Ayah Ku Idola Ku

Ayah Ku Idola Ku
bab 43


__ADS_3

"Cahaya" teriak Johan langsung berlari menghampiri Cahaya, melihat Johan berlari Kevin kaget dan ikut berlari juga.


"Johan tunggu, kenapa lari sih" teriak Kevin, saat melihat ke depan Kevin kaget melihat Cahaya ingin di sakiti orang.


Saat Cahaya ingin di pukul dari belakang Johan langsung mendorong orang itu, Kevin pun ikut membantu mendorong yang lainnya. Cahaya menoleh ke belakang melihat temannya yang ikut berantem, Cahaya yang lagi lenga langsung di dorong laki-laki yang Cahaya pukul tadi sampai Cahaya jatuh.


Melihat Cahaya jatuh Johan berlari memukul laki-laki itu dan bahkan Johan benar-benar di luar dugaan tanpa ampun.


Melihat garpu yang jatuh berserakan di lantai Johan mengambilnya dan menyodorkan garpu itu tapi Cahaya langsung berteriak "Johan berhenti."


Johan langsung menghentikan gerakan tangannya, bu Guru Prita pun berlari menghentikan mereka. Melihat anak muridnya pingsan bu guru langsung mengangkatnya dan membawanya ke UKS.


Wali kelas dari murid tersebut masuk ke UKS terburu-buru melihatnya.


"Bu Guru Prita ada apa ini, kenapa murid saya mukanya lebam begini" marahnya.


"Maaf Bu Vivi tadi mereka berantem dengan murid saya" jawabnya.


"Ibu tidak bisa mengajar anak ibu untuk tidak melakukan kekerasan di sekolah" ucapnya.


"Ini kesalah pahaman saja bu, lebih baik kita mendengarkan cerita dari mereka" pinta Bu Prita.


"Tidak perlu, saya yakin ibu tidak bisa membimbing anak murid ibu dengan benar. Ibu tau tidak anak ini namanya Rido Gunawan, dia anak dari donatur terbesar di sekolah ini" jawab bu Vivi.


Kepala sekolah pun masuk ke UKS melihat ke adaannya.


"Kenapa ini" tanyanya.

__ADS_1


"Ini pak, anak murid Bu Prita membully Rido" tuduh Bu Vivi.


"Tidak pak, ini salah paham" bantah Bu Prita.


Cahaya, Johan, Kevin serta kedua anak lainnya menunggu di luar UKS. Linda pun mengintip mereka secara diam-diam.


"hus" panggil Linda, Cahaya pun menoleh ke arah Linda dan menghampirinya.


"Kenapa, kok kamu diam-diam begini" tanya Cahaya.


"Aku cuma mau lihat keadaan kamu tapi ngak berani kesana soalnya serem" jawab Linda.


"Serem kenapa?" Cahaya penasaran


"Kak Rido itu anak dari donatur terbesar di sekolah ini jadi ngak ada yang berani sama dia walaupun dia sering ngebully orang" jawabnya.


"Emangnya kenapa harus takut kan ada guru di sekolah" ucapnya.


"Kalau gitu kasihan donk Bu Prita kalau harus di salahkan nantinya, ayo ikut kamu bantu aku" Cahaya langsung menarik Linda, Linda menolak ajakan Cahaya namun genggaman Cahaya sangat kuat hingga dia tidak bisa melepasnya.


Di dalam ruangan UKS itu serasa sangat menakuti bagi Cahaya yang melihat Bu Vivi dan Bu Prita bertengkar, namun Cahaya tetap masuk menarik Linda serta di ikuti anak yang lain.


"Pak, Bu" ucap Cahaya yang membuat mereka menoleh ke arah Cahaya.


"Ini dia mereka anak nakal suka bully" langsung menunjuk ke arah Cahaya dan teman-teman.


"Pak, bu Cahaya akan cerita semuanya" ucap Cahaya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ceritakan saja semuanya Cahaya" ucap Bu Prita dan di sambung oleh Bu Vivi "tidak perlu di ceritakan, semua sudah jelas kalian membully kakak kelas kalian sampai pingsan."


"Bu Vivi kita dengarkan dulu cerita mereka" tegas pak kepala sekolah membuat Bu Vivi diam tidak bisa menjawab.


"Tadi Cahaya dan teman-teman lagi makan, saat Cahaya di tinggal sendirian oleh teman-teman kakak kelas ini datang menarik tangan Cahaya dengan berkata ingin menghukum Cahaya. Cahaya menolak karena mereka bukan guru yang seenaknya saja, terus mereka kasar akhirnya Cahaya melakukan pembelaan. Melihat Cahaya di keroyok 3 anak laki-laki teman-teman membantu Cahaya dan menghajar mereka" jelas Cahaya, Cahaya pun langsung mencubit Linda untuk berbicara.


"Iya pak, bu yang di bilang Cahaya benar, saya saksinya. Kalau tidak percaya bapak bisa bertanya langsung dengan kak Ilham dan kak Mada yang melakukan tindakan itu" Linda menunjuk kedua anak itu yang diam dari tadi.


"Apa benar itu Ilham dan Mada, kalian harus jujur kalau kalian berbohong bapak akan menghukum kalian" marah pak kepala sekolah.


"I,i, iya benar pak" ucap mereka berdua dengan nada gugup. Bu Vivi yang mendengar itu tidak mau kalah.


"Pokoknya mereka salah pak, kalau mereka di jahatin seharusnya mereka tetap ngak boleh membuat orang terluka. Maaf pak saya harus memberi tahu ini kepada orang tua Rido agar mereka tidak menyalahkan pihak sekolah" jawab Bu Vivi.


"Bu Vivi tidak perlu repot-repot, saya akan bertanggung jawab atas perbuatan anak murid saya. Tapi yang saya lihat di sini sepertinya Rido sering melakukan pembulyan karena tega sekali dia mengeroyok anak perempuan sendirian" tegas Bu Prita membela anaknya.


"Ibu jangan sembarangan bicara, ibu tidak tau siapa orang tua Rido" kesal Bu Vivi.


"Saya tidak peduli siapa orang tua Rido, yang penting cara kita sebagai guru tidak membedakan anak didik kita. Serta kita juga berhak memberikan hukuman untuk anak yang salah" tegasnya. Melihat suasana yang panas seperti itu kepala sekolah pun menghentikan percakapan mereka yang tidak ada habisnya serta menyuruh mereka menunggu di luar sampai orang tua mereka datang.


Bagus di kantor masih meting membahas proyek yang akan dia tangani nanti, Arya dan Putri yang saat itu ada di ruangan sangat memperhatikan meting mereka. Meting masih setengah perjalanan Bagus mendapatkan panggilan telepon dari sekolah dan permisi mengangkatnya.


"Iya Bu Prita, apa Cahaya berantem dan saya harus kesana. Okey saya kesana" Bagus langsung berbisik pada Kim untuk melanjutkan metingnya. Putri yang mendengar bisikan Bagus ke Kim pun tersenyum "dasar anak nakal, baru satu hari sekolah sudah berantem. Tapi gue baru sadar kalau gue mau dapat Bagus gue harus bisa ambil hati anaknya dulu" ucap Putri dari dalam hatinya yang membuat dia mempunyai sesuatu ide.


"Hari ini meting di lanjutkan oleh Sekretaris Kim, kalau ada yang di sampaikan kasih tau Sekretaris Kim. Sekarang saya harus pergi, permisi" pamit Bagus dari ruangan itu terburu-buru berjalan dan menghidupkan mobilnya untuk ke sekolah Cahaya.


Di sekolah pun Bu Prita menyemangati Cahaya dan teman-temannya.

__ADS_1


"Anak-anak kalian tenang dan ngak usah takut ya, ibu tau kalian anak baik jadi ngak perlu di pikiran" ucap Bu Prita kepada mereka.


"Kalau aku sih biasa-biasa aja bu, kalau kakek datang kakek ngak akan memarahi aku. Tapi aku bahkan khawatir sama keluarga kakak kelas itu nanti bakal di bikin apa yah oleh kakek" celoteh Kevin sambil tertawa memikirkan hal buruk yang akan terjadi kepada keluarga kakak kelasnya itu.


__ADS_2