Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 21


__ADS_3

Baca ini" tunjuk Bagus.


"Apa"tanyanya.


"Baca biar kamu tau" ucap Bagus.


Mira pun membuka kertas yang ada di depannya tertulis pengadilan agama dan dia pun membukanya.


"Kamu sudah baca kan, aku dan Tiara sudah resmi bercerai. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya sama papa dan mama" ucap Bagus.


"Jadi kamu mau kan" tanya Bagus.


"Ayah, bunda" Cahaya pun masuk ke kamar.


"Bunda jangan menolak ayah ya, cahaya mau punya ayah seperti ayah. Cahaya janji akan jadi anak yang lebih baik lagi agar ayah dan bunda bisa sama-sama" ucap Cahaya sedih.


"Sayang kamu ngak usah sedih gini, bunda mau kok" ucap Mira langsung memeluk Cahaya.


"Apa, bunda mau menikah sama ayah" tanya Cahaya dan Mira pun menganggukkan kepalanya.


Bagus langsung memeluk mereka setelah melihat Mira menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kita jadi keluarga utuh" teriak Cahaya kesenangan.


Setelah bangun tidur Cahaya melihat Bagus sudah berdandan rapi dan berbicara bersama Blue dan sekretaris Kim,


"Bagaimana Blue apa kamu sudah siap, sekretaris Kim yang akan mengantarkan mu ke sana" tanya Bagus.


"Aku sudah siap kak, aku juga akan pamitan sama kak Mira, Cahaya, om dan tante" ucap Blue.


"Okey, tiket pesawat sudah di pesan dan kamu akan checkin ke Singapura 2 jam lagi, sekretaris Kim lakukan dengan baik" ucap Bagus.


"Baik pak" siap sekretaris Kim.


"Ayah"panggil Cahaya.


"Kenapa di sini, bunda di mana kenapa Cahaya bangun ngak ada di kamar" tanyanya.


"Bunda ada di dapur, Cahaya langsung ke dapur ya" jawab Bagus.


"Tante Blue dan om Kim mau kemana pagi-pagi, kok sudah siap seperti ayah" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Cahaya tante dan om mau pamit ya, kita mau pergi sebentar" ucap Blue.


"Tante dan om mau pacaran, perginya kok barengan ngak ajak Cahaya dan bunda"ocehnya lagi.


Mendengar itu Blue dan Kim wajahnya merah karena malu.


"Tante dan om ada urusan penting, nanti Cahaya tau kok dari bunda" jelas Blue sambil mencubit pipi Cahaya dan pergi mencari Mira.


"Cahaya kok bisa tau kata pacaran, ayah curiga deh" tanya Bagus ke Cahaya yang sedang di gendong Bagus.


"Curiga kenapa, Cahaya sering nonton film ayah waktu masih muda. Ayah bilang ayo pacaran sama aku" ucap Cahaya dengan polosnya.


Bagus pun tersenyum "kirain Cahaya juga punya pacar" ledek Bagus.


"Cahaya masih kecil ayah" protes Cahaya.


"Cahaya suka nonton film ayah, ayah banyak banget drama waktu masih muda, Cahaya mau lihat" tanya Bagus.


"Mau banget ayah, ayo" ajak Cahaya.


"Tapi Cahaya mandi dulu" ucap Bagus dan Cahaya pun mengangguk


"Pak Kim saya agak takut apa yang akan terjadi nanti setelah bertemu ayah kandung saya, apa dia mau pulang menemui ibu. Aku tau ibu pasti senang bertemu ayah tapi bagaimana perasaan ku" jawab Blue.


"Nona anda tidak perlu khawatir, anda akan memutuskannya setelah bertemu langsung dan bertanya kepada ayah anda. Aku akan menemani nona sampai urusan nona selesai karena ini pinta pak Bagus" ucap Kim sambil tersenyum untuk menyakinkan Blue.


"Pak Kim bisa kah anda tidak memanggil saya nona, panggil saja saya Blue karena lebih formal" pinta Blue.


"Baiklah nona, eh Blue dan Blue anda juga bisa panggil saya Kim saja tidak usah pak karena sangat tua bagi saya apalagi saya belum menikah" ucap Kim membuat Blue kaget dan berkata dalam hatinya "belum menikah."


"Usia saya 40 tahun, karena hidup saya berjanji untuk mendedikasikan untuk keluarga pak Harisza saya tidak sempat untuk memilih pasangan untuk menikah, keluarga itu sudah menolong saya. Sekarang keluarga saya tidak pernah kekurangan apa pun lagi" ucap Kim sambil tersenyum.


"Kim ngak usah khawatir usia saya juga 30 tahun, saya juga belum sempat mencari pasangan karena saya sibuk bekerja, mengasuh dan merawat keluarga saya di panti jompo" sambil memegang tangan Kim.


Sontak Kim merasa senang mendengar ucapan Blue yang belum juga punya pasangan seperti dia apalagi tangannya di pegang oleh Blue tanpa Blue sadari.


"Boleh kapan-kapan saya ke panti jompo Blue" tanya Kim.


"Boleh Kim, kapan pun pintu akan terbuka untuk Kim. Eh maaf Kim saya memegang tangan anda" ucap Blue salah tingkah dan melepas pegangannya sambil menoleh ke arah lain. Begitu juga Kim yang merasa jantungnya dag Dig Dug tiada henti.


Cahaya yang saat itu selesai makan langsung mencari opa nya di ruangan yang sangat indah, ruangan itu di penuhi dengan lukisan-lukisan yang sangat indah.

__ADS_1


"Opa" panggil Cahaya.


"Ini tempat apa" tanyanya langsung berlari kecil mendekati Harisza yang sedang melukis.


"Ini tempat favorit opa dalam mengeluarkan ide untuk masa depan" ucapnya yang membuat Cahaya bingung IDX mengerti dengan ucapan opanya.


Lalu di susul dengan oma, Mira dan Bagus ke dalam. Mira pun kaget ternyata keahlian yang di miliki cahaya emang mengalir dari opanya.


"Opa, ayah gimana kalau kita melukis bersama, tangan Cahaya udah gatel ne udah seminggu ngak pegang kuas dan pensil gambar" ucapnya dengan gemas.


"Oh ya, apa Cahaya bisa" tanya Harisza.


"Kita lihat aja" ajaknya gemas.


"Ya udah gimana oma dan bunda Cahaya yang jadi modelnya, kalian lukis kami ya" pinta Lilian sambil menyiapkan peralatan untuk melukis mereka.


"Siap" ucap Cahaya, Bagus dan Harisza berbarengan.


"Mira kamu ngak apa-apa kan jadi model" tanya Lilian.


"Agak gugup tante sudah lama ngak jadi model" ucap Mira.


"Ngak usah gugup kita semua di sini mantan model" ucap Lilian menunjuk Bagus dan Harisza.


"Benar tante" tanya Mira penasaran.


"Iya, tante dulu mantan model terkenal dan papa nya Bagus mantan penyanyi sebelum dia menyadari kalau dia itu pelukis terhebat" jelas Lilian.


"Sekarang ayo kita di sana biar mereka yang memiliki kemampuan seni ini melukis kita dengan cantik" ucap Lilian lagi. Mira pun mengikuti Lilian dan berpose untuk menjadi bahan lukisan mereka.


"Ayo sekarang mulai" ucap Bagus dengan senang.


Mereka bertiga mulai melukis dan semuanya berantusias untuk saling mengalahkan "kalau ayah dan opa kalah kalian harus memberikan hadiah untuk Cahaya" ucapnya sambil melukis.


"Oke kalau Cahaya dan ayah Cahaya kalah kalian harus menuruti keinginan opa" sambung Harisza.


"kalau Cahaya dan opa kalah berarti kalian harus memberikan harta warisan kalian semua kepada ku" tawa Bagus sambil melukis.


"Tapi ayah Cahaya tidak punya warisan" celoteh Cahaya.


"Ada, Cahaya ngak ingat" tanya Bagus sambil menunjuk Mira. Cahaya pun tersenyum dan mengangguk seolah mengerti dengan maksud Bagus.

__ADS_1


__ADS_2