
Cahaya yang menguping pun penasaran dengan kata-kata yang akan di ucapkan Blue sehingga dia berjalan sedikit demi sedikit untuk mendengarkannya.
"Apa" tanya Bagus.
"Tes DNA, itu untuk memastikan" ucap Blue.
"Bagaimana kita bisa mendapatkan DNA karena otomatis dokter itu akan melarang kita mendekati istrinya. Sedangkan kita memerlukan rambut atau benda yang di gunakannya" ucap Harisza.
"Cahaya yang akan bantu" teriaknya dari persembunyiannya.
"Cahaya" ucap mereka berbarengan.
"Maaf semuanya Cahaya menguping bersama teman-teman" menunjuk hpnya yang ada gambar Kevin dan Johan.
"Cahaya mau bantu apa" tanya Lilian.
"Cahaya yang akan ambil rambut, atau apa yang sering di gunakan bunda di sana" jelasnya.
"Caranya" tanya Blue.
"Ada deh, iya kan teman-teman" ucap Cahaya sambil tersenyum. Kevin dan Johan mengangkat jempol mereka tanda setuju.
Di kamar pun Rian merasakan gelisah karena kejadian tadi siang, dia pun susah untuk tidur sehingga Rian pun membuka pintu kamarnya itu. Rian melihat Mia diam memandang jendela kamar, mendengar suara pintu pun Mia tidak mempedulikannya.
"Mia, udah malam kamu kenapa belum tidur" tanyanya sambil berjalan mendekati Mia.
Mia yang menoleh itu pun tiba-tiba menangis, "kenapa, cerita sayang kenapa Mia sedih gini" memeluk Mia.
"Pa, kita pulang aja ke rumah kita di pelosok sama mama. Mia ngak mau tinggal di sini, Mia takut kalau mama di ambil sama mereka" tangisnya semakin kencang.
"Mia tidak perlu bersedih, mereka tidak akan mengambil mama dari Mia. Papa janji."
"Beneran pa, janji" sambil mengeluarkan kelingkingnya, begitu pun Rian membalas "papa janji" Rian pun menghapus air mata Mia dan menciumnya.
"Sekarang ayo tidur, papa akan temenin di sini" Mia pun mengangguk dan tidur sampai terlelap.
Arya dan Putri pun pagi-pagi menghampiri Prita di rumah, mereka menunggu di luar sampai Arman berangkat ke kantor. Mereka yakin tidak bakal di izinkan oleh Arman masuk kalau mereka datang.
__ADS_1
Melihat mobil Arman yang sudah berangkat mereka segera menghampiri Prita,
"Kak" panggil Prita sehingga mereka pun mendekati.
"Ayo" ucap Putri sambil mendorong kursi roda Prita sampai masuk ke dalam mobil.
"Kakak ngapain sih repot-repot jemput dan nemenin terapi, kakak berdua kan sibuk" tanya Prita.
"Yah karena kamu bilang Bagus tidak bisa, yah kakak yang harus nemenin kamu dan Arya yang akan antar kita" jelas Putri.
"Nanti kakak di pecat gimana gara-gara nemenin aku" ledek Prita.
"Ngak bakal Bagus berani pecat kakak karena kakak antarin kamu terapi, lagian kakak tidak takut di pecat karena semua harta kakak di ambil lagi sama dia" kesal Putri.
"Sekarang kakak tinggal dimana, kalau ngak punya tempat tinggal pulang aja ke rumah. Nanti aku yang akan bujuk papa" ucap Prita.
"Ngak mau kakak pulang, kakak juga tinggal di tempat Arya sekarang" celoteh Putri.
"Kalau gitu kak Arya sama kak Putri nikah aja, dari pada nanti jadi bahan fitnah lebih baik di sah kan saja. Aku setuju kok" ucap Prita yang membuat mereka berdua kaget dan malu.
"Prita kak Arya akan jaga kakak kamu dengan baik, jadi jangan khawatir dan berpikir yang aneh-aneh" mengalihkan pembicaraan.
"Iya Prita tau, tapi kak Arya dan kak Putri cocok banget. Kak Arya juga akan bantu kak Putri jadi orang baik, iya kan kak Arya?" sambil menyenggol tangan Arya dari belakang.
"Udah deh Prita kamu lebih baik mikirin kesembuhan kamu, jangan suka ikut campur soal asmara deh" cubit Putri ke wajah Prita.
Prita pun hanya cemberut karena tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi untuk mengganggu kakaknya itu.
Kevin dan Johan pun menunggu Cahaya di depan pintu gerbang sekolah sampai Cahaya datang, mereka pun melanjutkan rencana mereka sampai Cahaya datang, "Pa ngak usah turun, semuanya urusan Cahaya" Cahaya turun menghampiri Kevin dan Johan sampai tibalah mobil Mia dan Rian yang datang.
Mia pun turun dari mobil memberikan dadah kepadanya papanya, Cahaya segera berlari kecil mendekati Mia sedangkan Bagus melihat dari dalam mobil rencana anaknya itu.
"Mia" sambil mendekati Mia dengan wajah sedih.
"Apa" ketus Mia.
"Aku mau minta maaf sama kamu, kemarin itu hanya kangen sama bunda aku sampai-sampai aku mengira mama kamu itu bunda ku. Maafin aku Mia dan aku harap kamu mau berteman lagi dengan aku" ucap Cahaya sambil sedih.
__ADS_1
"Mia maafin kita berdua juga, sebab kita kemarin ikut kesal sama kamu" ucap Johan.
"Baik lah aku maafin kalian, tapi kalian janji ngak akan ngulangin hal itu lagi. Untuk kamu Cahaya bahwa itu mama Astri ku bukan bunda kamu" celoteh Mia.
"Iya aku tau makanya aku minta maaf, bunda ku kan sudah meninggal jadi mana mungkin mama kamu itu bunda aku" sambil mengulurkan tangannya.
Mia pun membalas uluran tangan Cahaya, dalam hati Mia "kalau gitu aku tidak usah pindah karena mereka tidak akan ganggu bunda lagi."
"Sekarang kalian pelukan donk biar lebih akrab" celoteh Kevin.
"Sekarang ayo kita masuk kelas" ajak Johan, mereka pun berjalan bersamaan ke kelas.
Rian pun memulai pekerjaannya, Prita dan Putri datang untuk berobat. Putri pun menemani adiknya itu, saat Prita memulai untuk mencoba berdiri pelan-pelan dia pun terjatuh hingga di tangkap langsung oleh dokter.
Melihat Prita dan Rian yang bertatapan Putri pun "Hem" Rian pun berlahan melepaskan pelukannya mendengar suara Putri.
"Gimana dengan adik saya dok" tanya Putri sambil membantu Putri duduk di kursi rodanya.
"Perkembangan Prita sangat pesat, saya yakin secepatnya dia akan bisa walaupun waktunya sangat lama saya harap kamu bisa sabar" jelasnya.
"Tenang saja dok, adik saya ini akan sabar. Apalagi dokternya setampan dokter" ledek Putri.
"Kak" ucap Prita, membuat Putri tersenyum puas.
"Ini resep obat nanti ambil di apotik" Rian memberikan keras.
"Iya dok terimakasih, kami pamit dulu" ucap Putri mereka pun berjabat tangan dan meninggalkan ruangan dokter Rian.
Di sekolah pun Cahaya dan teman-teman di berikan tugas perkelompok oleh Bu guru untuk menggambar. "Ini kesempatan" batin Cahaya.
"Mia kamu mau berkelompok sama aku, Kevin dan Johan" tanya Cahaya. Belum Mia menjawab Linda pun mendekati mereka "Cahaya ajak aku ya" ucap Linda.
"Hey Linda kita udah cukup berempat" ucap Kevin.
"Tapi hanya aku yang tidak ada kelompok" pinta Linda.
"Okey boleh, kamu mau kan Mia" tanya Cahaya lagi. Mia pun mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Jam pulang sekolah pun berbunyi hingga mereka siap-siap untuk pulang, di depan pintu kelas pun mereka berembuk untuk mengerjakan tugas mereka.