Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 128


__ADS_3

Bu guru Prita tersenyum mendengar ucapan Cahaya "pasti boleh donk, ibu ngak akan melarang kalian" jawabnya dan secara diam-diam Johan memasuki sesuatu kedalam tas Mia yang tidak di sadarinya karena terlalu fokus mendengar ucapan Cahaya.


"Okey, Bu kalau gitu nanti sore kami ke rumah ibu" ucap Kevin.


"Baik lah" mobil taksi mereka pun sampai sehingga Mia dan Bu Prita duluan pulang.


Saat mobil mereka berangkat Cahaya dan teman-teman tertawa sesenang mungkin.


"Nanti di rumah dia akan teriak-teriak ketakutan" ucap Kevin sambil tertawa.


"Ayo" mobil jemputan mereka pun datang.


Cahaya yang saat itu di jemput oleh Mira dan Blue segera masuk ke dalam mobil "bunda, kapan sih kaki Cahaya sembuh" tanyanya.


"Kata dokter kalo Cahaya ngak banyak gerak maka akan cepat sembuhnya."


"Cahaya udah ngak sabar mau belanja perlengkapan baby Tante Blue."


"Cahaya, kita belanja kayak gitu kecepetan. Baby-nya belum ada bentuknya jadi kita ngak tau laki-laki apa perempuan" ucap Blue.


"Oh iya yah, Cahaya udah ngak sabar" teriak Cahaya.


"Kita hari ini ke rumah sakit dulu yah periksa kehamilan Tante" ucap Mira.


"Iya bunda" mereka pun bergegas pergi ke rumah sakit.


Di rumah Mia yang sudah sampai pun segera beristirahat "oh iya ada pr, mending langsung aku kerjain aja deh" ucapnya membuka tasnya.


Saat Mia ingin mengambil bukunya dia memegang sesuatu yang aneh di atasnya "apa ini" ucapnya sambil mengeluarkannya dari dalam tas.


"Ini kan, akhhhhhh" teriak Mia.


Bik Darmi pun segera masuk ke kamar Mia mendengar teriakan itu "non ada apa" Bik Darmi melihat Mia terduduk di lantai.


"Non ayo bangun."


"Bik, itu ada ulat" sambil menggaruk wajah, tangan dan tubuhnya.


Bik Darmi pun melihat "ya ampun non ini ulat bulu, ayo keluar nanti bibik suruh mamang untuk membuang ulatnya" membantu Mia berdiri.


Mia pun menggaruk tubuhnya tiada henti sampai bengkak dan merah, melihat itu Bik Darmi segera menelpon Prita menceritakan kejadian tadi serta menyuruhnya untuk datang ke rumah karena Dokter Rian sedang ada di luar kota beberapa hari ke depan.


Prita pun segera bergegas ke rumah Mia melihat tubuhnya yang bengkak dan merah itu segera membawanya ke rumah sakit untuk di obati.


"Dok gimana" tanya Prita.


"Olesi saja salep dan rutin minum obat maka bengkaknya akan segera sembuh, saya tulis resepnya" jawab dokter.

__ADS_1


Prita dan Mia pun segera keluar dari ruangan dokter "kenapa bisa ada ulat bulu di tas kamu" tanya Prita.


"Enggak tau Bu, saat mau ambil buku tiba-tiba ada ulat di dalam tasnya" jawab Mia.


Saat hendak ke tempat apotik obat mereka bertemu dengan Mira, Cahaya dan Blue.


"Mira" panggil Prita membuat Mira menoleh.


Mia yang melihat Mira spontan langsung memeluk Mira, Mira yang bingung di peluk oleh Mia pun melihat ke arah Cahaya yang tersenyum sehingga Mira membalas pelukan Mia.


"Kenapa dengan tubuh kamu" tanya Mira saat melihatnya.


"Ini Mira, tadi Mia mau ambil buku tasnya ternyata di dalam tas ada ulat bulu akhirnya seluruh tubuhnya kena jadi bengkak semua. Karena papanya sedang di luar kota makanya aku yang membantunya" jelas Prita.


Cahaya yang mendengar ucapan Bu guru Prita itu pun kaget "ulat bulu" ucap Cahaya.


"Iya, kayaknya ada yang usil sih naruh ulat di dalam tas" kesal Mia.


"Bukannya tadi Kevin bilang ulat yang jadi kepompong tapi kenapa ulat bulu" ucap Cahaya dalam hatinya.


"Kalian tadi aku lihat keluar dari dokter kandungan, siapa yang hamil?" tanya Prita.


"Ini orangnya" tunjuk Mira.


"Ya ampun selamat yah."


"Ya udah kita duluan yah" pamit Mira sambil mendorong kursi roda Cahaya.


Cahaya melihat ke arah Mia sambil tersenyum "aneh kenapa Cahaya tersenyum seperti orang mengejek" ucap Mia dalam hati.


Cahaya pun segera meminjam telpon Mira untuk chat Kevin "hari ini kita ngak jadi ke rumah Bu Prita karena Mia seluruh wajahnya bengkak terkena ulat bulu" Kevin membaca pesan itu langsung tertawa ke senangan.


"Hei kamu kenapa" tanya Jeni yang saat itu Kevin berada di rumah Johan.


"Ngak apa-apa Tante, Johannn" teriaknya berlari mencari Johan memberikan isi chat Cahaya, Johan pun tertawa gembira.


Namun ada chat lagi dari Cahaya "kalian besok harus di hukum karena sudah memberikan ulat bulu, aku kan bilangnya ulat kepompong" mereka membaca pesan itu bersama-sama.


"Ahhh ini kamu Kevin" ucap Johan.


"Kenapa aku?"


"Kan aku bilang ulat yang ada di dalam daun tapi kamu malah membuangnya dan mengambil ulat yang ada di batangnya."


"Yeh aku juga ngak tau kalo itu ulat bulu, aku kira sama aja dan untung saat memegangnya kita menggunakan sarung tangan"


"Cahaya marah."

__ADS_1


"Biarin Cahaya marah" celoteh Kevin.


"Ngak boleh nanti mama bisa marahin aku kalau aku buat Cahaya marah" marah Johan.


"Kenapa?" Kevin pun kaget mendengar ucapan Johan itu.


"Udah lah pokoknya kita ke rumah Cahaya sekarang, ayo" Johan pun menarik tangan Kevin.


"Aduhhhhh kamu kenapa sih, Cahaya ngak akan marah lama kok. Lagian maksud kamu di marah sama Tante Jeni itu apa?"


"Ayoooo, nanti aja bicaranya sekarang kita pergi" Johan pun menarik paksa Kevin sampai Kevin mengikuti langkahnya.


"Sayang" panggil Jeni saat melihat mereka berjalan keluar tarik tarikan.


"Mama."


"Tante, lihat Johan kayak anak kecil tarik-tarikan" ketus Johan.


"Kalian kan sampai sekarang masih kecil belum besar" ucap suara dari belakang.


"Kakekkk" teriak Kevin memeluk Dirga yang datang.


"Om" mereka pun semua menyalami Dirga yang datang.


"Kakek mau jemput kamu."


"Tapi kek, hari ini Johan dan Kevin mau ke rumah Cahaya sekarang" ucap Johan.


"Kenapa? tugas belajar."


"Ngak kek, Johan tu takut kalau Cahaya" belum selesai bicara Johan pun langsung menyambung ucapan Kevin.


"Aku takut telat kek ke rumah Cahaya, kita kan sudah janji makanya aku tarik Kevin" ucap Johan membantah.


"Aneh, kenapa Johan jadi bohong yah" ucap Kevin dalam hatinya.


"Ya udah kakek antar."


"Asikkkkk" teriak mereka berdua.


Mereka pun pergi bersama-sama ke menuju ke rumah Cahaya, di perjalanan lampu merah Johan melihat jualan asongan membawa jepit rambut cantik sehingga dia pun membuka jendela mobil.


"Johan jangan di buka, nanti kamu kenapa-kenapa" teriak Kevin.


"Ini satu" ucap Johan mengeluarkan uangnya 10 ribu memberikannya kepada penjual tersebut.


Johan menutup jendelanya lagi, Dirga yang melihat itu tersenyum melihat tingkah mereka.

__ADS_1


"Kami beli jepit cewek" Kevin pun tertawa memegang jepit itu.


__ADS_2