Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 65


__ADS_3

Bagus pun masuk dengan wajah lesu menghampiri Kim yang masih menunggu "kenapa pak sepertinya bapak kelelahan, apa ada yang bapak cari " tanya Kim.


"Tidak apa-apa" jawabnya.


"Saya beli minum dulu untuk bapak" Kim pun berdiri tapi Bagus melarangnya.


"Tidak usah, aku hanya kepanasan" jawabnya, terus pintu ruangan pun terbuka ternyata perawat yang keluar.


"Pak, kata dokter silahkan masuk" pintanya, Bagus pun langsung masuk ke ruangan itu dan duduk. Prita pun di bantu oleh perawat untuk duduk di kursi roda.


"Pak, melihat kaki Bu Prita seperti itu akan memakan waktu cukup lama untuk normal seperti semula" jelas Rian.


"Jadi gimana, apa harus rutin di terapi" tanya Bagus.


"Iya, karena itu untuk memperlancar ototnya" jawabnya.


"Dok, bisa tidak kalau dokter pindah ke Jakarta. Saya sanggup membayar bahkan menyiapkan apa yang dokter perlu, ini saya lakukan agar mempermudah pengobatan Prita. Siapa tau dokter membutuhkan perubahan suasana" ucap Bagus.


"Pak Bagus saya tau anda baik sekali, saya bisa pindah ke Jakarta karena saya juga masih bekerja di rumah sakit disana, tapi di sini saya bersama keluarga saya" jawabnya.


"Siapa tau bapak ingin mengajak istri dan anak bapak ke suasana yang baru" ucap Bagus.


Rian pun memikirkan kejadian pagi tadi di rumah saat Astri masuk ke kamarnya.


"Gimana pak" ucap Bagus dalam lamunan Rian.


"Saya pikirkan dulu, saya akan bertanya kepada istri dan anak saya."


"Okey, kalau gitu terimakasih dokter. Saya menunggu kabar baik dokter secepatnya" berjabat tangan dan menarik kursi roda Prita keluar.


Prita, Bagus dan Kim pun pergi mencari penginapan dekat sana untuk beristirahat, Bagus membantu Prita di dalam penginapan itu.


"Kalau kamu perlu apa-apa tinggal telpon aku di sebelah" ucap Bagus.


"Makasih mas" jawab Astri, Bagus pun keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya.


Bagus meletakkan semua barang-barangnya dan tertidur di sana. Dia masih memikirkan apa yang dia lihat tadi karena dia merasa itu nyata bukan khayalan, memikirkan itu pun akhirnya Bagus tertidur.


Di rumah pun Rian sampai dia duduk di kursi sofa memikirkan ucapan Bagus, dia merasakan Astri menyembunyikan sesuatu darinya itu yang membuat Rian tidak nyaman.


Astri dan Mia pun menghampiri Rian yang sedang duduk sendirian.

__ADS_1


"Papa, kenapa di sini. Biasanya papa langsung masuk ke kamar tapi ini malah kayak orang bengong" celoteh Mia sambil memainkan bonekanya di bawah.


"Mas kamu kenapa" tanya Astri.


"Aku berencana kita semua pindah ke Jakarta, rumah sakit di Jakarta membutuhkan papa sedangkan disini aku sudah punya asisten jadi dia mengerti sedikit-sedikit untuk melakukan terapi yang aku ajarkan" jelas Rian sambil melihat ke arah Mia yang asik bermain.


"Kalau aku sih setuju saja, tapi bagaimana dengan Mia" tanya Astri.


"Kamu yang bujuk dia karena dia tipe anak yang pemalu, dia juga tidak pandai bergaul jadi hanya kamu yang bisa membantu aku" ucap Rian.


"Baiklah, lagian Mia juga masih kecil tidak bagus untuk perkembangan dirinya kalau semuanya di kerjakan di rumah. Dia harus bergaul bersama anak seusianya, ini semua salahku kenapa aku tidak mengingat Mia" ucapnya sedih.


"Sudah kamu tidak usah sedih, sekarang aku ke kamar dulu. Aku percaya kamu bisa membujuk Mia" pergi meninggalkan Astri.


Astri pun mendekati Mia dan ikut dalam permainannya, dia pun mengelus kepala Mia sambil mencoba berbicara padanya.


"Mia mama mau bicara" ucap Astri lembut.


"Bicara apa ma" tanyanya penasaran.


"Hem, kalau kita pindah ke Jakarta Mia mau ngak" ucap Astri.


"Kita semua maksud mama."


"Kalau sama mama, Mia mau" jawabnya sambil memeluk Astri.


Astri pun membalas pelukan Mia, Rian yang melihat semua itu tersenyum senang.


"Sekarang Mia sudah bisa tersenyum lagi, papa janji akan melakukan apa pun agar Mia tetap seperti ini" ucap Rian dari kejauhan.


Cahaya yang saat itu di rumah gelisah, melihat cucunya seperti itu Lilian dan Harisza pun mendekati Cahaya.


"Cahaya kamu kenapa" tanya Lilian.


"Entah Oma, Cahaya merasa tidak nyaman" jawabnya.


"Ngak nyaman, kan Cahaya di rumah sendiri kenapa ngak nyaman" Cahaya pun hanya diam mendengarkan pertanyaan Lilian.


"Cahaya gimana kalau Cahaya telpon ayah aja" ucap Harisza.


"Iya deh opa" mereka pun pergi ke kamar dan menelpon Bagus.

__ADS_1


Keesokannya Putri dan Arya pun masuk kantor, di kantor Putri menjadi perbincangan orang-orang di kantor. Melihat ekpresi wajah orang-orang yang memandangnya rendah Putri pun merasa geram dan Arya pun langsung memegang tangannya.


"Jangan khawatir" bisiknya.


"Iya, kamu tenang saja. Kamu tau kan aku wanita kuat jadi omongan orang kayak gini sudah biasa" jawab Putri sambil tersenyum.


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke dalam ruangan mereka masing-masing.


Di ruangannya Putri melihat mejanya berantakan seolah-olah sengaja di berantakan oleh orang-orang yang membencinya.


"Gila ya, siapa sih yang buat gini. Gue kayak anak sekolahan yang sedang di bully, hadeh sekarang tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Sabar Putri kamu harus bisa melewati ini semua" ucapnya sambil membereskan mejanya yang berantakan.


Arian, Astri dan Mia pun membereskan barang-barangnya untuk pindahkan, setelah selesai membereskan barangnya suara hpnya bergetar ternyata dari Bagus yang sudah sampai di bandara untuk pulang ke Jakarta.


"Akhirnya Dokter Ariansyah mau pindahbke Jakarta, sekarang kamu lebih mudah untuk berobat" ucap Bagus kepada Prita yang menunggu di bandara bersamanya.


"Iya mas, aku juga merasa enakan setelah di terapi. Apalagi Dokter Ariansyah sangat baik" jawabnya.


Kim pun datang menghampiri mereka bahwa segera masuk karena pesawat sudah tiba, mereka segera masuk bersama-sama.


Cahaya yang sudah sampai di sekolah pun langsung di hampiri Kevin, Johan dan Jeni.


"Cahaya" teriak Kevin. Cahaya pun menoleh kearah Kevin yang memanggilnya.


"Cahaya, selamat pagi cantik" ucap Jeni.


"Selamat pagi tante" jawab Cahaya.


"Cahaya, aku bawa sesuatu untuk kamu" ucap Johan.


"Apaan."


"Ini, masakan mama" jawab Johan.


"Cahaya, tadi tante masak banyak jadi nanti makan bareng-bareng yah. Sekarang tante pulang ya, selamat belajar anak-anak" sambil mencium kening Johan dan pergi meninggalkan mereka.


"Aku jadi kangen masakan bunda" ucap Cahaya. Kevin pun menarik semua makanan yang di bawa Johan dan mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam plastiknya.


"Ini, ambil semua. Nikmatin aja Cahaya, Kamu anggap aja ini masakan bunda kamu. Lagian masakan Tante Jeni enak banget soalnya Tante itu seorang chef di restoran kakek" celoteh Kevin.


"Beneran untuk aku semua" ucap Cahaya senang. Kevin dan Johan mengangguk, Cahaya langsung menarik makanan itu dan berlari membawanya. Saat sedang berjalan Cahaya Menabrak seseorang sehingga makanan itu tumpah mengenai sepatunya.

__ADS_1


"Yah jatuh tumpah deh" Saat Cahaya melihat ke atas dia kaget.


__ADS_2