Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 77


__ADS_3

"Apa, katakan saja nanti papa sampaikan" kesal Arman.


"Baik lah, aku hanya ingin bilang pada Prita untuk hati-hati dengan Dokter Ariansyah karena dia laki-laki penipu" ucap Putri.


"Apa maksudnya penipu, papa sudah pernah ketemu dan ngobrol langsung dengan dia. Yang harus di hati-hati Prita itu kamu, karena kamu bukan kakak yang baik untuk dia" teriak Arman.


"Terserah papa deh mau bilang aku apa, yang jelas dokter itu penipu karena dia merubah identitas Mira menjadi Astri istrinya. Dia juga sudah menukar tes DNA Mira di rumah sakit, yang jelas Prita harus hati-hati" jelas Putri.


"Apa Bagus sudah tau" tanyanya.


"Yang tau ini hanya aku dan Arya, besok kami akan mengatakan ini semua kepada Bagus."


"Enggak, kamu ngak boleh mengatakannya" menarik tangan Putri.


"Lepasin pa, kenapa aku tidak boleh mengatakannya" berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Arman.


"Karena adikmu menyukai Bagus, kalau Bagus tau maka adikmu akan sedih. Kamu mau melihat adikmu patah hati dan menangis, kamu harus menjadi kakak yang berguna untuknya" tunjuk Arman melepaskan tangannya.


"Apa, papa bohong."


"Papa tidak bohong, kamu harus merahasiakan ini. Kamu mau adikmu tidak ada semangat untuk hidup lagi ketika dia tau semuanya" ucap Arman, mendengar ucapan Arman itu Putri langsung pergi meninggalkan Arman yang sedang bengong memikirkan sesuatu.


"Sial Mira masih hidup, sekarang identitasnya istri dokter itu. Aku harus segera melenyapkan dia kalau tidak rencanaku untuk memaksa Bagus menikahi Prita akan gagal" ucapnya di dalam hati.


Pintu pun terbuka, Prita melihat papanya yang lagi bengong di teras langsung mengagetkannya.


"Papa" teriaknya.

__ADS_1


Kaget Arman "kamu kagetin aja."


"Habis papa bengong, tadi aku dengar suara Kak Putri yang datang, kemana orangnya" tanya Prita.


"Dia sudah pergi, dia hanya mengatakan kalau besok jadwal terapi" bohongnya. "Ayo masuk" mendorong kursi roda Prita ke dalam rumah.


Keesokan paginya Rian segera pergi ke rumah sakit, dia sangat gelisah karena Arya. "Bagaimana ini, kalau laki-laki itu menceritakan semuanya pada Bagus, bagaimana dengan Mia" gerutunya di sepanjang perjalanannya.


Putri mondar mandir di kamarnya membuat Arya bingung yang melihatnya "kamu kenapa, mataku sakit melihat kamu seperti setrika" tanya Arya.


"Aku bingung harus bagaimana, kata papa kalau Prita itu mencintai Bagus. Bagaimana aku bisa mengatakan hal ini pada Bagus" bingungnya.


"Kalau kamu tidak mau mengatakannya biar aku yang katakan, aku tidak mau dokter gila itu akan melakukan hal yang aneh kepada Mira. Bisa jadi dia membawa Mira ke luar negeri atau mencelakai Mira" tegas Arya.


Mendengar perkataan Arya Putri pun berusaha menenangkan hatinya dan menelpon Prita keluar rumah.


"Prita ada yang ingin kakak pastikan dulu, tolong jawab dengan jujur karena ini menyangkut kebahagiaan kamu" ucap Putri.


"Iya kak aku akan jujur, apa" sambung Prita.


"Apa benar kamu menyukai Bagus, jika Bagus tidak menyukai kamu bagaimana terus apakah kamu akan sakit hati. Apabila kakak melakukan kebaikan kepada seseorang tapi kebaikan itu akan menyakiti bagi kamu, bagaimana " tanya Putri.


"Kak aku menyukai Pak Bagus karena dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, kalau Pak Bagus tidak menyukai aku tidak apa-apa karena aku sudah tahu cintanya hanya untuk almarhumah istrinya. Kalau menurut kakak kebaikan itu penting lakukan saja, tidak perlu apa pun yang terjadi aku tidak akan merasa sakit asal kakak selalu ada untuk ku" jawabnya.


"Kakak lega sekarang, terimakasih atas jawabannya yang membuat kakak menjadi lebih tenang. Sekarang kakak matikan hpnya yah" mematikan hpnya dan masuk ke dalam lagi untuk bertemu Arya.


"Bagaiman" tanya Arya.

__ADS_1


"Ayo kita katakan, mungkin dengan ini aku bisa membayar kesalahan ku pada keluarga Dinoto itu" mengambil tasnya dan pergi keluar bersama Arya untuk menemui Bagus di kantor.


Prita yang baru selesai telponan pun mencari Arman, dia melihat Arman di luar seperti ingin pergi. Prita ingin memanggilnya tapi urung karena dia mendadak mendengar ucapan Arman "Aku sendiri yang akan menyingkirkan Astri atau Mira itu, dia tidak boleh mengganggu rencanaku" celoteh Arman sambil berjalan ke mobilnya.


"Apa yang papa katakan, kenapa papa bilang Astri atau Mira. Apa jangan-jangan yang di ucapkan kakak tadi ada sangkut pautnya dengan ini. Berarti aku harus ke rumah Dokter Ariansyah untuk bertemu Mbg Astri karena dia dalam bahaya, entah apa yang akan di lakukan papa" ucapnya langsung mendorong kursi rodanya untuk mencari taksi di luar gerbang.


Astri yang saat itu sudah selesai sarapan ingin meminum obatnya, "Mia, Bik Darmi" panggilnya, tapi tidak ada suara sedikitpun, akhirnya Astri mencari obat di laci dan kotak P3k tapi tidak ada.


"Apa mungkin ada di kamar Mas Rian ya, aku periksa saja deh" berjalan menuju kamar Rian, Astri pun mencari obatnya di laci kamar Rian tapi tidak ada dan akhirnya dia membuka lemarinya sehingga melihat sebuah kotak.


"Kotak apa ini, ini seperti bukan kotak obat. Coba aku periksa aja" mengambil kotak itu sambil duduk di atas ranjang, Astri membuka kotak dan dia kaget melihat isinya.


"Tulisan di belakang foto ini sama yang aku temukan di dalam mobil" Astri pun membalikkan foto itu, Astri kaget melihat foto itu Rian, Mia dan wanita yang lagi tersenyum bahagia.


"Foto ini seperti foto keluarga, kenapa wajah wanita ini bukan seperti wajah ku. Apa jangan-jangan" Astripun membuka semua isi di kotak itu dan dia melihat semua foto itu tidak ada foto wajahnya. Karena penaran Astri pun mencari surat-surat yang ada di sana dan dia menemukan buku nikah yang fotonya berbeda dengan wajahnya tapi isinya sama persis dengan buku nikah yang dia lihat pada saat Rian menunjukkannya kepada Bagus.


Astri membawa foto dan buku nikah itu, dia tergesa-gesa keluar dan menyetopkan taksi di sana, Prita yang sampai di sana pun melihat Astri masuk ke taksi dan di iringi oleh Arman.


"Papa, kenapa dia mengikuti Mbg Astri" ucapnya.


"Pak kita ikuti mobil yang ada di depan" perintahnya kepada sopir itu, Astri pun menelpon Arman terus menerus.


Arman yang mengikuti Astri melihat telpon dari anaknya tidak menghiraukan telponan itu, dia terus saja melaju mengikuti taksi yang ada di depannya.


Astri pun memberhentikan taksi itu di depan rumah sakit, dia berjalan terburu-buru ingin masuk ke rumah sakit itu. Tapi Astri tidak melihat dari jauh mobil dengan kecepatan menuju ke arahnya.


Bagus yang melihat itu pun berlari sambil berteriak "Mira awas" tetapi kecelakaan itu tidak bisa di hindari.

__ADS_1


__ADS_2