Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 57


__ADS_3

Semuanya pergi ke Jakarta semua kecuali Harisza.


"Oma kenapa opa sibuk sekali" tanya Cahaya di perjalanan mobil menuju bandara.


"Oma ngak tau sayang, kalian kan tau kalau opa memang selalu sibuk" jawab Lilian.


Dari belakang Kevin berdiri "tadi saat aku tanya sama kakek katanya opa mau mencari sesuatu" sambung Kevin.


"Terus kakek kamu kemana, kenapa ngak pulang" tanya Cahaya.


"Kakek juga mau melakukan sesuatu pada orang yang sudah nyakitin aku" tawa Kevin.


"Maksudnya" penasaran.


"Udah kalian ngak usah gosip, biarin aja" cetus Blue.


"Tante kita ini anak kecil mana bisa gosip kayak tante dan oma" celoteh Kevin, mendengar itu Lilian dan Blue langsung menggelitik Kevin.


"Anak pintar selalu saja protes" sambil tertawa, mereka pun bersama-sama menggelitiki Kevin lagi. Suasana di dalam mobil pun menjadi ceria tapi hanya Bagus yang diam seperti banyak hal yang dia pikirkan. Sedangkan Johan hanya melihat ke arah jendela mobil.


Di rumah sakit pun Dokter Rian keluar mengantarkan Mia dan Astri untuk pulang ke rumah, "Pa kita lewat jalan kota aja" ajak Mia pada Rian.


"Tapi kita muter-muter sayang kalau pulang lewat jalan besar" ucap Rian.


"Pa, aku cuma mau lihatin sama mama kalau lewat jalan besar pemandangannya indah-indah. Pasti mama suka, plis ya pa" bujuk Mia sambil merangkul tangan papanya yang duduk di depan mobil.


"Baik lah, pak kita lewat depan ya" perintah Rian kepada supirnya. Mia pun tersenyum senang dan membuka kaca jendela mobilnya menunjukkan sesuatu pada Astri yang duduk di sebelahnya. Johan pun menoleh kaget saat mobilnya berpapasan dengan mobil di sebelahnya, karena Johan seolah melihat sosok yang dia kenal di dalam mobil itu.


"Tante Mira" dalam hati Johan sambil mengusap kedua matanya.


"Johan kamu kenapa" tanya Blue.


"Ngak apa-apa tante, aku ngantuk aja kok ngak sampai-sampai yah ke bandara" jawabnya.

__ADS_1


"Johan kangen sama tante dan om ya, dasar anak manja ngak bisa jauh dari orang tuanya" ketus Kevin di sebelahnya. Johan pun tersenyum mendengar perkataan Kevin sambil memikirkan apa yang dia lihat tadi "sepertinya aku salah lihat" dalam hatinya.


1 jam kemudian mereka pun sampai di Jakarta, Bagus pergi bersama Prita langsung ke rumah sakit untuk menemui dokter untuk pengobatannya. Sedangkan Arman masih di Bali menemui Putri, dia sangat murka melihat anaknya itu yang keluar dari penjara di temani oleh Arya.


"Papa" kaget Putri melihat Arman duduk di dekat mobilnya, Arman pun datang langsung menamparkan tangannya ke wajah Putri.


"Anak tidak berguna" kesalnya.


Putri pun menangis di tampar Arman dia pun memegang pipinya "Kenapa pa."


"Gara-gara kelakuan bodoh kamu adik kamu menjadi lumpuh, dari dulu kamu memang tidak berguna" caci Arman. Sedangkan Dirga yang dari jauh melihat kelakuan Arman kepada Putri hanya tersenyum dari jauh.


"Iya aku tau pa, dari kecil aku memang tidak berguna hanya Prita anak kesayangan papa" teriak Putri.


"Dasar anak kulangajar kamu yah" tangan Arman pun menampar wajah Putri lagi dan di tahan oleh Arya.


"Hentikan om, kalau mau marah silahkan tapi jangan menggunakan kekerasan menampar seperti ini. Putri benar-benar menyesal om sebaiknya jangan salahkan Putri terus" teriak Arya.


"Kamu siapa, tau apa kamu tentang anak bodoh dan tidak berguna ini. Kamu bilang dia menyesal tapi apa kamu tau seberapa sering dia menyakiti adiknya, coba kamu tanya" teriak Arman sambil menarik tangannya dari genggaman Arya.


"Menyesal kamu tidak berguna karena kaki adikmu sudah lumpuh, karena kamu sudah di keluarkan dari kartu keluarga kamu di larang bertemu dengan Prita" langsung masuk mobil pergi meninggalkan mereka.


Putri pun menangis histeris, Arya langsung memeluk Putri untuk menenangkannya agar tidak histeris lagi.


Dirga langsung masuk ke dalam mobil setelah menonton kejadian itu semua,


"Aku akan membuat kalian menderita karena sudah menyakiti cucuku" ucapnya.


Di rumah sakit pun Bagus menemani Prita berobat dengan dokter di Jakarta, sedangkan hasilnya besok baru di ketahui dan akhirnya Bagus mengantar Prita pulang ke rumahnya, dia pun langsung mengangkat Prita ke kursi roda.


"Kamu jangan khawatir aku akan bantu kamu sampai sembuh" ucap Bagus.


"Iya, aku percaya kalau aku akan sembuh" jawab Prita. Namun mobil yang di kendarai Arman sampai, Arman pun menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ayo kita masuk" langsung mendorong kursi roda Prita dan mencueki Bagus yang ada di depannya.


Melihat tingkah Arman seperti itu Bagus hanya menarik nafas dalam-dalam agar tidak terbawa emosi, sehingga dia masuk ke mobil untuk langsung pulang.


Mia sesampai di rumah di gendong oleh Rian karena dia tertidur kecapekan perjalanan jauh memutar tadi. Astri pun pelan-pelan berjalan untuk mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.


"Bik, tolong bantu ibu" pembantunya pun mengangguk sedang kan Rian masuk ke kamar Mia meletakkannya di atas ranjang, selesai itu dia langsung buru-buru berjalan ke atas melewati Astri untuk masuk ke kamarnya. Melihat Rian yang seperti itu Astri pun merasa curiga. "Dia bilang aku istrinya tapi kenapa dia tidak mengajak aku ke kamar, tapi malah dia sendirian ke kamar atas" ucap Astri dari dalam hatinya.


Bik Darmi pun mengageti Astri "bu, ibu."


"Eh, iya bik" tanya Astri.


"Ibu melamun apa, kita masuk sekarang bu" jawabnya.


"Iya ayo" jawabnya berjalan masuk ke kamar.


Didalam kamar pun Rian terlentang di ranjangnya sambil melihat langit-langit di atas kamarnya tapi saat dia lagi terfokus di depan pandangannya muncul bayangan Astri, Rian pun tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Di rumah Johan merasa tidak tenang dia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sampai Jeni masuk ke kamar pun dia tidak menyadarinya.


"Johan" kaget Jeni membuat Johan berhenti langkahnya.


"Mama kapan ada di sini" tanyanya.


"Dari tadi mama di sini hanya melihat kamu mondar mandir saja, ada apa sayang. Ayo duduk ceritakan semuanya" tanya Jeni penasaran.


Johan pun ragu untuk menceritakannya namun Jeni memegang pipi anaknya itu sambil melihat matanya agar dia mau membuka ucapannya.


"Ma, tadi saat di jalan Johan berpapasan dengan mobil yang di dalamnya itu mirip sekali seseorang dengan Tante Mira" jelas Johan.


"Mungkin Johan salah lihat, orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup lagi sayang" ucap Jeni.


"Tapi ma, Johan benar-benar yakin sebab wajahnya jelas sekali berhadapan dengan Johan walaupun hanya sekali lewat" ucap Johan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


"Udah itu hanya perasaan Johan aja, terus apa Johan kasih tau sama Cahaya" tanya Jeni penasaran.


__ADS_2