitu."
"Papa tau kalau yang mama ucap benar."
"Benar tapi lihat kondisi."
"Aduh, opa dan oma kok bertengkar sih. Cahaya kan jadi pusing dengernya, emangnya ada masalah apa sih?" celoteh Cahaya yang membuat Harisza dan Lilian terdiam tanpa berkata lagi.
"Ngak apa-apa sayang, maafin opa dan oma yah" ucap Harisza sambil memeluk Cahaya.
"Nah gitu donk, keluarga harus saling menyayangi."
Getaran hp milik Harisza pun berbunyi dari Bagus ternyata video call sehingga Harisza mengangkatnya.
"Pa, udah jemput Cahaya" tanya Bagus dan Mira pun langsung mengambil hp Bagus.
"Pa, Mira mau bicara sama Cahaya."
Harisza pun memberikan hp nya ke pada Cahaya "bunda dimana, kenapa telpon opa."
"Maaf bunda yah sayang, hari ini bunda kerja bantu ayah dulu yah soalnya kerjaan ayah banyak karena tidak ada Om Kim."
"Iya ngak apa-apa bunda, tapi kerja yang benar jangan berduaan Mulu" ledek Cahaya yang membuat mereka semua tertawa.
Tika yang saat itu masih di kafe segera masuk ke dalam mobil dalam keadaan kesal "itu wanita tua berani banget dia ngatain almarhumah Tiara seperti itu, jelas-jelas Tiara sendiri yang sering cerita dengan aku dari chat kalau Mira itu pengganggu hubungan dia dan Arya. Bagus pasti akan menyesali sudah menikah dengan Mira manusia jahat yang sudah dengan sengaja membunuh adikku" kesalnya.
__ADS_1
Mia yang saat itu di antar pulang oleh Prita hanya diam tanpa bicara sedikit pun, "Kok Bu guru ngak pulang" tanya Mia yang melihat Prita turun dari mobil.
"Hari ini ibu ngak mau pulang, ibu mau nemenin kamu dulu" jawab Prita.
"Tapi Bu di rumah ada bibik jadi ibu ngak perlu khawatir" ucap Mia.
"Ibu tau kamu masih kesal sama ibu kan karena di kelas tadi ibu buat kelompok kamu dan Cahaya."
Bida yang melihat Mia dan Prita ada di depan segera mendekati mereka "kenapa ini, kok aku dengar kesal gitu. Mia jadi anak nurut donk sama calon ibu kamu biar di sayang" celoteh Bida.
"Sis Bida, tolong yah jangan ikut campur urusan Mia. Sis itu ngak tau apa-apa jadi jangan buat gosip" pergi meninggalkan Bida dan Prita di luar.
"Idih tu anak songong" celoteh Bida.
"Maaf sis saya masuk dulu yah" ucap Prita meninggalkan Bida.
Namun ada suara tertawa yang membuat Bida kaget dan menoleh ternyata suara Bik Darmi yang saat itu ada di samping rumah lagi menyiram tanaman.
"Loh, loh dari mana datangnya ini orang tiba-tiba muncul sambil tertawa cekakan gini" kesal Bida.
"Sis Bida emang enak di marahin anak kecil" tawa Bik Darmi tiada henti.
"Hey bibik, majikan kamu itu yah ngak ada sopan santunnya masih kecil gitu."
"Sis yang di bilang non Mia itu benar, sis Bida itu ngak usah ikut campur" tawa Bik Darmi langsung masuk ke rumah.
"Idih, ngak majikan, ngak pembantu sama aja ini isinya orang-orang tidak sopan. Mending aku belanja untuk bahan kue aja" pergi Bida dari depan rumah Mia.
Di ruangan kantor Bagus dan Mira sedang memeriksa pekerjaan namun suara telpon berdering, "Okey" jawab Bagus.
"Sayang hari ini ada meeting di luar, gimana kamu siap" ajak Bagus.
"Pasti donk" jawab Mira.
"Ayo kita pergi" Bagus berdiri dan menarik tangan Mira agar merangkul tangannya.
__ADS_1