
Di rumah Rian pun masih berusaha membujuk Mia yang masih menutup dirinya dengan selimut, "sayang kamu sudah 1 jam lebih seperti ini, ayo jelaskan apa yang terjadi. Kalau papa punya salah papa minta maaf, tapi tolong bicara sama papa. Apa Mia suka kalau papa pergi, ya udah kalau gitu papa akan pergi keluar dan kalau Mia kangen sama papa Mia bisa telpon papa. Ini yang Mia inginkan kan" ucap Rian sambil berjalan pelan-pelan ke luar kamar Mia.
Mendengar pintu yang terbuka Mia pun segera membuka selimutnya, "papa" teriaknya sambil menangis berlari memeluk Rian. Rian pun ikut memeluk Mia dan menenangkannya, setelah Mia terasa tenang tidak menangis kencang Rian pun mulai menyuruhnya duduk sambil berhadapan.
"Ada apa?"
"Kenapa papa bohong sama Mia, kenapa papa bilang mama pergi tidak bisa di ganggu. Kenapa pa?" teriak Mia marah.
"Sayang, papa melakukan itu agar kamu tidak bersedih sayang" jawab Rian.
"Tapi apa, papa malah buat Mia semakin sedih. Apa benar dari awal mama itu bukan mama Mia tapi bundanya Cahaya?"
Rian pun meneteskan air matanya sambil menjawab pertanyaan Mia "iya."
"Tapi kenapa pa."
"Mia, mama kamu sudah lama pergi meninggalkan kita di dunia ini. Papa tidak mau kamu sedih saat kamu bilang bunda Cahaya itu mama kamu, papa sudah melakukan kesalahan sama kamu dan papa minta maaf sayang. Apa yang kamu inginkan akan papa lakukan untuk menebus kesalahan papa" sambil menangis memeluk Mia.
"Pa, Mia cuma mau mama. Papa harus bisa bawa mama pulang lagi ke rumah" sambil melepaskan pelukannya.
"Ah itu tidak mungkin sayang, bunda Cahaya itu punya keluarga jadi papa tidak mungkin bisa membawanya pulang. Dia sudah punya keluarga sendiri" ucap Rian.
"Kalau gitu sekarang papa keluar dari kamar, Mia mau sendirian" sambil menarik tangan Rian, Rian pun menahan untuk tidak keluar tapi Mia masih kokoh mendorongnya untuk keluar pintu kamar.
"Sayang, kamu ngak boleh buat papa begini. Sayang, sayang, sayang" sambil menggedor-gedor pintu kamar yang sudah di tutup Mia.
Bik Darmi yang ada di luar pun mengagetkan Rian yang menoleh ke belakang sambil menangis, "bik, kapan bibik berdiri di sini" tanya Rian.
"Pak, teman bapak tadi sudah pulang gurunya non Mia. Saya sarankan sama bapak lebih baik biarkan nona sendirian" jawabnya sambil kembali ke dapur.
__ADS_1
Rian yang saat itu masuk ke kamarnya langsung membuka lemari mengambil foto kenangannya bersama istrinya, "apa yang harus aku lakukan sekarang, andai saja kamu masih hidup aku tidak perlu berbohong demi ke bahagian anak kita" celotehnya sambil menangis memeluk foto yang dia ambil.
Arya dari kejauhan memperhatikan sosok yang di perintahkan oleh Bagus, saat laki-laki itu pergi memasuki mobilnya Arya pun ikut mengikutinya dari jarak jauh.
Dia pun segera masuk ke rumah mewah yang di penuhi dengan penjaga bertubuh tinggi dan gemuk di dekatnya, Arya pun memberhentikan mobilnya serta memperhatikan dari jarak jauh. "Jadi ini rumahnya, tapi aneh kenapa rumahnya harus di jaga bodyguard serem-serem. Udah lah orang kaya emang ngak bisa di tebak" celoteh Arya menutup kaca mobilnya sambil melanjutkan perjalanannya.
Semua para tamu sudah pulang, acaranya selesai mereka semua duduk di ruang tamu.
"Benar-benar capek ya yah, kalau gitu Cahaya mau ke kamar tidur" ucap Cahaya.
"Ya udah Cahaya segera istirahat, kita semua juga akan istirahat. Besok juga Cahaya harus sekolah" ucap Bagus.
Cahaya pun berjalan masuk ke kamarnya, di susul oleh Kim dan Blue yang berjalan masuk ke kamar mereka.
"Ya udah papa dan mama juga istirahat, Bagus dan Mira ayo kalian juga masuk kamar" ucap Lilian.
"Iya ma, pa, kami juga akan segera masuk" jawab Mira sambil menarik tangan Bagus untuk kembali ke kamar.
"Tapi mas kalau di lihat orang-orang kan malu."
"Ngak ada yang lihat, semua juga udah istirahat masuk ke kamar masing-masing" sambil membuka pintu kamar dan masuk.
Bagus pun segera menurunkan Mira di atas ranjang mereka, dengan penuh nafsu mereka pun menghabiskan malam bersama.
Pagi harinya di depan pintu rumah Bagus sudah berdiri seorang anak perempuan membawa koper dan tas di tangannya, bik Ina pembantu Bagus pun bingung melihat anak itu berdiri sambil tersenyum melihat Ina yang membukakan pintu rumah.
"Selamat pagi" ucapnya.
"Iya selamat pagi, Non ini mau cari siapa. Apa temannya nona Cahaya yah, tapi kok pagi banget datangnya kemari ? nona Cahaya aja baru bangun tidur jam segini" Ucap Ina.
__ADS_1
"Saya memang teman Cahaya bik sekaligus saudari Cahaya, karena bunda Cahaya adalah mama saya. Nama saya adalah Mia, jadi bisakah bibik memanggil mama Mira untuk keluar karena anaknya sudah menunggu" ucap Mia.
"Saudari, mama dan anak. Aduh ah bibik ngak ngerti, ya udah deh kamu tunggu aja di sini bibik mau bangunin nona Cahaya duluan biar nona bisa bantu bangunin tuan dan nyonya di sini" sambil menunjuk kursi di luar.
Mia pun mengangguk dan berjalan duduk di kursi teras rumah, bik Ina pun segera masuk ke dalam memanggil Cahaya yang baru bangun dari tidurnya.
"Hari ini aku ngak latihan saking capeknya, om Kim aja pasti lagi capek banget juga karena acara semalam" celoteh Cahaya.
Namun Cahaya di kagetkan oleh ketukan pintu kamarnya dan Bik Ina segera masuk ke dalam, "untung non udah bangun, non di luar ada teman non dan dia bilang aneh-aneh jadi buat kepala bibik pusing apa yang dia maksud" jelas Ina.
"Emang siapa bik?"
"Namanya Mia,, dia berpesan mau bertemu dengan nona dan nyonya besar katanya tadi" jelas Ina.
"Mia, mau ngapain pagi-pagi ke rumah. penasaran" sambil turun dari ranjang kamarnya dan berlari kecil keluar rumah, Kim yang saat itu sedang berolahraga segera mendekati Mia dan di susul oleh Cahaya yang segera keluar.
"Mia" panggil Cahaya.
"Cahaya" ucap Mia sambil berjalan memeluk Cahaya yang mendekatinya.
"Kamu kenapa, nangis ya" tanya Cahaya.
"Aku dari kemarin nangis seharian Cahaya dan aku sedih banget makanya aku kemari" jawabnya.
"Ini apa, kok kamu bawa koper baju segala, emang kamu mau pindahan" tanya Cahaya lagi.
"Aku ngak pindah Kemana-kemana, kita kan sekarang sudah bersaudara jadi aku mau tinggal dan tumbuh besar bersama kamu" ucapnya.
"Aku ngak ngerti" sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Kim yang datang pun sudah mendengar percakapan Meraka, "nona kenapa ada di luar, nona ini siapa yah" ucap Kim.